(TS) Lasting – Part 2 (End)


Lasting

#Part 2

tumblr_l0od1sjB5S1qbb5lc

Author: Chandra Syifa W

Main Casts: Kim Bum, Kim So Eun

Casts: Lee Hyun Woo, Yoo Seung Ho, Go Ara, Park Jiyeon, Mrs Kim (fictional, Kim Bum’s Parents), Choi Hye Ah (fictional)

Genre: Romantic, Sad, Family

Type: Two Shoot

 

Disclaimer: Semua casts yang saya gunakan dalam ff ini bukan milik saya, melainkan milik keluarga, teman, dan manajemen mereka masing – masing. Saya tidak memiliki casts tersebut, namun alur cerita yang ada di sini adalah murni milik saya tanpa ada pengaruh dari pihak manapun. Dilarang keras memplagiat atau mengambil karya milik saya ini tanpa seizin dan sepengetahuan saya selaku author.

 

Apabila ada kesamaan judul ataupun alur cerita, itu merupakan hal yang tidak di sengaja. Kesalahan format atau huruf yang ada dalam ff ini mungkin terjadi karena human error atau faktor dari blog sendiri.

 

For readers,

Saya mohon maaf karena saya ga bisa tepat waktu untuk post TS ini.

2 minggu terakhir banyak tugas yang harus saya selesaikan dan jadi prioritas saya.

Dan maaf juga jika alur ceritanya tidak menarik atau seperti yang readers inginkan.

Baiklah, this is the last story from me.

Enjoy!

 

Last story in ‘Lasting’

 

Tiba – tiba ponselku berdering panjang. Ku letakkan sisir yang tadi ku gunakan di atas meja dan ku raih ponselku. Ku lihat telfon masuk yang ku terima.

“Yoo Seung Ho? Ada apa dia menelfon?” gumamku bingung. Tak biasanya dia menelfon.

Akhirnya ku angkat telfon dari Seung Ho itu.

“Yeoboseyo”

“So eun, kau belum tidur?”

“Belum, waeyo? Tumben sekali kau menelfonku”

“Ya, aku tau itu. Ada sesuatu yang ingin ku beritahukan padamu. Tadinya aku ingin mampir ke rumah sakit sekalian menjenguk Kim Bum lagi. Tapi terlalu banyak jadwal yang harus ku hadiri”

“Ah, saat ini aku sedang di rumah. Hyun woo yang menjaga Kim Bum di sana”

“Oh ya? Tak ku sangka ia benar – benar baik padamu dan juga Kim Bum”

“Mmm. Lalu apa yang ingin kau katakan?”

“Tapi, kau jangan syok atau apalah yang sejenis hal itu. Ok?”

“Iya, ada apa?”

Tak terdengar lagi suara Seung ho di ponselku. Ku cek telfonnya tapi masih terhubung, tidak ia matikan. Aku jadi merasa aneh padanya.

“Orang tua Kim Bum besok akan datang, mereka juga ingin berbicara denganmu So Eun..”

– Lasting –

 

            “M-Mwo? Orang tua Kim Bum?”

“Ne. Aku sempat menawarkan diri pada mereka agar aku saja yang menyampaikan pesannya. Tapi mereka memaksa untuk bertemu denganmu”

Orang tua Kim bum ingin bertemu denganku?

Sebenarnya bukanlah masalah besar jika mereka memang ingin bicara denganku. Hanya saja, jika di lihat dari kejadian di masa lalu mereka selalu bertindak kasar padaku. Bukan hal biasa jika itu terjadi. Seperti yang ku katakan sebelumnya, keluarga Kim bum memang tidak menyukaiku. Keluarganya dari kalangan orang kaya, sementara aku? Mungkin mereka khawatir jika Kim bum akan turun derajatnya jika bergaul denganku.

“Jadi, bagaimana? Aku dan Jiyeon akan ikut mendampingi mereka untuk datang ke rumah sakit, sehingga kau tak perlu khawatir”

“Khawatir kenapa? Justru aku sangat senang jika mereka datang menjenguk Kim bum, karena mereka belum pernah datang sejak dia koma. Dan masalah pembicaraan denganku.. Aku akan baik – baik saja”

“Baiklah, sampai bertemu besok di rumah sakit. Sampai jumpa”

“Ne, selamat malam”

Ku tutup telfon dari Seung ho terlebih dahulu. Apa yang akan terjadi besok? Tidak akan ada satupun orang yang tau. Yang pasti, sekeras apapun sikap orang tua Kim bum padaku itu tidak akan membuat sikap ku menjadi lebih keras. Aku hanya ingin mereka tau jika aku tulus menyayangi dan mencintai Kim bum tanpa harus tau siapa dirinya yang sebenarnya, bukan seperti anggapan mereka.

***

            Tinggal beberapa langkah lagi aku akan sampai di ruangan Kim bum. Baru semalam saja aku meninggalkannya rasanya sudah seperti kehilangan dia selama berabad – abad. Ku buka daun pintu berwarna putih itu, dan ku dapati Hyun woo yang sedang tidur di kursi sebelah ranjang Kim bum. Aku tersenyum melihat wajahnya yang sudah tentu lelah, namun aku kagum sekaligus sangat berterima kasih terhadapnya. Aku berjalan mendekat menuju mereka yang sepertinya belum menyadari keberadaanku. Hingga akhirnya..

“So Eun”

Ku dengar suara Hyun woo yang baru saja tersadar dari tidurnya. Ia merenggangkan tubuhnya sejenak untuk menghilangkan rasa sakit di badannya. Ia mengusap kedua matanya lalu mencoba untuk  menyapaku dengan senyuman lembutnya.

“Tak seharusnya kau bangun sekarang, pasti kau kelelahan sejak semalam menjaga Kim bum sendirian” ujarku yang tak enak pada Hyun woo.

“Salahmu sendiri datang sepagi ini. Apa kau tak sadar ini baru jam setengah lima pagi? Kau kan bisa sarapan dan beristirahat sejenak di rumahmu” balasnya yang kini malah menyalahkanku. Aku tau alasannya menyalahkanku bukan karena ia kesal padaku.

“Bagaimana keadaannya? Apa ada perubahan?” tanyaku yang kini duduk di samping Kim bum.

“Tak ada yang berarti. Detak jantungnya normal, tingkat kesadarannya pun masih belum dapat di pastikan” terang Hyun woo yang kini terdengar pasrah.

Ku hela nafasku pelan sembari menatap Kim bum dalam. Ingin rasanya aku melihat senyum indahnya kembali menghiasi hari – hariku. Begitu banyak orang yang menyayangi Kim bum yang sudah menantikan kembalinya dirinya. Tiga hari yang lalu perwakilan kantornya sudah menyempatkan diri datang dengan membawakan sebuah karangan bunga yang ku letakkan di atas meja. Dan kini, aku harus siap menerima tamu yang lainnya.

“Akan ada yang datang nanti siang” kataku singkat.

“Mwo? Nuguya?” tanya Hyun woo penasaran.

“Kedua orang tua Kim Bum” balasku lagi.

“Oh, ku pikir siapa. Aku senang jika orang tuanya akan datang menjenguk. Tapi, kenapa mereka baru akan datang hari ini? Bukankah sebagai orang tua mereka seharusnya menjadi orang pertama yang menjenguk Kim Bum???”

Seandainya saja ada jawaban yang paling tepat untukku agar aku bisa menjawab pertanyaan Hyun woo itu, pasti aku tidak akan diam seperti ini. Begitu rumitnya keluarga Kim bum membuat aku sendiri merasa lelah, bahkan kadang menyerah di depan Kim bum.

“Entahlah, mereka pasti memiliki alasan sendiri untuk hal itu”

Hyun woo hanya mengangguk pelan mendengar jawabanku yang mungkin terdengar samar. Kini tinggal waktuku untuk mempersiapkan diri agar aku tak terlihat lebih ‘buruk’ di depan orang tua Kim bum. Ya, jika saja ini bukanlah untuk Kim bum, pasti aku sudah pergi jauh dan meninggalkan hidup yang ternyata jauh lebih keras di bandingkan yang ku rasa.

@ 13.00 pm

 

“So Eun!”

“Jiyeon-ah!”

Aku dan Jiyeon langsung berhamburan dan berpelukan erat. Tentu saja ia di dampingi oleh Seung Ho yang hanya tertawa kecil melihat tingkah kami yang seperti anak kecil. Sementara itu Hyun woo baru saja kembali dengan membawa sekeranjang buah dari mini market.

“Wajahmu terlihat lebih baik di bandingkan kemarin, tidak terlalu pucat. Apa Kim Bum mengalami hal yang baik???” tanya Jiyeon dengan begitu bersemangat. Aku menggelengkan kepalaku sambil tersenyum.

“Aku hanya beristirahat di rumah semalam. Ini semua berkat Hyun Woo yang mau menolongku dengan sangat baik” ucapku yang kemudian melirik Hyun woo.

“Oh ya? Kalau begitu terima kasih Hyun Woo. Aku dan Seung Ho memang tidak tau siapa dirimu, tapi kami sangat berterima kasih akan hal itu. Khamsahamnida” kata Jiyeon membungkuk.

“Ah, biasa saja. Aku hanya tidak tega melihat So Eun menghadapi ini sendirian. Karena aku merasa pernah senasib dengannya, aku akan melakukan yang terbaik. Hehehe” ujar Hyun woo yang kini mulai salah tingkah.

Aku dan Hyun woo saling melempar senyum. Seakan – akan berkata ‘terima kasih banyak’ hanya dari tatapan mata, Hyun woo seperti membalas ‘itu bukan masalah’. Seung ho lalu berjalan dan mulai berbicara padaku.

“Mereka, belum datang ke sini bukan?” tanyanya dengan nada khawatir.

“Belum, namun pasti tidak lama lagi” ucapku.

“Aku akan melindungimu dan juga Kim Bum semampuku. Aku takut jika Bibi Kim akan mengucapkan kata – kata yang dapat memojokkanmu nantinya” kata Seung ho pelan.

Aku kembali mencoba untuk tersenyum pada Seung ho dengan menepuk bahunya. Meskipun agak berat, aku harus tetap terlihat baik – baik saja.

“Perlu ku katakan berapa kali padamu? Aku baik – baik saja, tak ada yang perlu kau khawatirkan. Lagi pula, aku yakin Tuhan dan Kim Bum akan membantuku” yakinku. Terdengar sangat optimis, padahal batinku sendiri masih merasa ragu.

“Aku akan mencoba untuk mempercayaimu, meskipun aku tak yakin” balasnya.

Tok tok tok..

Akhirnya mereka pun tiba.

Ku lihat Hyun woo yang bergegas menuju ke pintu untuk membiarkan tamu yang datang itu masuk ke dalam. Dan benar saja, orang tua Kim bum yang kini hanya ada Ibunya dan juga.. seorang wanita yang tidak ku kenal, bahkan ku lihat sebelumnya. Seung ho dan Jiyeon melangkah mundur dari sisi ku.

“Bagaimana keadaan anakku? Dia baik – baik saja bukan?” ucap Ibu Kim bum. Terdengar seperti nada bicara yang santai untukku. Aku hanya menundukkan kepala.

“Ku lihat tidak ada yang mengkhawatirkan dari kondisinya. Kita tinggal menunggu kapan dia sadar. Bukankah begitu, Kim So Eun?” sambungnya lagi.

Aku sudah yakin jika mata Ibu Kim bum sedang menatapku tajam. Aku harus bisa setenang mungkin didepan mereka.

“N-Ne” balasku tersendat.

“Sudah berapa hari ia koma?” ujar Ibu Kim bum lagi.

“Kurang lebih 3 hari Ibu” kataku. Ku beranikan diri memanggilnya dengan sebutan ‘Ibu’ meskipun mungkin aku tak dianggap sama sekali olehnya.

“Bagaimana mungkin anda bisa mengatakan tidak ada yang mengkhawatirkan dari Kim Bum? Ia mengalami kecelakaan yang tidak kecil dan sekarang mengalami koma. Seharusnya anda sebagai..”

“Cukup.  Aku tidak ingin mendengar ucapanmu, Yoo Seung Ho”

“Tapi..”

“Kau hanyalah keponakanku, jadi kau tidak berhak mengatakan hal yang secara tidak langsung menghinaku. Aku ibunya, dan kau tidak tau apa – apa tentang Kim Bum. Arraseo?”

Kini suasana semakin menegang. Ucapan Seung ho langsung di potong oleh Ibu Kim bum dengan begitu cepat, tanpa menatap Seung ho sama sekali. Tatapan kesal sekaligus kecewa sangat terlihat dari dirinya. Sementara itu Jiyeon hanya merangkul tangannya untuk meredam emosi Seung ho. Kemudian Ibu Kim bum kembali berbicara kepadaku.

“Aku mengucapkan terima kasih atas semua yang kau lakukan untuk anakku, meskipun aku tidak pernah menginginkan dirimu yang melakukannya. Tapi ku rasa, lebih baik sekarang kau pergi dan jangan kembali lagi”

Sejenak aku merasa heran dan bingung dengan perkataan beliau. Apa sudah tiba saatnya untukku menyerah?

“Maaf bu, bukan maksudku ingin mengelak ucapan Ibu, aku hanya ingin berada disamping Kim Bum selama ia dalam masa – masa terberatnya” terangku.

“Untuk apa kau melakukan hal yang sia – sia? Anakku tak perlu kehadiran wanita sepertimu. Kim bum sudah memiliki wanita yang jauh lebih baik derajat dan martabatnya dibandingkan dengan orang sepertimu” jawab Ibu Kim bum dengan begitu ketus.

“M-Maksud Ibu?” sambungku lagi yang kini diambang keputus – asaan.

Ibu Kim bum menatap ke arah wanita yang tadi dataang bersamanya beserta suaminya. Wanita itu melangkah dengan begitu anggun dan membuatku seperti terjebak.

“Go Ara lah yang akan berada di samping Kim Bum sampai dia sadar”

DEG!

Hatiku tidak percaya dengan semua ini. Ini pasti hanya bualan belaka, pikirku. Namun wanita itu berdiri menghadapku dengan begitu percaya diri. Aku tidak bisa melawannya, dan aku juga tak bisa membiarkan keadaan mencekik ku dengan perlahan seperti ini.

“Nyonya, anda tidak bisa berlaku tidak adil pada So Eun! Dia yang menangis seharian sampai mengabaikan kesehatannya sendiri untuk anak anda, apa anda tidak punya perasaan?!” kata Hyun woo. Tidak, tidak seharusnya kau membelaku Hyun woo.

“Apa Ahjumma tidak bisa membicarakan hal ini sampai Kim Bum pulih? Ini hanya membuat keadaan semakin rumit” tambah Seung ho.

“Ahjumma, seandainya kau tau jika So Eun begitu baik dan mencintai Kim Bum tanpa memandang apa yang dimilikinya. Ia melakukan semua ini dengan tulus” ujar Jiyeon yang kini ikut mendukung.

“Apa hak kalian berbicara seperti itu? Aku tidak menerima kehadiran wanita bernama Kim So Eun disini. Atau.. aku perlu mengatakan semuanya padamu sekarang juga, hah?!”

Kenyataan pahit apa lagi yang harus ku terima??? Aku tidak tau mengapa keberadaanku selalu saja membuatnya benci bahkan menghinaku. Air mataku mulai turun membasahi kedua pipiku. Ku umpatkan wajahku agar semua orang tak melihatnya.

“Ahjumma, ku mohon jangan mengatakannya sekarang. Berikan ia waktu untuk..”

“Setelah Kim Bum siuman, ia akan langsung menikah dengan Go Ara, bukan wanita murahan sepertimu. Mereka akan menjalani kehidupan mereka tanpa makhluk pengganggu sepertimu. Jadi, apa ada alasan bagimu untuk tetap tidak pergi dari hadapanku sekarang?!”

Ya Tuhan..

Cobaan seperti apalagi yang harus ku alami. Mengapa cerita cintaku tak seindah yang lain? Apa yang harus ku lakukan Kim Bum???

***

            Hyun woo terus berada disampingku, bahkan ia selalu mengikutiku kemanapun aku pergi. Kini aku sudah tidak di rumah sakit. Hyun woo yang mengantarku untuk pergi, bersamaan dengan keputusan yang telah ku pilih.

“I-Ibu..”

            “Jangan pernah memanggilku dengan sebutan itu lagi, aku tidak sudi dipanggil seperti itu olehmu. Bagaimana, sudah puas kau mendengar apa yang akan terjadi nanti?”

            “A-Aku.. aku tidak tau apa aku mampu meninggalkan Kim Bum. Namun, jika itu adalah yang terbaik untuknya.. Aku akan pergi sejauh mungkin dari Kim Bum..”

 

            Keputusan terpahit yang pernah ku buat sepanjang hidupku. Sangat – sangat sulit untuk mengucapkan kata – kata yang dapat membunuhku sendiri. Pikiranku hanya terpenuhi oleh jawaban itu, dan tak ada hal lain yang bisa ku katakan.

“Masih ingin merenung, atau ingin bersantai sejenak?”

“Aku hanya ingin sendiri Hyun woo, itu saja”

“Dan kau ingin membuatku frustasi karena aku tak berhasil menghiburmu? Ayolah, jika yang melihatmu saat ini adalah Kim Bum ia pasti sudah memelukmu dan membiarkanmu menangis dipelukannya. Itu tidak mungkin ku lakukan kan?”

Seperti biasa, Hyun woo selalu membuatku merasa lebih baik dengan gurauannya. Mencoba menampilkan senyum terbaikku didepan nya sehingga ia tak khawatir lagi. Dan kini Hyun woo kembali tersenyum cerah padaku.

“Astaga, pantas saja Kim Bum tak pernah berpaling darimu. Kau tersenyum saja bisa membuatku meleleh” candanya lagi.

“Jangan melebih – lebihkan atau kau ku usir dari sini?” ancamku dengan memasangkan wajah seram.

“Aigoo, baiklah aku menyerah! Sekarang, apa kita bisa berjalan – jalan sebentar sembari berbincang – bincang???”

Ku anggukan kepalaku pada ajakan Hyun woo tadi. Ia mengajakku untuk pergi ke pusat pertokoan yang cukup ramai. Hyun woo memarkirkan motornya di tempat lain dan kami berjalan mengitari tempat itu dengan berjalan kaki.

“Ibu kim Bum itu.. tak ku sangka ia bersikap begitu kejam, padahal anaknya saja baik dan tampan. Apa memang sikapnya itu turunan?” celetuk Hyun woo dengan santai.

“Molla, tapi aku yakin jika ia adalah seorang Ibu yang baik” balasku dengan tersenyum.

“Lalu apa yang akan kau lakukan sekarang? Apa kau berusaha untuk mencegah pernikahan Kim Bum dan juga Go Ara?”

“Tak pernah terbesit dipikiranku untuk melakukan hal seperti itu”

“Jadi kau akan datang ke pesta pernikahan mereka, memberikan ucapan selamat padanya dan melihat kehidupan rumah tangga mereka yang terlihat indah, begitu???”

“Mungkin.. Mengapa tidak?”

Hyun woo langsung menatapku aneh, ia memutar balikkan badanku agar ia dapat melihatku dengan jelas. Aku hanya memasang muka datar tanpa mengatakan apapun padanya.

“Kenapa kau jadi cepat menyerah begini??? Cintamu dan Kim Bum harus kau pertahankan sampai akhir. Aku tidak ingin kau memiliki akhir yang sama sepertiku, dan cukup aku saja yang merasakannya” ucap Hyun woo dengan cepat.

“Aku sudah berusaha, dan kau tidak tau bagaimana perjuanganku untuk bisa dengan Kim Bum sepanjang 3 tahun terakhir ini. Lagipula, Go Ara juga terlihat lebih baik dibandingkan denganku” jawabku pasrah.

“Jadi kau benar – benar akan datang?” kata Hyun woo memastikan. Aku kembali mengangguk pelan. “Kau yakin?”

“Ne”

“Kalau begitu, aku akan menemanimu datang ke pernikahan mereka. Hubungi aku jika ada sesuatu yang terjadi padamu. Ara?”

“Arasseo, gomapseumnida”

Ku harap ini semua hanyalah sebuah alur cerita yang kelak akan kubuat di novelku nanti, dan ku harap Kim bum lah orang pertama yang akan membacanya. Tak pernah terbayangkan olehku jika aku dan Kim bum sendiri yang menjadi tokoh utamanya, bahkan di dunia nyata seperti saat ini.

***

– Author POV –

Seung ho dan Jiyeon masih terdiam berdiri di ruangan Kim bum, menatap Ibunya yang kini sedang berusaha untuk meredam amarahnya karena So eun. Sementara Go Ara berusaha untuk berbicara lembut padanya.

“Sudahlah Bu, wanita itu sudah pergi bukan? Kini kita hanya tinggal menunggu Kim bum siuman” ujarnya sambil mengusap bahu Ibu Kim bum.

“Aku tau itu, terima kasih Go Ara” balas beliau dengan tersenyum kecil. Go ara membalasnya dengan senyuman manis.

“Jangan memanfaatkan keadaan, kalau Kim bum tidak mengalami kecelakaan mungkin kau tidak akan pernah berdiri di sini” celetuk Seung ho dengan tajam.

“Maksudmu, kalau dia tidak sakit aku tidak akan pernah menikah dengannya, dan ia akan menikahi wanita bernama Kim So Eun, begitu?” tebak Go ara dengan nada curiga.

“Ya, dan perlu kau tau jika Kim bum tidak akan mudah menerima kehadiranmu untuk menggantikan So Eun. Ku peringatkan dari awal agar kau tak sakit hati nantinya” tambah Seung ho lagi. Ia terlihat benar – benar gusar dengan rencana Ibu Kim bum dan juga Go ara.

Jiyeon selalu dapat mengendalikan emosi Seung ho hanya dengan menggenggam dan mengusap tangannya dengan perlahan. Sebagai orang yang ikut mendukung hubungan Kim bum dan So eun Jiyeon hanya bisa terpaku, ia bukanlah orang yang memiliki posisi penting di keluarga ini. Sesekali ia menatap Kim bum yang terbaring di ranjang berwarna putih pucat itu. Dan tiba – tiba..

“K-Kim Bum siuman.. Iya, Kim Bum sudah siuman!”

Semua perhatian orang – orang yang berada di ruangan itu langsung berpindah ke arah Kim bum. Dan ternyata yang dikatakan oleh Jiyeon adalah benar. Perlahan jari telunjuk Kim bum mulai bergerak dan matanya juga berusaha untuk terbuka. Kim bum menatap cahaya lampu yang berada di atas, lalu mendapati keluarganya yang sudah berdiri di sampingnya.

“Kim So Eun”

Ibu Kim bum menatapnya dengan tidak percaya. Sebuah nama yang Kim bum ucapkan disaat ia tersadar adalah nama wanita yang ia benci. Go ara melihat Kim bum yang wajahnya masih pucat sementara Seung ho dan juga Jiyeon terlihat begitu antusias.

“Kim Bum, gwenchanayo??? Apa kau baik – baik saja? Apa kepalamu terasa sakit???” tanya Seung ho dengan beruntun.

“Kami sangat merindukanmu, terutama So Eun” kata Jiyeon yang merasa terharu.

“Mmm, aku baik – baik saja. Di mana dia?” ujar Kim bum dengan pelan.

“Wanita yang kau cari itu sudah pergi, dan kini kau tak perlu mencari – cari di mana dia sekarang”

Perkataan Ibunya sendiri membuat Kim bum merasa heran. Seung ho menatap Ibu Kim bum dengan geram.

“Apa maksud Ibu? Sudah berkali – kali ku katakan jika aku dan So eun tidak akan pernah berpisah meskipun Ibu mengusirku, apa Ibu tidak bosan mendengarnya?” keluh Kim bum.

“Ibu tidak peduli apa yang kau katakan. Dengarkan ibu, setelah kau keluar dari rumah sakit kau akan menikah dengan Go Ara, wanita pilihan Ibu yang paling baik. Ibu sudah mempersiapkan segalanya sehingga kau dan Go Ara tak perlu repot mengurus yang lainnya. Bagaimana? Kau menyukai surprise dari Ibu kan?” jelas Ibu Kim bum dengan wajah yang sumringah.

Mata Kim bum membulat dengan cepat, ia berusaha bangkit dari ranjangnya namun Seung ho menahan Kim bum untuk melakukannya.

“Jangan lakukan ini, kondisimu belum pulih benar. Biar aku dan Jiyeon yang melakukannya” bisik Seung ho pada Kim bum. Namun Kim bum bersikeras untuk beranjak.

“Ku mohon Bu, jangan bersikap egois padaku. Yang ku cintai hanyalah So Eun, Ibu bisa mengerti kan?” pinta Kim bum dengan lirih.

“Ibu sangat bersyukur karena kau sudah sadar. Jangan membuat masalah baru atau kau tak kan biarkan keluar dari pengawasan Ibu. Kau dan juga Go Ara, persiapkan diri kalian dengan matang”

Setelah memberi petuahnya Ibu Kim bum melenggang pergi dari ruangan itu. Tanpa diikuti oleh Go Ara, daun pintu perlahan tertutup mengiringi hilangnya bayangan Ibu Kim bum. Kini hanya tinggal mereka dan juga Kim bum yang tertunduk pasrah. Jika Ibunya sudah membuat keputusan seperti ini tak ada hal lain yang dapat ia lakukan. Go ara berjalan mendekati Kim bum dengan memberanikan diri. Ia menggerakkan tangannya untuk menggenggam tangan Kim bum.

“Istirahatlah, semua nya akan baik – baik saja. Aku akan berada di sampingmu” ujar Go ara tersenyum lembut. Tanpa mengidahkan perkataannya Kim bum langsung menarik tangannya dari Go ara.

“Jangan menyentuhku” kata Kim bum singkat.

“Kim bum, aku mengerti jika kau perlu waktu. Tapi aku yakin jika pada akhirnya kau akan menerimaku dengan lebih baik dibandingkan dengan wanita yang bernama Kim So Eun itu”

“Apa katamu? Jangan pernah menyebut nama So Eun lagi dihadapanku, dan jaangan pernah membandingkan dia denganmu. Kau tau? Karena kau tidak ada apa – apanya dibandingkan dengan dia. Arraseo?!”

Go ara diam tertegun setelah menerima bentakkan dari Kim bum. Pikiran Kim bum semakin buyar, kesehatannya yang seperti ini membuat dia tak bisa melakukan apapun sekarang. Secepatnya, ia harus bertemu dengan So eun, itu pasti.

***

So eun baru saja menerima telfon dari Jiyeon. Jiyeon mengajaknya untuk bertemu di sebuah kedai kopi yang biasa So eun dan Kim bum kunjungi. Awalnya So eun berusaha untuk menolak karena tempat itu mengingatkannya pada saat ia berdua dengan Kim bum. Karena dipaksa akhirnya ia memutuskan untuk pergi didampingi oleh Hyun woo. Ketika mereka sudah sampai di sana mereka mencari – cari di mana keberadaan Jiyeon.

“So Eun-ah! Di sini!”

Hyun woo memberi tau So eun tentang di mana Jiyeon lalu mereka pergi ke meja itu. Saat So eun melangkah ia mendapati Jiyeon tak sendiri. Dia bersama Seung ho dan juga pria yang masih mengisi relung hatinya, Kim bum. Kim bum sendiri merasa bahagia ketika ia melihat keadaan So eun yang baik – baik saja, namun ia tidak mengenal Hyun woo yang terlihat begitu dekat dengannya.

“Ah, kau datang bersama dengan Hyun Woo?” tanya Jiyeon ramah.

“Ne, tidak apa – apa kan?” kata Hyun woo dengan sedikit canggung. Sejenak Jiyeon melempar pandangan ke arah Seung ho dan juga Kim bum, kemudian ia kembali bicara pada Hyun woo.

“Anio, tak masalah. Oh iya So eun, bagaimana kabarmu? Maaf jika mendadak aku mengajakmu bertemu” kata Jiyeon yang kini bicara pada So eun.

“Baik, bukan masalah kok” jawab So eun sekedarnya. Ia menjaga cara bicaranya agar Kim bum tak curiga sedikitpun.

“Ya, baiklah, bagaimana kalau aku, Jiyeon dan juga Hyun Woo pergi berjalan – jalan? Udara hari ini terasa menyegarkan meskipun sudah menjelang siang” ajak Seung ho dengan memasang wajah bersemangat. Dengan cepat Jiyeon meresponnya.

“Rencana yang bagus! Kalau begitu kami pergi sebentar ya? Ayo Hyun Woo” ucap Jiyeon.

Seung ho dan Jiyeon sudah beranjak lebih dulu dari bangku mereka, sementara Hyun woo tak melakukan apapun. Ia malah menatap mereka aneh.

“Sepertinya aku tak bisa ikut dengan kalian, aku harus berada di samping So Eun. Berjaga – jaga jika ada sesuatu yang tak mengenakkan terjadi” ujar Hyun woo yang menolak secara halus. Kim bum menoleh ke arah Hyun woo dengan semakin bingung. Seung ho langsung berpindah posisi kemudian berbisik pada Hyun woo.

“Biarkan mereka bicara berdua, kita harus meninggalkan mereka” bisiknya.

Hyun woo yang belum memberikan jawaban dengan cepat langsung dirangkul oleh Seung ho dan pergi keluar diikuti oleh Jiyeon yang sempat memberikan lambaian tangan pada So eun dan Kim bum. Sekarang, hanya tinggal mereka berdua bersama dengan suasana yang terasa canggung.

“Kau, apa Ibu melakukan sesuatu yang menyakitimu? Aku sangat khawatir” ucap Kim bum dengan serius.

“Tidak, semuanya baik – baik saja” jawab So eun dengan senyum. “Kau sendiri? Kapan kau sudah siuman?”

“Seminggu yang lalu”

“Ah, syukurlah”

“Seung ho bilang, kau yang selalu menjagaku selama aku koma, seharusnya kau tak perlu melakukan itu. Masih banyak hal yang perlu kau lakukan, seperti membuat puisi atau naskah novel”

“Tidak ada yang lebih penting dibandingkan dengan kondisimu. Hanya itu yang ku pikirkan”

Kim bum semakin merasa kagum dengan sikap So eun yang selalu memperhatikannya. Memang ada yang terasa mengganjal dengan cara menjawab So eun, namun dengan segera ia menghilangkan pikiran itu.

“Gomawo, kau lah wanita terbaik yang pernah ku kenal” kata Kim bum yang berterima kasih.

“Tak masalah, aku senang bisa melakukannya, terlebih lagi kau berada di hadapanku dengan kondisi yang sudah membaik” kata So eun. Hal itu membuatnya teringat masa – masa di mana ia begitu risau dengan kondisi Kim bum yang koma.

“Tentu saja. Kalau boleh tau, siapa pria yang datang bersamamu tadi?” tanya Kim bum lagi. Dari awal ia memang penasaran dengan identitas orang itu.

“Nugu? Apa, yang kau maksud itu Hyun Woo?” ucap So eun.

“Mmm, ku lihat ia sangat dekat denganmu. Apa dia teman barumu? Aku tak pernah melihat dia sebelumnya, dan ku rasa kau tidak pernah menceritakannya padaku”

So eun kini dapat mengenal situasi seperti ini. Apa yang diucapkan Kim bum memang benar, karena So eun dan Hyun woo baru saling mengenal tepat saat Kim bum kecelakaan.

“Namanya Lee Hyun Woo, dialah orang yang menelfonku saat kau mengalami kecelakaan setelah mengantarku pulang. Dia juga menemaniku selama aku menjagamu sampai Ibu mu datang dan akhirnya memintaku untuk pergi” terang So eun dengan tenang. Sesekali senyumnya mengembang, dan itu membuat Kim bum merasa aneh.

“Apa kau menyukainya?”

Untuk beberapa saat So eun terdiam menatap Kim bum yang sepertinya terlihat cemburu. Nafasnya terasa berat, tapi ia tau apa yang harus ia lakukan. So eun mencoba untuk terlihat tegar di depan Kim bum.

“Ya, mungkin seperti itu”

Dan tepat seperti apa yang So eun pikirkan, Kim bum kini menatap kosong So eun dengan rasa kecewa. Mungkin rasa cemburu itu sudah membuncah di pikiran Kim bum, pikir So eun.

“Lalu, bagaimana persiapan pernikahanmu dengan Go Ara? Pasti sangat menyenangkan ya mempersiapkan segala sesuatunya berdua, itu akan menjadi pesta pernikahan impian kalian” ujar So eun dengan santai. Ia berusaha tersenyum dibalik kepedihan hatinya sendiri.

“So Eun..” gumam Kim bum dengan pilu.

“Oh, apa kalian sudah membuat baju pengantinnya??? Pasti kalian berdua terlihat serasi sekali saat mengenakannya. Maaf karena aku tidak bisa membantu apapun, tapi percayalah jika aku akan hadir di momen indah itu. Aku janji” tambah So eun lagi. Kedua matanya sudah mulai berair.

Bagaimana bisa ia berkata seperti itu dengan begitu mudahnya, batin Kim bum. Padahal ia sengaja meminta Seung ho dan Jiyeon untuk menelfon So eun agar ia bisa mengajak So eun pergi untuk menghindari pernikahan ini. Tapi semua rencana dan bayangannya sudah pudar dan menghilang. Bahkan Kim bum tak tau apalagi yang harus dia katakan dihadapan So eun.

“Kim So Eun, kau..”

“Kim Bum-ah!”

Seorang wanita meneriakkan nama Kim bum dari jauh. Kim bum dan So eun menoleh ke arah suara itu, dan wanita itu menghampiri mereka dengan senyuman.

“Kenapa kau pergi tanpa mengajakku? Apa kau lupa kalau hari ini kita harus memilih model undangan yang akan kita sebarkan nanti?” kata Go ara sambil merengut. Ia merangkul tangan Kim bum dan menyenderkan kepalanya di bahu Kim bum.

Rasanya tak mampu bagi So eun untuk tetap berdiam diri dihadapan Kim bum yang kini sedang terlihat begitu romantis dengan Go ara. Ingin menangis sekeras – kerasnya, namun mustahil baginya untuk ia lakukan. Sementara Kim bum hanya diam melihat tingkah laku Go ara.

“Ibu memberi tauku kalau kau diajak oleh Seung Ho dan juga Jiyeon untuk sekedar minum kopi di sini. Tapi ternyata, kau malah bertemu dengan So Eun. Apa kalian sedang menyembunyikan sesuatu dariku?” tanya Go ara dengan sinis.

“Tidak, kami tidak melakukan ataupun menyembunyikan apapun darimu. Kami tak sengaja bertemu di sini” kata So eun yang berbohong pada Go ara. Ia tidak ingin ada salah paham menjelang hari bahagia Kim bum dengan wanita itu.

“Jinjayo? Kalau begitu, dimana Seung Ho dan juga Jiyeon?”

“Mereka pergi keluar sebentar, ada urusan mendadak” ucap Kim bum yang ikut menipu Go ara.

“Ah, begitu rupanya. Berarti, apa kita bisa pergi sekarang? Aku tak sabar ingin melihat model – model undangan pernikahan kita yang begitu cantik” ajak nya dengan semangat.

“T-Tapi..” ujar Kim bum.

“Apa kau mengkhawatirkan So Eun? Hei So Eun-ah, apa Kim Bum boleh pergi sekarang? Masih banyak hal yang perlu kami persiapkan. Tenang saja, kau pasti kami undang, karena kau..”

“Karena apa?” tanya So eun.

“Karena kau pernah menjadi orang terdekat dalam hidup Kim Bum. Bukan begitu, Kim Bum?”

Go ara melirik Kim bum dengan penuh percaya diri. Ucapannya benar – benar membuat So eun merasa tersindir sekaligus sakit. Kim bum langsung menoleh pada So eun yang saat ini sudah tertunduk lemas.

“Baiklah, ku anggap jawabanmu ‘iya’. Aku dan Kim Bum pergi dulu, annyeong”

Go ara menarik Kim bum untuk berdiri lalu berjalan bersama meninggalkan tempat mereka sebelumnya. Semakin jauh Kim bum melangkah dari So eun semakin terasa kepedihan yang melanda hati So eun saat ini. Air matanya terus menurun dengan isakan yang begitu kuat.

“Tuhan, tolong bantu aku untuk bisa melupakannya, ku mohon..” gumam So eun.

Seharusnya ia tak pernah membuat puisi bertemakan kesedihan cinta, karena kepedihan dan kesedihan itu sendiri yang menyerangnya hingga sesakit ini.

***

            Hari itupun tiba..

Hari dimana Kim bum akan menikahi wanita bernama Go ara, wanita pilihan Ibunya. Meskipun Kim bum tak pernah melakukan ini atas dasar cinta, tetapi tetap saja ini begitu berat untuk ia lakukan. Sementara itu wajah Go ara terlihat sangat bahagia, selalu tersenyum kepada siapapun yang menyapanya. Ia menatap cermin besar yang berada dihadapannya, bercermin melihat wajahnya yang kini terlihat sangat cantik untuk hari pernikahannya.

“Aku tak peduli apakah kau mencintaiku atau tidak, tapi hari ini, kau akan menjadi milikku dan kau akan terjatuh dengan pesonaku. Melupakan Kim So Eun dan hidup bahagia denganku” gumam Go ara dengan senyuman licik. Hatinya begitu puas dengan semua ini.

So eun sedang berada dalam perjalanan menuju ke tempat pernikahan Kim bum dan Go ara. Tak disangka jika ia benar – benar mendapat undangan itu dari Go ara. Ia pergi menaiki taksi bersama dengan Hyun woo tentunya. Sepanjang perjalanan So eun tidak banyak bicara, dan Hyun woo sempat khawatir apakah So eun mampu melakukannya.

“Seharusnya kau tidak perlu bertindak sejauh ini, So Eun. Kau masih punya aku, yang akan selalu berada disampingmu kapanpun kau membutuhkanku” batin Hyun woo.

Pernikahan Kim bum – Go ara dilangsungkan di sebuah gedung mewah di pusat kota Seoul. Ruangan sakral itu dihiasi dengan ornamen – ornamen cantik nan indah. Saat So eun dan Hyun woo sampai mereka memutuskan untuk berpisah. So eun pergi tempat lain sementara Hyun woo langsung ke ruang utama yang sudah dipenuhi oleh tamu undangan lainnya. So eun betemu dengan Seung ho dan Jiyeon yang memang sudah menunggunya.

“Kau datang” ujar Seung ho.

“Mmm. Mereka sudah berbaik hati mengirimkan undangan ini padaku, sudah tentu aku harus datang” jawab So eun.

“Tapi kau kan sadar jika datang ke tempat ini hanya akan membuatmu kecewa. Butuh waktu lebih dari yang kau bayangkan untuk melupakan Kim Bum, bukankah begitu?” kata Jiyeon yang merasa ikut bersedih.

“Aku tau, aku akan melupakannya secepat yang aku bisa. Melihatnya bahagia dengan orang lain akan membuatku lebih baik dibandingkan ia hidup selamanya denganku” ucap So eun tegar.

“Go ara ingin bertemu denganmu di dalam, masuklah” kata Seung ho.

“Ne, gomawo”

So eun melangkah masuk ke dalam ruangan. Matanya berhenti saat ia melihat Go ara yang sudah berdiri menunggunya dengan gaun putih memanjang. Sesaat hatinya terasa pilu.

“Terima kasih kau sudah menyempatkan waktu untuk datang” sambut Go ara.

“Kembali kasih, sebuah kehormatan bagiku telah diundang datang ke pesta pernikahanmu” balas So eun dengan tersenyum kecil. “Ada apa kau memintaku untuk ke sini?”

“Ah, begini, aku belum ada pengiring yang akan mengiringi ku nanti saat naik ke atas dan bertemu dengan Kim Bum. Maukah kau menjadi pengiringku?”

Dengan berat hati So eun mencoba untuk menatap Go ara. Hati kecilnya menolak untuk melakukannya, tapi tak ada pilihan lain.

“Tentu saja, aku akan menjadi pengiringmu. Kau tak perlu khawatir, Go Ara”

***

            “Pengantin pria dipersilakan memasuki mimbar pernikahan”

Kim bum melangkahkan kakinya dengan perlahan, menapaki karpet merah yang mengarah ke mimbar pernikahannya dengan wanita yang tidak ia cintai. Dia terus menghela nafasnya untuk sekedar melupakan hal ini sesaat. Benaknya hanya terpikirkan tentang So eun.

“Dan pengantin wanita dipersilakan memasuki mimbar pernikahan”

Suara langkah kaki yang berasal dari sepatu berhak tinggi Go ara mulai menghiasi seisi ruangan. Ia tersenyum lebar dengan langkah anggun, dan hal itu membuat seluruh perhatian tamu undangan beralih ke arahnya. Kim bum mengalihkan pandangannya pada Go ara, dan tiba – tiba ia menyadari seseorang yang mengiringinya.

“Kim So Eun” gumam Kim bum pelan. Jantungnya berdegup kencang, tak mampu ia kendalikan saat melihat So eun yang terus berjalan di belakang Go ara sambil memasang sebuah senyuman.

Seung ho, Jiyeon dan juga Hyun woo yang saat itu duduk berdampingan berhasil dibuat kaget dengan keberadaan So eun di depan mimbar.

“Apa yang dia lakukan?!” kata Seung ho tercekat.

“Jangan – jangan, tadi Go ara meminta untuk bertemu So eun karena ia ingin So eun menjadi pengiringnya” tambah Jiyeon menerka – nerka.

“Kenapa kau senekat ini So Eun” ujar Hyun woo yang tak melepas pandangannya dari So eun.

Go ara dan juga So eun sudah sampai di mimbar pernikahannya. Selangkah demi selangkah Go ara menaiki mimbar itu, meninggalkan So eun yang juga melepaskan nya dengan perlahan. Bukannya Kim bum menatap Go ara, perhatiannya justru tertuju pada So eun yang sedari tadi tak ingin melihat dirinya. Namun kali ini So eun memberanikan diri untuk berbicara pada Kim bum.

“Lakukan yang terbaik, Kim Bum-ah. Aku mencintaimu”

Bisikkan So eun terus mengiang di pikirannya hingga So eun berjalan mundur dan kembali ke tempat tamu undangan. Menatap lekat diri So eun yang justru memberikannya semangat untuk melakukan ini, apa ia mampu?

“Kim Sang Bum, bersediakah kau menerima Go Ara apa adanya? Dalam suka dan duka dan menjalani sisa hidupmu bersamanya?”

            “Aku, Kim Sang Bum, bersedia menerima Go Ara apa adanya. Aku akan selalu bersamanya dalam suka dan duka dan menghabiskan sisa waktuku bersamanya”

 

“Go Ara, bersediakan kau menerima Kim Bum apa adanya? Di saat ia bahagia dan tertatih dan menjalani sisa hidupmu bersamanya?”

            “Aku, Go Ara, bersedia menerima Kim Bum apapun yang ada pada dirinya. Disaat ia berbahagia maupun berduka, selalu mencintai dirinya, menjadi istri yang selalu setia dan menjalani sisa umurku bersamanya”

 

Dalam sekejap tangisan So eun sudah tak dapat terbendung lagi. Bukan tangisan bahagia, namun tangisan yang membuat hatinya terasa sesak. Ia menatap Kim bum dalam dari bangku tamu undangan, dan Kim bum membalas tatapannya dengan penuh kepedihan.

“Maafkan aku So Eun, maafkan aku..”

***

            Hujan menghiasi malam hari di kota Seoul. Perayaan pernikahan Kim bum dan juga Go ara baru saja berakhir. Seung ho dan juga Jiyeon menahan diri untuk menanyakan keadaan So eun yang mungkin masih tertekan, sementara Hyun woo juga tak dapat melakukan banyak hal untuknya.

“Ini sudah malam, ayo kita pulang” ajak Hyun woo pada So eun.

“Nanti dulu! So Eun belum boleh pulang!” seru Go ara yang tiba – tiba datang menghampiri mereka. Ia datang bersama dengan Kim bum yang berada di sampingnya.

“Ada apa lagi? So Eun sudah lelah, biarkan dia pulang dan lewati malam pertama kalian tanpa menghiraukan keadaannya” ucap Hyun woo.

“Itu sudah pasti, kami akan melewati malam pertama kami dengan sangat romantis. Bukan begitu ‘sayang’?”

Go ara menoleh Kim bum yang saat itu sedang memperhatikan So eun yang tidak terlihat baik. Ia hanya merengut kesal tanpa menghiraukan apa yang Kim bum lakukan.

“Kalau begitu selamat menikmati malam pertama kalian, aku dan So Eun pulang dulu” ucap Hyun woo lagi.

“Sudah ku katakan So Eun belum boleh pulang! Kalau kau mau pulang, pulanglah lebih dulu. Aku mau mengajak So Eun ke hotel bulan madu kami, dia harus melihatnya. Kau mau kan So Eun???” ajak Go ara yang kemudian menarik tangan So eun.

“M-Mwo? Ke hotel bulan madu kalian? Ah, itu tak perlu. Ini sedang hujan dan lebih baik aku pulang bersama dengan Hyun woo” elak So eun.

“Pokoknya kau harus ikut, kau harus ikut bersenang – senang dengan kami. Kajja”

Go ara menarik So eun dengan cepat menuju ke dalam mobil yang sudah menunggu mereka di luar. Kim bum hanya menarik nafas kemudian mengikuti kemana mereka pergi.

Mereka bertiga sudah sampai di hotel itu. Dengan sangat gembira Go ara mengajak So eun berkeliling di kamarnya dan juga Kim bum. Kim bum tak memberikan ataupun mengucapkan apapun pada mereka, bahkan mencegah So eun saja tak ia lakukan.

“Bagaimana, indah sekali bukan? Nanti jika kau sudah menikah kau harus berbulan madu di sini, di kamar yang sama dengan ku dan juga Kim Bum” saran Go ara.

“Ne” jawab So eun dengan senyuman pahit. “Ah, lebih baik aku pulang sekarang. Selamat menempuh hidup baru, Go Ara, dan juga Kim Bum” sambung So eun lagi.

“Mmm, gomapta” jawab Go ara.

Dengan langkah gontai ia melangkah keluar meninggalkan Kim bum dan juga Go ara yang kini tinggal berdua di kamar itu. Tangisannya kembali pecah kala ia berjalan menjauhi kamar bulan madu mereka. Tanpa memperdulikan rintik – rintik hujan yang turun So eun terus berjalan pulang. Tangisannya tak henti membuat hatinya semakin sakit. Isakannya bergabung dengan suara rintik hujan yang juga semakin deras mengguyur tubuhnya.

“Kenapa aku yang harus mengalaminya? Kenapa aku yang harus merasakan sakit sesakit ini?? Kenapa aku yang harus merelakannya untuk orang lain??? Kenapa?!” ucap So eun disela – sela tangisannya. Tangan kanannya terus menggenggam dadanya sendiri seakan – akan hal itu dapat membuatnya menggenggam hatinya sendiri.

Namun tiba – tiba, tetes air hujan itu berhenti membasahi diri So eun. Dirinya tak dapat merasakan dinginnya air hujan malam itu, namun hujan masih membasahi jalan disekitarnya. So eun menyadari bahwa ada sebuah bayangan seseorang yang menggenggam sebuah payung di depannya. Seketika So eun berhenti menangis, dan mengadahkan matanya ke arah orang itu.

“K-Kim Bum”

“Kau tau, hatiku sama menyesalnya denganmu. Hatiku sama meringisnya denganmu, dan hatiku sama menangisnya denganmu. Aku tak sekuat yang kau pikirkan, aku masih membutuhkanmu untuk melanjutkan sisa hidupku, Kim So Eun”

Lasting

– The End –

 

Demikian TS ‘Lasting’ dari saya!

Maaf jika hasilnya mengecewakan, menggantung dan membuat readers menunggu lama.

Dan dengan selesainya TS ini saya ingin memberitahukan bahwa saya akan

“HIATUS”

Saya akan kembali aktif setelah kelulusan SMK dan sudah memastikan tempat kuliah saya.

Jadi saya memohon doa dari semua teman – teman saya agar saya bisa lulus dan sukses😉

 

Terima kasih atas semua dukungan dari kalian!

Sampai bertemu lagi tentunya!

Annyeong~ ^^

 

-Chandra Syifa W-

Tagged: , , , , , , , ,

26 thoughts on “(TS) Lasting – Part 2 (End)

  1. sintiaroom/sintiabumsso17 Februari 3, 2013 pukul 5:36 am Reply

    huaahhhh kaka syfa aku nangis huaaahh aku lagi sedih baca ff sedihh huawaaah hikshikshiks kasian soeun tuh kan kak ngegantung kasian bumssonya ahhh tega sekali Ibu bum jahat jahat !!!!! Udh deh bumssonya bersama aja jgn peduliin si Ara ya ! Sok sana kalian kabur dan nikah lari aja hidup berdua bersama bahagia bersama anak-anak kalian nanti selamanya ga usah hirauin si ara jahat itu , AYo Bum bw lari Sso yaa bw lari brsama kebahagiaan cinta kalia:’):’)
    oke kak tanggung jawab ya bkin squelnya stelah Ujian nasional , hehe semangat kak syifa buat UN-nya yaa hehe😀

  2. ria Februari 3, 2013 pukul 6:52 am Reply

    ahg. sad ending aaargh OPPA . . . .
    masih gak rela ni thor . . . ugh tp gpp d trma ja. .

    oh y smg sukses y thor n lulus, sukses jg yah thor kalau mau ikut SNMPTN y . hoho brarti bln sptmbr yah aktif y . . y dah d tngu ja karya2 di next next moon mendatang.😀

  3. Devi Februari 3, 2013 pukul 7:16 am Reply

    Sedih bNgeeet thor bca’a,,,,
    TrNyta sad eNdiNg kiraiN happy eNdiNg,,,,
    Tpi kereN thor FF’a,,,,,

    Oh iyh smoga sukses aNd lulus dNgaN Nilai yg memuaskaN,,,,,,🙂

  4. Anna Februari 3, 2013 pukul 7:39 am Reply

    Aduuuhh thor jjur krg sreg nie ma ending-ny,,KB ga tegas ciee,,sbnrny brhrp akrny partny bs happy coz awl part-ny sdh mngharu biru,,tak mngapalah cnt tak hrs memiliki ahhhaaaa🙂

  5. cucancie Februari 3, 2013 pukul 12:17 pm Reply

    Sad ending…kasian so eun ga tega jadinya…tapi bagus thor ceritanya…okedeh sukses selalu buat author ya…

  6. kai kurasin Februari 3, 2013 pukul 3:38 pm Reply

    ikut t bw suasana .. hru…baguuuuuus……bnget
    sukses sllu dech thor…….

  7. pipip Februari 3, 2013 pukul 3:44 pm Reply

    Waaa gntung bnget thor endingnya krg puas hehe
    Sma2 smngt ya thor aku jg lgi mmprsiapkn sgla ssuatu utk kuliah ntar thor
    Ttep dtnggu krya author lainnya

  8. Ezha yesso Februari 4, 2013 pukul 3:09 am Reply

    Wah author crta nymsad ending ya,, sso sih gak mw mmprthan kn bum pura” trlihat baik d dpn bum,, jjr skt bgt bca ne ff crta ny sdh bgt,, tp gak ap” hyun woo kn msh ad yg akn sllu mnghbr sso

  9. kiki chan Februari 4, 2013 pukul 1:45 pm Reply

    ya ampun nyesek bgt. kirain kimbum akan mempertahankan cinta mereka n nolak pernikahan itu habis2an, at least menolak ara pas hr-h pernikahan. tapi ini malah beneran nikah sm ara. huaaaaa.. T.T
    thor, klo bisa ada sequelnya. biarkan bumsso bersatu #ga rela kimbum sm yg lain😦
    abis author lulus ujian aja bikin ff lagi..😀

    Baiklah, selamat belajar n berjuang utk kelulusannya yaa.. smoga dpt hasil terbaik n diterima di kampus impiannya🙂

  10. sugarsoya Februari 5, 2013 pukul 2:46 pm Reply

    Sedihh bangett, authorr ko gantung, ayo bikin sequelnya dong, tapi happy ending ya,
    Kasian soeun, eommanya bum ama go ara jahat bangett!!
    Bum harusnya bisa tegas dong, kalo emang cinta ama soeun kan bisa nolak, huhuhu
    Semangat ya author buat ujiannya!! Semoga lulus dengan nilai yg bagus dan bisa kuliah ditempat yg diinginkan, Aminn!!

  11. Nia lestari lufibumhekidory Februari 6, 2013 pukul 9:03 am Reply

    Nggantung BGT…
    Memang sakit melihat orang kita cintai bersama dg yg lain..
    Tapi lebih sakit lagi bila orang kita cintai tak bahagia bersama kita..
    Tapi kebahagiaanmu adalah kebahagiaanku jga..
    *lah noh CURCOL kan*

  12. nenkfa Februari 11, 2013 pukul 3:16 pm Reply

    ga rela endingnya kim bum harus sama orang lain selain so eun….huuufttt…:-(

  13. edogawa kim suju Februari 21, 2013 pukul 7:22 am Reply

    Tungguuuu !!!
    Kok akhirnya gntung ?? Ak udh berdebar2 ni…
    Ffnya kuereeeeeeennn…
    Ada special partnya gk ??
    Hbes bguss banget…

  14. Windy Hazmi April 4, 2013 pukul 2:23 am Reply

    Annyeong.. Mian baru bisa coment di part ini

    Eonnie, ceritanya benar2 bagus, geunde.. Endingny benar2 ngegantung..
    Sequelny donk eon.. Jebal T_T

    Eonnie, hwaithing untuk Hiatus ny..

  15. VayTeuKey April 4, 2013 pukul 11:24 pm Reply

    wah apa mksud dr kata2 kimbum d akhr crta? penasaran tp mudah2 tu artimy bum sm so eun blikan lg

  16. luthfiangelsso April 5, 2013 pukul 5:23 am Reply

    Ya ampun nangis T.T
    sedih go ara kejam !!
    Gantung buat sequel’a ya chingu !

  17. Puji Zulfia Mei 6, 2013 pukul 3:33 pm Reply

    beneran sedh
    keduanya berkorban segtu besarnya dmi orang2 yg egois . Seq nya ada gak

  18. dania Juni 5, 2013 pukul 9:14 am Reply

    kayanya masih rada gantung gitu dehh thorrr

  19. yulie_bumsso Juni 18, 2013 pukul 7:52 am Reply

    Kak syifaa..gak rlaa..
    Bnjirrr nii..bnar2 bnjirrr kmarr yuly..
    Hikss..hikss..tegaa..tegaa..Bum-ah knpaa kau tegaa mnkah dngan n..
    Tak lhatkah drimuu so eun eoonie..
    Wuaa Kimbum bnar2 so sweettt kak..sukaa bggettt sma FF n..
    Ayoo bkin sequell n ya..d tggu Bkin sequell n..lnjuttttttttt…sdihh..TT..
    Gak bsaa blag apa2 lgii bnar2 MIRIS..=,=

  20. Hyo sun Juli 17, 2013 pukul 1:50 pm Reply

    Sad ending ternyata…. nangis mulu dari part 1 nya juga T.T😥😦😥

  21. pipi Oktober 27, 2013 pukul 3:22 am Reply

    Duh kok kisah mreka setragis ini?? Mewek..

  22. Cut Desember 10, 2013 pukul 1:56 am Reply

    Ngegantung nihh..

  23. ainami Agustus 18, 2014 pukul 7:42 am Reply

    😥😥😥

    sumpah sedih bgt….😥

    ara childish.. *slap her*

    itu akhirnya bum lari dari ara kah…?

    kenapa ga lari pas upacara pernikahan ya hehe..

    nyesek baca fanfict nya😥

  24. Dela safitri Januari 24, 2015 pukul 7:29 pm Reply

    Huaaaaaah😥 ;'( hiks hiks.. 😥
    Thor kok bnr2 nyesek dan sakiiit bgtt tau.
    Bumppa knp kalah siih ?? Urusan pendamping kan mutlak diri kita sndri yg menentukan,, knp ambil keputusan yg amat sangattt bodoh ??
    Ibunya bumppa niih sngttt sngttt sngttt menyebalkan huh.. jahatttt jahattt bgttt
    Kesel nih sama bumppa.
    Terus ini gmn ??? Bumppa ngejar sso dan ungkapin semuanya lalu selanjutnya ??
    Iikh author mah knp mlh bikin penasaran sangattt ya ??
    Sediiiih,, sakittt,, nyesek,, marah,, kecewa semua campur jd satu thor .
    Ditunggu karya2 terbaru ff-ff bumssonyaa.
    Di tunggu jg thor ff yg the love booknya ehehe..

  25. tututwulanandayani Maret 27, 2015 pukul 4:01 am Reply

    Ahhhh,,, msa sad ending sedih bngt thor😥
    Bnr” feel y dpt bngt kereenn,,, ff ya😉
    dtunggu krya” slanjutnya😀

  26. Denisa Saputri Mei 9, 2015 pukul 12:39 am Reply

    Bikin special part nya dong… masa ending nya sedih banget??😥
    Sumpah pikin gua jitak tuh palak nya go ara sm mak nya kim bum.. kim bum nya juga gak peka-an nih.. masa diam gitu aja, batalin pernikahan dong..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: