(TS) Long Life Story – Part 2 (End)


Long Life Story

(Sequel of ‘Always By Your Side’)

#Part 2

 ???????????????????????????????????????

Author: Chandra Syifa W

Main Casts: Kim Bum, Kim So Eun

Casts: Kim Ha Na (fictional), Song Ha Jin (fictional), Jung Jae Shin (fictional)

Genre: Romantic, Family

Type: Two Shoot

 

Disclaimer: Semua casts yang saya gunakan dalam ff ini bukan milik saya, melainkan milik keluarga, teman, dan manajemen mereka masing – masing. Saya tidak memiliki casts tersebut, namun alur cerita yang ada di sini adalah murni milik saya tanpa ada pengaruh dari pihak manapun. Dilarang keras memplagiat atau mengambil karya milik saya ini tanpa seizin dan sepengetahuan saya selaku author.

 

Apabila ada kesamaan judul ataupun alur cerita, itu merupakan hal yang tidak di sengaja. Kesalahan format atau huruf yang ada dalam ff ini mungkin terjadi karena human error atau faktor dari blog sendiri.

 

Saya mau minta maaf yang sebesar – besarnya karena keterlambatan lanjutan TS ini. Soalnya saya mendadak disuruh buat laporan studi tur bulan november lalu >w<

Berhubung ini adalah sequel terakhirnya, maka saya sengaja kasih bonus untuk readers dengan cara memperpanjang halamannya di part ini.

Maaf jika endingnya mengecewakan atau tidak seperti yang readers inginkan.

Always enjoy ^^

 

Review ‘Long Life Story’ Part 1..

 

Bip..

Telfon dari min young pun di tutup oleh so eun. Ketika ia hendak melangkah menuju ke kamarnya tiba – tiba ponselnya kembali berdering panjang. So eun pikir itu merupakan telfon dari min young lagi, namun rupanya itu merupakan telfon dari nomor yang tidak di kenal.

 

”Siapa yang menelfonku pagi – pagi seperti ini? Apa ini telfon dari orang kantor? Tapi, bukankah ini akhir minggu?” kata so eun yang heran. Ia pun mengangkat telfon tersebut.

 

Yeoboseyo..

Yeoboseyo, apa benar ini nomor nona Kim So Eun?

Ne, itu benar. Maaf, anda siapa?

Apa benar ada seorang gadis kecil bernama Kim Ha Na di rumah anda???

 

DEGGG!!!

Siapa yang sedang berbicara dengan so eun di ponsel itu? Bagaimana ia bisa tau jika di rumah so eun ada ha na???

 

– Long Life Story 2

 

            So eun mengerjap – ngerjapkan kedua matanya, otak dan hatinya di buat kalut dengan hanya satu pertanyaan dari penelon misterius itu. Ia tak bisa tinggal diam atau membuat dirinya tenang jika ini menyangkut masalah ha na.

 

Ne, anda benar. Namun anda siapa???

Bisakah kita bertemu di Coffe Shop di sekitar Seoul? Ku rasa tidak etis jika kita membicarakan hal ini lewat telfon.

Bertemu? Apa sepenting itukah yang ingin anda bicarakan?

Ne, akan saya kirimkan alamat Coffe Shopnya. Sampai bertemu di sana, nona Kim So Eun.

 

Bip!

Suara telfon terputus itu terdengar lagi dari ponsel so eun. Pikirannya sibuk memikirkan apa yang akan terjadi. Tanpa basa – basi ia bergegas menuju ke kamarnya untuk mengambil jaket dan juga tas, lalu ia langsung menuju ke pintu rumahnya.

 

”Kau mau kemana?”

 

So eun menoleh ke sumber suara itu, dan rupanya kim bum mendapatinya sedang terburu – buru untuk keluar rumah. Kim bum menatap so eun dengan heran.

 

”Kim So Eun, apa ada masalah? Tadi aku sempat mendengar suara telfon masuk dua kali dari kamar ha na, apa itu ponselmu?” tanya kim bum lagi.

”Ah, itu benar, itu ponselku” jawab so eun gugup. Ia bertekad untuk menyembunyikan hal ini sebelum ia mengetahui yang sebenarnya. ”Di mana ha na? Apa dia masih di kamar?”

”Dia sedang asyik bermain dengan bonekanya” jawab kim bum singkat. ”Telfon dari siapa?” tanya kim bum lagi. Perasaannya sudah mulai tidak enak saat ia tau kalau so eun menjawab pertanyaannya dengan seperti itu.

”Telfon??? Oh iya, itu telfon dari min young. Dia menanyakan kabarku, dia juga menitipkan salam padamu dan juga ha na” terang so eun dengan mimik wajah yang setenang mungkin.

”Dan satunya?”

”Satunya???”

”Bukankah sudah ku katakan jika aku mendengar suara telfon masuk dua kali?”

 

So eun pun terlihat semakin bingung dengan sikap yang harus ia ambil. Dari awal ia memang tidak ingin membuat kim bum khawatir, so eun mencoba untuk menelusurinya sendiri. Kali ini ia terlihat gusar. Sementara kim bum merasa ada yang tidak beres.

 

”Anio, mungkin itu perasaanmu saja. Aku hanya menerima telfon satu kali, dan itu dari min young, tidak ada lagi” ucap so eun berbohong.

”Tapi aku benar – benar mendengarnya dengan jelas, apa kau yakin so eun?” kata kim bum yang semakin curiga.

”Ne, aku yakin. Oh iya, aku harus pergi keluar sebentar. Kepalaku terasa agak pusing dan perutku sedikit mual, aku ingin membeli obat dulu” kata so eun lagi.

”Kau sedang tidak enak badan? Kalau begitu kau kembali ke kamar dan beristirahat, biar aku yang membeli obatnya”

”Tidak – tidak, aku bisa membelinya sendiri. Aku akan segera kembali, aku janji. Aku pergi dulu, aku mencintaimu”

 

Tanpa melihat kim bum so eun langsung berbalik arah dan pergi meninggalkan rumahnya untuk bertemu dengan si penelfon misterius itu. Firasat kim bum benar – benar merasa tidak enak. Sikap so eun sangat berbeda dengan biasanya. Apa mungkin so eun menyembunyikan sesuatu darinya, batin kim bum sambil menatap pintu rumahnya.

 

***

            So eun sudah menerima alamat tempat ia akan bertemu dengan si penelon misterius itu. Ia pergi ke sana menggunakan taksi agar cepat sampai. Bahkan so eun sampai lupa jika ia sedang mengandung karena ia begitu khawatir. So eun melangkah masuk ke kedai kopi yang cukup besar itu. Matanya mulai mencari – cari di sekelilingnya.

 

”Nona Kim So Eun?”

 

So eun menoleh ke arah seseorang yang memanggilnya. Ia dapati seorang wanita paruh baya yang berusia sekitar 27 hingga 30 tahun. Senyumnya terlihat cerah, namun so eun menatapnya dengan bingung.

 

“Ne, maaf, anda siapa?” tanya so eun ragu.

“Aku yang menelfonmu tadi pagi. Ayo kita duduk dulu, sudah ku pesankan segelas kopi hangat untukmu” jawab wanita itu dengan ramah.

 

Wanita itu mengajak so eun untuk duduk di meja yang sudah ia tempati sebelumnya. Sikap so eun terlihat kaku, sementara wanita itu justru sebaliknya. Ia terlihat santai dengan apa yang ia lakukan. Tak lama kemudian seorang pramuniaga mendatangi meja mereka dan meletakkan 2 kopi espresso hangat di sana.

 

“Silahkan di minum, jangan sungkan – sungkan” ujar wanita itu.

“Ah ne, khamsahamnida. Tapi aku tidak minum kopi” balas so eun dengan canggung.

“Waeyo? Apa kau alergi atau sedang sakit?”

“Ani, hanya saja aku sedang hamil. Suamiku menyuruhku untuk selektif terhadap apa yang akan ku makan ataupun minum”

“Mwo? Kau sedang hamil???”

“Mmm”

“Usia kandungannya sudah berapa bulan?”

“1 bulan lebih”

 

Sejenak wanita yang belum di kenal oleh so eun itu terlihat bahagia. Secercah senyum itu terpampang jelas di wajahnya. So eun yang sedari tadi terlihat bingung kini juga tersenyum. Melihat orang lain yang ikut bahagia akan kehamilannya merupakan suatu hal yang berharga, pikir so eun.

 

“Astaga, aku lupa memperkenalkan diri padamu. Namaku Song Ha Jin” kata wanita itu yang juga mengulur tangannya pada so eun.

“Kim So Eun, senang berkenalan denganmu” kata so eun yang membalas tangan ha jin untuk bersalaman. “Boleh aku tau, bagaimana bisa kau mengenalku bahkan mengetahui nomor ponselku? Ku rasa kita belum pernah bertemu sebelumnya”

“Itu benar, ini pertama kalinya kita bertemu. Aku mendapatkan data tentangmu dari panti asuhan di Daegu, kau masih mengingat nya?”

 

Kening so eun terlihat mengkerut. Matanya menyorot ha jin dengan perasaan kaget. Bagaimana bisa wanita ini tau tentang panti asuhan di Daegu? Dan untuk apa dia mencari data tentang so eun???

 

“Ah, tentu saja aku mengingatnya. Panti asuhan di Daegu..” gumam so eun.

“Ne. Ku rasa aku tidak akan berbasa – basi nona so eun” ujar ha jin dengan serius.

 

So eun kembali merasa curiga dengan kalimat yang di ucapkan oleh ha jin. Kini ha jin terlihat fokus dan juga sangat serius.

 

“4 tahun yang lalu, aku bertengkar hebat dengan suamiku. Kami mengalami debat karena usaha yang kami rintis hancur dan bangkrut. Padahal saat itu aku baru saja melahirkan seorang bayi perempuan hasil pernikahan kami. Suamiku yang saat itu tidak bisa mengontrol emosinya bahkan sampai mengatakan jika bayi kami lah yang membawa kesialan bagi usaha kami. Aku benar – benar marah dengan ucapannya, namun ia merebut paksa bayi yang tengah ku gendong itu. Ia membawa pergi bayi kami ke tempat yang entah kemana”

“Setelah semua itu terjadi, aku dan suamiku berusaha untuk memperbaiki hubungan kami. Aku pun memberanikan diri untuk bertanya pada suamiku di mana bayi yang seharusnya sudah bertumbuh menjadi balita. Awalnya ia menolak habis – habisan untuk menjawab pertanyaanku, namun aku memohon kepadanya. Akhirnya ia mengatakan jika ia meninggalkannya di sebuah panti asuhan kecil di Daegu”

“Saat aku ingin berangkat untuk mencarinya, tiba – tiba suamiku berkata jika ia ingin agar aku dan dia pindah ke Denmark. Ia ingin kembali membangun usahanya yang sempat hancur. Aku tidak ingin pergi ke Denmark tanpa membawa anakku. Dan kini, aku berusaha untuk mencari dimana keberadaan anakku. Aku pergi ke panti asuhan itu dan mereka mengatakan jika anakku telah di adopsi oleh seorang wanita, dan mereka bilang jika orang yang mengadopsinya adalah kau, Kim So Eun”

 

DEG!

Jantung so eun serasa berdegup kencang. Kedua matanya membulat dan menyorotkan tatapan rasa tidak percaya. Jadi wanita ini adalah ibu dari anak yang ia adopsi sejak bayi, Kim Ha Na. Konsentrasi nya buyar, pikirannya tak dapat memikirkan apa yang akan terjadi setelah pertemuannya dengan orang tua kandung ha na.

 

“Mereka mengatakan jika kau telah memberinya nama Kim Ha Na. Aku tidak kecewa dengan nama indah yang telah kau berikan untuknya. Apa, ia telah tumbuh dengan baik? Apa ia pernah membuatmu marah padanya?? Apa ia pernah menangis karena menanyakan keberadaanku selaku ibu kandungnya???” ujar ha jin yang kini sudah meneteskan air mata. Benak nya sudah terpenuhi dengan bayang – bayang seorang balita yang sangat cantik.

 

So eun yang sedari tadi menatapnya pun kini juga berurai air mata. Hatinya tidak tega melihat ha jin yang ternyata mencari keberadaan ha na hingga seperti ini. Ia sedang mengandung, dan kini ia menyadari betapa berat dan sedihnya seorang ibu yang begitu merindukan anaknya. Namun di sisi lain ia sudah sangat menyayangi ha na, ia sudah menganggapnya anak kandung sendiri. So eun menyadari jika ia egois, namun ia tidak mau terlihat munafik.

 

“So eun, bisakah kau memberikan ha na padaku? Sudah sangat lama aku menanti kehadirannya. Hidupku serasa tak berarti tanpanya. Aku benar – benar memohon kepadamu, kembalikan ha na padaku, kembalikan..” kata ha jin dengan tersedu – sedu. So eun merasa tak mampu untuk melihatnya, tangannya pun menutup mulutnya untuk menutupi rasa tidak teganya.

“Nyonya ha jin, aku..”

“Ku mohon so eun, jangan pisahkan aku dengan ha na untuk selamanya. Aku tidak ingin kehilangannya, aku ingin melihatnya tumbuh dewasa dan memanggilku dengan sebutan ‘ibu’. Aku akan melakukan apapun agar kau bisa memberikan ha na padaku”

“Tapi nyonya, aku tidak bermaksud untuk memisahkan kalian. Aku hanya..”

“Hanya apa??? Aku tau jika kau adalah wanita yang sangat baik, apa kau tega membiarkan aku mati tanpa mengetahui di mana anakku??? Bagaimana keadaan anakku saat ini???”

 

So eun pun terdiam membeku mendengar ucapan ha jin yang benar – benar menusuk hatinya. Batinnya seperti teriris, bimbang pun menyelimuti seluruh benaknya. Rasanya tidak adil jika so eun harus melepaskan ha na begitu saja mengingat so eun telah merawat ha na dengan sangat baik hingga saat ini. Namun melihat ha jin yang benar – benar memohon kepadanya dengan perasaan sebagai seorang ibu, itu membuat so eun semakin ragu.

 

“Aku hanya membutuhkan waktu untuk melepasnya, nyonya ha jin. Melewati 4 tahun bersamanya dan melihatnya bertumbuh hingga aku menikah, itu merupakan kebahagiaan yang sempurna bagiku” ujar so eun pelan.

“Jadi, apa kau mau mengembalikan ha na padaku? Aku yakin ha na juga pasti membutuhkan perhatian dari orang tua kandungnya. So eun, tidak ada lagi yang bisa ku lakukan selain memohon kepadamu” balas ha jin dengan penuh harap.

 

Kali ini so eun terlihat semakin parau dengan keadaan yang memaksanya untuk memilih di antara 2 pilihan yang dapat menyakitkan hatinya sendiri. Tangan kanan so eun menyentuh dadanya yang terasa sesak. Ia mengambil nafas yang sangat dalam. Ia harus membuat pilihan, dan ia akan melakukannya.

 

“Aku..”

“Aku akan melepaskan ha na pada anda, nyonya Ha Jin”

 

Kini giliran ha jin yang terkejut mendengar ucapan so eun. Matanya terlihat bersinar, hatinya terasa bahagia saat mengetahui jika so eun akan mengembalikan ha na padanya. Wajahnya terlihat senang tanpa bisa mengucapkan apapun.

 

“Tapi nyonya, bisakah kau memberikan sedikit waktu sebelum aku memberikan ha na pada anda? Aku hanya ingin, membuat kenangan yang paling indah di saat – saat terakhirku dengan ha na” pinta so eun dengan kejujuran dari hatinya.

 

Ha jin menatap so eun dengan rasa bimbang. Untuk beberapa saat ia terdiam memikirkan permintaan so eun. Kemudian ia mengangguk kan kepalanya pelan pada so eun.

 

“Tentu saja. Kau bisa mengajaknya pergi sebelum kau memberikan ha na padaku. Anggaplah ini sebagai ucapann terima kasihku karena kau sudah mengadopsi dan merawatnya dengan baik”

“Khamsahamnida nyonya ha jin. Aku akan memanfaatkan waktu yang anda berikan dengan baik” jawab so eun dengan senyuman.

“Akulah yang berterima kasih padamu. Tak ku sangka masih ada wanita yang berhati malaikat sepertimu, nona so eun”

 

***

            Malam haripun tiba..

So eun baru saja kembali ke rumahnya setelah pertemuannya dengan ha jin di coffe shop. Ia memang sengaja tidak langsung pulang, ia memilih untuk menenangkan hatinya dengan berjalan tanpa arah sampai ia lelah. Ponselnya pun so eun matikan agar tak ada yang menganggu. Dengan langkah gontai ia berjalan masuk ke arah tangga untuk segera ke kamarnya.

 

“Ibu!”

 

So eun menghentikan langkahnya saat mendengar seruan ha na. Ha na yang baru saja makan malam bersama kim bum menghampirinya dengan cepat. Sementara kim bum yang sejak pagi curiga dan khawatir akan kondisi so eun pun hanya menatapnya dari jauh.

 

“Ibu dari mana? Kenapa ibu baru pulang? Hari ini kan hari sabtu, apa ibu lupa jika ayah mau mengajak kita untuk membeli rumah boneka buat ha na?” tanya ha na yang langsung mencecar so eun. So eun hanya menatap ha na kosong.

“Ibu? Ibu kenapa?? Kenapa ibu tidak menjawab ha na???” tanyanya lagi.

 

So eun pun mensejajarkan tingginya dengan tubuh ha na yang masih terbilang pendek. Ia mengelus puncak kepala ha na dengan lembut dan penuh rasa kasih sayang. Matanya menyorotkan kasih yang tiada henti untuk ha na, sementara ha na hanya diam terpaku.

 

“Ibu tidak apa – apa. Maaf ibu lupa kalau hari ini kita akan membeli rumah boneka untuk ha na, lain kali akan ibu temani” ujar so eun dengan lembut.

“Ibu janji? Ibu tidak boleh lupa lagi” balas ha na dengan wajahnya yang polos.

“Iya, ibu janji” kata so eun dengan yakin. “Oh iya, besok kan hari minggu, bagaimana jika kita pergi bersama dengan ayah ke taman bermain? Di sana ada banyak sekali permainan yang lucu, ha na pasti akan menyukainya”

“Taman bermain? Permainan yang lucu??? Ha na mau ibu! Ayo kita pergi bersama!!!”

“Benarkah ha na mau pergi ke sana??? Baiklah, berhubung ini sudah malam lebih baik ha na pergi tidur, supaya besok bisa bangun pagi dan kita akan pergi ke sana”

“Iya bu, ha na akan langsung tidur! Pokoknya ha na akan bangun pagi besok! Selamat malam ibu!”

 

Mendengar ajakan so eun saja sudah bisa membuat ha na lupa akan kekecewaannya pada so eun. Dengan mudah ia langsung menurut untuk pergi ke kamarnya dan segera terlelap. So eun memandangi ha na dari bawah hingga ha na tak terlihat lagi. Kini wajahnya berganti menjadi sendu. Ia kembali berjalan menuju ke kamarnya tanpa makan malam terlebih dahulu. Kim bum tak menegurnya, ini bukanlah waktu yang tepat. Kemudian kim bum segera menyusul so eun ke dalam kamar mereka.

 

Setelah so eun membersihkan badannya dan berganti baju ia langsung merebahkan dirinya di atas kasur. Ia menghadap ke arah lain tanpa mengidahkan kim bum yang juga berbaring di sampingnya. Kim bum yang sudah tidak tahan akan sikap so eun akhirnya mengajak so eun untuk berbicara.

 

“Apa yang terjadi?”

 

Ucapan kim bum memecah keheningan di benak so eun. Ia tidak menolehkan kepalanya pada kim bum, hanya menjawab seperlunya saja.

 

“Tak ada apa – apa” jawab so eun singkat.

“Kau berusaha untuk menyembunyikannya dariku?” tanya kim bum lagi.

“Maksudmu?” kata so eun yang berbalik bertanya.

 

Dengan perlahan kim bum memeluk so eun dari belakang. Ia merengkuh pinggang so eun dengan perlahan hingga tak ada jarak lagi di antara mereka. Kim bum dapat merasakan hangatnya tubuh so eun, wanita yang sangat ia cintai.

 

“Seseorang yang menelfonmu tadi pagi, apa dia yang membuatmu seperti ini?” tanya kim bum dengan lembut. Ia tidak ingin membuat so eun tidak nyaman. Lagi – lagi so eun hanya diam tanpa mengucapkan apapun.

“Apa ini tentang ha na?”

 

So eun terlihat terkejut saat kim bum mengucapkan nama ha na. Bayangan perpisahannya dengan ha na semakin menghantui benaknya. Badannya kini gemetaran, seperti orang yang sedang takut. Saat kim bum menyadarinya kim bum semakin erat pula memeluk so eun.

 

“Aku hanya ingin memastikan jika kau baik – baik saja. Sejujurnya aku sangat khawatir terlebih lagi kau sedang mengandung anak kita. Jika kau segan untuk menceritakan segalanya padaku maka jangan kau ceritakan. Aku tidak ingin memaksamu” ujar kim bum.

 

Kim bum berusaha untuk melepaskan pelukannya pada so eun. Namun saat ia beranjak untuk menghindar tiba – tiba so eun membalas pelukannya dengan berurai air mata. Wajahnya yang basah itu kini tenggelam di dada kim bum. Terdengar isak tangis dari mulut so eun yang membuat kim bum tak tega.

 

“Ha na..” ucap so eun dengan tangisan.

“Ada apa dengan ha na? Ia baik – baik saja, lalu apa yang perlu kau khawatirkan?” kata kim bum yang merasa bingung.

“Orang tua ha na memintaku untuk mengembalikan ha na pada mereka” jawab so eun dengan isak tangis yang lebih hebat.

 

Di dalam pelukan kim bum so eun terlihat sangat lemah. Pelukannya pada kim bum pun sangat erat. Mendengar hal itu pun kim bum ikut merasa terkejut. Membayangkan ha na akan meninggalkannya, so eun dan juga calon buah hati yang juga ha na impikan, hati kim bum menjadi terasa pilu.

 

“Siapa yang mengatakannya?”

“Ibu, ibu kandung ha na yang memintanya padaku. Kau tau, aku bisa melakukan apapun kecuali melepaskan ha na dari hidupku. Namun ibu kandung ha na meminta bahkan sampai memohon padaku untuk mengembalikan ha na padanya” terang so eun dengan terisak – isak. “Aku tidak tau apa aku bisa melakukannya kim bum, aku tidak tau..”

“Kim So Eun..”

“Hatiku merasa tersakiti saat aku berpikir jika aku berada di posisinya. Dari ha na lahir hingga saat ini ia tidak pernah melihat ha na sedikitpun, bahkan sehelai rambutpun ia belum pernah melihatnya. Kim bum, aku harus bagaimana??? Aku tidak bisa membiarkan ha na dengan orang lain”

 

Tangisan so eun semakin deras, air matanya tak kunjung berhenti meskipun kim bum berusaha untuk menenangkannya dengan sentuhan. Kim bum sangat mengerti bagaimana perasaan so eun akan kondisi yang memaksanya seperti ini, bahkan kim bum yang belum terlalu lama mengenal ha na pun ikut terhanyut. Rasa sayangnya pada ha na sudah benar – benar seperti orang tua kandung ha na sendiri.

 

“So eun..”

“Aku yakin ha na pasti sangat berterima kasih padamu karena kau telah mengangkatnya sebagai anak dengan tulus. Ketika ia terpuruk karena membutuhkan kasih sayang dari seorang ibu kau hadir dan menyayanginya dengan sepenuh hati, ku rasa itu adalah keajaiban yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Meskipun ia tau bahwa kau bukanlah ibu kandung nya, hal itu tak pernah mengurangi rasa sayangnya padamu bukan? Justru ia sangat mencintaimu lebih dari dirinya sendiri”

“Ketika kau menginginkannya untuk terus berada di sampingmu, ternyata Tuhan berkehendak lain. Cepat atau lambat ha na pasti akan bertemu dengan orang tuanya, dan mungkin menurut Tuhan inilah waktu yang tepat untuk mempertemukannya. Tak ada takdir yang dapat kita hindari, sesayang apapun kau pada ha na hal itu tidak akan pernah mengalahkan kasih sayang ibu kandungnya sendiri”

“Lepaskan ha na pada orang tuanya, so eun. Meskipun nanti ia akan berada di dalam dekapan orang tuanya ha na tidak akan pernah melupakan semua tentangmu sedikit pun. Buatlah perpisahan kita dengan ha na esok hari menjadi indah, lepaskan dia dengan penuh kebahagiaan karena ia telah berhasil kembali pada orang tuanya”

 

Semua ucapan kim bum terdengar sangat menembus batinnya. Isak tangisnya kini membuatnya semakin menderita. Kim bum tidak melakukan apapun, karena ia tau jika so eun membutuhkan waktu untuk hal ini. Tiada seorangpun yang dapat melepaskan orang yang mereka cintai. Namun jika ini adalah kebaikan baginya, mereka harus bisa melepaskannya, melepaskan malaikat kecil yang telah menghiasi kehidupan so eun dan juga kim bum, Kim Ha Na..

 

***

            Hari itupun tiba..

Hari di mana so eun dan kim bum menghabiskan hari terakhir mereka dengan ha na sebelum ha na kembali pada orang tuanya dan pergi meninggalkan mereka ke Denmark. So eun memutuskan untuk tidak mengatakan apapun sampai ha na bertemu dengan mereka nantinya. Ia ingin ha na menikmati wahana rekreasi di taman bermain yang mereka kunjungi tanpa memikirkan apapun.

 

“Apa ha na siap???”

“Siap ayah!!!”

“Apa ibu siap???”

“Siap!”

“Baiklah, sekarang kita akan pergi ke taman bermain!”

“Yeeeaaayyy!!!”

 

Mereka bertiga pun pergi ke taman bermain bersama – sama. Mengenakan pakaian yang santai dan membawa bekal makanan agar sewaktu – waktu mereka kelaparan mereka bisa berpiknik ria di sungai han. Wajah ha na begitu riang sekali, tak henti – henti ia mengoceh untuk meluapkan kegembiraannya.

 

***

            “Ayah, ibu, ayo kita bermain perahu yang besar itu! Pasti sangat menyenangkan!!!”

“Ayo, ayah tidak takut kok. Cepat kita ke sana sebelum antriannya semakin panjang”

“Ibu menunggu di sini ya, biar adik bayinya tidak pusing, hehehe..”

 

***

            “Ibu! Ha na mau naik bianglala!!!”

“Ayah tidak di ajak?”

“Aish, ayah ini cemburuan sekali ya? Pantas saja ayah mudah marah kalau ibu di dekati banyak laki – laki, hehehe”

 

***

            “Ayah, temani ha na bermain itu”

“Bermain apa?”

“Ituuu”

“Itu apa?”

“Itu yang ada kudanya banyak terus nanti berputar – putar ayaaaah”

“Itu namanya komedi putar, bukan ‘itu’. Ckckck”

“Ah pokoknya mau namanya itu atau bukan yang penting ayah harus temani ha na main itu! Ayo ayah!!!”

 

Tanpa memperdulikan ledekkan ayahnya ha na langsung menarik tangan kim bum dengan cepat dan berlari menuju arena komedi putar. Kim bum terlihat tertawa kecil melihat reaksi ha na yang lucu. So eun hanya menggeleng – geleng pelan melihat tingkah laku suaminya yang iseng pada ha na.

 

Bip bip!

Ponsel yang so eun simpan dan saku celananya berbunyi singkat. Ia langsung mengambil ponselnya dan membuka kunci layarnya.

 

Aku dan suamiku akan take off jam 8 malam dari Incheon.

Jangan lupa untuk mengantarkan ha na ke bandara, kami akan menunggumu.

 

From: +06579002361

 

So eun mendesah pelan setelah membaca pesan singkat yang ia terima. Rasanya baru sesaat ia melupakannya dan menikmati masa – masa bahagia terakhirnya dengan ha na. Dan kini semua kebahagiaan yang seharusnya masih melekat itu telah sirna.

 

“Ayah, ha na, ayo cepat turun! Kita harus berfoto sebelum kita pulang!”

 

***

Night day, at 7:00 PM

 

Kim bum, so eun dan juga si kecil ha na kini sudah berada di mobil dan bergegas untuk pulang. Pulang dalam arti mengantarkan ha na kembali apda orang tuanya. So eun sudah mengatakan pada kim bum jika orang tua ha na menunggu mereka di bandara Incheon. Sementara ha na masih sangat senang, tak ada guratan rasa lelah yang tergambar di wajahnya. Senyum manisnya masih tergambar jelas di wajahnya.

 

“Ayah, ibu, terima kasih ya sudah mengajak ha na ke taman bermain. Ha na seeenang sekali! Tadi ha na main banyak mainan di sana, tapi masih ada mainan yang belum ha na coba. Mmm… biarin deh! Yang penting hari ini ha na senang sekali. Terima kasih ayah ibu!” kata ha na dengan riang. Kim bum dan so eun menatap ha na sambil tersenyum.

“Sama – sama. Kalau ha na senang ayah dan ibu juga senang” balas kim bum.

 

Ha na pun menikmati perjalanannya. Ia memperhatikan pemandangan yang silih berganti di balik kaca jendela mobil. Sesekali ia menunjuk sebuah rumah yang terlihat aneh baginya. Ya, karena ha na belum pernah melihat rumah itu sebelumnya.

 

“Ibu, apa rumah berwarna kuning tadi baru di buat???” tanya ha na dengan cepat.

“Rumah berwarna kuning?” tanya so eun.

“Iya, rumah berwarna kuning yang tadi kita lewati bu. Rumah itu punya banyak lampu di pagarnya. Ha na tidak pernah melihatnya setiap ha na mau pulang ke rumah” tambah ha na.

 

Kejelian ha na dalam memperhatikan sesuatu memang lebih baik di bandingkan anak – anak seumurannya. Ha na terlihat menunggu jawaban dari so eun, namun so eun menutup mulutnya sambil memandang bebas pemandangan di luar. Situasi seperti inilah yang kim bum takutkan, so eun bisa – bisa menangis karena pertanyaan – pertanyaan yang sebenarnya tak berarti apa – apa.

 

“Astaga, ayah belum mengatakannya pada ha na ya? Kita tidak langsung ke rumah, kita akan pergi ke tempat lain dulu. Jadi wajar saja jika ha na baru melihat rumah yang tadi, karena ini bukan jalan menuju ke rumah” jelas kim bum pada ha na.

“Memangnya kita mau kemana ayah?” tanya ha na lagi.

“Nanti ha na juga akan tau. Ha na tinggal duduk manis saja, arasseoyo?”

“Mmm, arasso!”

 

***

            “Penerbangan dengan destinasi Paris di jadwalkan take off pukul 19:30. Di harapkan seluruh penumpang..”

 

“Ayah, tempat ini berisik sekali. Sudah begitu orang – orangnya ada banyak, ha na jadi pusing!” kata ha na sambil memegangi kepalanya sendiri. Kim bum pun tertawa kecil sambil mengelus rambutnya.

“Ini namanya bandara, bandara Incheon. Ha na tau orang – orang yang suka bepergian dengan pesawat? Pesawat yang mereka naiki akan turun di bandara, dan setelah pesawatnya mendarat barulah penumpangnya turun menggunakan tangga” kata kim bum yang menjelaskannya dengan baik.

“Hooo begitu” ucap ha na sambil memperhatikan di sekitarnya. “Ibu, kenapa ibu diam saja? Apa adik bayi membuat ibu sakit?”

“Ne? Apa yang tadi ha na katakan???” tanya so eun yang rupanya melamun.

“Apa adik bayi membuat ibu kesakitan? Ha na perhatikan dari tadi ibu diaaam melulu. Ha na kan jadi khawatir” terang ha na dengan polos.

 

So eun kembali terdiam tanpa memberikan jawaban pada ha na. Kim bum menatapnya dengan tak tega.

 

“Seandainya kau tau jika hari ini adalah hari terakhir kita untuk menghabiskan waktu bersama. Seandainya kau tau jika ini adalah kali terakhir untukmu memperhatikan ibu dan juga bayi yang sedang ibu kandung. Seandainya kau tau jika inilah saat – saat terakhir sebelum ibu harus membiarkanmu tumbuh dewasa bersama dengan orang tuamu tanpa bisa ibu melihatmu. Seandainya kau tau ha na..” batin so eun. Mungkin kini hati kecilnya sudah menangis.

 

Kim bum meraih dan kemudian menggendong ha na, sementara so eun tetap berdiri di sampingnya. Mereka berjalan bersama – sama menuju terminal keberangkatan yang berada tidak jauh dari lokasi mereka sebelumnya. Kim bum terlihat sedang mengobrol dengan ha na, sesekali mereka berdua ttertawa bersama. So eun mencoba untuk menutupi kesedihannya dengan tersenyum kecil pada ha na, meskipun kim bum tau bahwa itu bukanlah senyum termanis yang so eun punya.

 

“Ah, itu dia! Nona Kim So Eun!”

 

Backsound: M to M – Goodbye Really Goodbye (OST Lie To Me)

 

Perhatian so eun, kim bum dan juga ha na beralih menuju wanita yang tak lain adalah Song Ha Jin, ibu kandung ha na. Ia melambaikan tangannya untuk mengajak so eun dan juga kim bum berjalan menuju ke arahnya. Di sampingnya berdiri seorang pria berkaca mata yang memperhatikan mereka.

 

“Apa itu mereka?” tanya kim bum dengan suara pelan.

“Iya” jawab so eun singkat.

 

Dengan langkah pasti kim bum melangkah bersama ha na yang masih berada di gendongannya, begitu pula dengan so eun. Kedua mata bulat ha na memperhatikan ha jin dan juga suaminya dengan asing. Namun ha jin terlihat sangat bahagia melihat ha na yang ada di depan matanya.

 

“Ayah, ibu, dia siapa?”

 

Sejenak ha jin terdiam mendengar pertanyaan ha na. Hatinya sedikit bersedih ketika mendengar ha na memanggil kim bum dan so eun dengan sebutan ayah dan ibu, panggilan yang seharusnya di tujukan kepadanya dan juga suaminya. Kim bum menatap so eun terlebih dulu, dan so eun menarik nafasnya dalam – dalam.

 

“Ha na, mereka ini adalah..”

“Mereka adalah orang tua kandungmu, Kim Ha Na”

 

DEG!

Ucapan so eun yang memotong perkataan kim bum itu berhasil membuat ha na terkejut hingga ia diam tanpa kata. Tangannya yang semula merengkuh leher kim bum erat perlahan melonggar hingga terlepas. Matanya yang jernih itu kembali menatap ha jin dan juga suaminya dengan rasa tak percaya. Dengan perlahan kim bum yang berdiri di samping so eun itu menurunkan ha na dari gendongannya. Ha na masih berdiri di depan kim bum dengan terus menggenggam erat tangan kim bum.

 

“Kenapa diam saja? Ayo hampiri mereka” ucap kim bum dengan tersenyum.

 

Karena bujukan kim bum akhirnya ha na melepaskan tangannya dari genggaman tangan kim bum. Kedua kaki kecilnya melangkah pelan menuju ha jin yang sudah menanti ha na selama 4 tahun terakhir. Mata so eun mulai mengeluarkan setetes demi setetes air mata, entah air mata kebahagiaan atau kesedihan. Kim bum yang menyadarinya merengkuh pinggang so eun untuk berdiri lebih dekat dengannya.

 

“Ayah dan ibu bilang, kau adalah orang tua kandungku. Apa kau benar – benar orang tuaku? Ibu dan ayah kandungku???”

 

Tangis so eun pun pecah, ia tak bisa menahannya untuk lebih lama. Air matanya mengalir membasahi pipinya yang lembut. Kim bum langsung memeluk so eun dengan erat, mengusap punggung so eun dengan penuh kelembutan, meskipun hati kim bum juga tak rela melepas ha na dari keluarga kecilnya. Sementara keadaan itupun tak jauh berbeda dengan ha jin dan suaminya yang bernama Jung Jae Shin. Ha jin menutupi mulutnya dengan tangan kanannya, rasa haru dan bahagia yang begitu jelas tergambar di wajahnya.

 

“Iya, kami adalah orang tuamu, orang tua kandungmu ha na” jawab ha jin dengan berurai air mata. Ia pun langsung memeluk tubuh kecil ha na dengan sangat – sangat erat.

 

Tak pernah so eun bayangkan jika ia harus kehilangan ha na. Melepaskan ha na untuk pergi jauh bersama dengan orang tuanya dan belum tentu bisa bertemu lagi, semua itu membuat hati so eun semakin perih. Kim bum menatap ha na yang sedang di peluk oleh ha jin dan kemudian ikut di peluk oleh suaminya.

 

“Ibu sangat merindukanmu ha na, ibu sangat mencintaimu. Mengapa aku harus menemukanmu dalam waktu selama ini???” ujar ha jin dengan tersedu – sedu. Tangannya terus bergerak mengelus rambut panjang ha na.

“Tak ku sangka jika kau bertumbuh sangat cepat. Kau adalah anak yang paling cantik yang pernah ayah punya. Betapa lengkapnya keluarga kita saat kita sampai di Denmark nanti” sambung jae shin. Ia menyentuh wajah ha na yang memang sangat manis.

“Ada apa ha na? Kenapa kau tidak mengucapkan apapun? Apa kau tidak senang bisa bertemu dengan orang tuamu lagi???” tanya ha jin.

 

Bukannya menjawab pertanyaan ha jin, ha na justru menolehkan kepalanya pada so eun yang sedang di rangkul oleh kim bum. Matanya terlihat memerah karena terus – menerus menangis. So eun membalas tatapan ha na dengan bingung. Kemudian ha na kembali menatap ha jin.

 

“Ha na senang sekali ayah dan ibu telah membawa ha na untuk bertemu dengan orang tua ha na. Tapi, apa ha na masih bisa bermain dengan ayah dan ibu? Ha na sangat menyayangi mereka, ha na tidak mau berpisah dengan ayah dan ibu”

 

So eun benar – benar di buat terharu oleh kepolosan ha na. Di depan ha jin dan jae shin ha na meminta sesuatu yang seharusnya tak perlu ia lakukan, karena ia sudah bertemu dengan orang tua kandungnya. Sejenak ha jin dan jae shin menatap satu sama lain.

 

“Ku rasa mungkin, tapi kita akan pindah ke Denmark untuk waktu yang lama. Akan sangat sulit jika kita memaksakan diri ha na” kata ha jin yang mencoba untuk menjelaskannya pada ha na.

“Kalau begitu, bolehkah ha na memeluk ibu dan ayah sebelum kita pergi naik pesawat?”

 

Ha jin mengangguk pelan pada ha na. Tanpa basa – basi ha na langsung berlari ke arah kim bum dan juga so eun. Ha na memeluk so eun dengan sangat erat, begitu juga dengan so eun yang membalas pelukan ha na. Mata ha na mulai berair dan tumpah di pelukan so eun.

 

“Ha na kenapa menangis? Ha na kan sudah bertemu dengan orang tua kandungnya ha na” kata so eun yang berusaha tegar di depan ha na.

“Ha na menangis karena ibu juga menangis” kata ha na dengan sesenggukan. So eun hanya tersenyum kecil.

“Ha na tau, ibu sangaaat menyayangi ha na lebih dari apapun”

“Ha na tau, ibu juga tau kan kalau ha na sangaaat menyanyangi ibu lebih dari apapun?”

“Sangat, ibu sangat tau”

 

So eun dan ha na kembali berpelukan. Kemudian kim bum ikut memeluk ha na dengan erat. Ha na menatap kim bum dengan tersenyum.

 

“Ayah sangat menyayangimu” ujar kim bum singkat.

“Ha na juga sangat menyayangi ayah, ayah ha na yang ternyata paman berdasi tampan!” balas ha na sambil tersenyum riang. Kim bum dan ha na kembali memeluk satu sama lain dengan erat. Kemudian kim bum meraih saku yang berada di jaketnya, ia mengeluarkan sesuatu dari dalam sana.

 

“Lolipop?” tanya ha na saat melihat kim bum memberikan lolipop itu padanya.

“Mmm, ha na sangat menyukai lolipop bukan? Bawalah lolipop ini pergi. Jika kau merindukan ayah dan juga ibu perhatikan saja lolipop ini, nanti kau akan melihat bayangan wajah ayah dan juga ibu” ucap kim bum yang berusaha menghibur ha na.

“Terima kasih ayah! Ha na akan menyimpannya dengan baik, ha na juga janji tidak akan memakan lolipop ini! Hehehe”

 

“Perhatian – perhatian, kepada seluruh penumpang Seoul Airlines dengan tujuan Korea Selatan – Denmark di harapkan untuk segera memasuki pesawat. Pastikan barang bawaan beserta dokumen anda tidak ada yang tertinggal. Terima kasih”

 

Suara informasi itu terdengar jelas di telinga so eun. Detik – detik perpisahan pun tiba. Ha na kembali tersenyum pada kim bum dan so eun, lalu ia membisikkan sesuatu pada mereka.

 

“Ha na sayang sekali sama ayah dan ibu. Ayah dan ibu adalah orang tua ha na yang paling baik. Saranghae!”

 

Ha na langsung berlari berbalik arah pada ha jin dan juga jae shin yang sudah siap meninggalkan korea dengan beberapa koper yang sudah mereka persiapkan. Terlihat ha jin mengucapkan sesuatu pada kim bum dan juga so eun.

 

“Terima kasih atas semua yang telah kalian berikan pada ha na. Sampai bertemu lain waktu” ujarnya sembari membungkuk. Kim bum dan so eun membalasnya dengan membungkuk juga.

 

Ha jin menggandeng tangan kecil ha na, kemudian mereka bersama dengan jae shin mulai melangkah menuju ke dalam terminal untuk segera masuk pesawat. So eun dan juga kim bum tak melangkah atau pun menghalangi kepergian ha na sedikitpun. So eun berusaha untuk melepaskan ha na dengan kebahagiaan. Tiba – tiba ha na membalikkan badannya ke arah kim bum dan juga so eun. Ia tersenyum lebar sembari melambaikan tangannya.

 

“Sampai jumpa lagi ibu, ayah! Ha na sayang kalian!!!”

 

 

The End…

 

 

Well, sebenarnya saya mengalami kesulitan waktu ngetik di bagian – bagian mau ending kaya gini. Dan itu selalu terjadi di setiap cerita yang saya ketik.

Terima kasih untuk semua readers yang mau nyempetin waktunya untuk baca, komen atau sekedar mampir liat – liat doang. Makasih🙂

Sekian dulu sequel dari ‘Will You Marry My Mom’ dan ‘Always By Your Side’!

Salam dari saya, bumsso dan juga si imut ha na! Hehehe xD

 

-Chandra Syifa W-

 

 

Tagged: , ,

38 thoughts on “(TS) Long Life Story – Part 2 (End)

  1. sintiaroom Januari 1, 2013 pukul 12:50 pm Reply

    Kak syifa kakak berhasil buat aku nangis sama endingnya😥 huaaah kak bener adegan di Bandaran nguras air mata hiks.hiks.hiks kasian Soeunsama Kim Bum harus ngelepas Ha Na :” , tapi memang takdir berkata seperti itu . Waw kata-kata Bum nyentuh hati bangetttttt nusuk banget kata-katanya bijakk lelaki hebat *authornya juga hebat =))*
    ok kak sumpah ceritanya kerennn feelnya kerasa , kak buat lagi special partnya pokonya buat lagi yayaya sampe Sso lahiran hehe😀

  2. Alfira Januari 1, 2013 pukul 1:23 pm Reply

    terharu bacanyaaa T.T
    ha na bijak bgt ya ckckck

    daebak syifaaaa😀
    aku tnggu project ff bumsso yg baru

  3. Devi Januari 1, 2013 pukul 2:00 pm Reply

    Y ampN thor sdih bNgeeet eNdiNg’a mNguras air mata,,,,,,
    Ap gy pas adegaN d bNdara perpishaN aNtra bumppa aNd kum ha Na ,gk NyaNgka kim ha Na ma bumppa brpisah aNd kim ha Na bertmu ma orNg tua kNduNg’a,,,,,,,,,,

    D tNg2u thor FF bumsso yg bru,,,,,,
    CmuNguuuuuuut,,,,,,,,

  4. pipip Januari 1, 2013 pukul 2:19 pm Reply

    Wah sedih endingnya krain part terakhirnya nyeritaiin kluarga bumsso
    Trnyta sya slah besar hehe
    Bgus tauu ceritnya
    Dtnggu ff bumsso laiinnya thor

  5. kiki Januari 1, 2013 pukul 2:30 pm Reply

    horee.. akhirnya keluar juga. aku nunggu2 lho thoor🙂

    huaaa.. hananya pergi! sedih sedih sediiih T.T tp smoga keluarga so eun n ortunya hana bahagia ya..
    btw thor, aga heran sm psikologisnya hana. cpt bgt menerima keberadaan ortu barunya.. kirain kecil2 gitu blm ngerti..

    tetep semangat berkarya buat author, ditunggu ff bumsso lainnya🙂

    • koreanfanfictland Januari 2, 2013 pukul 4:51 am Reply

      Astaga, seems like i forget to tell about this #plakk
      Iya, krn di bayangan saya si ha na ini psikis nya udah ‘kebal’. Bayangin aja dia udah di tinggal dr kecil, di ledekin sama tmn2 nya yg super iseng itu, bisa di bilang itu bbrp faktor yg bikin dia ga nangis. Itu sih bayangan saya ^^

      Thx for comment! Trims juga untuk semuanya, maaf ga bisa bales komennya satu2🙂

      -Chandra Syifa W-

  6. dedekartika Januari 1, 2013 pukul 3:13 pm Reply

    uwah syifa…kau sudah buat aku nangis..
    Ff ini benar2 mengharukan..
    Kasihan sma so eun yng sdh membesarkn&mengurus ha na…
    Tpi tak apa karna so eun sdang hamil..dan bumsso akan mndapatkn penganti ha na..

    Syifa aku tnggu ff terbaru’mu..
    Fighting…

  7. amaliaaa Januari 1, 2013 pukul 3:40 pm Reply

    ceritanya buat terharu :’)… salut sama ha na.. ha na bener2 bijak..ayo thor bikin special part-nya..😀

  8. heldajungsoo Januari 1, 2013 pukul 4:06 pm Reply

    Perpisahan yang mengharukan.

  9. vani Januari 1, 2013 pukul 9:52 pm Reply

    TOP Chan,,,
    ayo bwt seqeulnya lg😀
    mian minta-minta, kyna gk pnh puas ni readers

    menyedihkan membayangkan akhirnya, menyenangkan perjalananan tamasyanya, sweet bgt perpisahannya, edisi menghasukan bumsso

  10. Dizha adrya Januari 1, 2013 pukul 11:34 pm Reply

    Aduh min sdh bgt ending ny,, tp gak ap” hana kn jga bth ksh syng ortu kndung ny,, n sso jg kn lg hmil,, nti akn ad pngnti hana ny,,, bkn sequel donk thor kn sso ny blm mlahir kn🙂

  11. cucancie Januari 1, 2013 pukul 11:49 pm Reply

    Terharu bacanya…akhirnya ha na ketemu sm orang tua kandungnya…sedih bgt pasti bumsso apalgi so eun yg udh ngerawat ha na dr kecil…suka bgt ceritanya…ditunggu ff bumsso lainnya ya thor!!

  12. olivia Januari 2, 2013 pukul 1:44 am Reply

    akhrnya hana ktemu sm ortunya. Walau so eun ama kim bum hrus pisah sm hana. Crita kren bnget eonni. Gomawo

  13. Ayu ChoKyulate Januari 2, 2013 pukul 1:48 am Reply

    cerita’a keren bangett ..
    Tapi sedih juga So eun and kim bum harus pisah sama ha na ..huuahh sedih bangett, pokoknya author harus tanggung jawab karna bikin aku nangis hiks,, hiks T.T
    the best deh buat author ^^

  14. Sendy Sekar Januari 2, 2013 pukul 2:29 am Reply

    huh sedih banget endingnya..
    kasian sso huhu😥
    ditunggu karya selanjutnya eonni😀

  15. Sary aj0w Januari 2, 2013 pukul 4:02 am Reply

    Yaaah,pgen liat bayi nya bumss0 lahir th0r..
    PkirQ sampe sitU kisahnya..
    Keren bgt,si hana kyk 0rg dwasa,biasanya ank kecil susah tU kalo blum kenal..

  16. emi Januari 2, 2013 pukul 4:40 am Reply

    Kece bgt u,u

  17. lhyna Januari 2, 2013 pukul 6:32 am Reply

    endingnya sedih banget thor… hiks hiks hiks

  18. kai kurasin Januari 2, 2013 pukul 8:28 am Reply

    ending yg keren sampe2 bacanya tak trasa ngluarin air mata . . .

  19. Safriyanti Januari 2, 2013 pukul 11:25 am Reply

    Yha,,,,,
    akhir,a gk happy ending tp gpp smngat buat author,,,,
    sso syang bget msak lg hmil mlah d tgal hana,,,,
    hiks,,,,hiks,,,,mo ngis bca,a,,,,,

  20. Anna Januari 2, 2013 pukul 11:50 am Reply

    Ending yg mnharukn n melegakan,,salut bgt deh bt keikhlasan&ksbaran bumsso n ha na,,

  21. ria Januari 2, 2013 pukul 2:44 pm Reply

    hua a a a a nangis thor bc y . . . Thor hbat bgt bkin Ts y . . .
    Kejer deh bc ni ts y ,kasian bumsso . . .
    D tngu bgt ff mu yg laen thor

  22. putzz ran mouri Januari 3, 2013 pukul 8:58 am Reply

    author berhasil buat aku nangis… sumoah ff’a keren…..
    part pertama terasa bahagia… tpi part kedua sungguh menguras air mata…huaa…
    di tunggu part spesial lainnya… soalnya aku ga rela harus berakhir seperti ini…
    tapi aku salut deh ma hana… dia masih kecil tpi sikapnya dewasa bngt… tdinya aku fikir dia ga mau ikut ma orang tua kandungnya…

  23. Ananda meidiana putri Januari 5, 2013 pukul 1:58 am Reply

    Wihhhh udah taman😀 keren😀 cerita nya sedih😀. Tetap semangat buat ff bumsso yg lain nya ya

  24. sugarsoya Januari 8, 2013 pukul 1:46 am Reply

    Syifaa ini menyedihkan!! Mian baru komen,
    Gmna ya rasanya jadi soeun, ngerawat hana dari bayi, dan sekarang harus pisahh, pasti sedih bangett deh…
    Tapi untungnya soeun udah punya kim bum dan calon bayi nya sendiri, jadi ga sendiri,
    Huaaa tetep sedih sihh, hehehe
    Ditunggu next ff nya ya…

  25. jacy Januari 12, 2013 pukul 5:08 pm Reply

    Ahhhhhh…….. Rasanya mau sequel lagii……..
    ngak pun special edition……
    pertemuan Hana dan soeun serta kim bum

  26. Niniet Januari 14, 2013 pukul 6:31 am Reply

    maaf baru bisa baca dan komen…. ff ini sederhana tapi mengena banget.. ga rela juga hana yg sudah jadi anak so eun pergi begitu saja…😦

  27. anastasia erna Januari 14, 2013 pukul 9:24 am Reply

    hua….bombay…sedih banget…
    terharu…
    daebak author….

  28. Ajeng Januari 14, 2013 pukul 10:39 am Reply

    Hhhmmm. . .crta’a seeddih bgt, aqu ja ampe nangis (T,T), hebat deh bwt author’a

    terimakasih. . . ^-^

  29. edogawa kim suju Februari 21, 2013 pukul 1:57 pm Reply

    Huwaaaaa… TT
    Itu menyedhkan…
    Ha na yg lucu pergii…
    Daebak !!! Ak ska sequelnya !!!
    Author !!! Best !!

  30. yulie_bumsso April 15, 2013 pukul 5:20 pm Reply

    Eonnn kog FF n bnar2 bkiin yuly nagiss loe…bnrann..d rmahh smua org udh pda tdurr..nah yuly nagiss bca FF iniee…sngguh mnytuhhhh…ya ampunn gak bsa ngebyangii..org yg kta rwatt+bsarkan dngan 4 thun dri bayii smpe bsarr dia mngallkan kta..
    Pahiit mniss n hdupp d laluii brsma n drii dia kcill,trusss dia tdak ad lgi..
    Ya ampunn sdihh benarr eon..
    Yuly bnar2 gak bsa byngiii..;(;(;(;(
    akhrr n ha na kmblii kpda org tua n..
    Ya ampun wlpun haru biruu,,tpii Bumsso bhagiaa…nie FF awll n snagg lcu,,+akhrr n bkin nagiss sdihhh..;(
    eon kog gak smpe ank Bumsso n lhirrr,yuly pkirr smpe ank Bumsso n lhirr and ha na stlah bbrpa thun dia kmbliii lhatt Bumsso…
    Hmm..bkinn FF yg kek ginii lggii eonn..10.000 daebakkk eon..
    Bnar2 bggussssss..bkin yg kek gnii ya lgii ad prnkhan truss sdih2an biar chimistry n nympugg…d tggu versii Bumsso lgii..:)

  31. Puji Zulfia Mei 5, 2013 pukul 3:13 pm Reply

    Maaf author saya baru sempet komen di part ini , saya bru nemu juga wp ini
    Will U Marry My Mom ?
    Suka bnget karakter bumsso disini sama2 dewasa . Bumsso keliatanny juga diam2 saling suka dan beruntungnya ada hana diantara mereka . So sweet lah
    Always By Your Side
    Itu permintaan hana yg terakhir bkin ngakak , tingkah polosnya hana ngegemesin .
    Long Life Story
    Disini bener2 diuji . Setelah dpat kbr gembira kalo sso hamil , malah harus di hadepin ujian besar .ortu kandungnya hana ngajakin hana pindah ke luar negeri . Waktu di bandara bener2 ngras air mata . Sedih bnget
    ada seq nya lagi gak
    Maaf y author saya komennya langsung jadi satu gni , soalnya ol di hape. Sekali lagi maaf sekali

    • koreanfanfictland Mei 7, 2013 pukul 6:42 am Reply

      Hai~ Iya ga apa2 kok, santai aja. Saya juga udah seneng kalau kamu mau komen di ff saya yg aneh2, hahaha xD

      -Chandra Syifa W-

  32. anandain Agustus 23, 2013 pukul 2:48 pm Reply

    keren.🙂

  33. Marwati Idris Desember 29, 2013 pukul 3:06 pm Reply

    Endingnya benar2 membuat saya berurai air mata……sepertinya saya
    Benar2 tau dan merasakan apa yg dirasakan kim soeun, bagaimana
    Sso merawat dan menyayangi ha na dan akhirnya harus merelakan
    Ha na kembali pd orang tua kandungnya…daebak….

  34. nara Maret 19, 2014 pukul 10:46 pm Reply

    Nangis bombay baca ini ff…
    Daebak….

  35. lilis suryani Juli 2, 2014 pukul 6:38 am Reply

    mw nangis bacanya thor

  36. My Fishy April 12, 2016 pukul 9:55 am Reply

    sedih banget endingnya thor sampe pengen nangis aq bacanya juga, gak kuat banget ha na d pisahkan dari so eun yg telah membesarkannya dari kecil dan juga kim bum.. kalo begini sad ending donk thor ha na tidak bisa melihat adiknya yg ada d rahim so eun, sedih dengan keadaan so eun yg harus berpisah padahal kebahagiaan keluarga kecil bumsso akan bertambah dengan kehadiran bayinya bumsso, tapi ceritanya seru banget..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: