(Drabble) Promise You


Promise You

Promise You1

Author: Chandra Syifa W

Main Casts: Kim Bum, Kim So Eun

Casts: Go Ara

Genre: Romantic, Sad

Type: Drabble (2.076 Words)

 

Disclaimer: Semua casts yang saya gunakan dalam ff ini bukan milik saya, melainkan milik keluarga, teman, dan manajemen mereka masing – masing. Saya tidak memiliki casts tersebut, namun alur cerita yang ada di sini adalah murni milik saya tanpa ada pengaruh dari pihak manapun. Dilarang keras memplagiat atau mengambil karya milik saya tanpa seizin dan sepengetahuan saya selaku author.

Apabila ada kesamaan judul ataupun alur cerita, itu merupakan hal yang tidak disengaja. Kesalahan format atau huruf yang ada dalam ff ini mungkin terjadi karena human error atau faktor dari blog sendiri.

Hola! Long time no see! Kekeke~

Setelah memutuskan hiatus, saya tenang sekali menghadapi beberapa ujian yang sudah didepan mata. Dan alhamdulillah mendapat hasil yang memuaskan😉

Tapi rasanya aneh juga, kok giliran saya hiatus inspirasi buat bikin ff malah bermunculan. Kan kesel jadinya –a

Ya udah deh saya bikin drabble aja. Drabble ini terinspirasi dari lagu sub unitnya SuJu, yang personilnya main vocal itu lho. Tapi saya bukan elf ya, hanya suka aja lagunya ^^

Baiklah, silahkan dibaca dan jangan lupa komen! Khamsa~

While doing something, we passed the changing seasons.
Always we came along holding our hands together.
I could pass the days I wasn’t sure, because you were here. I could always stay strong.
The scenery might change in the future,but us, let’s be always together.

– Promise You –

 

Wanita berambut panjang itu berjalan melangkahkan kakinya menuju ke kamar hotel bulan madunya. Ia yakin jika seorang pria yang baru saja mempersuntingnya pasti sudah menunggu didalam sana, terlebih lagi wanita itu tidak memberi kabar jika ia baru saja pergi untuk mencari udara malam. Kapan lagi ia bisa menikmati masa – masa indah di kota paling romantis di dunia, yaitu Paris?

Tidak ada senyum yang merekah diwajahnya, namun tak ada perasaan gundah yang tergambar di hatinya. Ia tidak pernah meminta untuk bisa berbulan madu dengannya, namun kedua orang tua merekalah yang sengaja mempersiapkan semua ini dengan begitu apik. Ketika kakinya terhenti didepan pintu kamarnya, tangan kanannya bergerak untuk membuka pintu itu. Namun ternyata..

Kedua mata indahnya mendapati suaminya yang sedang bercengkrama, berpelukan dengan begitu erat bersama dengan seorang wanita yang sudah begitu ia kenal, Go Ara. Pria itu tidak melakukan perlawanan apapun, bahkan tangannya hanya terdiam disamping tubuhnya. Sementara si wanita semakin mengeratkan pelukannya pada suaminya. Hatinya pilu, bibirnya pun kaku. Begitu tak mampunya ia untuk menggambarkan apa yang ada dihatinya saat ini.

“Kim Bum..” gumamnya pelan dengan penuh kesenduan.

Tanpa menimbulkan suara ia kembali menutup daun pintu kamarnya, membiarkan dan meninggalkan suaminya yang bernama Kim Bum itu dengan wanita lain. Batinnya memaksa dirinya untuk pergi sejauh mungkin untuk melupakan rasa sakit itu, pergi tanpa tau kemana ia harus pergi. Pernikahannya dengan Kim Bum bukanlah suatu hal yang ia inginkan. Begitu panjang masa – masa yang mereka lewati bersama sebelum akhirnya mereka dipinta untuk menjalin sebuah hubungan resmi, padahal mereka bukanlah sepasang manusia yang memadu kasih. Meskipun ini bukanlah sebuah pernikahan yang berdasarkan cinta, namun setidaknya Kim Bum bisa menghargai posisinya. Hanya itu yang wanita ini pikirkan, wanita yang memiliki nama kim So Eun.

So eun memilih untuk pergi menaiki taksi ke tempat yang mungkin dapat menenangkan perasaannya. Begitu beruntungnya dia bisa menemukan sebuah taman yang begitu indah namun juga sepi kala malam itu. Hanya lampu penerangan taman yang menemaninya dan juga angin malam yang dingin. Harusnya ia tau jika cuaca di Paris saat itu sedang tidak baik, tubuhnya terasa menggigil. Tapi air matanya terus berurai membasahi pipinya mengingat Kim Bum yang sepertinya memang tidak menghargai dirinya.

“Aku tau jika aku bukanlah siapa – siapa untukmu, aku hanya seorang teman yang mencoba untuk membantumu kala kau terjatuh. Namun apa aku benar – benar tidak memiliki arti untukmu?” paraunya.

Batinnya begitu sakit dan perih saat mengenang waktu bersamanya bersama Kim Bum. Mereka benar – benar tidak memiliki hubungan spesial, namun keadaan sendiri yang memaksa mereka untuk menghabiskan hampir setiap waktu bersama. Karena So Eun adalah sekretaris pribadi Kim Bum, ia sering bermalam di rumah Kim Bum yang sengaja Kim Bum beli untuk dirinya sendiri. Membantu Kim Bum untuk mengerjakan laporan penting perusahaan, menyiapkan makan malam ala mereka berdua, atau hanya sekedar menonton dvd hingga larut malam. So Eun berusaha untuk profesional, namun sikap baik Kim Bum padanya membuat hatinya merona.

“Terima kasih”

            “Mwo? Untuk apa?”

            “Kau merelakan waktumu sepenuhnya untuk membantuku, bahkan sampai menginap disini. Mulai dari mengerjakan setumpuk berkas itu, sampai merapihkan rumahku hingga seperti ini”

            “Anio, kau adalah pria yang hebat. Aku hanya menjalankan tugasku sebagai sekretarismu. Dan untuk yang lainnya.. itu karena aku ingin melakukannya”

            “Jika saja kelak aku memiliki seorang istri sepertimu, pasti aku akan betah dirumah. Menghabiskan waktu bersama denganmu, tidur bersama, membayangkannya membuatku merasa senang”

 

Semua yang Kim Bum katakan saat itu sekarang sudah menjadi nyata. Namun kini apa yang terjadi? Justru ia bersikap seolah – olah ucapannya saat itu hanya gurauan belaka. Harusnya Kim Bum tau tentang hal ini. Harusnya ia tau jika So Eun menganggap pernikahan ini bukanlah sebuah permainan, meskipun ia tau jika dibalik permainan konyol ini terdapat banyak peraturan. Seperti kisah klasik kuno saja.

***

            Untuk beberapa saat Kim Bum masih tak percaya dengan apa yang wanita ini lakukan terhadap dirinya. Ia sendiri tak tau bagaimana Go Ara untuk bisa sampai dan berdiri di hadapannya. Kim bum sempat mendengar suara pintu yang tertutup dengan begitu pelan. Sementara Go Ara sendiri terus memeluknya, merasakan kehangatan tubuh yang sudah lama ia rindukan. Namun dengan cepat Kim Bum menarik tubuh Go Ara untuk menjauhi dirinya.

“Apa yang kau lakukan?! Bagaimana bisa kau ada disini?!” ujar Kim Bum dengan nada meninggi.

“Apa yang kau katakan barusan? Apa yang aku lakukan disini??? Tentu saja untuk membawamu pergi dari wanita tak bermoral itu! Bisa – bisanya dia tinggal serumah denganmu tanpa hubungan, lalu menjadi istrimu dengan begitu mudahnya. Itu tidak bisa ku biarkan!” seru Go Ara dengan menumpahkan emosinya.

“Kau tidak tau apa – apa! Bukankah aku sudah mengatakannya ribuan kali padamu, jika aku tidak memiliki perasaan apapun denganmu?!” balas Kim Bum lagi yang kini tak kalah kesal.

“Aku tau semuanya Kim Bum! Aku tidak sudi jika So Eun yang menjadi istrimu, seharusnya itu adalah aku! Aku!!!”

“Jangan bertingkah konyol Go Ara! Aku sudah menikah dengan Kim So Eun!”

“Tapi kau tidak mencintainya, iya bukan?!”

Kim Bum tertegun saat Go Ara melontarkan sebuah pertanyaan yang cukup mengusik hatinya. Dirinya tak bisa menentukan perasaannya terhadap So Eun, yang jelas – jelas sudah tinggal bersama dengannya sebelum mereka menikah. Dia tidak mencintai So Eun? Tidak, itu bukanlah jawaban yang tepat. Namun batinnya sendiri merasa bimbang karena sikap So Eun yang sangat tertutup pada Kim Bum membuatnya ia ragu.

“Bagaimana perasaanku pada So Eun, itu bukanlah urusanmu. Lebih baik sekarang kau pergi dari sini dan jangan pernah muncul dihadapanku lagi. Karena itu tak ada gunanya untukmu”

Kim Bum mengambil mantelnya yang tergantung di lemari lalu bergegas meninggalkan kamar itu, dan kini hanya tinggal Go Ara yang terdiam karena ucapan Kim Bum yang sangat menusuk hatinya. Teman kecilnya yang sudah ia cintai sejak belasan tahun yang lalu, kini dengan mudahnya mengusir dia pergi dari hadapannya.

“Bagaimana bisa Kim Bum..” ucap Go Ara yang kemudian menangis.

Tragis sekali kisah cintanya, pikir Go Ara.

***

We’ve had little quarrels. We also had hard days and left each other for a while.
But every time, I noticed that I needed you.
If you have difficulties, I want to be the first one to give you hand. Please let me be beside you.
We will experience encounters and separations, but we, let’s be next to each other.

            Malam semakin larut, angin semakin cepat menusuk tubuhnya. Isakan tangis So Eun masih juga tak berhenti meskipun ia sudah mencoba untuk menghibur diri. Mengapa rasanya begitu sulit, ia bahkan merasa benci dengan dirinya sendiri yang begitu mudah untuk jatuh cinta pada Kim Bum.

“Bodoh, kau bodoh sekali, Kim So Eun” ujarnya dengan penuh sesal.

Sementara itu Kim Bum melaju kencang mobilnya untuk mencari So Eun. Ia sangat yakin jika So Eun melihat kejadian itu, melihatnya berpelukan dengan Go Ara. Dalam hatinya Kim Bum terus merutuki kesalahannya yang membiarkan Go Ara datang dan menghampirinya. Andai saja itu tidak terjadi, mungkin saat ini ia sudah menikmati indahnya malam di Paris bersama dengan So Eun.

“Sekarang aku harus mencarimu dimana So Eun? Jangan membuatku khawatir” gumamnya dengan begitu panik.

Ia terus mengelilingi kota Paris dengan harapan akan segera menemukan So Eun. Kemudian ia menemukan sebuah taman yang diterangi dengan lampu taman tanpa ada seorangpun yang ia lihat. Entah mengapa batinnya merasa jika So Eun berada disana. Tanpa menunggu lagi Kim Bum turun dari mobilnya dan berjalan menuju ke taman itu. Kaki panjangnya melangkah kesana kemari mencari keberadaan So Eun. Kim Bum terus meneriakkan namanya agar So Eun tau tentang keberadaan Kim Bum.

“Kim So Eun! Kau dimana?! So Eun!!!” seru Kim Bum. Dinginnya angin malam tidak mematahkan niatnya untuk menemukan So Eun.

So Eun yang saat itu tengah berjalan tiba – tiba mendengar seruan Kim Bum. Seketika ia panik, dan ia memutuskan untuk pergi menghindari Kim Bum. Ia berusaha untuk menemukan tempat agar bisa bersembunyi, lalu ia berdiri dibalik salah satu dinding kokoh yang ada disana. Berharap agar Kim Bum tak dapat menemukannya dan pergi dari tempat itu. Kim Bum berlari kearahnya dengan cepat, namun matanya tak mendapati diri So Eun.

“So Eun! Kim So Eun!!!” teriak Kim Bum dengan lebih keras. Nafasnya terdengar tersengal – sengal karena cukup lelah.

“Kau dimana So Eun? Ku mohon jangan menghindar dariku, aku perlu menjelaskan semuanya” kata Kim Bum sendiri.

Karena tak berhasil menemukan So Eun, akhirnya ia memilih untuk beranjak dari tempat itu. So Eun yang mendengar ucapan Kim Bum kembali menangis dari balik tembok itu. Hatinya sesak sekali, membuatnya sulit untuk bernafas.

“Maafkan aku Kim Bum, maafkan aku. Tidak seharusnya aku menaruh perasaan padamu, tidak seharusnya aku menganggap pernikahan ini sebagai pernikahan abadi, seperti yang ku impikan” ujar So Eun.

Peperangan batin kini melanda dirinya. Ia harus melupakan perasaannya pada Kim Bum, namun tak ada satu orang pun di dunia ini yang dapat rasa cinta terhadap seseorang dengan begitu mudahnya bukan?

***

If tomorrow is covered with darkness and there is no sign, don’t be afraid.
As long as we keep holding our hands, we can go anywhere.

            Sudah hampir jam 12 malam waktu Paris. Suasana mulai terlihat sepi, namun masih ada beberapa kendaraan yang berlalu lalang di jalan dengan kecepatan tinggi. So Eun menyusuri jalan setapak yang berada persis disebelah jalan raya. Kepalanya terus menunduk, ia kehilangan kepercayaan dirinya. Ia menyadari beberapa meter dari posisinya saat ini terdapat sebuah halte bis. Langkah kakinya terhenti tanpa ia tahu penyebabnya, hanya saja hatinya mengatakan jika So Eun harus berhenti disana. Ia mengangkat kepalanya, dan ternyata ia mendapati seorang pria yang sedang berdiri tegap menunggunya.

Kim Bum..

So Eun membulatkan kedua matanya dengan begitu tak percaya. Bagaimana bisa Kim Bum tau keberadaannya dan menunggunya disana? Pikirannya semakin tak karuan memikirkan hal itu. Kim Bum sendiri menatap So Eun dengan mata berbinar. Hati kecilnya merasa sangat bahagia melihat So Eun yang sepertinya terlihat baik – baik saja, meskipun Kim Bum juga yakin kalau hati kecil So Eun lah yang terluka.

Untuk sesaat So Eun terlena dan merasa takjub melihat Kim Bum yang berada tepat didepannya. Tetapi ia ingin terlihat kuat di hadapannya. Karena itu So Eun memutuskan untuk terus berjalan tanpa mengidahkan Kim Bum. Ia melangkah dan semakin dekat dengan Kim Bum. Namun disaat ia berjalan untuk menghindar darinya tiba – tiba Kim Bum menarik tangan So Eun, menahannya untuk menjauh dan menarik So Eun ke dalam dekapan hangat tubuhnya. Seketika So Eun langsung terkejut tanpa bisa memberikan perlawanan.

“Maafkan aku” ujar Kim Bum pelan.

“Mwo?” tanya So Eun dengan kikuk.

“Apa yang kau lihat, itu bukanlah kenyataannya” balas Kim Bum.

So Eun hanya diam tanpa mengucap apapun. Kim Bum melepas pelukannya lalu menatap dalam So Eun.

“Wanita itu, Go Ara datang begitu saja. Ia datang dengan tiba – tiba lalu memelukku. Aku tidak tau jika ternyata kau melihatnya, padahal saat itu aku ingin meminta Go Ara untuk pergi. Saat aku sadar jika kau pergi, aku segera mencarimu. Kau tau, aku begitu cemas dan khawatir akan keadaanmu” jelas Kim Bum. Kesungguhannya untuk menjelaskan salah paham ini dengan So Eun sangat terlihat.

“Kau tidak perlu menjelaskan hal itu padaku, kita bukanlah suami istri yang seperti orang lihat. Aku tidak berhak untuk merasa cemburu terhadapmu, dan seharusnya kau tidak perlu khawatir padaku” ucap So Eun yang berpura – pura baik – baik saja.

“Tapi So Eun..”

“Pernikahan ini bukan berdasarkan cinta dan kepercayaan. Ini hanya sebatas permintaan kedua orang tua kita, dan kita memang tidak pernah memiliki relasi khusus. Aku saja yang bodoh, menangis karena cemburu melihat kalian berdua. Ini tidak akan terjadi lagi, aku janji

So Eun sempat memasang senyum lembutnya pada Kim Bum, namun kemudian hilang setelah ia mengakui perasaannya pada Kim Bum. Kim Bum menatap So Eun dengan bimbang, merasa jika So Eun akan mundur dan menghapus rasanya pada Kim Bum. Bahkan saat ini So Eun sendiri sudah tak berani membalas tatapan mata Kim Bum yang mungkin dapat membuatnya meleleh dan semakin terjatuh. Namun sekali lagi, Kim Bum kembali memaksa So Eun untuk mendekat kepadanya dan memeluk nya dengan lebih erat.

“Aku yang seharusnya berjanji padamu. Jangan hapus perasaanmu padaku, berikan aku waktu untuk itu. Biarkan semua ini terjadi dan jangan kau ragu dengan apa yang kukatakan saat ini. I’m promise

Promise you. I will live thinking about you. We are connected by our heart to heart.

Promise You.

What I want to tell you is just that I love you.
I will promise the piece of eternity.

– The End –

 

 

Hayo buat yang baca jangan lupa komennya ya. Meskipun jelek tapi ini masih pantas dihargai ;3

Demikian drabble dari saya! Habis ini saya bakalan hiatus lagi. Don’t miss me guys *popo*

See yaa!!!

 

-Chandra Syifa W-

Tagged: , , , ,

59 thoughts on “(Drabble) Promise You

  1. Indah ELF Oktober 13, 2013 pukul 11:00 pm Reply

    Seru suka kolo kim bum menghawatirkan so eun haha

  2. Femilda nengsih Juli 21, 2014 pukul 12:11 pm Reply

    I lake it,ini keren onnie

  3. Yumna Arinda Putri Desember 6, 2014 pukul 5:04 am Reply

    hiii chinguuuu, aku reader baru di WP ini dan aku langsung suka sama cerita di drabble ini ^_^
    alur ceritanya jelas, singkat tp padat berisi juga gampang dipahami dan yang jelas so sweet bgt ide ceritanya,,daebak pokoknya chingu ^_^

  4. alay Maret 24, 2015 pukul 10:24 am Reply

    Keren banget ada lanjutannya, tpi sayang gue baru baca heeee

  5. dela safitri Desember 6, 2015 pukul 2:44 pm Reply

    Serius sediih bgtt thor yakin
    Sso yg benar2 sulit benar2 tulus menyayangi dan mencintai oppa. Oppa knp tidak bisa menentukan ?
    Bagaimana hubungan mereka thor ?

  6. Elly madridistar Juni 4, 2016 pukul 4:34 am Reply

    Ffx keren eonni apalagi castx bumsso,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: