(FF) My Last Memories – Part 10


My Last Memories

(Part 10)

 

Author: Chandra Syifa W

Main Casts: Kim Bum, Kim So Eun

Casts: Park Shin Hye, Moon Chae Woon, Jung Il Woo, Jung So Min, Kim Hyun Joong

Genre: Romantic, Friendship

Type: Chaptered

 

Disclaimer: Semua cerita, karakter, setting, alur, dll adalah milik dari masing – masing author. Author sama sekali tidak terkait dengan pemilik, pencipta, atau produsen dari setiap media apapun. Tidak ada pelanggaran hak cipta dimaksudkan. Untuk tokoh Kim Bum, Kim So Eun, dan artis lainnya, bukan milik author, tapi milik orang tua, keluarga, dan agensi mereka. Author memakai mereka hanya untuk keperluan cerita. Apabila ada kesamaan judul, itu merupakan hal yang tidak di sengaja.

 

Cerita yang di tulis hanya fiktif belaka. Apabila ada kesamaan merupakan hal yang tidak disengaja.

 

Halo, kembali bertemu lagi dengan saya syifa yang membawa ff lanjutan saya part ke – 10 *gaya ala orang resmi*

Rekomendasi (lagi) nih. Bacanya sambil puter lagu Nell – Becoming Distant deh. Alasan utama yaa karena lagu itu galau #nasibgalauers

Okeh, langsung di baca aja yaa ^^

 

Review of Part 9

 

Suasana mulai terasa serius kali ini. Ayah dan ibu so eun pun mulai berbicara kepada so eun.

 

“So eun, kau tau kan akhir – akhir ini ayah sedang memulai sebuah bisnis industri yang membuat ayah pulang larut malam?” tanya ayah so eun.

“Iya ayah, aku tau” jawab so eun singkat.

“Hari ini ayah mendapat kabar dari relasi ayah, bahwa bisnis yang sedang di bangun ini mendapat progres yang sangat baik, terutama dengan cabang yang berada di Perancis”

“Benarkah? Wah, semoga bisnis ayah dapat terus berjalan dengan baik. Aku akan sangat senang sekali bila bisnis ayah dapat di perluas ke negara lain”

”Tapi, ada satu hal yang harus ayah lakukan”

”Apa?”

”Ayah harus pindah ke perancis untuk mengurus segala sesuatu yang berkaitan dengan bisnis ayah di sana. Di tambah lagi ada perusahaan lain yang ingin bekerja sama dengan ayah”

”Pindah? Jadi ayah akan pindah ke perancis meninggalkan aku dan ibu di korea?”

”Sebelum kau sampai di rumah, ayah sudah membahasnya dengan ibumu. Ayah tidak akan meninggalkan kau dan ibu di korea”

”Tunggu, maksud ayah?”

”Ayah memutuskan agar keluarga kita pindah ke perancis. Termasuk dirimu so eun…”

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

 

So eun sangat kaget mendengar ucapan sang ayah. Keluarganya akan ikut pindah bersama ayahnya, dan berarti so eun harus melanjutkan kuliahnya di perancis. So eun mencoba untuk menerimanya dengan kepala dingin, namun terpikir tentang kim bum di benaknya. Apa ia harus meninggalkan kim bum?

 

”Apa, kita semua benar – benar harus pindah ayah? Kuliahku tinggal 1 semester lagi, aku akan berusaha untuk menyelesaikan kuliahku secepat mungkin ayah” ucap so eun yang memohon.

”Tidak bisa so eun. Ayah sudah memikirkannya matang – matang, pasti ada sesuatu yang harus kita tinggalkan untuk mendapatkan yang lebih baik bukan?” kata ayah so eun.

”Ibu, apa kita tidak bisa menunda kepindahan ini? Ku mohon bu…”

”Maafkan ibu so eun, tapi ini benar – benar sangat penting untuk kemajuan bisnis ayahmu. Kita harus selalu mendukungnya, bukan menghadangnya. Ambil sisi positifnya saja, meskipun kau harus meninggalkan kuliah mu yang tinggal 1 semester itu tapi kau bisa melanjutkan kuliahmu di universitas ternama di perancis” jelas ibunya.

”Tapi bu…”

”Kita akan berangkat ke perancis 2 hari lagi. Persiapkan dirimu dan urus kepindahan kuliahmu. Ayah sengaja memberikan jeda 1 hari agar kau bisa berpamitan dengan teman – temanmu” ujar ayah so eun yang kemudian bergegas menuju ke ruang kerjanya.

 

So eun menjadi murung setelah ayah nya ingin dia pindah. Masalah yang baru saja terselesaikan kini dia harus meninggalkan teman – temannya. Ibu so eun menyadari hal itu, lalu beliau menghampiri so eun.

 

”Semua akan baik – baik saja. Teman – temanmu pasti akan mendukung nya, kau tak perlu khawatir” ucap ibunda so eun.

 

-Kim So Eun POV-

 

Bagaimana semua ini bisa terjadi? Bagaimana bisa ayah memberitahukan hal ini secara mendadak? Bahkan tidak memberikan ku kesempatan untuk berpikir ataupun memberikan opiniku terlebih dulu. Rasanya sangat tidak adil sekali. Tapi apa yang bisa ku lakukan?

 

Aku melangkah menuju ke kamarku dan berjalan menuju ke balkon. Hah… Nafasku terasa begitu berat. Besok aku harus mengurus surat kepindahanku. Apa yang harus ku katakan pada chae woo dan so min? Bagaimana dengan shin hye, terutama dengan kim bum?

 

”Beribu – ribu kali aku meminta pada ayahpun pasti tidak akan di kabulkan, ayah pasti tidak bisa mengubah keputusannya. Aku harus pindah, harus. Terlebih lagi, ini merupakan salah satu cara untuk melupakan kim bum. Semoga apa yang ku lakukan ini dapat membuat shin hye dan kim bum bahagia…” ucapku sedih.

 

Ku ambil selembar kertas dari lemariku dan juga sebuah pulpen yang biasa ku gunakan untuk mengerjakan tugas kampus. Dan aku mulai menulis tentang perasaanku yang sebenarnya, untuk kim bum…

 

Next Day…

 

Aku baru saja memasukkan surat – surat untuk mengurus kepindahan diriku dari kampus. Ku jadikan satu dan ku masukan ke dalam folder berwarna putih. Setelah itu aku sarapan bersama ayah dan ibu, lalu aku pergi ke kampus. Selama di bis, aku mencari cara bagaimana aku mengatakan hal ini pada chae woo dan so min. Aku ingin mereka mengerti, dan aku juga ingin mereka mendukung keputusanku.

 

”So eun! Di sini!”

 

Ku dengar suara so min yang sangat khas itu. Hanya dia yang menyapa ku seperti itu setiap pagi, chae woo tidak akan pernah melakukan hal yang sama dengan so min. Aku berusaha untuk menutupi perasaanku dengan tersenyum.

 

”Sepertinya kalian datang jauh lebih pagi dariku. Ada apa ini?” tanyaku.

”So min memintaku untuk datang pagi, katanya dia di antar pagi sekali oleh hyun joong. Karena tidak ada temannya jadi dia menelfonku. Padahal aku belum memakai hand body tau” gerutu chae woo dengan wajahnya yang sangat aneh.

”Iya, tadi hyun joong ada urusan mendadak. Dari pada aku tidak di antar sama sekali lebih baik aku datang pagi dan ku telfon chae woo deh!” ucap so min padaku.

 

Waktu belum menunjukan jam 8 pagi. Sepertinya aku bisa menceritakan hal ini pada chae woo dan so min sekarang.

 

”Aku ingin bicara dengan kalian berdua sekarang” ujarku singkat dengan nada yang agak rendah.

”Bicara apa?” tanya chae woo.

“Akan ku ceritakan setibanya kita di taman kampus”

 

Aku berjalan lebih dulu diikuti oleh chae woo dan so min. Aku yakin kalau sahabat – sahabatku itu merasa heran dengan sikap ku yang tidak biasa ini. Akhirnya kami sampai di taman kampus, dan kami duduk di salah satu bangku yang ada di sana.

 

”Bicaralah. Tidak biasanya kau seperti ini so eun” kata chae woo. Benarkan dugaanku kalau dia merasa heran dengan sikapku?

“Kau ingin curhat tentang kim bum kah??? Ayo ceritakan pada kami!” kata so min dengan semangat. Kenapa di saat seperti ini dia malah mengingatkan ku tentang kim bum sih…

 

Aku menghela nafas sejenak untuk menenangkan diriku. Ya tuhan, ku harap semuanya akan baik – baik saja setelah aku mengatakannya.

 

”Aku… Akan pindah ke Perancis besok…”

 

Wajah chae woo dan so min yang tadinya penasaran dengan apa yang ingin ku katakan sekarang berubah menjadi raut wajah yang begitu kaget. Bahkan so min terlihat seperti tidak berkedip sama sekali. Sedangkan chae woo, aku yakin dia kecewa terhadapku, aku mengatakannya tanpa basa – basi sedikitpun.

 

”Kau, bercanda ya so eun? Bercandamu tidak lucu sekali, tidak sama sekali” ucap so min dengan begitu lugu.

”Apa maksudmu dengan kata pindah? Kau aneh so eun” kata chae woo. Aku benar – benar tidak tega mengatakan ini pada mereka.

”Aku serius. Aku tidak bercanda sedikitpun, dan aku benar – benar ingin kalian tau kalau aku memang akan pindah besok. Ayahku akan mengurus bisnis nya di perancis, dan ayah ku meminta agar aku dan ibu ikut dengannya. Karena itu aku datang hari ini ke kampus bukan karena aku ingin belajar, tapi karena aku ingin mengurus surat kepindahanku dari kampus…” jelasku.

 

-Author POV-

 

Chae woo dan so min tetap merasa tidak percaya dengan apa yang di katakan so eun. Mungkin mereka merasakan hal yang sama dengan so eun, ini semua terlalu mendadak.

 

”Kau, benar – benar akan pergi ke perancis besok?” tanya chae woo yang masih belum percaya.

”Ya, aku akan berangkat pukul 10 pagi, karena penerbangannya berangkat jam 11” jawab so eun singkat.

”Kenapa kau harus pindah? Kau bisa tinggal di rumahku selama ayah dan ibumu di perancis. Dengan begitu kita bertiga akan tetap bersama. Aku sangat menyayangimu so eun, kau sudah ku anggap sebagai saudaraku sendiri…” ujar so min yang mulai berkaca – kaca.

”Tidak bisa so min. Aku harus mendukung bisnis ayahku di sana, dan aku juga bisa melanjutkan kuliahku di kampus yang terkenal juga. Aku juga merasakan hal yang sama denganmu. Aku menyayangimu dan chae woo. Sudah lebih dari 5 tahun kita selalu bersama, dan sudah banyak waktu yang kita lewati bersama juga. Itu sudah cukup membuat kita menjadi keluarga” kata so eun yang mulai menangis juga. So min dan so eun berpelukan untuk melepas rasa kesedihan mereka.

 

Chae woo yang sedari tadi hanya melihat so eun dan so min sekarang juga mulai ikut menangis. Chae woo tidak bisa menutupi rasa sedihnya, dan dia juga tidak bisa berbuat apa – apa untuk so eun.

 

”Bisakah kalian berdua untuk tidak membuat ku menangis? Aku juga sangat menyayangi kalian…” kata chae woo yang ikut memeluk so eun dan so min.

 

Suasana saat itu terasa sangat mengharukan. Chae woo yang biasanya jaga image dan juga feminim kini terlihat lebih terbuka. Dan so min yang biasanya terlihat sangat lugu dan suka bercanda kini seperti anak kecil yang suka berterus terang. So eun benar – benar menangis saat itu. Tidak semua orang dapat mempunyai sahabat yang tulus menyayangi mereka sendiri.

 

Sementara itu di kampus lainnya, terlihat kim bum dan shin hye sedang belajar bersama di dalam kelas. Mereka saling menjelaskan pelajaran ke satu sama lain dengan baik.

 

”Ilmu alam itu kan pelajaran yang mudah, bagaimana bisa kau tidak menguasai pelajaran ini? Kalau kau tidak mengerti tentang ilmu alam berarti kau juga tidak mengerti tentang alam yang berada di sekitarmu” kata kim bum yang kesal karena sedari tadi shin hye tidak dapat mengerti apa yang ia jelaskan.

”Jangan salahkan aku. Aku menegrti tentang alam kok, kau saja yang sok tau” kata shin hye yang juga kesal karena di marahi oleh kim bum terus.

 

Ponsel shin hye berbunyi. Shin hye segera mengecek ponselnya dan di lihatnya ada panggilan yang masuk tanpa ia kenali nomor siapa itu. Shin hye bergegas untuk keluar kelas untuk mengangkat telefon tersebut.

 

Yeoboseyo, Park Shin Hye di sini…

Ah, shin hye. Ini ibu so eun, kau masih ingat?

 

Shin hye menjauhkan ponselnya dari telinganya. Dia kaget karena ibu so eun tiba – tiba menelfonnya.

 

Ah, ne, aku ingat. Ada apa bibi? Maaf aku tidak mengenali nomor bibi…

Tidak apa – apa. Bibi ingin bicara denganmu, ini mengenai so eun. Kau masih berhubungan dengannya kan?

 

            ”So eun? Ada apa dengan so eun? Apa ini begitu penting sampai – sampai ibu nya so eun menelfonku?” batin shin hye.

 

Tentu saja bi, kemarin kami pulang bersama. Ada yang bisa ku bantu?

Begini shin hye. Ayah so eun harus pergi ke perancis dalam waktu lama karena ada bisnis yang harus di urus. Dan setelah bibi dan ayah so eun pikirkan, akan lebih baik bila so eun ikut pindah ke perancis. Jadi kami sekeluarga akan pindah ke perancis besok…

Mwo??? Pindah ke perancis besok?! Maaf bi, tapi kenapa mendadak sekali??? So eun juga tidak menceritakannya padaku?

Kami baru memberitau nya tadi malam. Dan kami lihat sepertinya so eun sangat sedih. Jadi bibi minta tolong padamu agar kau mendukung kepindahan so eun ke perancis. Kau bisa melakukannya kan? Bibi mempercayainya padamu…

 

            Shin hye terdiam sejenak mendengar penjelasan dari ibu so eun. Kaget dan tidak percaya, itu sudah pasti. Namun mengapa ibu so eun tidak menelfon kim bum saja?

 

Hmmm… Apa kim bum sudah mengetahui hal ini bi?

Sepertinya tidak. Biar so eun saja yang memberi tau kim bum, karena itu bibi hanya memberi tahumu saja…

Iya, aku mengerti bi…

Baiklah, terima kasih banyak ya shin hye. Maaf bibi mengganggu kuliahmu…

 

Telfon dari ibu so eun terputus. Shin hye bersender pada dinding kelasnya, apa yang harus dia lakukan? Shin hye benar – benar bingung, apalagi kim bum belum mengetahui hal ini.

 

”Hei, siapa yang menelfonmu tadi???” ujar kim bum yang mengagetkan shin hye.

”Ah, bukan siapa – siapa. Hmmm… Sebentar – sebentar…”

 

Shin hye masuk ke dalam kelasnya dan mengambil tasnya yang berada di meja kim bum. Kemudian dia keluar lagi.

 

”Untuk apa kau mengambil tasmu? Jam selesai kuliah masih lama” kata kim bum yang heran.

”Aku ada urusan mendadak. Tolong sampaikan pada dosen kalau aku izin. Temui aku di kampus so eun sepulang kuliah nanti. Oke?” jawab shin hye dengan cepat.

”Tapi…”

 

Belum selesai kim bum bicara shin hye sudah bergegas untuk ke kampus so eun. Shin hye ingin mendengar penjelasan dari so eun sendiri. Kim bum merasa aneh, namun segera ia lupakan karena dosennya bergegas masuk ke kelasnya.

 

Kim so eun baru saja selesai mengurus surat kepindahan kuliahnya ke perancis bersama chae woo dan so min. Mereka setia mendampingi so eun meskipun mereka harus di tinggal olehnya. Bel berbunyi, berarti jam kuliah segera di mulai.

 

”Yah, sudah bel deh. Hmm.. Chae woo, bagaimana kalau kita bolos untuk hari ini? Kita jalan – jalan saja bersama so eun ke mall.. Bagaimana???” usul so min di susul dengan jitakan chae woo.

“Aduh! Chae woo!!!” teriak so min meringis kesakitan.

“Bagaimana bisa kita meinggalkan jam kuliah hanya untuk berjalan – jalan??? Meskipun ini hari terakhir so eun di kampus tapi dia tidak akan membiarkan kita untuk menemaninya pergi, apalagi sampai tidak kuliah. Seperti tidak tau so eun saja…” kata chae woo.

”Itu benar. Kalian kuliah saja dulu, aku akan menunggu kalian di bangku bawah pohon sana. Semangat!” kata so eun dengan senyumnya yang khas.

”Ya sudah deh… Semangat!!!” kata so min juga.

 

Akhirnya chae woo dan so min berjalan menuju ke kelas mereka, lalu so eun berjalan menuju ke bangku bawah pohon. Belum sampai di sana tiba – tiba so eun di panggil oleh seseorang.

 

“Kim So Eun! Tunggu aku!”

 

So eun menengok ke arah belakang, di lihatnya shin hye yang terus berlari hingga berdiri di sampingnya.

 

“Shin hye? Kenapa kau ke sini?? Kau, tidak kuliah???” tanya so eun yang kaget.

”Sebentar… Hah, aku lelah sekali… Bisa kita bicara sebentar??” tanya shin hye dengan nafas yang tersengal – sengal.

 

Kemudian so eun mengajak shin hye untuk duduk di bawah pohon sembari menunggu chae woo dan so min selesai kuliah.

 

”Apa yang ingin kau bicarakan shin hye? Sepertinya penting sekali” tanya so eun.

”Memang penting, sangat – sangat penting. Lebih penting di bandingkan kuliahku. Dan kau harus menjelaskannya padaku dengan jelas dan rinci” jawab shin hye yang kini nafasnya sudah teratur.

”Benarkah? Apa, ini tentang kim bum? Aku dan kim bum tidak melakukan apapun. Dan kim bum juga tidak mengajakku pergi ke suatu tempat. Percayalah” kata so eun yang khawatir kalau shin hye akan marah lagi padanya.

”Bukan! Ini bukan tentang kim bum! Aku tidak peduli dengan apa yang dia lakukan. Ini tentangmu so eun”

 

So eun terdiam mendengar shin hye berbicara seperti itu. Biasanya kalau shin hye berbicara dengan so eun, itu masalah tentang kim bum. Namun kali ini bukan seperti itu.

 

”Tadi saat aku sedang belajar bersama dengan kim bum aku menerima telfon dari nomor yang tidak ku kenal. Dan kau tau siapa yang menelfonku?” tanya shin hye.

”Siapa?” kata so eun berbalik bertanya.

”Ibumu. Ibumu yang menelfonku tadi dan dia mengatakan kalau kau akan pindah ke perancis besok. Beliau mengatakan kalau ayahmu punya bisnis dan beliau harus pergi ke sana untuk mengurusnya. Karena itu kau dan ibumu akan ikut pindah ke perancis. Sekarang, bagaimana kau menjelaskan ini semua padaku? Kau tau aku sampai kaget karena ini begitu mendadak dan kau tidak menjelaskan apapun padaku dan juga kim bum” kata shin hye dengan panjang lebar.

 

So eun kaget karena dia memang belum mengatakannnya pada shin hye. So eun berniat untuk menceritakannya di saat mereka pulang bersama nanti sore. Dia juga tidak habis pikir kenapa ibu nya bisa sampai menelfon shin hye.

 

”Aku… Aku benar – benar tidak tau kalau ibu akan menelfonmu dan menceritakannya padamu. Sebenarnya aku ingin mengatakannya nanti, aku juga tidak berniat untuk seperti itu” kata so eun yang mulai kehabisan kata – kata.

”Lalu, kau akan benar – benar ikut dengan ayah dan ibumu besok?”

’Tadinya tidak, tapi aku sudah memikirkannya baik – baik. Kalau aku ke perancis aku bisa kuliah di kampus yang lebih baik. Dan dengan begitu… Kau juga bisa menghabiskan waktumu dengan kim bum kapanpun kau mau. Tidak akan ada masalah lagi mengenai hubungan ku dan juga kim bum… Itu hal yang baik bukan???”

 

Shin hye tidak percaya dengan apa yang di katakan so eun. Ia mulai menangis dengan rasa kecewa.

 

”Dengan kau pergi ke perancis itu akan membuat ku dan kim bum akan lebih baik? Kau mengatakan hal itu tanpa memikirkanmu sendiri??? Bagaimana kau bisa mengatakan hal itu padaku sedangkan kau menyukai kim bum juga hah???” ucap shin hye yang meneteskan air matanya.

”Aku, aku tidak menyukainya.. Aku tidak menyukai kim bum! Sungguh shin hye!!!” ucap so eun yang menangis untuk kedua kalinya.

“Jangan berbohong so eun!!! Kau pikir aku tidak tau??? Itu terlihat jelas sekali, karena itu aku pernah merasa iri padamu. Sampai aku hilang kendali…”

”Shin hye…”

”Kau sudah mengurus segala keperluanmu? Seperti, surat pindah, visa, dan lian – lain?”

”Sudah, tinggal mengepak baju – bajuku saja…”

”Kau selalu seperti itu, cepat dalam mempersiapkan sesuatu…”

”Hmmm… Shin hye, bolehkah aku meminta sesuatu padamu?”

”Apa?”

 

So eun mengeluarkan surat yang ia buat semalam. Surat yang sengaja ia buat untuk berpamitan dengan kim bum.

 

”Jangan memberitaukan ini pada kim bum. Jangan beri tau dia kalau aku akan pergi. Bisakah kau melakukannya?” pinta so eun.

”Tidak, aku tidak bisa melakukannya. Kim bum itu bagian dari kita, dia harus tau juga. Dia juga harus ikut mengantarmu kebandara besok” kata shin hye.

”Ini permintaan terakhirku padamu sebelum aku pergi. Tolong jangan katakan kepadanya kalau aku akan pergi. Dan juga…”

 

So eun memberi surat yang sedari tadi ia pegang kepada shin hye. Shin hye menerima surat itu dengan sedih.

 

“Surat ini ku tulis semalam, dan sengaja ku tulis untuk kim bum. Tolong berikan surat  ini padanya setelah aku pergi…” ucap so eun.

”So eun…” ujar shin hye yang benar – benar terharu dengan sikap so eun.

”Lalu… Bisakah kau katakan pada kim bum kalau aku sedang tidak ingin bertemu dengannya? Rasanya sangat sulit sekali”

”Ya, aku mengerti perasaanmu saat ini. Jujur, aku sangat kagum padamu so eun. Begitu lama kau memendam dan menyembunyikan perasaanmu sendiri pada kim bum dariku. Sampai aku tidak sadar kalau sahabatku telah lebih dulu menyukai kim bum, terdengar sangat bodoh sekali bukan?”

”Tidak, aku memang merasa akan lebih baik kalau kim bum tidak mengetahui perasaanku. Dengan begitu persahabatan kita akan berjalan jauh lebih lama di banding yang kita bayangkan”

 

Shin hye mendekat ke arah so eun dan memeluknya. So eun membalas pelukan shin hye.

 

“Pulanglah ke korea dengan baik. Jangan membuat kami semua khawatir akan dirimu, so eun-ah” ucap shin hye dengan senyum.

”Tentu saja. Terima kasih atas semuanya, shin hye” balas so eun.

 

Sore Harinya…

 

Setelah shin hye bertemu dengan so eun tadi, shin hye kembali ke kampusnya. Selama jam kuliah berjalan wajah shin hye terlihat murung. Kim bum kembali bingung dengan sikap shin hye yang seperti itu setelah dia pergi tiba – tiba. Sampai jam kuliah selesai pun shin hye tetap terlihat murung.

 

“Kau kenapa?” tanya kim bum. Namun shin hye tidak menyadari kalau kim bum sedang bicara padanya.

”Park Shin Hye, gwenchanayo???” tanya kim bum lagi.

“Ah! Iya, kenapa bum???” tanya shin hye yang baru sadar dari lamunannya.

”Kau ini kenapa? Tadi dengan tiba – tiba kau izin pergi keluar kampus, lalu saat berjalan pulang pun kau hanya melamun terus”

”Melamun??? Tidak, aku tidak melamun. Aku tidak apa – apa”

”Ya sudah. Kita harus cepat sekarang, nanti so eun menunggu terlalu lama lagi”

 

Kim bum bergegas berjalan menuju ke halte bis. Shin hye yang mengingat ucapan so eun pun langsung menarik tangan kim bum.

 

”Jangan!!!” kata shin hye sambil menahan tangan kim bum.

”Kau ini kenapa lagi??? Tidak ada kendaraan yang lewat kau malah seenaknya menarik tanganku” ujar kim bum yang kesal.

”Hari ini.. Kita tidak perlu menjemput so eun”

”Mwo??? Yaa!!! Pikiranmu itu kemana? Kemarin kau sendiri yang bilang kalau kau ingin menjemput so eun, sekarang kau juga yang membatalkannya”

”Kalau ku bilang tidak perlu ya tidak perlu!”

”Tunggu, apa kau melakukan hal buruk lagi padanya? Katakan padaku?”

”Anio!!! Tentu saja tidak!!! Hanya saja…”

”Hanya saja apa?”

”So eun… Oh iya, so eun sedang tidak ingin di jemput. Tadi saat aku ke kantin dia menelfonku kalau dia sedang ingin sendiri. Dia tidak mau di ganggu…”

 

Ucapan shin hye itu memang bohong. Karena shin hye mengerti perasaan so eun saat ini, jadi dia berbohong, seperti yang di minta oleh so eun. Kim bum jadi semakin heran.

 

“Tidak mungkin dia bicara seperti itu. Kau mengada – ada” ucap kim bum yang tidak percaya.

“Tidak! Aku serius kok! So eun sendiri yang mengatakannya padaku!” ujar shin hye yang berusaha untuk meyakinkan kim bum.

“Kau yakin?”

“Yakin!”

“Serius?”

“2 rius!!!”

“Benar?”

“Hah, sampai kapan aku menjawab pertanyaanmu yang seperti meragukan ucapan ku itu??? Sudah ku bilang kalau so eun memang sedang ingin sendiri!!!”

”Ya baiklah. Ayo kita pulang”

 

Kim bum kembali berjalan menuju halte bis diikuti oleh shin hye. Shin hye pun dapat bernafas lega setelah kim bum percaya dengan omongannya.

 

Sementara itu so eun tetap di sana menunggu chae woo dan so min, hingga waktu kuliah pun berakhir. Mereka saling bergandengan tangan menuju ke halte bis.

 

”So eun, kau tidak di jemput oleh shin hye dan juga kim bum? Apa mereka tidak tau kalau besok kau akan pergi ke perancis?” tanya so min sambil melihat di sekitar halte.

”Ah, tidak. Mereka sudah tau kalau aku akan pergi. Hanya saja mereka ada tugas kuliah yang harus di selesaikan hari ini…” kata so eun.

”Sahabat macam apa itu? Seharusnya mereka ke sini dan mengatakan kalau mereka tidak ingin kau pergi. Dasar” kata chae woo.

”Jangan seperti itu chae woo! Bagaimanapun juga mereka kan sahabat so eun, sama seperti kita. Hmmm so eun, bagaimana kalau untuk hari ini kami yang akan mengantarmu pulang???” tanya so min.

”Tidak perlu, kalian langsung pulang saja”

”Tidak ada penolakan untuk hari ini, kim so eun! Ayo so min, kita antar so eun pulang sampai ke rumahnya!” kata chae woo yang mendadak menjadi bersemangat.

 

Akhirnya so eun pulang bersama chae woo dan so min naik bis. Mereka banyak berbincang – bincang di bis tentang berbagai macam hal, layaknya sekelompok sahabat. Sampai mereka tiba di halte bis tempat so eun turun, mereka turun bersama – sama dan berjalan menuju ke rumah so eun.

 

”Apakah ini benar – benar terakhir kalinya kita mampir ke rumahmu, so eun???” tanya so min yang mulai merasa sedih lagi.

”Bisakah kau untuk tidak membuatku menangis lagi jung so min???” kata chae woo sembari mengambil tisu yang ada di tasnya. So eun hanya tersenyum dengan menggandeng tangan kedua sahabatnya itu.

”Apapun yang terjadi kalian adalah sahabatku. Sahabat yang tidak dapat tergantikan dengan apapun. Jangan bersedih kalau aku akan pergi. Aku janji kalau aku akan kembali ke korea dan menemui kalian” kata so eun.

”Janji???” tanya so min dengan mengacungkan jari kelingkingnya.

”Janji” jawab so eun yang mengacungkan jari kelingkingnya juga.

 

Setelah itu chae woo dan so min memutuskan untuk segera pulang. So eun melambaikan tangannya dengan penuh perasaan.

 

            ”Ini bukanlah akhir dari segalanya. Tapi ini adalah akhir dari kisahku yang hanya bisa diam, dan terus memendam perasaanku padanya…” batin so eun.

 

Malam haripun tiba. Kim bum yang sedang bermain gitar di kamarnya masih memikirkan ucapan shin hye saat ingin pulang tadi.

 

”So eun… Oh iya, so eun sedang tidak ingin di jemput. Tadi saat aku ke kantin dia menelfonku kalau dia sedang ingin sendiri. Dia tidak mau di ganggu…”

 

”Rasanya tidak mungkin kalau so eun mengatakan hal seperti itu. Dia terlalu baik untuk mengatakan hal yang bukanlah dirinya” ucap kim bum.

 

Kim bum meletakkan gitarnya dan mengambil ponselnya di atas meja lampu yang berada di samping kasurnya. Dia mencari nomor so eun di daftar kontak ponselnya.

 

”Kalau ku telfon, belum tentu dia akan mengangkat telfonku… Apa aku ke rumahnya saja?” ucap kim bum lagi.

 

Setelah berpikir beberapa menit akhirnya kim bum memutuskan untuk pergi ke rumah so eun saja. Saat sampai di rumah so eun ternyata ibu so eun yang membukakan pintu untuk kim bum.

 

“Annyeong haseo bi.. Maaf mengganggu malam – malam begini” ucap kim bum dengan ramah.

“Wah, kim bum rupanya. Tidak apa – apa kok. Apa kau ke sini untuk berpamitan dengan so eun?” ucap ibu so eun yang membuat kim bum heran.

”Berpamitan? Maksud bibi?”

”Ah, lupakan saja. Ayo masuk dulu kim bum…”

”Tidak usah bi, biar aku menunggu di sini saja. Lagipula, aku hanya ingin berbicara sebentar dengan so eun”

”Ya sudah. Kau duduk di sini dulu, akan bibi panggilkan so eun untukmu”

”Ne, terima kasih bi”

 

Ibu so eun kembali masuk dan berjalan menuju ke kamar so eun. So eun yang sedang merapihkan baju dan segala sesuatu yang akan di bawanya ke perancis mendengar pintu kamarnya terbuka.

 

”Ada yang ingin bertemu denganmu” ucap ibu so eun.

”Siapa bu?” tanya so eun.

”Siapa lagi kalau bukan pangeran berkuda putihmu itu…” ledek ibu so eun.

”Jangan bercanda bu, aku tidak kenal dengan pangeran berkuda putih tau…” jawab so eun.

”Memangnya siapa yang bercanda? Bukankah dia adalah pangeran impianmu?”

”Apa orang yang ibu maksud itu kim bum?”

”Nah, itu tau… Kalau di bilang pangeran impian saja kau langsung tau..”

”Ibu…”

”Iya iya.. Sudah sana, kim bum sudah menunggumu di luar”

”Ne..”

 

Ibu so eun hanya tertawa kecil melihat anaknya yang malu itu. Kemudian so eun turun dari kamarnya dan menghampiri kim bum yang berada di teras rumahnya.

 

”Ada apa kau ke sini bum?” tanya so eun yang mulai terlihat agak ketus.

”Aku hanya ingin mengobrol sebentar denganmu. Dan juga, memastikan sesuatu” ucap kim bum.

”Tentang apa?”

”Tadi, saat aku ingin menjemputmu ke kampus shin hye langsung mencegahku. Dia bilang kalau kau sedang tidak ingin di jemput”

”Lalu?”

”Dan anehnya lagi, shin hye bilang kalau kau sedang tidak ingin di ganggu. Kau juga sedang ingin sendiri. Kau, tidak mengatakan itu kan?”

 

So eun tidak tau harus berkata apa, setelah dia mencoba untuk bersikap dingin pada kim bum namun kenyataannya kim bum malah sangat memperhatikannya. Seakan – akan kim bum memang tau kalau itu bukanlah sikap so eun.

 

”Aku.. Memang mengatakannya” jawab so eun dingin.

”Maksudmu?” tanya kim bum yang tidak percaya.

”Aku memang mengatakan pada shin hye kalau aku tidak ingin di jemput. Aku tidak ingin di ganggu, dan juga aku ingin sendiri”

”Ini aneh sekali. Ini bukanlah dirimu yang sebenarnya so eun. Ada apa denganmu? Kenapa kau dan shin hye tiba – tiba berubah menjadi aneh seperti ini???”

”Cukup!!!”

 

Kim bum terdiam mendengar ucapan so eun dengan anda yang berbeda. Kepribadian yang kim bum lihat memang jauh berbeda dengan yang ia kenal. So eun sendiri sudah terlihat meneteskan air matanya. Namun ia juga berusaha untuk menutupinya dari kim bum.

 

”Dengar aku baik – baik. Jangan pernah menghubungiku ataupun menemuiku lagi. Aku tidak ingin mengenalmu lagi kim bum” ucap so eun berdiri tanpa melihat ke arah kim bum.

”Apa maksudmu??? So eun, lihat aku dan katakan ada apa sebenarnya…”

”Aku tidak ingin bertemu denganmu lagi kim bum! Aku sangat – sangat membencimu!!! Apa itu kurang jelas bagimu hah?!”

”So eun, kau…”

”Lebih baik sekarang kau pergi dari sini dan jangan pernah temui aku lagi!”

 

Tanpa basa – basi so eun langsung masuk meninggalkan kim bum yang masih berdiri terdiam di teras.

 

”Apa yang terjadi padamu kim so eun…” ucap kim bum yang bertanya – tanya.

 

 

To Be Continued…

 

Sampailah kita di part 10~ *nari ala mr. simple* #ganyambung

Lanjutan dari part ini merupakan part terakhir dari ff yang saya buat. Jumlahnya agak ’nyangkut’ ya?-__-

Pokoknya jangan lupa komenlah, itu yang paling penting sih. Hehehe…

Wess, sampe ketemu di part terakhir yaa :*

Tagged: , , , , , ,

18 thoughts on “(FF) My Last Memories – Part 10

  1. niniet Juli 20, 2012 pukul 9:08 am Reply

    ko gitu sih so eun? bukannya lebih baik dia mengatakan kalo di mau pindah luar negeri dan berpamitan baik2 ama kim bum, knp malah marah2… apa dia sudah ga kuat menahan perasaan sendiri ya…?

    • koreanfanfictland Juli 20, 2012 pukul 12:44 pm Reply

      Hmmm gimana ya? Sebentar biar saya tanyain dulu ke so eun eonnie *plakk*
      Gomawo sudah komen🙂

      -Chandra Syifa W-

  2. ria Juli 20, 2012 pukul 11:08 am Reply

    yaaa~ eunni y mau pergii -.-
    Jd y gmana dong eon ??
    A. Bumoppa kejar2an d airport.
    B. Nungu bbrpa tahun
    Kirim jawaban d kamar tetangga . . .
    Wkwkwk . . . Duch ky y sad or happy ending yah eon ???

    • koreanfanfictland Juli 20, 2012 pukul 12:44 pm Reply

      Nah lho? Jadinya gimana yaa???
      Yang pasti tunggu aja part terakhirnya. Hahaha xD

      -Chandra Syifa W-

  3. Putzz ran" moury Juli 20, 2012 pukul 1:50 pm Reply

    HuaAa. .
    Kasian pas bCa adEgan terakhIr benar” pilihan yg sulit buat s0eun. . .

  4. Justgalon Juli 20, 2012 pukul 3:06 pm Reply

    heh…so eun, saya ngerti kok perasaan kamu, kekekekke..tapi mau gimana lagi ya, mau ngaku..sulit juga kekekekeek, authoooor cepet disambung ya part end nya..pokoknya harus HAPPY ENDING..#reader maksa kekekekekke😄
    whaiiittiiiing author😀

    • koreanfanfictland Juli 21, 2012 pukul 3:38 am Reply

      Happy ending? Ga janjiiii *plakk*
      Gomawo sudah visit dan komen😀

      -Chandra Syifa W-

  5. sugarsoya Juli 20, 2012 pukul 3:57 pm Reply

    Kasian soeun, masih aja mau lupain kim bum, padahal udah jelas2 mereka saling suka, ahh author bikin aku galau…
    Author part endingnya jangan lama2 ya… Kalo bisa besok deh… hehehe

    • koreanfanfictland Juli 21, 2012 pukul 3:37 am Reply

      Kok galau? Kan belum selesai ff nya? -_-
      Terima kasih sudah komen🙂

      -Chandra Syifa W-

  6. Sendy Sekar Juli 21, 2012 pukul 8:52 am Reply

    so eun eonni jdi pergi tapi tega banget kim bum oppa di jutekin gitu..
    jdi penasaran endingnya gimana??

  7. E_sparkyu Agustus 15, 2012 pukul 5:58 am Reply

    so eun jangan gitu dunk
    sekalipun kau akan pergi jangan jutek ma kim bum dunk
    kan kasian kim bum
    ok lanjjuutt

  8. anastasia erna November 2, 2012 pukul 2:55 am Reply

    ya ampun…
    kenapa gini so eun…????
    kenapa ga mo ketemu ma kim bum…??????

  9. loveangelof April 17, 2013 pukul 10:16 am Reply

    Kok sikap so eun jadi seperti itu kepada Kim bum

  10. Tetta Andira Oktober 18, 2013 pukul 7:05 am Reply

    wahh ,, gak nyangka !! Udh tggl 1part trakhir yg hruz saia bca . Buat part yg ini , saia sngt bingung mau berkomen apa .. Yg pzty , smw’x sngat mengena’🙂

  11. ainami Agustus 20, 2014 pukul 4:05 am Reply

    sso lbh memilih pergi dengan tidak mengatakan yg sbnrnya kpd bum… kenapa ya, apa krn mau pergi jauh jd berasa ga ada harapan lagi utk bisa bersatu ma bum huhuhu

  12. My Fishy November 7, 2016 pukul 12:42 pm Reply

    sedih juga rasanya bumsso akan berpisah meskipun hanya untuk sementara, so eun kenapa tidak jujur za dengan perasaannya terhadap kim bum sebelum pergi k perancis?? malah membuat kim bum bingung dengan sikapnya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: