(FF) My Last Memories – Part 9


My Last Memories

(Part 9)

 

Author: Chandra Syifa W

Main Casts: Kim Bum, Kim So Eun

Casts: Park Shin Hye, Moon Chae Woon, Jung Il Woo, Jung So Min, Kim Hyun Joong

Genre: Romantic, Friendship

Type: Chaptered

 

Disclaimer: Semua cerita, karakter, setting, alur, dll adalah milik dari masing – masing author. Author sama sekali tidak terkait dengan pemilik, pencipta, atau produsen dari setiap media apapun. Tidak ada pelanggaran hak cipta dimaksudkan. Untuk tokoh Kim Bum, Kim So Eun, dan artis lainnya, bukan milik author, tapi milik orang tua, keluarga, dan agensi mereka. Author memakai mereka hanya untuk keperluan cerita. Apabila ada kesamaan judul, itu merupakan hal yang tidak di sengaja.

 

Cerita yang di tulis hanya fiktif belaka. Apabila ada kesamaan merupakan hal yang tidak disengaja.

 

Hey yo! Syifa kembali di sini~

Langsung saja deh di baca part 9 nya. Hehehe =)

 

Review of Part 8

 

”Hei kau, kau yang mengaku kekasih so eun! Apa yang terjadi pada so eun hah?! Bagaimana bisa kau biarkan so eun terkurung di ruang perpustakaan yang gelap dan bau sendirian??? Kalau aku tau akan terjadi hal seperti ini aku tidak akan memberikan mu izin untuk berpacaran dengan so eun!!!” kata chae woo yang marah pada kim bum atas kondisi so eun.

”Betul! Kekasih macam apa kau ini, bisa – bisanya kau meninggalkan so eun sendirian di sana!! Sini ku hajar kau sampai babak belur!!!” sambung so min sambil menggulungkan lengan bajunya.

 

Kedua orang tua so eun tersentak dengan pernyataan chae woo dan so min yang mengatakan kalau kim bum adalah kekasih so eun. Dengan heran ayah dan ibu so eun langsung mengarah ke kim bum.

 

”Apa yang mereka maksud? Kau, menjalin hubungan dengan anakku, kim so eun???” tanya ayah so eun dengan tatapan curiga.

 

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

 

Shin hye masih terus memikirkan apa yang akan terjadi pada dirinya setelah kecurigaan kim bum terhadapnya. Pikirannya mulai terbayang – bayang dengan wajah so eun yang dia kurung sendirian di dalam perpustakaan.

 

”Aku harus bagaimana sekarang??? Kata – kata kim bum itu.. Pasti dia sudah mencurigai ku sepenuhnya. Aku harus berbuat sesuatu. Ya, aku harus bertemu dengan so eun dan juga kim bum…” ucap shin hye.

 

Dengan cepat shin hye mengambil jaket dan memasukkan ponselnya ke dalam tasnya. Tanpa menghiraukan ibunya yang berada di dalam ruang tamu dia langsung bergegas keluar rumah menuju halte bis. Dia memutuskan untuk pergi ke perpustakaan di kampus so eun terlebih dahulu. Sesampainya di sana shin hye begitu kaget dengan daun pintu perpustakaan yang sudah terbuka. Di dalam perpustakaan dia menemukan novel yang tadinya akan shin hye pinjam. Dengan perlahan shin hye mengambil novel itu, dirinya mulai merasa takut akan apa yang telah dia lakukan pada so eun.

 

”Jadi benar, kim bum telah menemukan so eun di sini… So eun, selalu saja kau yang menjadi perhatian utamanya. Andai saja saat itu aku sudah menghapus nomor ponselmu, pasti kim bum tidak akan seperti ini. Kau yang membuatnya berubah…” ucap shin hye.

“Tapi kalau seperti ini berarti kim bum sudah tau kalau aku yang benar – benar telah melakukannya. Ottokhae????” sambungnya lagi dengan nada yang panik.

 

Tanpa memikirkannya lagi shin hye beranjak menuju rumah sakit. Dia sudah berpikiran kalau phobia so eun akan muncul apabila dia berhasil mengurung so eun di dalam sana. Dia bertanya ke resepsionis mengenai so eun dan di mana ruangannya. Akhirnya shin hye menemukan ruangan tempat so eun di rawat.

 

Sementara itu di dalam kim bum merasa tidak enak dengan kedua orang tua so eun. Hanya so eun saja yang mengerti bahwa ucapan kim bum saat itu hanya untuk menolong so eun. Namun chae woo dan so min sepertinya sudah yakin kalau kim bum memang kekasih so eun. Kim bum mulai menerangkan segala sesuatunya dengan bahasa yang santun kepada orang tua so eun dan juga sahabatnya.

 

”Aku mohon kepada paman, bibi, dan juga kalian berdua untuk tidak salah paham denganku. Aku berniat untuk menolong so eun, tapi aku tidak berniat sama sekali untuk membohongi kalian semua” ucap kim bum dengan sopan.

”Sebenarnya aku dan so eun…”

”Sudah cukup”

 

Ayah so eun menghentikan ucapan kim bum. Chae woo dan so min yang penasaran sedari tadi langsung melihat ayah so eun yang selalu bersikap tenang.

 

”Biar kau jelaskan nanti bersama so eun. Tidak adil rasanya kalau hanya kau yang menjelaskan ini semua kepada kami” terang ayah so eun.

”Ayah, memang apa bedanya kalau kim bum yang menjelaskannya? Kenapa harus bersama so eun?” tanya ibu so eun yang heran dengan sikap suaminya itu.

”Yang anak kita itu so eun, bukanlah kim bum. Jadi yang harusnya kita tanyakan itu so eun. Sudah, ibu tidak perlu khawatir”

”Tapi paman, kami sebagai sahabat so eun merasa khawatir mengenai hubungan so eun dan kim bum. Kita mendengar penjelasan kim bum saja dulu paman!” usul chae woo di susul dengan anggukan kepala so min.

”Paman mengerti. Tapi kalian juga harus menghormati urusan pribadi mereka. Ini sudah terlalu malam, lebih baik kalian berdua pulang. Besok ibu so eun akan mengabari kalian berdua mengenai hal ini” jelas ayah so eun lagi.

 

Karena tidak enak, akhirnya chae woo dan so min memutuskan untuk pulang lebih dulu. Shin hye yang sedari tadi ternyata mendengar pembicaraan mereka semua dari luar langsung bersembunyi di balik dinding.

 

”Apa – apaan ini… Kenapa kim bum tidak menjelaskannya saja langsung??? Apa jangan- jangan…” ucap shin hye curiga. Karena sudah merasa sangat kesal akhirnya shin hye juga memutuskan untuk kembali ke rumahnya.

 

Waktu menunjukkan pukul 10.30 KST. So eun yang sedari tadi masih terbaring di kasurnya mulai membuka matanya. Kedua orang tua so eun dan juga kim bum merasa sangat senang. Setelah itu so eun memutuskan untuk segera pulang. Orang tua so eun menaiki mobil mereka sendiri, sementara so eun bersama dengan kim bum.

 

“Apa yang sebenarnya terjadi padamu?” tanya kim bum sambil menyetir mobilnya.

 

            “Ah, itu.. Aku hanya terkunci di dalam perpustakaan, itu saja” jawab so eun singkat. Padahal so eun masih mengingat jelas apa yang baru saja terjadi kepadanya. Terkunci di perpustakaan yang gelap, sendirian, dan phobianya pun muncul.

“Jelaskan semuanya padaku”

“Bukankah aku sudah menjelaskan semuanya padamu?”

”Yang sebenarnya. Jangan menutupi apapun dariku sekarang. Apa yang shin hye lakukan selama dia menunggumu di sana?”

“Dia tidak melakukan apapun. Percayalah”

”Benarkah?”

”Iya”

”Kau menyuruhku untuk percaya setelah dia sendiri yang melakukannya, begitu?”

 

-Kim So Eun POV-

 

Aku tau kalau shin hye yang melakukan nya padaku. Tapi aku tidak mau kim bum menjadi marah padanya karena ini. Aku mengerti perasaan shin hye, karena itu dia melakukan hal buruk seperti ini. Aku juga wanita, aku juga merasakan hal yang sama seperti shin hye…

 

”Jangan menuduh shin hye seperti itu. Shin hye kan hanya ingin meminjam novel dari perpustakaan kampus, dia tidak melakukan apapun selain itu…” jawabku bohong. Apalagi yang bisa ku katakan selain itu?

”Aku ingin bertanya padamu. Apa kau tidak bosan melindungi orang yang telah melukai perasaan mu berkali – kali?” tanyanya padaku.

”Seribu kalipun dia lakukan, dia tetap sahabatku dan sahabatmu. Aku tidak mau persahabatan yang sudah kita bangun sejak kita masih smp hancur hanya karena masalah perasaan. Bukankah itu terlihat seperti anak kecil?”

”Seandainya aku bisa berpikiran sepertimu, pasti semuanya tidak seperti ini…”

”Anggap saja ini tidak pernah terjadi. Kembalilah menjadi kim bum yang ramah kepada siapapun. Kau, bisa melakukannya kan?”

”Akan ku coba. Aku tidak janji”

”Kalu begitu, lakukanlah untukku. Berjanjilah padaku”

 

Kim bum tidak berkata apa – apa setelah aku mengucapkannya. Aku merasa sedih karena kim bum harus kembali dekat dengan shin hye. Tapi aku akan jauh lebih sedih apabila aku tidak dapat menghilangkan perasaanku padanya.

 

Kamipun sampai di rumah. Kim bum membukakan pintu mobilnya untukku dengan senyumnya yang manis. Hah, kenapa tuhan menciptakannya dengan begitu indah? Sesampainya di dalam aku duduk bersama kim bum dan ayah duduk bersama dengan ibu di ruang tamu. Entah kenapa suasananya menjadi begitu tegang seperti ini.

 

”Jadi, bisakah kalian berdua jelaskan apa yang telah terjadi di antara kalian?” tanya ayah padaku dan kim bum. Aku bingung dengan apa yang ayah bicarakan. Jarang sekali ayah berbicara serius dengan sikap yang formal padaku.

”Apa maksud ayah? Apa yang ayah bicarakan? Aku tidak mengerti” ucapku jujur.

”Saat kau masih tertidur di rumah sakit kedua sahabatmu mengatakan kalau kim bum adalah kekasihmu. Sedangkan kau belum bercerita tentang masalah itu kepada ibu dan ayah. Kenapa kau tidak berterus terang kepada kami?” kata ibu dengan heran.

 

Tunggu. Kedua sahabatku mengatakan kalau kim bum adalah kekasihku. Apa kedua sahabat yang di maksud ibu itu chae woo dan so min? Lalu.. Mwo?! Chae woo dan so min memberitahukan tentang kejadian waktu itu???!!! Astaga, apa yang harus ku lakukan??? Apa yang harus ku jelaskan di depan ayah, ibu, dan juga kim bum???!!!

 

-Author POV-

 

So eun memang belum tau kalau orang tuanya akan menanyakan hal ini kepadanya, karena ia masih pingsan tadi. Kim bum menyadari hal itu, dan mau – tidak mau akhirnya kim bum menjelaskannya dengan terus terang.

 

”Paman, bibi, saat itu aku memang mengatakan kalau so eun adalah kekasihku. Kondisi saat itu begitu rumit, dan memang pada awalnya aku ingin menolong so eun agar tidak membuat masalah baru baginya. Tapi di sini aku akan berterus terang kepada paman dan bibi…” kata kim bum dengan yakin. So eun yang sedari tadi memperhatikan kim bum itu pun bingung dengan apa yang akan di katakan kim bum selanjutnya.

”Jujur, sebenarnya aku…”

”Biar aku yang menjelaskan”

 

So eun menghentikan penjelasan kim bum yang tadinya ingin berterus terang mengenai perasaannya. Namun so eun merasa ini adalah masalah nya jadi dia yang akan menjelaskannya.

 

”Apa yang kim bum katakan itu benar ayah, ibu. Kim bum mengatakannya di depan teman – temanku karena dia ingin menolongku. Dia takut kalau aku akan jadi sasaran pertanyaan – pertanyaan mencurigakan dari chae woo dan so min. Saat itu, aku tidak tau apa yang harus ku katakan. Karena itu aku bersyukur sekali kim bum datang dan berdiri di sisiku” jelas so eun pada ayah dan ibunya. Ibunya pun dapat bernafas lega.

”Jadi hanya seperti itu saja? Tidak ada yang di tutup – tutupi dari kami?” tanya ibu so eun.

”Iya bu, hanya itu saja” jawab so eun singkat.

”Jadi masalah ini kita anggap selesai, jangan pernah mengungkit masalah ini lagi. Kim bum, paman berterima kasih sekali padamu karena kau telah menyelamatkan so eun. Kau juga sudah mengantar so eun pulang. Entah apa yang dapat paman lakukan untukmu” ucap ayah so eun yang berterima kasih pada kim bum. Kim bum hanya tersenyum mendengarnya.

”Sama – sama paman. So eun itu sahabatku sejak masih kecil, sudah seharusnya aku menyelamatkannya” kata kim bum.

”Bagaimana kalau kita makan malam bersama saat kalian semua punya waktu luang?” usul ibu so eun.

”Makan malam dalam rangka apa bu?” tanya so eun.

”Ini sebagai ucapan terima kasih keluarga kita terhadap kim bum. Masa kau tidak mengerti…” ucap ibu so eun.

”Tidak perlu bi, aku sudah senang melihat so eun baik – baik saja” kata kim bum merendah.

”Kalau kau punya waktu luang datanglah ke sini, nanti ibu so eun akan membuat makan malam yang spesial untuk mu” ajak ayah so eun dengan ramah.

”Ne, sebenarnya aku tidak ingin membuat paman, bibi, dan so eun kerepotan untuk mempersiapkan makan malam. Tapi karna paman dan bibi yang memintanya, akan ku usahakan” jawab kim bum.

”Ini sudah malam, aku akan pulang sekarang. Maaf telah merepotkan paman dan bibi…” pamit kim bum sembari beranjak dari sofa.

”So eun, bisakah kau mengantar kim bum sampai depan? Itu kalau kepalamu tidak merasa pusing” kata ibu so eun lagi.

”Iya bu, aku akan mengantarnya ke depan..”

 

Kim bum berpamitan kepada kedua orang tua so eun lalu bergegas pulang di temani oleh so eun sampai depan rumahnya. Sampai di depan mobil nya, kim bum pun berpamitan dengan so eun.

 

”Sepertinya, kondisimu sudah sangat membaik so eun..” kata kim bum sambil tersenyum pada so eun.

            ”Iya, seperti yang kau lihat. Ini semua karenamu, terima kasih banyak bum” ucap so eun sembari membalas senyuman kim bum itu.

”Sama – sama. Lalu, apa besok kau akan pergi kuliah?”

”Tentu saja. Banyak yang harus aku jelaskan pada chae woo dan so min mengenai hal yang tadi. Aku tidak mau mereka salah paham lagi padaku…”

”Kau tau, kalau aku di beri kesempatan untuk mengajukan permintaan aku ingin sekali supaya aku tidak bertemu lagi dengan shin hye di esok hari”

”Jangan seperti itu, itu bukanlah dirimu yang sebenarnya”

”Bisakah kau bersifat egois untuk sekali saja? Sekarang jujur padaku, apa yang kau pikirkan tentang shin hye saat ini? Apa kau masih benar – benar menganggap nya sahabat?”

 

So eun hanya tersenyum mendengar pertanyaan kim bum itu. Kim bum jadi heran melihat so eun yang tiba – tiba tersenyum kecil di hadapannya.

 

”Sekali sahabat tetaplah sahabat. Mungkin shin hye memperlakukanku dengan buruk sekarang. Tapi cobalah kau ingat, saat kita masih smp dia sering membelikan kita berdua es krim. Dia juga sering mengajak kita berlibur bersama dengan keluarganya. Dan yang terakhir, dia menyapaku dengan begitu hangat setelah sekian lama tidak bertemu. Bukankah itu seperti alur kehidupan?” terang so eun dengan tenang.

 

            ”Aku tau. Sifat aslinya sedang tertutupi saat ini. Aku tidak tau harus bersikap seperti apa kalau bertemu dengan nya besok”

”Aku hanya bisa menyarankan padamu, namun tetap kau yang menentukan. Jangan menyerahkan pilihanmu lagi pada orang lain”

”Ne, aku mengerti. Baiklah, aku pulang dulu. Sampai bertemu lagi so eun”

“Iya, hati – hati di jalan yaa”

 

Kim bum menaiki mobilnya dan menginjak pedal gas menuju ke rumahnya. So eun melambaikan tangannya dari belakang.

 

“Aku ingin semua ini cepat berlalu. Sesungguhnya aku tidak pernah meminta kehidupanku menjadi seperti ini. Maafkan aku shin hye, kim bum…” ucap so eun pelan.

 

Keesokkan harinya…

 

Seperti biasa, so eun kembali menjalani rutinitasnya sebagai mahasiswi bersama dengan kedua sahabatnya. Berjalan sendirian menuju halte bis, mendengarkan lagu selama perjalanan menuju ke kampusnya, dan di sambut oleh sahabatnya setelah dia turun dari bis.

 

“Selamat pagi kim so eun! Hari yang cerah! Wajahmu tidak terlihat seperti orang yang habis dari rumah sakit lho” kata so min dengan riang.

”Seharusnya aku tidak perlu di bawa ke rumah sakit, istirahat di rumah pun sudah cukup” kata so eun beropini.

”Tapi so eun, aku benar – benar merasa kesal dengan orang yang telah mengurung mu di sana! Dia tidak punya perasaan! Bagaimana bisa orang seperti itu mengurungmu tanpa motif yang jelas???” sambung chae woo dengan emosi. Dia memang tipe orang yang temperamental sepertinya.

”Sudahlah jangan di bahas lagi. Yang penting kondisiku baik – baik saja bukan???” sambung so eun.

”Namun tetap saja so eun! Kalau aku menemukan pelakunya akan ku kirim dia ke penjara azkaban!!!” emosi chae woo lagi.

”Penjara azkaban itu cuma di film chae woo, ternyata kau payah juga ya? Hmmm…” kata so min sambil menggelengkan kepalanya.

”Oh iya yaa.. Heh, seharusnya kau jangan mempermalukanku di depan umum tau!” ucap chae woo sambil menjitak kepala so min.

”Yaa!!! Kan kau yang salah kenapa aku yang di jitak??!!!” teriak so min.

”Hei sudah – sudah! Penjara saja di perebutkan, kalau kekasih kalian baru di perebutkan.. Lebih baik kita masuk ke kelas, sebelum dosen menghukum kita!” ajak so eun sambil menarik tangan kedua sahabatnya itu.

 

Sementara itu kim bum berjalan sendirian memasuki kampusnya. Orang – orang di sekitarnya merasa aneh, karena tidak biasanya kim bum pergi ke kampus tanpa seorang shin hye di sampingnya. Saat memasuki lapangan basket dia menghentikan langkahnya. Ya, shin hye tepat berada di depannya. Tanpa menghiraukan keberadaan shin hye, kim bum berjalan melewatinya. Namun shin hye menarik tangan kim bum.

 

”Kau kenapa?” tanya shin hye.

”Masih berani bertanya?” jawab kim bum ketus.

”Aku memang tidak tau apa – apa” kata shin hye dengan wajah merasa bersalah.

”Lalu?”

”Jangan menjauhiku seperti ini. Katakan padaku kalau memang aku salah di matamu. Aku tidak bisa jauh darimu bum…”

”Ikut aku”

 

Dengan cepat kim bum menarik tangan shin hye dan mengajaknya menuju ke sebuah danau yang tidak jauh dari kampus. Suasananya begitu nyaman, dan tidak ada orang lain selain mereka berdua.

 

”Kenapa, kau mengajakku ke sini?” tanya shin hye pura – pura bingung.

”Jangan berpikiran macam – macam. Aku hanya ingin kau berbicara yang sejujurnya” kata kim bum tanpa melihat shin hye yang berada di belakangnya.

”Bicara? Bicara tentang apa? Ah, kau pasti mencurigai ku tentang so eun yang terkurung di perpustakaan ya??? Kenapa kau selalu menolong dan memberikannya perhatian lebih seperti itu???”

”Ya, sejujurnya hanya itu saja”

”Hah, apa kau tidak bisa menganggap so eun sebagai sahabatmu semata? Kenapa kau memperhatikan so eun lebih di bandingkan kau memperhatikan ku yang selalu berada di sampingmu??? Apa lebihnya so eun dariku??? Apa bedanya so eun dariku???”

”Jadi itu alasanmu melakukannya?”

”Mwo? Apa maksudmu??”

 

Kim bum membalikkan badannya ke arah shin hye, shin hye yang sedari tadi marah atas sikap kim bum yang cenderung pilih kasih pun semakin bingung dengan maksud perkataan kim bum tadi.

 

”Kau iri pada so eun, karena itu kau menguncinya di dalam perpustakaan dengan alasan kalau kau ingin meminjam buku. Dan kau juga satu – satunya orang yang mengetahui kalau so eun phobia berada di dalam ruangan yang terkunci sendirian selain kedua orang tuanya. Apa aku salah?”

 

 

Shin hye membeku mendengar perkataan kim bum. Apa yang kim bum katakan sepenuhnya benar, lalu apa yang harus ia katakan kali ini?

 

”Tidak! Aku tidak melakukannya! Kau tidak punya bukti untuk menuduhku seperti itu bum!” ucap shin hye yang berusaha untuk berbohong.

”Aku yakin kalau kau sudah cukup merasa sakit karena aku menuduhmu seperti ini, terlebih lagi karena kau adalah sahabatku sendiri. Apa perlu aku membuatmu jauh lebih sakit dengan memberikanmu sebuah bukti?”

 

Shin hye menatap kim bum dengan rasa tidak percaya. Setelah kim bum mengetahui yang sebenarnya ternyata dia masih memikirkan perasaan shin hye. Perlahan air mata shin hye pun menetes membasahi wajahnya.

 

“Kau benar, akulah yang melakukannya… Akulah yang mengunci so eun di perpustakaan itu karena aku tau kalau so eun memiliki phobia… Dan aku melakukannya karena aku iri padanya…”ucap shin hye. Tidak dapat di pungkiri bahwa hatinya begitu sakit dan berat untuk mengakuinya di depan kim bum, pria yang ia sukai.

”Kau tau kalau aku sangat menyukaimu, aku tidak bisa jauh darimu, dan aku tidak bisa membiarkanmu dekat dengan wanita lain. Tapi setelah bertemu dengan so eun kau jadi begitu dekat dengannya, bahkan makan malam dengannya. Padahal aku yang begitu ingin mengajakmu makan malam bersamapun tidak pernah bisa. Kau selalu tersenyum kepadanya dengan tatapan yang berbeda, kau menyapanya dengan cara yang berbeda. Apa kau sadar kalau kau membuatku iri pada so eun???” sambung shin hye lagi.

 

Kim bum mulai melihat shin hye yang dulu. Shin hye yang polos dan terang – terangan menyukai kim bum di depan orang – orang, kini mengakui kalau dia iri dengan so eun. Kim bum merasa senang karena akhirnya shin hye mengakui perasaannya sendiri. Namun tiba – tiba kim bum memikirkan sesuatu.

 

”Aku merasa senang dengan kembalinya shin hye yang dulu. Namun, apa yang harus aku katakan mengenai perasaannya padaku?” tanya kim bum dalam hati.

 

Shin hye maih terus menangis, kim bum memeluknya agar shin hye segera melupakan semua yang sudah terjadi.

 

”Aku mengerti, maaf kalau sikapku membuatmu iri pada so eun. Membuat persahabatan kita merenggang seperti ini…” ucap kim bum.

”Aku menyukaimu, sangat – sangat menyukaimu bum… Aku rela melakukan apapun asalkan kau dapat menyukaiku juga…” ucap shin hye di pelukan kim bum.

”Aku ingin jujur kepadamu, ayo kita duduk…”

 

Mereka berjalan bersama menuju bangku yang berada tepat di depan danau. Kim bum memberikan sapu tangan pada shin hye agar shin hye menghapus air matanya.

 

”Kau ingat? Saat kita bertemu di bangku smp, kau suka dengan rambutmu yang di ikat dua?” tanya kim bum.

”Untuk apa kau mengingatnya? Aku terlihat sangat aneh dengan kunciran dua itu…” jawab shin hye menggerutu sambil menghapus air matanya.

”Lalu, apa kau masih ingat ketika aku, kau, dan juga so eun belajar kelompok di taman kota?”

”Ne, aku ingat. Wae?”

”Itu tandanya kau masih menganggap persahabatan kita itu ada. Kita saling melindungi, menghargai, menyayangi, dan juga mengasihi. Kembalilah menjadi park shin hye yang dulu”

 

 

Shin hye menengok ke arah kim bum. Kim bum hanya melihatnya dengan tersenyum tanpa mengatakan apapun.

 

”Tapi, aku sudah bersalah pada so eun. Aku sudah berprasangka buruk padanya, apa mungkin dia memaafkan ku?” tanya shin hye dengan ragu.

“Jauh sebelum kau mengatakannya dia sudah memaafkanmu terlebih dahulu. Dia mengatakan padaku agar aku tidak menjauhimu. Mungkin kalau dia tidak memintanya aku sudah tidak ingin bertemu denganmu…” jawab kim bum.

 

Shin hye hanya tersenyum kecil mendengar ucapan kim bum itu. So eun memang terlalu baik padanya, bahkan setelah shin hye membuat phobianya muncul kembali.

 

”Lalu, apa yang ingin kau katakan padaku?” tanya shin hye dengan penasaran.

”Hmmm… Sebenarnya aku ragu untuk menceritakannya. Aku belum terlalu yakin dengan hal ini” kata kim bum.

”Biar ku tebak. Ini tentang perasaanmu pada so eun?” tebak shin hye.

”Bagaimana kau bisa tau? Aku belum mengatakan nya sama sekali padamu” ucap kim bum yang tak menyangka bahwa shin hye akan menebaknya dengan benar. Shin hye hanya tersenyum mendengarnya.

”Aku iri pada so eun karena aku tau kalau kau menyukainya. Itu, sudah terlihat dengan jelas dari caramu melihatnya”

”Benarkah? Bagaimana bisa kau mengatakannya? Aku sendiri masih ragu dengan perasaanku padanya…”

”Ceritakan padaku bagaimana kau bisa menyukai so eun. Katakan juga apa yang kau sukai dari so eun”

”Baiklah. Perasaan ini muncul begitu saja, aku juga tidak menyadarinya dengan jelas. Hanya saja, aku merasa nyaman bila aku berbicara dengannya, berada di dekatnya, dan juga melihatnya. Untuk yang aku sukai dari so eun… Aku tidak tau. Tapi aku menyukainya, itu saja…”

 

Shin hye beranjak dari bangkunya dan mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan kim bum. Kim bum yang melihatnya pun merasa heran.

 

”Chukkaeyo, kim sang bum” ucap shin hye.

“Tunggu, kau mengucapkan selamat untuk apa? Apa arti dari jabat tangan ini?” tanya kim bum yang heran.

”Aku akan mencoba untuk melupakanmu. Bukan, maksudku, aku akan mencoba untuk tidak menyukaimu lebih dari sekedar sahabat. Itu pun kalau aku bisa melakukannya. Kau tau siapa aku bukan?”

”Kau, benar – benar akan melakukannya? Tanpa melakukan hal – hal buruk pada so eun lagi?”

”Tentu saja, kali ini aku serius tanpa bohong sedikit pun. Percayalah, aku akan menerima kalau kau menyukai so eun. Dan persahabatan kita bertiga akan kembali seperti dulu”

 

Kim bum pun tersenyum mendengar ucapan shin hye. Shin hye membalas senyuman kim bum dengan tersenyum juga.

 

”Mulai saat ini, aku semakin yakin kalau aku memang menyukaimu, kim so eun…” batin kim bum.

 

Di Sore Hari…

 

Sebelum pulang so eun menemani chae woo dan so min di depan pintu gerbang kampus. Karena chae woo dan so min akan di jemput oleh kekasih mereka masing – masing. Dan tidak lama kemudian jung il woo datang dengan motor sport nya.

 

”Hei so eun, gwenchanayo? Ku dengar semalam kau sempat masuk rumah sakit, apa itu benar?” tanya il woo.

”Gwenchana, kau tidak perlu khawatir, yang perlu kau khawatirkan itu chae woo. Sejak tadi dia selalu menjitak kepala so min karena kesal dengannya, tolong berikan pengertian padanya yaa” ucap so eun bercanda.

”Betul! Kau tau betapa sakitnya kepalaku dan rambutku ketika bertemu dengan tangannya yang jahat itu??? Andai saja di kampus ini ada perwakilan HAM dunia, pasti akan ku laporkan chae woo ke mereka!” kata so min sambil menggerutu ke arah chae woo.

”Yaa!!! Itu kan salahmu karena kau mempermalukanku di depan anak – anak tadi!” ucap chae woo. Il woo dan so eun hanya tertawa melihat tingkah mereka yang seperti anak – anak.

 

Kemudian mobil milik hyun joong pun berhenti di depan mereka untuk menjemput so min.

 

”Hyun joong, lihat kepalaku ini! Sejak tadi kepalaku di jitak oleh chae woo, padahal aku tidak salah apa – apa padanya…” kata so min pada hyun joong.

”Benarkah? Chae woo melakukannya pasti karena ada alasan yang jelas” ujar hyun joong.

”Mwo??? Seharusnya kau memarahi chae woo, bukannya berkata seperti itu!!!”

”Untuk apa? Apa itu harus ku lakukan? Kau itu aneh sekali”

”Kau yang lebih aneh karena menyukai wanita aneh seperti ku”

”Ya sudah, bertengkarnya di lanjutkan besok saja. Sekarang kalian pulang dulu. Bagaimana?” ucap so eun di tengah pertengkaran sahabatnya itu.

”Hmmm… Ide mu bagus juga so eun! Chae woo, aku pulang dulu ya? Besok kita lanjutkan lagi bertengkarnya. Oke?” kata so min dengan santai.

”Mana ada orang bertengkar di tunda – tunda? Aku heran orang seperti mu bisa masuk ke kampus seterkenal ini” kata chae woo.

”Baiklah, kami semua pulang duluan ya so eun” pamit il woo.

”Ne, hati – hati di jalan ya. Jaga sahabat – sahabatku juga” jawab so eun.

 

Chae woo dan so min melambaikan tangan mereka kepada so eun, begitu juga dengan so eun. Setelah sahabat – sahabatnya pulang tanpa di sangka – sangka ada shin hye di depannya di susul dengan kim bum.

 

”Annyeong so eun! Sendirian?” shin hye sambil melihat keadaan sekitar.

”S,shin hye?!” kaget so eun.

“Park shin hye yang dulu sudah kembali” bisik kim bum yang mendekat ke so eun.

“Di mana chae woo dan so min?” tanya shin hye lagi.

“Mereka, sudah pulang lebih dulu. Ada apa kalian ke sini?” kata so eun.

”Shin hye bilang kalau dia ingin pulang bersama denganmu. Dia bersemangat sekali bukan?” kata kim bum meledek shin hye.

”Yaa apa katamulah bum. Ya sudah, kau sudah tidak ada kegiatan lagi kan hari ini? Ayo kita pulang!” ajak shin hye.

 

Mereka bertiga pun pulang bersama menaiki bis seperti biasanya. Namun kali ini shin hye tidak menggandeng tangan kim bum seperti biasanya, atau berjalan di samping kim bum seperti dulu. Shin hye selalu berada di samping so eun, mereka mengobrol bersama bahkan sampai tidak menghiraukan kim bum. Kim bum melihat perubahan sikap shin hye yang seperti itu menjadi senang. Saat di dalam bis shin hye duduk bersama so eun, dan kim bum duduk di belakang mereka berdua.

 

Sampailah bis mereka di halte tempat pemberhentian shin hye. Tanpa ragu shin hye turun dari bis meninggalkan so eun dan kim bum di sana.

 

”Hah, bis ini berjalan cepat sekali. Padahal masih banyak yang ingin ku ceritakan padamu so eun…” kata shin hye.

”Kau bisa menghubungiku kapanpun kau mau. Jadi jangan khawatir, besok kita bisa bertemu lagi” ucap so eun dengan tersenyum.

”Ah, itu benar! Baiklah, besok aku dan kim bum akan menjemputmu lagi ya? Kau mau kan so eun???” tanya shin hye.

”Siapa juga yang ingin menemanimu untuk menjemput so eun?” ledek kim bum ke shin hye.

”Ya sudah, lagipula kalau kau tidak ikut kau juga yang akan rugi. Weeee…” balas shin hye dengan menjulurkan lidahnya. So eun hanya tertawa melihat shin  hye seperti itu.

”Hei bum, kau duduk di sini sekarang” sambung shin hye dengan menunjuk kursi yang di tempatinya tadi.

”Mwo? Kenapa?” tanya kim bum bingung.

”Sudah kau tidak pelu bertanya terus! Ayo pindah!”

 

Shin hye menarik kim bum dengan paksa dan mendorong kim bum untuk menempati kursinya tadi. So eun yang di kagetkan dengan aksi shin hye itu jadi merasa canggung dengan kim bum.

 

”Baiklah, aku pulang dulu ya so eun, kim bum! Sampai bertemu besok!” pamit shin hye dengan ramah.

 

Shin hye pun turun dari bis dan melambaikan tangannya kepada so eun dan kim bum. Bis pun berjalan meninggalkan shin hye di halte bis sendirian.

 

”Ku akui, aku merasa begitu berat melihat kalian berdua di sana. Tapi aku akan terus mencobanya untuk menebus kesalahanku pada kalian. Maaf…” ucap shin hye dalam hati.

 

Sementara itu selama di perjalanan kim bum dan so eun mengobrol banyak mengenai perubahan sikap yang ada dalam diri shin hye itu.

 

”Kau senang?” ucap kim bum pada so eun.

“Mwo? Tentang apa?” tanya so eun.

“Shin hye. Tiba – tiba dia begitu ramah padamu setelah dia melakukannya padamu. Bukankah itu perubahan yang sangat drastis?”

“Oh, itu. Ya, tentu saja kau sangat senang. Shin hye yang asli memang sepeti itu bukan? Ku harap dia akan terus seperti ini, dan aku juga akan terus menghormati perasaannya padamu…”

 

            ”Perasaan?”

”Iya. Dia kan menyukaimu, dan aku akan menghormati perasaaannya. Aku tidak akan mengganggu hubungan kalian berdua, aku janji”

 

Kim bum terdiam sejenak. Dia memang belum menjelaskan kalau shin hye sudah menyerah untuk mendapatkan hati kim bum, namun kim bum merasa ini bukan saat yang tepat untuk menjelaskannya.

 

Merekapun sampai di halte bis tempat mereka turun. Kim bum dan so eun turun bersamaan dan berjalan bersama juga.

 

”Perlu ku antar?”

”Ah, tidak perlu bum. Aku sudah cukup besar untuk pulang sendiri. Pulanglah”

”Hmmm… Ya sudah, aku pulang dulu. Sampai bertemu besok”

”Ne”

 

Kim bum pulang terlebih dulu dengan melambaikan tangannya pada so eun. Kim bum tersenyum melihat wajah so eun yang begitu ramah. Lalu so eun berjalan pulang menuju rumahnya. Sesampainya di rumah ternyata so eun telah di tunggu oleh kedua orang tuanya. Ibu so eun membukakan pintu untuk so eun sementara ayahnya duduk di sofa dengan secangkir teh hangat.

 

“Ayo cepat masuk. Ayah sudah menunggumu di sofa, dia ingin berbicara serius denganmu” bisik ibu so eun.

 

Tanpa basa – basi so eun dan ibunya berjalan menuju ruang tamu dan duduk di sofa.

 

“Sepertinya kau pulang lebih cepat. Tumben” kata sang ayah.

”Iya, tadi dosen ku pulang terlebih dulu karena ada urusan yang penting. Jadi aku langsung pulang” ujar so eun.

”So eun, ayo minum teh nya sebelum dingin” kata ibu so eun sembari memberikan secangkir teh juga untuk so eun. So eun mengangguk pelan.

”Oh iya ayah, kata ibu ayah ingin berbicara padaku. Ada apa ayah?” tanya so eun.

 

Suasana mulai terasa serius kali ini. Ayah dan ibu so eun pun mulai berbicara kepada so eun.

 

“So eun, kau tau kan akhir – akhir ini ayah sedang memulai sebuah bisnis industri yang membuat ayah pulang larut malam?” tanya ayah so eun.

“Iya ayah, aku tau” jawab so eun singkat.

“Hari ini ayah mendapat kabar dari relasi ayah, bahwa bisnis yang sedang di bangun ini mendapat progres yang sangat baik, terutama dengan cabang yang berada di Perancis”

“Benarkah? Wah, semoga bisnis ayah dapat terus berjalan dengan baik. Aku akan sangat senang sekali bila bisnis ayah dapat di perluas ke negara lain”

”Tapi, ada satu hal yang harus ayah lakukan”

”Apa?”

”Ayah harus pindah ke perancis untuk mengurus segala sesuatu yang berkaitan dengan bisnis ayah di sana. Di tambah lagi ada perusahaan lain yang ingin bekerja sama dengan ayah”

”Pindah? Jadi ayah akan pindah ke perancis meninggalkan aku dan ibu di korea?”

”Sebelum kau sampai di rumah, ayah sudah membahasnya dengan ibumu. Ayah tidak akan meninggalkan kau dan ibu di korea”

”Tunggu, maksud ayah?”

”Ayah memutuskan agar keluarga kita pindah ke perancis. Termasuk dirimu so eun…”

 

To Be Continued…

 

Part 9 nya sudah selesai dengan total 13 halaman *rekor terpanjang selama ff ini berjalan* xD

Berarti, ff ini udah mau selesai dong?!

Jawabannya ‘iya’

Ya sudah, jangan lupa tinggalkan komentarnya ya. Gomawo ^_^

Tagged: , , , , , , , ,

22 thoughts on “(FF) My Last Memories – Part 9

  1. heldajungsoo Juli 16, 2012 pukul 2:32 pm Reply

    Ya, nasib hbugn bumsso gmana?? ayo bum cept nytakan.. cepat dilnjt thor. penasaran T.T

    • koreanfanfictland Juli 17, 2012 pukul 8:03 am Reply

      Akan di usahakan, soalnya udah mulai sibuk sekolah. Hehehe…

      -Chandra Syifa W-

  2. sugarsoya Juli 16, 2012 pukul 2:44 pm Reply

    Huft, untunglah masalah antara soeun-kim bum-shin hye udah kelar, shin hye juga bsa nerima kalo kim bum suka ama soeun,
    Ommo!! Pindah ke Perancis?? gmna nih author??
    Udah mau final ya author?? Ditunggu ya part selanjutnya…

    • koreanfanfictland Juli 17, 2012 pukul 8:04 am Reply

      Iya, soalnya kalo di perpanjang ga bisa, ga ada waktunya🙂

      -Chandra Syifa W-

  3. ria Juli 16, 2012 pukul 11:13 pm Reply

    akhir y shin hye sadar jg,
    Ya ampun ky y ada aja yah pnghalang y eunni sm bumoppa??
    D tnggu part 10 y😀

  4. niniet Juli 17, 2012 pukul 3:58 am Reply

    aduh maslah satu udah selesai, ada maslah lagi tapi yang jelas ..jangan dulu pergi so eun sebelum kim bum negatakan perasaannya…. ok

    • koreanfanfictland Juli 17, 2012 pukul 8:04 am Reply

      Gimana ya? Liat nanti aja deh, hahaha~

      -Chandra Syifa W-

  5. Sendy Sekar Juli 17, 2012 pukul 6:14 am Reply

    mwo ? so eun mau pindah ke prancis. gimana nasib kim bum?
    di tunggu part selanjutnya eon🙂

    • koreanfanfictland Juli 17, 2012 pukul 8:05 am Reply

      Baca aja di part selanjutnya. Kekeke~ ^_^

      -Chandra Syifa W-

  6. Putzz ran" moury Juli 17, 2012 pukul 12:41 pm Reply

    Jangan. .
    Soeun mw pindah ke pRancis itU artinya dia ningGalin kimbum d0ng. . Jangan. , ,
    kan kimbum udah bener” yakin ma perasAan’a tUh. .
    Syukurlah sHinhye udah insyaf *ngadain slametan*
    d tUngGu part selanjUtnya

    • Korean Fanfict Land Juli 18, 2012 pukul 12:43 am Reply

      Kira2 kim bum bakaan di tinggalin gak ya???
      Liat next part nya aja deh, hahaha

      -Chandra Syifa W-

  7. Riska Karisma Juli 19, 2012 pukul 3:25 am Reply

    wah,bgus bnget yah critax aq ska bnget

  8. yunita Juli 31, 2012 pukul 5:06 am Reply

    wah kayaknya ada yg cemburu nih fansnya kim bum

  9. E_sparkyu Agustus 15, 2012 pukul 5:46 am Reply

    nah gitu dunk
    shin hye jdi baek kan enak
    wah di saat kim bum mau ngungkapin perasaanya so eun akan pindah??
    makin seru nih n bikin penasaran
    ok lanjjuutt

  10. anastasia erna November 1, 2012 pukul 2:57 pm Reply

    syukur deh..akhirnya shin hye sadar..
    tapi kenapa lemot amat kim bum…
    kesel deh..
    wah..so eun mo pindah???????

  11. loveangelof April 17, 2013 pukul 9:44 am Reply

    So eun akan pergi ke paris atau tidak?

  12. Tetta Andira Oktober 18, 2013 pukul 6:26 am Reply

    yaa Tuhan ,, apalagy skrg ? Pdhl Hye-eon udh kmbli sprti semula (?) .. Udh baik lg sma Sso-eon , bhkn mncoba mengikhlaskn Bum-ppa . Bt , skrg Sso-eon d.ajak pndh ke Prancis sma appa’x ? Aishh , kllo gtuh saia lgsg lompat ke part 10 ne ..

  13. ainami Agustus 20, 2014 pukul 3:53 am Reply

    yaaaaaa… sso mau pindah ke prancis… huhuhu

    eh shin hye beneran berubah ya, dia menyerah juga akhirnya…
    syukurlah hehe…. dia cuma nyiksa dirinya, sso dan bum kalo terus mempertahankan obsesinya

  14. shefty rhieya Agustus 27, 2015 pukul 9:43 am Reply

    sso eon mau pindah? trus hububgan bumsso gmna?

  15. My Fishy November 7, 2016 pukul 11:50 am Reply

    akhirnya shin hye mengerti dengan perasaan kim bum terhadap so eun, meskipun awalnya shin hye selaluingin berbuat jahat untuk menjauhkan so eun dari kim bum tapi pada akhirnya shin hye menerima dan mau berubah, so eun bakalan pindah k perancis huwaaaa..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: