(TS) Long Life Story – Part 1


Long Life Story

(Sequel of ‘Always By Your Side’)

#Part 1

LLS1

Author: Chandra Syifa W

Main Casts: Kim Bum, Kim So Eun

Casts: Park Min Young, Lee Donghae, Jessica Jung, Kim Ha Na (fictional)

Genre: Romantic, Family

Type: Two Shoot

 

Disclaimer: Semua casts yang saya gunakan dalam ff ini bukan milik saya, melainkan milik keluarga, teman, dan manajemen mereka masing – masing. Saya tidak memiliki casts tersebut, namun alur cerita yang ada di sini adalah murni milik saya tanpa ada pengaruh dari pihak manapun. Dilarang keras memplagiat atau mengambil karya milik saya ini tanpa seizin dan sepengetahuan saya selaku author.

 

Apabila ada kesamaan judul ataupun alur cerita, itu merupakan hal yang tidak di sengaja. Kesalahan format atau huruf yang ada dalam ff ini mungkin terjadi karena human error atau faktor dari blog sendiri.

 

Chandra Syifa W in here!

Untuk project ff yg sempat saya buat announcement nya, saya tunda dulu untuk sementara karena kebetulan muncul ide untuk membuat sequel dari TS dan OS saya sebelumnya.

Ini adalah sequel terakhirnya, saya harap semua readers bisa menerima nya dengan baik meskipun terlalu banyak kekurangan di cerita ini.

Enjoy and please give your comment ^^

 

The last story in ‘Always By Your Side’

 

“Ibu!!! Ayah!!!”

 

Teriakan ha na membuat so eun dan kim bum berpaling padanya. Ya, ha na baru saja pulang dari sekolahnya. Tiba – tiba ia datang dengan mata yang sembab, raut wajahnya pun terlihat sedih sekali. Sepertinya ia habis menangis, namun so eun dan kim bum tidak tau mengapa.

 

“Mwoya ige? Kenapa ha na datang sambil berteriak seperti itu??? Mata ha na juga sembab, apa ha na habis menangis di sekolah???” tanya so eun dengan khawatir.

“Apa yang terjadi pada ha na? Apa ha na di lukai oleh teman ha na? Coba katakan pada ayah dan ibu” ujar kim bum yang tidak kalah paniknya.

 

Ha na terlihat menangis hingga sesenggukan, wajahnya jadi terlihat merah. Tangan kecilnya sibuk menghapus air mata yang membasahi pipinya, meskipun pada akhirnya akan turun lagi. Padahal tadi pagi ha na sangat bersemangat sekali untuk pergi ke sekolah, tapi mengapa ia pulang sambil menangis, heran so eun.

 

“Ha na di ledekki sama teman – teman ha na” kata ha na yang masih berurai air mata.

“Di ledekki oleh teman – teman ha na? Apa ha na melakukan kesalahan lagi?” tanya so eun dengan bingung.

“Tidak kok, ha na tidak melakukan hal buruk saat di sekolah tadi” jawab ha na.

“Lalu kenapa ha na sampai di ledekki hingga menangis seperti ini? Atau sekarang ha na ingin meminta apa dari ayah dan ibu, supaya ha na tidak menangis lagi” kata kim bum yang berusaha untuk menenangkan ha na.

“Apa boleh ayah? Apa ha na boleh meminta sesuatu pada ayah dan ibu?” tanya ha na memastikan.

“Tentu saja, apapun akan kami lakukan untuk ha na. Jadi, apa yang ha na inginkan?” tanya so eun.

“Ha na ingin punya adik laki – laki. Ayah, ibu, buatkan adik laki – laki buat ha na ya”

“MWO???!!!”

 

– Long Life Story –

 

            Kim bum dan so eun membulatkan kedua mata mereka, memandang ha na dengan tatapan bingung dan juga aneh. Sementara ha na hanya tersenyum dengan wajah merah merekah, berharap dengan dia bersikap seperti itu hati kim bum dan juga so eun akan luluh dan mengabulkan permintaannya.

 

”Ayah, ibu, kalian tidak apa – apa? Ayah dan ibu akan mengabulkan permintaan ha na kan???” tanya ha na memastikan. So eun hanya menundukkan kepalanya seraya berpikir.

”Apa ha na yakin ingin memiliki seorang adik laki – laki? Banyak hal yang harus ha na pikirkan lho sebelumnya, apa ha na tau?” kata kim bum bertanya.

”Mwo? Ha na pikirkan? Apa itu ayah?” tanya ha na.

 

Kim bum pun tersenyum simpul pada ha na, kemudian bergegas menggendong ha na dan mengajaknya untuk duduk di sofa di ruang tengah. So eun yang bingung dengan sikap kim bum hanya mengikuti mereka dari belakang, kemudian memilih untuk duduk di samping kim bum tanpa berbicara apapun. Kim bum memberikan tatapan pada so eun seperti berkata ’serahkan saja padaku’.

 

”Ha na tau, memiliki seorang adik terutama adik laki – laki itu artinya apa?” tanya kim bum dengan ramah. Ha na hanya menggelengkan kepalanya dengan cepat. ”Memiliki seorang adik, itu artinya ha na akan menjadi seorang kakak. Kakak dari adik ha na sendiri. Jadi jika ha na mau menjadi seorang kakak berarti ha na harus menyayangi, mengasihi, dan juga melindungi adik ha na. Ha na tidak boleh berbuat kasar pada adik ha na, dan ha na harus menjadi contoh agar adik ha na sama pintar dan baiknya dengan ha na” terang kim bum dengan panjang lebar. Ha na memperhatikan kim bum dengan sangat serius, sementara kini so eun sudah mengerti apa yang kim bum lakukan pada ha na.

”Jadi, ha na harus jadi penjaga adiknya ha na ayah?” tanya ha na.

”Bukan hanya penjaga, tetapi ha na harus menjadi seorang sahabat untuk adik ha na nanti. Apa ha na mengerti?” kata so eun memastikan.

 

Ha na hanya menampilkan raut wajah datar tanpa mengucapkan apapun. Sepertinya ia sedang mencerna ucapan kim bum dan so eun yang ia dengar. Kim bum dan so eun tertawa kecil melihat ha na yang diam bingung seperti itu.

 

”Bagaimana, apa ha na benar – benar mau memiliki seorang adik? Apalagi adik laki – laki, ha na harus menjadi kakak yang baik untuknya” ucap kim bum pada ha na.

”Mmmmmm” gumam ha na sambil berpikir.

”Jadi?” tanya so eun.

”Ha na tetap mau di buatkan adik laki – laki! Ha na bisa kok jadi kakak dan sahabat adik ha na nanti ayah, ibu! Pokoknya ayah dan ibu jangan khawatir, ha na akan jadi kakak yang baik!!!” seru ha na dengan girang.

 

Kim bum dan so eun saling menatap satu sama lain, kemudian mereka beralih menatap ha na yang sedang tersenyum lebar bersamaan. Ya, sebenarnya kim bum dan so eun tidak sedang berusaha untuk menghndar dari permintaan ha na. Mereka berdua hanya memastikan jika ha na akan menerima anggota baru di keluarga kecil mereka nantinya. Hanya tinggal menunggu waktu.

 

***

            ”Bagaimana menurutmu?”

”Ne?”

”Tentang permintaan ha na tadi, bukankah itu hal yang sangat lucu? Ku pikir ha na masih ingin menikmati momen – momen dirinya bersama mu, ternyata dia menginginkan seorang teman di rumah ini”

 

So eun hanya tertawa mendengar ujaran kim bum tadi. Hari itu memang kim bum pulang lebih cepat, karena itu ia bisa ada di rumah saat ha na pulang sekolah tadi. Kim bum memilih untuk menikmati masa – masa pernikahannya yang baru berumur kurang dari 5 hari itu. Pekerjaannya di kantor pun sebagian di kerjakan oleh sekretaris dan juga Park Min Young, sahabat so eun yang juga bekerja di tempat yang sama. Min young menerimanya dengan sepenuh hati karena ia juga ingin agar so eun lebih banyak di rumah mengurusi rumah tangganya.

 

”Aku belum pernah mendengar permintaan seperti ini dari ha na, biasanya ia hanya meminta sebuah lolipop berukuran besar atau sebuah boneka kucing. Aku bingung mengapa teman – teman di sekolahnya selalu mengolok – oloknya dengan cara seperti ini” ujar so eun.

”Selalu? Jadi, hal ini selalu ia terima hampir setiap hari?” tanya kim bum.

“Ne, ha na selalu menceritakan semuanya. Sebelum ia mengenalmu ia selalu saja berdiri di atas meja dan berteriak di depan teman – teman kelasnya, aku jadi sering datang terlambat ke kantor” balas so eun dengan lesu.

“Apa kita perlu memindahkan sekolahnya ke taman kanak – kanak yang lebih baik? Ku rasa di pusat kota Seoul masih banyak taman bermain bertaraf internasional, yang sudah pasti lebih baik di bandingkan sekolahnya yang sekarang” usul kim bum dengan serius.

”Ah, itu tidak perlu kim bum. Ha na juga tidak akan mau di pindahkan”

”Tapi kondisinya yang sekarang tidak akan baik untuk pertumbuhan psikis ha na. Atau mungkin kita coba home schooling untuknya?”

”Ku rasa semuanya akan berakhir bila kita mengabulkan permintaan ha na. Dengan begitu ha na tidak akan di ejek lagi oleh teman – temannya itu”

”Jadi, kau benar – benar bersedia untuk memberikannya adik?”

”Mwo???”

 

So eun menatap kim bum heran, sementara kim bum yang duduk tepat di sampingnya itu hanya menatapnya dengan smirk yang menggoda. Tubuh so eun jadi bergidik ngeri, sepertinya ia salah berucap.

 

“Kau, bersedia untuk memberikan seorang adik, dari rahimmu???” kata kim bum yang masih menatapnya fokus.

”I-itu.. Tentu saja..” jawab so eun ragu.

”Kenapa kau terus menundukkan kepalamu?”

“A-aku??? Tidak! Aku tidak menundukkan kepalaku!”

”Lalu kenapa kau jadi gugup seperti itu?”

”Gugup???”

”Apa kau memikirkan sesuatu tentang ’kita’?”

”’Kita’???”

 

Kim bum mendekat ke arah so eun dengan tatapan jail, dan so eun semakin bingung dan gelisah dengan apa yang harus ia lakukan. So eun terus bergeser mundur untuk menghindar dari kim bum sampai akhirnya kepalanya terpentok kepala ranjang kasur mereka.

 

”Apa yang akan kau lakukan???” tanya so eun dengan takut.

”Apa yang akan ku lakukan? Tentu saja membuat apa yang ada di pikiranmu menjadi kenyataan” jawab kim bum tanpa mengalihkan pandangannya sedetikpun.

”Memangnya aku memikirkan apa???” kata so eun yang semakin panik.

”Membuatkan seorang adik laki – laki untuk ha na, bukankah itu, hmm?”

”Nde??? Kim bum, lupakan masalah membuat adik untuk ha na. Ini sudah malam dan besok kau mempunyai rapat meeting dengan customer mu bukan??? Ayo kita tidur!”

”Kalau aku tidak mau?”

”Mwoya???”

 

Kim bum seperti singa yang berhasil menerkam mangsanya, dan tinggal melahap nya dengan sekali gigitan. Jarak wajah kim bum dan so eun hanya tinggal beberapa cm, hal itu membuat jantung so eun berdesir dan berdetak dengan sangat cepat. So eun tidak berani membayangkan apa yang akan terjadi, kemudian ia memutuskan untuk menutup matanya. Dan akhirnya…

 

Cup!

Kim bum mencium kening putih so eun dengan perlahan dan juga sangat mendalam. So eun membuka kedua matanya dengan perasaan kaget dan juga terharu. Cukup lama kim bum mencium keningnya dan so eun hanya tersenyum menerima perilaku kim bum yang sangat menghargai wanita terutama dirinya. Kim bum melepas ciumannya dan tersenyum manis pada so eun, dan so eun membalas senyumannya.

 

”Tidurlah, masih ada banyak hari yang akan menanti kita dan juga ha na. Dan juga seorang bayi yang akan menunggu kita”

 

***

            Tak terasa sudah hampir 2 bulan kehidupan pernikahan kim bum dan juga so eun berjalan. Kim bum masih sibuk dengan perusahaan yang membuka banyak cabang baru di luar Korea Selatan, sementara so eun tetap mendampinginya di kantor. Setiap hari mereka pergi bekerja bersama dengan si kecil ha na yang akan berangkat sekolah. Hari ini tetap mereka jalani seperti biasa.

 

”Ibu, menu sarapan hari ini enak sekali! Besok ibu harus membuatkannya lagi untuk ha na ya bu!” ujar ha na dengan semangat. Piring yang berada di depannya pun terlihat sangat bersih.

”Memangnya masakan ibu yang kemarin tidak enak?” tanya kim bum berpura – pura curiga.

”Mwo??? Tentu saja enak ayah! Tapi hari ini lebih lebih lebih enak! Nyam nyam nyam!!!” balas ha na sambil mengelus – elus perutnya yang sudah penuh makanan itu.

”Kau ini, ayo ucapkan terima kasih pada ibu” kata kim bum dengan tersenyum.

”Ya ayah!” jawab ha na dengan sigap.

 

Ha na pun pergi ke dapur bersama dengan kim bum. Mereka menghampiri so eun yang sedari tadi hanya berdiri terdiam di dapur tanpa bersuara. So eun memegang kepalanya yang terasa berat, ia hanya meringis untuk menahan rasa sakitnya itu.

 

“Ibu, masakan ibu enaaaakkk sekali. Besok buatkan untuk ha na lagi ya bu!” seru ha na sambil menarik – narik rok so eun. Kim bum hanya melipat kedua tangannya, namun so eun tidak memberikan reaksi apapun.

”Ibu, ibu???” kata ha na lagi. Ia menarik rok so eun dengan semakin cepat. Kim bum yang menyadari hal ini pun langsung tanggap.

”So eun, kau baik – baik saja? Apa kau sedang sakit??” tanya kim bum sambil merangkul pinggang so eun. So eun menggelengkan kepalanya pelan.

”Aku tidak apa – apa. Kau dan ha na kembalilah ke meja makan, aku akan menyusul nanti” ujar so eun dengan pelan.

”Tapi wajahmu begitu pucat, apa kau yakin? Lebih baik kau istirahat dulu, biar aku yang mengantar – jemput ha na nanti” ujar kim bum.

”Tidak, aku..”

 

Braakk..

So eun pun kehilangan kesadarannya di pelukan kim bum. Kim bum dan ha na langsung panik melihat so eun yang pingsan.

 

”Ibu!!! Ibu bangun!!! Ayah, ibu kenapa??? Apa ibu sakit???” kata ha na dengan panik. Matanya yang bulat bening itu terlihat mulai berair.

”So eun, ada apa denganmu??? So eun, jawab aku!!!” kata kim bum yang mencoba untuk berbicara pada so eun.

“Ibu, jangan tinggalkan ha na. Ha na tidak mau di tinggal oleh ibu..” ujar ha na yang mulai di iringi dengan tangisannya.

”Ha na, lebih baik sekarang ha na berangkat ke sekolah, nanti akan ayah telfonkan taksi untuk ha na. Nanti ayah akan membawa ibu ke rumah sakit, ha na tidak perlu khawatir” ucap kim bum yang mencoba untuk menenangkan ha na.

”Tapi ayah, muka ibu pucat sekali. Ha na tidak mau sekolah, ha na mau menemani ibu ke rumah sakit.. Hiks..” jawabnya dengan sesenggukan.

”Tapi ha na, nanti ha na..”

“Jangan larang ha na ayah, ha na tidak mau ibu kenapa – kenapa. Ha na takut sekali ayah”

”Ya sudah, sekarang bisa ha na bantu ayah untuk membuka pintu? Kita harus segera membawa ibu ke rumah sakit”

 

***

            Kim bum duduk di depan ruang UGD sambil memangku ha na yang terus menerus menangis. Ia terus menghapus air mata ha na yang tak berhenti juga. Dengan penuh cemas ia dan ha na menunggu dokter keluar dari ruangan itu. Berharap semuanya baik – baik saja.

 

”Ayah, apa ibu sakit parah?” tanya ha na dengan polos.

”Tidak, ibu pasti hanya kelelahan karena terlalu banyak pekerjaan di kantor” jawab kim bum.

”Apa ibu sakit karena ha na juga?” tanya ha na lagi.

”Tidak, ibu tidak pernah merasa lelah untuk menjaga ha na. Ibu selalu menyayangi dan mengurus ha na dengan penuh perasaan. Tidakkah ha na tau itu?” terang kim bum.

”Kalau begitu ha na akan membantu ibu mengerjakan tugas ibu di kantor, biar ibu tidak kelelahan dan sakit. Ha na takut sekali ayah”

 

Kim bum memeluk ha na dengan perlahan, sementara ha na masih menangis di dalam pelukannya. Tangan kecilnya merengkuh leher kim bum, dan itu membuat kim bum semakin khawatir dan juga tak tega. Anak sekecil ha na sudah dapat merasakan semuanya, rasa sakit yang ia alami karena di tinggal oleh kedua orang tua kandungnya sendiri mungkin membuatnya menjadi lebih peka. Wajar saja jika ha na setakut ini, ia tidak ingin kehilangan orang tuanya meskipun so eun bukanlah orang tua kandungnya.

 

”So eun, apa yang terjadi denganmu? Jangan membuatku khawatir seperti ini. Aku dan ha na tidak mampu untuk hidup tanpamu, bahkan ha na tak bisa berhenti menangis melihatmu tak sadarkan diri seperti itu. Apa kau tega melakukannya so eun?” batin kim bum. Pandangannya kosong tanpa arah.

 

”Tuan Kim Bum”

 

Kim bum yang menyadari namanya di panggil pun langsung berdiri. Ia masih menggendong ha na dan berjalan menuju dokter yang berdiri di depan ruang UGD itu. Ha na yang terus memeluk kim bum erat kini melonggarkan pelukannya dan mengalihkan perhatiannya pada dokter itu.

 

”Ada apa dengan istri saya dok? Apa kondisi nya mengkhawatirkan?? Apa ia mengidap penyakit???” tanya kim bum dengan beruntun.

”Tunggu, anda tidak tau akan hal ini tuan?” kata dokter tersebut berbalik bertanya.

”Maksud anda???”

 

Dokter itu tersenyum simpul pada kim bum dan juga ha na. Sementara kim bum masih juga belum mengerti apa yang dokter itu bicarakan.

 

”Selamat tuan, istri anda sedang mengandung janin berusia 1 bulan”

 

Kim bum membulatkan kedua matanya. Rasa kaget, haru, dan juga senang pun memenuhi seluruh batinnya. Ia masih tidak yakin akan hal itu. Sementara ha na hanya diam karena tidak mengerti apa yang orang tuanya bicarakan dengan dokter itu.

 

”Jadi, istri saya hamil 1 bulan dok??” tanya kim bum memastikan. Dokter pun mengangguk pelan. ”Tapi, saya tidak pernah melihat tanda – tanda kehamilannya. Apa dokter tidak salah diagnosa???”

”Tidak semua wanita hamil itu mengalami muntah – muntah ataupun mengidam di masa kehamilannya, itu hanya rata – rata saja. Gejala pusing dan juga sedikit demam juga sering kali di alami. Apa istri anda tidak pernah check – up atau menggunakan test pack di rumah?”

”Ku rasa tidak, setelah pulang kerja ia menghampiri anak saya di kamarnya kemudian bergegas untuk tidur. Tak ada sikap yang menunjukkan jika ia sedang hamil”

”Tidak apa – apa, itu bukanlah hal yang mesti istri anda alami. Anda harus menjadi suami siaga selama masa kehamilannya, jangan biarkan istri anda bekerja keras karena itu akan menganggu kandungannya”

”Ah, arasseo. Khamsahamnida dokter”

”Ne, sekali lagi chukkaeyeo atas kehamilan istri anda tuan”

 

Dokter itu pun pergi meninggalkan ruang UGD, sementara kim bum tersenyum manis untuk menggambarkan kebahagiaannya. Ha na yang memperhatikan ayahnya yang terus menerus tersenyum itu heran.

 

“Ayah kenapa? Kok senyum – senyum terus?” tanya ha na.

”Oh ya? Apa iya??” balas kim bum dengan iseng.

”Mmm, senyumnya ayah itu manis sekali, tapi membuat ha na bingung soalnya senyumnya ayah tidak hilang – hilang” terang ha na dengan jujur.

”Ha na ingin tau mengapa ayah terus tersenyum?”

”Mmm”

”Kalau begitu kita ke masuk ke dalam dan lihat apa yang membuat ayah terus tersenyum seperti ini. Kajja”

 

Dengan segenap hati kim bum terus menggendong ha na menuju ke ruangan so eun. Mereka memasuki ruangan VIP dengan nomor 357. Kim bum membuka daun pintu dengan perlahan agar tidak mengganggu so eun yang sedang beristirahat. Ha na terlihat sangat tertarik dengan kamar tempat so eun di rawat, karena ini merupakan pertama kalinya bagi ha na untuk masuk ke kamar rumah sakit.

 

”Ibu!”

”Ha na?!”

 

Dengan cepat ha na bergegas turun dari gendongan kim bum menuju ke ranjang so eun berbaring. Meskipun ranjang so eun cukup tinggi, tapi ha na tetap mencoba untuk naik. Ha na pun memeluk so eun dengan erat, dan kim bum memperhatikan 2 wanita yang sangat ia cintai dengan tersenyum cerah.

 

”Ibu tidak apa – apa? Apa ibu masih sakit? Ayah bilang ibu kelelahan, apa itu benar bu???” tanya ha na yang masih sedikit khawatir. So eun pun tersenyum kecil.

”Sepertinya begitu, ibu memang agak sedikit lelah. Tapi sekarang sudah tidak apa – apa. Mata ha na sembab, apa ha na habis menangis?” tanya so eun yang memperhatikan kedua mata ha na.

”Dia menangisimu terus menerus tanpa henti, kau harus bertanggung jawab, Kim So Eun” canda kim bum. So eun hanya tertawa.

”Jadi ibu tidak sakit apa – apa kan? Nanti sampai rumah ha na janji akan memijiti ibu biar ibu tidak lelah. Ha na janji!” ucap ha na. Kepolosannya benar – benar tergambar saat so eun berada dalam kondisi seperti ini.

”Ha na tidak perlu memijiti ibu, karena sebenarnya ibu tidak sedang sakit ataupun kelelahan” kata kim bum.

 

Perhatian so eun dan ha na pun beralih pada kim bum. Kim bum berdiri di tengah – tengah mereka dan membisikkan sesuatu.

 

”Ibu pingsan, karena sedang mengandung adik nya ha na”

 

So eun dan ha na sontak terkejut mendengar penjelasan kim bum tersebut. So eun menatap kim bum dalam, dan kim bum tersenyum tulus padanya. Ha na yang masih berusia 4 tahun itu mencoba untuk mengerti ucapan kim bum. Rasa tak percaya menyelimuti benak so eun yang mendorongnya untuk menatap kim bum seakan bertanya ’apa ini benar?’. Dan seperti kontak batin, kim bum mengelus puncak kepala so eun dengan lembut sembari tersenyum lagi.

 

”Mengandung, adik ha na?” tanya ha na dengan nada datar. Kim bum mengangguk untuk menjawab pertanyaan ha na.

”Jadi, ayah dan ibu sudah membuatkan seorang adik untuk ha na?” tanyanya lagi. Dan lagi – lagi kim bum mengangguk. ”Jinjjayo???”

”Ne, seorang adik. Bukankah itu yang ha na minta dari ayah dan ibu?”

”Mmm. Tapi, di mana adik ha na? Ibu mengandung adik ha na di mana???”

 

Kim bum dan so eun pun tertawa lepas saat ha na menanyakan hal tersebut. Lugu sekali anak ini, batin kim bum. Kemudian ia pun menjelaskannya pada ha na dengan bahasa yang mudah di mengerti.

 

”Adik ha na masih ada di perut ibu, di sini. Ia masih terlelap di dalam sana. Nanti kalau adik ha na sudah siap lahir 8 bulan lagi, dia akan keluar dari perut ibu. Ia akan tumbuh besar dan akan menjadi adik sekaligus teman bermain ha na” jelas kim bum sambil mengelus perut so eun.

”Hooo, jadi adik ha na di sini? Baiklah, kalau begitu ha na mau memperkenalkan diri dulu pada adik ha na” ucap ha na.

“Memperkenalkan diri?” tanya so eun memastikan.

”Iya, dia kan belum tau kalau ha na kakaknya dia. Betulkan ayah?” tanya ha na pada kim bum.

”Kalau begitu, kenalkan dirimu pada nya. Jangan lupa elus perut ibu agar ia bisa merasakan keberadaan ha na” saran kim bum. Ha na mengangguk tanda mengerti.

”Annyeong adik bayi! Namaku ha na, Kim Ha Na. Aku adalah kakakmu, kakak yang nanti akan menjadi teman dan juga penjagamu. Ayah dan ibu bilang aku harus menjadi kakak yang baik, karena itu aku mohon bantuanmu ya. Oh iya, kalau bisa, cepatlah keluar dari perut ibu. 8 bulan itu waktu yang lama sekali, pasti ibu akan lelah jika membawamu kemana – mana di perutnya. Lagi pula, aku akan sangat bosan jika menunggumu sendirian. Jadi, cepatlah keluar adik bayi! Neomu saranghae!!!”

 

”Terima kasih tuhan, kau lengkapi keluarga kecil ku dengan anak yang ada di rahimku. Semoga kebahagiaan ini tak akan pernah usai, hingga nafasku berhenti nantinya” batin so eun sembari tersenyum. Senyumnya tak lepas saat kim bum dan juga ha na memeluknya dengan erat.

 

***

            Rumah kediaman kim bum dan juga so eun kini kedatangan tetangga mereka. Lee Donghae dan juga Jessica Jung yang merupakan tetangga lama so eun menyempatkan waktu mereka untuk datang dan mengucapkan selamat atas kehamilan so eun.

 

”Aku benar – benar senang mendapat kabar kau hamil. Padahal kalian baru saja menikah tapi langsung di karuniakan anak” ujar jessica dengan sumringah.

”Kalian benar – benar beruntung” tambah donghae.

”Terima kasih, kami juga ikut senang melihat kondisi jessica yang baik – baik saja. Sudah hamil berapa bulan?” tanya kim bum.

”7 bulan, terlihat sangat besar ya?” kata jessica malu – malu.

”Tidak, justru terlihat lebih kecil di bandingkan ibu – ibu yang lainnya. Sudah membeli perlengkapan bayinya?” tanya so eun dengan semangat.

”Inginnya sih setelah kami berkunjung ke sini, namun kami masih berdebat tentang perlengkapan apa yang harus di beli” ujar donghae.

”Perlengkapan? Bukankah perlengkapan bayi tidak ada yang berbeda?” kata kim bum yang bingung dengan ucapan donghae.

”Bukan itu, masalahnya adalah kami harus membeli perlengkapan untuk bayi laki – laki atau bayi perempuan” terang donghae. Jessica hanya melirik donghae dengan sedikit kesal.

 

Kim bum dan so eun tertawa kecil melihat sikap donghae dan juga jessica yang saling diam. Sudah menikah namun sikap mereka masih saja seperti masih single. Mungkin itu yang membuat mereka mendebatkan hal – hal kecil seperti perlengkapan bayi.

 

”Kenapa tidak membeli untuk dua – duanya saja? Biar adil dan tidak seperti ini” usul so eun dengan iseng.

“Lalu membiarkannya asyik memilih perlengkapan bayi laki – laki dan meninggalkanku? Astaga so eun, kau seperti tidak kenal donghae saja” ujar jessica.

“Kalau begitu kenapa kau mencintaiku?” tanya donghae yang tidak kalah usil.

“Takdir” jawab sica dengan sangat singkat.

”Sudah – sudah, kasihan bayi yang jessica kandung. Ia pasti sangat pusing mendengar kedua orang tuanya mendebatkannya” tengah kim bum.

”Mmm, itu benar” tambah so eun.

”Ya sudah, kalau begitu kami pamit pulang dulu” ujar donghae.

”Lho, katanya kalian ingin membeli peralatan bayi, kok malah pulang?” tanya so eun yang heran.

”Maksudnya kami pamit dari sini, baru kami pergi berbelanja, hehehe” balas sica dengan tertawa renyah.

 

Tiba – tiba terdengar suara dari lantai atas. Mereka semua beralih pada sumber suara itu dan ternyata yang datang adalah ha na. Dengan terburu – buru ia lari menuruni tangga menuju ke ruang tengah. Ha na langsung menghampiri kedua orang tuanya yang hendak mengantar kan donghae dan jessica untuk pulang.

 

”Maaf paman dan bibi, ha na datang terlambat. Tadi ha na lagi merapihkan mainan yang ha na pakai kemarin. Ayo paman dan bibi silahkan duduk!” seru ha na dengan riang. Layaknya tuan rumah ia benar – benar ingin memanjakan tamu yang datang. Namun sepertinya timing ha na agak terlambat.

”Ah, ha na, paman donghae dan juga bibi jessica baru saja akan pulang. Mereka harus pergi karena ingin memberikan hadiah untuk adik bayi mereka” ujar so eun sambil mengelus rambut ha na. Ha na pun kaget.

”Mwo? Paman dan bibi mau pulang??? ?Yah padahal kan ha na mau membuatkan minuman untuk paman dan bibi, supaya adiknya ha na tau kalau ha na adalah kakak yang baik” ujar ha na lesu. Donghae dan jessica pun terlihat tidak enak melihat ha na seperti itu.

“Tidak perlu ha na, tanpa ha na melakukannya pun adik ha na pasti akan tau kalau ha na adalah kakak yang baik. Paman dan bibi yakin akan hal itu” kata jessica sembari menyamakan posisinya dengan ha na yang masih kecil.

”Itu benar, lain kali paman dan bibi akan datang lagi ke sini. Ha na tidak perlu khawatir” tambah donghae yang berusaha menghibur ha na.

”Janji?”

”Janji”

 

Ha na langsung memeluk donghae dan juga jessica sebagai salam perpisahan. Kim bum, so eun dan juga ha na mengantarkan donghae dan jessica ke ambang pintu rumah mereka. Mereka melambaikan tangan pada pasangan yang akan segera di karuniai anak pertamanya itu. Kebahagiaan benar – benar sangat terasa sekali.

 

”Tak ku sangka semuanya akan seperti ini, ku rasa hidup kita adalah kehidupan yang terbaik di bandingkan yang lainnya” gumam kim bum pada so eun.

”Setidaknya aku sudah di berikan 2 orang yang sangat mencintaiku dengan tulus, dan di tambah lagi dengan 1 orang lagi yang ada di sini” kata so eun sambil melirik perutnya sendiri.

”Ayah, kenapa mainan ha na tidak bisa masuk ke lemari ha na??? Mainan nya jadi keluar semua” kata ha na yang merengek pada kim bum. Kim bum langsung menoleh pada ha na.

”Benarkah? Berarti ayah dan ibu sudah membelikan banyak sekali mainan pada ha na ya sampai tidak muat di lemari? Kalau begitu ayo kita rapihkan bersama. Kajja kajja” ajak kim bum sambil menarik tangan ha na. ”Aku membereskan mainan ha na dulu, segera istirahat jika kau merasa lelah” tambah kim bum sambil melirik so eun dengan cepat.

”Ne, gomawoyo” balas so eun dengan senyum simpul.

 

Kim bum dan ha na berjalan bersama ke kamar ha na yang berada di lantai atas. Sementara so eun menatap mereka dari belakang hingga mereka tak terlihat lagi. Tiba – tiba ponsel so eun berdering panjang. Segera so eun raih ponselnya yang berada di atas meja kemudian menatap layar ponselnya yang ternyata menerima telfon dari sahabatnya sendiri, Park Min Young.

 

Yeoboseyo..

Yeoboseyo! So Eun-ah, bogoshipoyeo!!!

Min young! Aigo, ada apa denganmu??? Kenapa kau tiba – tiba menelfonku dengan seperti ini???

Kau ini bagaimana, tentu saja aku seperti ini karena aku sangat senang. Saking senangna aku langsung buru – buru menelfonmu!

Senang kenapa? Sudah punya namjachingu???

Aish, tentu saja bukan! Aku senang karena kehamilanmu. Sejak aku di kabari oleh kim bum kalau kau hamil aku kan belum sempat menelfonmu tau..

Ah itu benar, kalau begitu kapan kau akan datang? Ha na pasti sangat senang jika mengenalmu min young..

Akan ku usahakan secepatnya. Baiklah, aku hanya ingin bicara itu saja. Titipkan salamku pada suami dan ha na ya. Dan juga si kecil dalam perut, kekeke~

Ne ne ne, arraseo.

Annyeong so eun!

Annyeong~

 

Bip..

Telfon dari min young pun di tutup oleh so eun. Ketika ia hendak melangkah menuju ke kamarnya tiba – tiba ponselnya kembali berdering panjang. So eun pikir itu merupakan telfon dari min young lagi, namun rupanya itu merupakan telfon dari nomor yang tidak di kenal.

 

”Siapa yang menelfonku pagi – pagi seperti ini? Apa ini telfon dari orang kantor? Tapi, bukankah ini akhir minggu?” kata so eun yang heran. Ia pun mengangkat telfon tersebut.

 

Yeoboseyo..

Yeoboseyo, apa benar ini nomor nona Kim So Eun?

Ne, itu benar. Maaf, anda siapa?

Apa benar ada seorang gadis kecil bernama Kim Ha Na di rumah anda???

 

DEGGG!!!

Siapa yang sedang berbicara dengan so eun di ponsel itu? Bagaimana ia bisa tau jika di rumah so eun ada ha na???

 

 

To Be Continued…

 

 

Otte? Apa alur ceritanya aneh???

Ini merupakan Two Shoot, jadi jangan sampai mates lewatkan part terakhirnya ya..

Baiklah, terima kasih sudah menyempatkan waktu kalian di liburan kali ini.

Jangan lupa tinggalkan komentarnya, khamsahamnida ^^

 

-Chandra Syifa W-

 

Tagged: , , , , , ,

31 thoughts on “(TS) Long Life Story – Part 1

  1. sri wahyuni Desember 27, 2012 pukul 4:44 am Reply

    bagus bnget cerita’nya…
    Daebak so eun sedang hamil…
    Terus siapa yg tlpn ke pada so eun dan menanyakan ha na jdi penasaran
    jangan lama” ya kelanjutannya di tunggu
    makasih

  2. anisachair Desember 27, 2012 pukul 7:05 am Reply

    Yeay ada sequelnya lagi. Tingkah hana lucu banget apalagi pas tau kalau sso hamil. Siapa yang menelpon sso? Bukannya orangtua hana udah ga ada. Kelanjutannya ditunggu.

  3. dita_bumsso Desember 27, 2012 pukul 7:21 am Reply

    kira kira siapa ya yang nelpon so eun?? Apa ortu kan dung ha na???
    Penasaran .,lanjut….

  4. Alfira Desember 27, 2012 pukul 7:33 am Reply

    itu siapa yg nelfon sso eon??
    ap jgn2 org tua kandung ha na?
    ommooo, andweeeee

    kereennn syifaaaaa!!
    aihhh, kamu selalu bsa bkin aku senyam senyum sndri bca ff kamu

    next next next! ^^

  5. Dizha adrya Desember 27, 2012 pukul 10:25 am Reply

    Ya author d tgu part trakhr ny,, pnsrn ma klnjtn ny,, kra” spa y mnelpon sso,, ap kh klrga ny hana cm author yg tw, d tgu jga thor krya” yg lain ny

  6. Anna Desember 27, 2012 pukul 10:36 am Reply

    Annyeong deegg jg kira2 spkh itu jgn blg ortu kandungny hana munculll arrgghh bs2 muncul mslh&dilema bru nieeyy,,mrusak kbhgian yg sdg trcipta sj,,nexxtt🙂

  7. cucancie Desember 27, 2012 pukul 10:38 am Reply

    Yeayyy…kisah bumsso dan ha na ada lg senangnya….lucu bgt sih ha na mintanya adik laki2…smpe nangis2…wahh…chukkae so eun hamil ha na mau punya adik nih,,itu siapa ya yg tlp so eun dan tau ha na tinggal ma so eun,penasaran nih..lanjut thor jgn lama2 ya…

  8. Ayu ChoKyulate Desember 27, 2012 pukul 11:17 am Reply

    huaahh akhirnya ada kelanjutanya juga ff ini, makin gemes deh sama Ha na apalagi pas dia minta adik laki-laki uuhhh pasti lucu bangett jadi geregetan, kekekek~
    kira-kira siapa yaa yg telpon Sso eonni ??
    Di tunggu next partnya

  9. Sary aj0w Desember 27, 2012 pukul 12:59 pm Reply

    Wah hebat bgt pgambaran anak kecilnya th0r, si hana berasa nyata..dial0gnya anak2 bgt..gud j0b!
    Waw bumss0 bkal pnya beby…h0ray,tp kyknya ada sesuatu s0al hana..

  10. SintiaBumsso Desember 27, 2012 pukul 1:21 pm Reply

    Keren bangettt kak ahhh sukaaa squelnya bertambah terus kekeke sukaaaa aahhhh karakter Bum-nya suami yg pengertian , lelaki yg lembut , menghormati wanita , bertanggung jawab , penuh cintaaa ahh sukaaa kak syifa :*:* , karakter Sso juga sukaa keibuan , dewasa , lembut , lugu waw waw cocok deh jd Suami Istri hehe =D , Aigoo Ha Na kamu lucu sekalii hihihi lugu polos ahh pngen nyubit ha na kekeke , ciee Bumsso Ciee dapet baby ciee haha chukkae Bumsso chukkae Ha na permintaannya dikabulin tuh hehe
    lanjutkan kak ditunggu part 2nya😉

  11. sintiaroom Desember 27, 2012 pukul 1:30 pm Reply

    Kereen kak keren bangett sukaa alurnya hehe , apalagi karakter Bumssonya hehee Bum suami yg pngertian , pria yg lembut , pnuh cinta , bertangung jawab ahh sukaa , Sso jg karakternya keibuan , dewasa , penuh ksh sayang , lugu hihihi lucuu , Ahh ha na aku gemes sama kamu polos banget sihhh sukaa kak , asyikk cie cie Bumsso mau pnya baby chukkae hehe , haha ha na chukaae permintaannya dikabulin tuh hehe =D
    lanjut kak lanjut😉 kak nanti mau di protect ya ffnya? Nanti aku minta pw.nya yaa ? Gomawo hehe =)

  12. littleagassi Desember 27, 2012 pukul 2:32 pm Reply

    hana….. lucu bget…
    bagus thor… penasaran sama lanjutannya .
    next part nya jangan lama-lama ya…

  13. Ananda meidiana putri Desember 27, 2012 pukul 4:23 pm Reply

    Bagus cerita nya😀 di kira ku kim bym bakal cium bibir so eun tapi ternyata malah cium kening nya so eun😦 sedikit kecewa tapi cerita nya bagus😀
    onne lanjut😀 penasaran nihhhh

  14. Devi Desember 27, 2012 pukul 4:27 pm Reply

    Daebak thir cerita’a,,,,,,,
    Akhir’a eoNNie so euN hamil aNd keiNgiNaN ha Na jd trkbul,,,,,,,🙂🙂

    Tpi spa y yg tlpN eoNNie so euN utk mNNyakN ha Na ap mNgkiN orNg tua kNduNg ha Na,,,,,,,

    Jd pNasarN ma kelaNjutN’a,,,,,,,,

  15. pipip Desember 27, 2012 pukul 4:34 pm Reply

    Wah ada special partnya ya,suka bnget am crtnya
    Lucu bca yg ada hana nya ank kcilyg plos kekekek
    Dtnggu thor part terakirnya gk sbar hehehe

  16. heldajungsoo Desember 27, 2012 pukul 4:42 pm Reply

    Jangn2 itu orang tua ha na, hore bentar lg ha na punya adik bayi.

  17. kai kurasin Desember 28, 2012 pukul 3:11 am Reply

    wah . . . seru, siapa yah yg nelp soeun? bkin penasaran aja. . .

  18. try Desember 28, 2012 pukul 6:08 am Reply

    wah,,, ffx bgs chingu…
    kehidupan bumsso makin lengkap aj dgn kehamilan sso…
    yeah hana bakal pux adik nih…
    hmm,, ngmng” sapa y nelfon sso y,,,
    trz nax soal hana lg..,
    penasaran…
    lanjut chingu..

  19. dedekartika Desember 28, 2012 pukul 9:24 am Reply

    alur ceritanya seru bngt…
    Ahirnya so eun hamil jga….
    Jdi makin penasaraan
    siapa ya yng nelpn menanyakan ha na..?
    #lanjuttt di tunggu part endingnya…^^

  20. emi Desember 28, 2012 pukul 1:40 pm Reply

    Hayoooooo kenapa itu ? Penasaran cepetan ya thor

  21. bumssoever Desember 28, 2012 pukul 2:15 pm Reply

    bagussss ceritanya author,,,
    di tunggu part slanjutnya,tpi jangan lama2 yea di post nya
    soalnya tkut mti pnsrn hehehehe,,,,,,

  22. nuribumsso Desember 29, 2012 pukul 1:20 am Reply

    hoaaa daebak!! sequelnya bgus, suka bnget, akhrnya bumsso ngbulin permintaan ha na yg minta adik laki2.. smga ja ntar pas lhiran anakx sso laki2.. so sweet.. nah loh siapa yg nlpon sso nanyain ha na? hmm penasaran, next partx q tnggu, jgn lama2! fighting🙂

  23. Sendy Sekar Desember 29, 2012 pukul 4:59 am Reply

    yaaa tambah keren nih eon, siapa yang nelfon so eun uhh jangan2 keluarganya ha na lagi:/ jadi penasaran di tunggu part selanjutnya😀

  24. ria Desember 29, 2012 pukul 11:27 am Reply

    aaargh,terlmbt bc lg . . .

    Wah ky y da yg mau ambil ha na nie . . .
    Hore so eonni hamil ayo loh thor tangung jwb tuh . . .
    Wkwkwk . . .
    D tngu next part y thor

  25. lhyna Desember 30, 2012 pukul 4:45 am Reply

    akhirnya so eun hamil juga.. hehehehe..

    next partnya ditunggu……

  26. zusan_luvbumsso Januari 6, 2013 pukul 2:12 pm Reply

    daebak thor,aku suka jln crt tetang keluarga kcil bumsso,bum gmn gtu jd seorang ayah yg c0ol n pnyayang dtmbh lg sngt menghormati wnita. . . .keren. . . .keren. . .

  27. edogawa kim suju Februari 21, 2013 pukul 1:56 pm Reply

    Waaaa… Kerasa banget kekeluargaannya..
    Ha na lucu bangeeeeet..

    Itu siapa ?? Telfon2 tnya ha na ??

  28. yulie_bumsso April 15, 2013 pukul 4:48 pm Reply

    Wuaaa..

    Eonn bnarr nie FF yg d tggu2 yuly..akhrr n mnculll..yeeee..yee..
    Hduhh bruu aja kbhgiaan dtagg..truss cpa lgii..jngan2 Ortuu ana..ommo..andwaeeee eon..

  29. lilis suryani Juli 1, 2014 pukul 10:56 pm Reply

    wah kira2 siapa yg menelefon so eun? kelurga yg bahagia…
    thor bagus ceritanya dan mudah d mengerti

  30. fitrimadonakyusso21 Agustus 2, 2014 pukul 10:31 am Reply

    Ya jadi penasaran sm yg menelpon sso dan menanyakan tentang hana😮
    Bumsso romantis banget❤
    Jadi orang tua yg baik so sweet
    Keren thor lanjut😉

  31. My Fishy April 12, 2016 pukul 9:23 am Reply

    Aigoo ha na polos dan lucu banget bikin senyum2 gaje bacanya juga kekekek.. senengnya so eun sedang hamil, keluarga kecil bumsso yg bahagia, bahagianya kalo jadi so eun hehehe.. d part ending bakalan bersedih2 ria

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: