(OS) Tears Fallin


Tears Fallin

 

Tears Fallin

Author             : Chandra Syifa W

Main Casts      : Kim Bum, Kim So Eun

Casts               : Go Ara

Genre              : Romantic, Sad, Marriage Life

Type                : One Shoot

 

Disclaimer: Semua casts yang saya gunakan dalam ff ini bukan milik saya, melainkan milik keluarga, teman, dan manajemen mereka masing – masing. Saya tidak memiliki casts tersebut, namun alur cerita yang ada di sini adalah murni milik saya tanpa ada pengaruh dari pihak manapun. Dilarang keras memplagiat atau mengambil karya milik saya ini tanpa seizin dan sepengetahuan saya selaku author.

 

Apabila ada kesamaan judul ataupun alur cerita, itu merupakan hal yang tidak di sengaja. Kesalahan format atau huruf yang ada dalam ff ini mungkin terjadi karena human error atau faktor dari blog sendiri.

 

Annyeong haseo!

Rasanya udah lama sekali saya ga menyapa readers semua. Apa kabar?

Kebetulan saya mendapat inspirasi kala mendengarkan lagu ini. Waktu pengerjaannya lama sekali, sebulan kalau ga salah. Berhubung waktunya memang sulit sih, hehehe.

Maaf jika alur ceritanya membingungkan atau sulit di mengerti.

Karena saya sendiri sulit untuk mendeskripsikan lewat kata, berharap dengan apa yang ada di OS ini feel nya tetap bisa tersampaikan.

 

Oh iya, bisa dibilang ini versi kedua salah satu drabble saya yang berjudul ‘Promise You’.

Ada yang masih ingat? Hehehe.

Selamat membaca!

 

 

This story is inspired by song of SPICA Bo Ah – Tears Fallin

(That Winter The Wind Blows OST)

 

 

I’m getting more sad

My face turns more and more surprised

But still I will smile

So you won’t notice

 

– Tears Fallin –

 

            “Aku senang kau benar – benar datang memenuhi undangan ku untuk sekedar berbincang. Ku pikir kau akan memilih untuk menghindar”

            “Ku rasa tak ada gunanya menghindar, bukankah tak baik jika kita mengumpat dari kenyataan?”

            “Itu benar”

            Go Ara meletakkan secangkir kopi yang sempat ia seruput sebelumnya di atas meja. Ia menatap tenang wanita bernama Kim So Eun yang kini duduk di hadapannya. Sedikit berbeda dengan Go Ara, So Eun terlihat lebih kaku dan seperti menahan diri. Wajah putih cantiknya datar, sesekali membalas tatapan mata Go Ara yang melanjutkan pembicaraannya.

            “Sejujurnya, aku sempat merasa bingung. Haruskah aku mengatakannya padamu? Tapi setelah di pikir – pikir, aku memang harus melakukannya. Tak baik jika kau sendiri yang tau di akhir waktu” ujar Go Ara.

            “Apa, kau ingin membicarakan hal yang berkaitan dengan Kim Bum?” terka So Eun dengan berhati – hati.

            “Sayang nya, tebakanmu itu benar. Tepatnya, ini tentang Kim Bum dan juga aku”

            Kembali lagi So Eun hanya diam menatap Go Ara, membayangkan ucapan apa yang akan di akui oleh wanita ini. Ia tak tau apakah yang akan ia dengar adalah sebuah pengakuan, atau sebuah peringatan seperti yang ia terima dari Go Ara sebelumnya.

            “Kami, akan menikah minggu depan”

            Mata indah So Eun mendelik cepat, jantungnya berdebar begitu pikirannya menangkap arti dari ucapan Go Ara. Sementara wanita itu hanya tersenyum kecil, terdapat sedikit unsur licik dibalik hal itu. Sudah ia duga jika So Eun akan memberikan respon yang datar, namun sangat mudah ditebak. Mungkin Go Ara akan jauh lebih senang jika So Eun langsung berurai air mata di hadapannya.

            “Setelah kedua orang tua Kim Bum tau jika pernikahan kalian berdua hanyalah berdasarkan perjanjian belaka, mereka memutuskan untuk melakukan hal ini. Kau, tidak berpikiran yang tidak – tidak kan?” ujar Go Ara. Hanya hembusan nafas yang ia dengar dari So Eun.

            “Aku tak memikirkan apapun” aku So Eun. Tak ada lagi yang ingin ia katakan.

            “Syukurlah, aku takut jika kau berpikir kalau aku yang mengatakan hal ini pada orang tua nya. Meskipun aku tak suka, bukan berarti aku yang berterus terang. Tapi firasatku mengatakan jika orang tua Kim Bum mengetahuinya sendiri”

            Bibir So Eun tak berucap, membuat Go Ara sedikit kesal karenanya. Tapi Go Ara hanya terus tersenyum, sepertinya So Eun akan mengibarkan bendera putihnya. Menandakan jika perang dingin di antara mereka akan segera di menangkan oleh Go Ara.

            “Astaga, hampir saja aku lupa” Go Ara teringat akan sesuatu. Ia pun merogoh tasnya yang berwarna krem tersebut, kemudian mengeluarkan sebuah kerta yang berukuran tebal. “Ambillah”

            So Eun menatap benda itu sebentar, baru sedetik kemudian ia menerimanya. Tertulis dua buah nama yang So Eun kenal di sana. “Ini..”

            “Sebelum ke sini aku mengambil undangannya satu, khusus untukmu. Tadinya aku ingin meminta Kim Bum untuk memberikannya padamu kalau kalian bertemu nanti, tapi ku urungkan”

            “Benarkah?” Rasanya ingin So Eun remas undangan di tangannya hingga tak berbentuk lagi. “Undangan yang bagus”

            “Mmm, modelnya sama kan dengan undangan kalian waktu melakukan pernikahan pura – pura waktu itu? Jujur saja, aku juga suka, karena itu aku memilihnya”

            Masih jelas teringat dibenak So Eun, jika undangan pernikahannya dengan Kim Bum saat itu Kim Bum sendiri yang menyiapkannya. Entah mengapa So Eun merasa segan untuk ikut andil, ia lebih memilih untuk menyerahkannya pada Kim Bum dan juga keluarganya. Semakin sakit beban yang So Eun rasakan saat ini.

            “Sepertinya tak ada lagi yang perlu ku bicarakan denganmu, semuanya sudah ku ungkapkan. Jadi, terima kasih sudah meluangkan waktu ya” Go Ara mulai beranjak dari kursinya dengan tangan yang sudah memegang tas yang ia bawa saat datang tadi.

            “Go Ara-ssi” panggil So Eun. Wanita yang merasa namanya dipanggil itu pun menoleh ke arahnya.

            “Ya?”

            “Semoga, pernikahan kalian menjdi pernikahan yang indah” Ucap So Eun pelan. “Aku ikut berbahagia”

            Seulas senyuman kembali hadir di wajah Go Ara. “Terima kasih. Jangan lupa untuk datang”

            Tanpa memberikan ucapan untuk pamit, kaki jenjang Go Ara mengantarnya untuk keluar dari tempat itu menuju ke mobil sedan miliknya. Go Ara tak merasa repot untuk mengakhiri semua usahanya agar Kim Bum berada dalam sisinya, seperti yang ia impikan sejak dulu. Karena ia sudah tau jika Kim Bum tak akan mampu berbuat apapun untuk menolak permintaan orang tuanya. So Eun hanya diam, tak berkutik di kursi kayu berwarna coklat yang ia tempati sedari tadi. Pikirannya mulai dipenuhi dengan bayangan pernikahan suaminya, Kim Bum dengan Go Ara. Matanya mulai berair, tangannya serasa tak kuat untuk bergerak. Bayangan itu terus menakutinya, hingga benteng pertahanan So Eun harus runtuh.

            Ia menangis, dengan luka hati dan juga penyesalan yang menyelimutinya.

***

Why did you tell me that you love me first?

You’re the one who made me like this

Oh no, I turn away

            So Eun menatapi setiap inci ruangan di rumah yang sudah ia tempati bersama dengan Kim Bum selama beberapa bulan terakhir. Menyentuh sebuah pigura foto yang terpajang di atas lemari, berisikan foto dirinya yang duduk di sebuah kursi bersebelahan dengan Kim Bum yang tampan dengan tuxedo hitamnya. Senyum yang saat itu Kim Bum dan So Eun pamerkan di gereja, semuanya hanya tipuan. Tak ada yang benar – benar mereka jalankan dengan hati.

            Kemudian So Eun beranjak menuju ke ruang makan, tempat di mana ia dan juga Kim Bum mengisi perut dengan suasana yang begitu dingin. Percakapan ringan yang biasa menghiasi di keluarga manapun, itu tak berlaku bagi kedua insan ini. Meskipun So Eun sudah beritikad baik dengan menyiapkan sarapan, pria itu masih tak mau berkata apapun padanya. Kadang So Eun berpikir, apakah ia tinggal sendirian di rumah sebesar itu?

            Tempat terakhir yang menurutnya penuh dengan kenangan, kamar tidur. Awalnya So Eun dan Kim Bum tidur terpisah, namun lambat laun Kim Bum menyuruh So Eun untuk tidur di satu kamar yang sama dengannya. Hal itu bukan berarti mereka melakukan kontak fisik yang spesial. Jari lentik So Eun menyentuh pelan bantal dan juga selimut yang biasa Kim Bum gunakan.

            “Wanginya, benar – benar dirimu sekali, Bum-ah” gumam So Eun.

            Masih mendudukkan diriinya di bibir ranjang, So Eun kembali terdiam. Tak ia sangka, akhirnya pernikahan dan kehidupan bersama dengan Kim Bum harus berakhir dalam hitungan hari. So Eun tidak akan lagi bangun pagi dan menyiapkan semuanya untuknya, tidak akan lagi membuatkan Kim Bum bekal untuk makan siangnya, dan tidak akan lagi menunggu Kim Bum pulang hingga larut malam.

            Januari, tepat pada bulan itu So Eun harus menikah dengan Kim Bum karena relasi kedua keluarga mereka yang begitu akrab. Kim Bum menahan diri, ia hanya ingin menikah berdasarkan perjanjian yang ia buat. Hanya untuk 8 bulan mereka menjalani kehidupan dengan status suami istri. Dan sebagai wanita, ia sangat menghormati keputusan Kim Bum. Tak peduli dengan perjanjian waktu yang ia buat, So Eun akan tetap menjalankan tugasnya sebagai istri. Melayani dan selalu sedia kapanpun Kim Bum membutuhkannya.

            Waktu demi waktu berselang. Semakin lama Kim Bum menjadi jauh lebih hangat dibanding sebelumnya. Ia semakin baik, kadang juga memuji kemampuan memasak So Eun. Kalau Kim Bum punya waktu luang, ia suka mengantarkan So Eun berbelanja dan mengobrol bersama. Ingin rasanya So Eun melompat bahagia, tapi ancaman dari Go Ara membuatnya tak bisa apa – apa. So Eun justru berbalik menjadi dingin, supaya Kim Bum menjauhi dirinya. Sebuah posisi yang begitu sulit.

            “Kim Bum” So Eun berucap dengan penuh pilu.

            “Maaf, dan terima kasih untuk semuanya” Ia berkata dengan air mata yang kembali membasahi pipinya.

***

Tears fallin’ from my eyes

Whatever I do, I miss you

As much as I believed in you, it hurts

So I cry again with no strength

            Kim Bum baru keluar dari salah satu ruangan rapat di kantornya. Beberapa kali ia membungkuk sebagai tanda hormat kepada relasi bisnisnya. Menebar senyum agar hubungan dan anggapan orang lain terhadapnya menjadi semakin baik. Setelah memastikan semuanya sudah pergi, Kim Bum berjalan ke ruangan kerjanya untuk melanjutkan kesibukkannya sebagai seorang Presiden Direktur.

            Di tengah – tengah langkahnya, ponsel pintar yang ia simpan di saku celananya berdering panjang. Kim Bum raih ponselnya tersebut dan membaca nama yang tertera di layar bening sana. Ia mendesah pelan, lalu mengangkat telfon yang masuk itu.

            “Yeoboseyeo”

            “Bum-ah, apa kau sibuk?”

            “Tidak, kenapa?”

            “Aku merindukanmu”

            “Jangan berlebihan seperti itu, membuatku risih”

            “Cih, tapi kan sebentar lagi kita akan menikah. Oh iya, tadi aku sudah mengambil satu undangan untuk diberikan pada seseorang”

            “Mwo? Siapa? Bukankah sudah ku beri tau padamu untuk tidak mengatakan apapun sebelum semuanya berjalan???”

            “Tapi yang ini berbeda, ia harus tau sebelum hari pernikahan kita supaya dia bisa datang”

            “Kalau begitu siapa?”

            “Kau akan tau nanti. Baiklah, semangat untuk melanjutkan pekerjaanmu ya sayang. Annyeong~”

 

            Pip!

            Telfon dari Go Ara tertutup dengan cepat dari sebrang. Kim Bum sempat merasa geram dengan tingkah nya yang tak bisa di prediksi. Karena ia tau, Go Ara pernah membuat So Eun merasa takut sehingga ia harus lebih melindunginya. Kenyataannya, sebentar lagi ia akan menikahi wanita yang sudah membuatnya khawatir akan So Eun. Takdir yang tidak Kim Bum sukai, dan juga ia sesali.

            “Ia harus tau sebelum hari pernikahan..” gumam Kim Bum dengan pandangan yang kabur.

            “Apa jangan – jangan..” Dalam pikirannya mulai muncul wajah seorang wanita yang ia kira.

            “Ah, tidak, So Eun belum tau akan hal ini. Aku akan menjelaskan semuanya jika aku dan dia benar – benar sudah siap, meski aku tak tau kapan”

***

Tears fallin’ into my heart

Whatever I do, I want you

As much as I want you, I get sad

Don’t leave me

            Morning

 

            Kim Bum terbangun dari tidur lelapnya sekitar 2 menit yang lalu. Ia kembali dari kantor setelah sibuk berkutat dengan tugas dan juga proposal yang membuatnya lupa akan waktu. Kim Bum memang selalu seperti itu. Kadang juga, sikap So Eun yang tertutup membuatnya betah di sana. Hati Kim Bum sudah tak bisa berbohong, jika ia mulai menaruh hati pada So Eun. Namun ia belum bisa untuk mengatakannya, terlebih lagi rencana pernikahannya dengan Go Ara membuat Kim Bum menjadi sulit untuk mengambil keputusan.

            “Selamat pagi”

            Kim Bum membulatkan kedua matanya, lalu menoleh ke arah suara itu. Sesosok wanita cantik dengan rambut panjang hitam terurai tengah berdiri di depan pintu kamarnya.

            “Semalam pulang jam berapa? Kenapa malam sekali? Apa kau tidak lelah seharian di kantor, huh?” Rentetan pertanyaan meluncur dari So Eun yang kini sudah berada di hadapannya.

            “Ah, itu” Kim Bum menggantungkan ucapannya. “Terlalu banyak yang perlu ku selesaikan semalam”

            “Dan juga banyak pikiran, hm?”

            “Ya, ku rasa”

            “Ck, tapi kan kau harus menjaga kesehatanmu. Aku tidak ingin kau sakit nantinya”

            “So Eun”

            “Cepat mandi, setelah itu kita sarapan. Sandwich kesukaanmu sudah menunggu di sana, ppali”

            So Eun melempar senyum pada Kim Bum yang masih setengah berbaring di atas ranjang. Antara percaya dan tidak percaya, mendapat sebuah senyuman manis dan ungkapan rasa khawatir dari So Eun cukup membuat Kim Bum takjub. Ini bukanlah seperti biasanya. Yang ia tau So Eun tidak akan membangunkan dan menyapanya seperti sesaat tadi. Tak perlu waktu lama ia bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan badannya.

            “Ku harap ini menjadi awal yang baik untuk hari ini” Kata Kim Bum. Sebuah harapan yang sederhana sudah terpupuk dalam hatinya.

            Dan semoga, firasat Kim Bum tentang orang yang dimaksud Go Ara tidaklah benar.

***

The tears I shed out of longing

And my eyes are looking for you

As much as I loved you, it hurts

So I cry again with no strength

            Pria tersebut turun menghampiri So Eun yang sudah menunggunya di meja makan. Tentu saja So Eun menyambutnya dengan cara yang berbeda, jauh dibandingkan dengan hari – hari sebelumnya. Wanita ini terus tersenyum pada Kim Bum, dan pria yang dipandanginya seperti salah tingkah.

            “Apa aku terlalu lama di atas sana?” tanya Kim Bum. So Eun hanya tertawa kecil.

            “Tidak, tapi coba lihat dasimu. Itu seperti bukan dasi”

            Tangan So Eun meraih dasi yang tergantung di kerah kemeja Kim Bum perlahan. Membuat posisi keduanya berdekatan. Nafas Kim Bum memburu, So Eun terlihat cuek meskipun ia mendengarnya. Atau mungkin ia berpura – pura tidak peduli.

            “Aku tau kau terburu – buru karena tak ingin membuatku menunggu, tapi tak baik juga jika dasi ini merusak penampilanmu” cibir So Eun lagi dengan tangannya yang masih bermain dengan dasi Kim Bum.

            Pandangan Kim Bum masih terpukau dengan cara So Eun melakukannya. Aroma khas akan diri So Eun sudah tercium oleh Kim Bum. Ia menyukainya, sangat – sangat menyukainya. Kim Bum menyukai semua yang ada pada diri So Eun, ia terlambat untuk menyadari hal itu.

            “Nah, sekarang suamiku kembali tampan” ucap So Eun bangga. Kim Bum pun tersenyum lebar.

            “Ini berkat istriku yang cantik, terima kasih” dalam hitungan detik pipi So Eun langsung memerah seperti udang rebus.

            “Ayo kita sarapan, nanti kau bisa terlambat kalau memujiku terus”

            Sang wanita menarik si pria itu duduk di salah satu kursi di meja makan. Kim Bum dan So Eun duduk berhadapan, sesekali tersenyum malu karena kedapatan melirik satu sama lain. Beberapa menit kemudian, piring di depan mereka sudah bersih tak tersisa. So Eun mengantarkan Kim Bum ke depan rumah untuk pergi bekerja. Sebelum pergi, Kim Bum memutar badannya untuk kembali menatap So Eun.

            “Masakkanmu selalu yang terbaik, neomu mashitta” ujar Kim Bum.

            “Aku hanya akan memasak masakan yang enak untukmu seorang” balas So Eun. Gombalannya terdengar sedikit genit.

            “Kau ini” kata Kim Bum lagi. “Kalau begitu aku pergi dulu, jaga dirimu baik – baik”

            Kim Bum tersenyum, lalu bergegas untuk ke mobilnya yang sudah siap di luar. Tapi tangan So Eun tergerak untuk menahannya, sehingga secara otomatis Kim Bum kembali terarah padanya. Mata Kim Bum mendapati mata So Eun yang sedang menatapnya dalam.

            “Bolehkah aku ikut pergi ke kantor, bersamamu?” tanya So Eun berhati – hati. “Sekali ini saja, aku tidak akan mengganggumu”

            “Memangnya kenapa? Tidak biasanya kau seperti ini. Bukankah setiap siang kau mengantarkan makan siang untukku? Bukankah itu sama saja dengan mengunjungiku di kantor?” ucap Kim Bum yang berbalik bertanya.

            “Tapi itu kan berbeda, aku ingin menemanimu bekerja. Aku janji tidak akan membuat onar atau membuat pekerjaanmu terganggu, aku janji. Bolehkah?”

            Kim Bum sempat terdiam untuk memikirkan sesuatu. Alasan yang So Eun ajukan terdengar aneh jika boleh jujur. Tatapan memohon So Eun membuat nya terpengaruh. Sebuah jawaban akhirnya Kim Bum berikan untuk So Eun.

            “Tentu, ayo kita berangkat”

***

            “Pekerjaanmu banyak sekali, sini biar ku bantu”

            “Tidak usah, kau duduk saja di sana. Aku tak masalah”

            “Itu karena sudah menjadi kebiasaanmu. Kalau ku bantu, kau kan bisa pulang lebih cepat. Jadi kau bisa beristirahat lebih lama”

            “Hanya tau jika kau ingin berada bersama ku di sini, itu sudah cukup membuatku lebih baik. Kau tau?”

***

            “Bum-ah”

            “Ya?”

            “Ayo kita berkencan”

            “Bagaimana bisa? Kita sedang berada di kantor sekarang”

            “Kalau begitu, kau harus memelukku sekarang”

            “Kau yakin?”

            “Tentu saja, aku juga ingin di peluk oleh suamiku sendiri. Biar para pegawaimu tau, kau sudah punyaku”

***

            “Apa kau lelah? Lebih baik kau pulang saja, So Eun-ah. Aku tak tega membiarkanmu menunggu ku seperti ini”

            “Kalau aku pulang sekarang, apa kau tega membiarkanku khawatir akan dirimu selama di luar rumah?”

            “Tidak ada hal buruk yang akan terjadi, percayalah”

            “Tapi hatiku bilang kalau aku tidak bisa membiarkanmu menghilang dariku”

***

This night is so quiet

My memories of you are so clear

You keep lingering around my ears

Cause I wanna be with you

            “Wah, nyamannya bisa kembali di rumah”

            So Eun memperhatikan Kim Bum yang tengah berbaring di sampingnya. Ya, mereka berdua sudah kembali setelah seharian penuh menghabiskan waktu bersama. Mulai dari mempersiapkan keperluan rapat untuk Kim Bum, makan siang, hingga bercengkrama sampai sekretaris Kim Bum dikantor mendapati keduanya begitu mesra. Baik Kim Bum maupun So Eun sangat menikmati kebersamaan mereka.

            “Apa yang kau rasakan sekarang?” So Eun mengajukan pertanyaan setelah menyamakan posisi berbaring Kim Bum.

            “Hmm?” ucap Kim Bum yang menoleh pada So Eun.

            “Di sini, apa yang kau rasakan?” kata So Eun lagi sambil memberanikan diri untuk menyentuh dada bidang Kim Bum. Pria itu mendadak merasa gugup sekaligus senang, untuk pertama kalinya So Eun melakukan kontak fisik seperti itu dengannya.

            “Biar ku pikirkan lebih dulu” Kim Bum berpura – pura membuang muka dan memasang wajah seriusnya.

            “Ish, aku serius Kim Bum” Kim Bum pun tertawa mendengar suara So Eun yang seakan kesal karena tingkahnya.

            “Baiklah – baiklah.. Jadi, apa kau mau mengetahuinya?” So Eun mengangguk cepat.

            “Bahagia, aku sangat bahagia hingga tak bisa tergambarkan oleh apapun”

            Setiap ucapan yang Kim Bum sampaikan kini juga membuat So Eun ikut bahagia. Hatinya juga tak kalah senang dengan apa yang Kim Bum rasakan. Seperti pasangan yang baru memadu kasih. Tak henti – hentinya mereka tersenyum memandang satu sama lain.

            Sesaat kemudian, So Eun bergerak untuk merapatkan dirinya dengan Kim Bum. Lalu ia meraih tubuh Kim Bum untuk dipeluknya dengan erat. Menenggelamkan wajahnya di leher Kim Bum dan mencium aroma tubuhnya. Begitu nyaman, pikir So Eun. Sementara Kim Bum sendiri masih merasa bingung dengan tindakan So Eun yang lagi – lagi membuatnya takjub.

            “Kau kenapa?” ujar Kim Bum pelan.

            “Aku tak apa” So Eun menjawab seadanya. Kim Bum pun perlahan membalas pelukan So Eun.

            Andai saja tak pernah ada rencana pernikahannya dengan Go Ara, batin Kim Bum. Terbesit sebuah pikiran dalam benaknya, mengapa saat – saat seperti ini baru datang di saat ia akan pergi meninggalkan So Eun?

            “Kim Bum”

            “Ya?”

            “Apa mungkin kita akan terus menjalani hidup ini bersama – sama?”

            “Maksudmu apa? Kenapa tiba – tiba bertanya seperti itu?”

            “Ah, tidak, tak perlu kau jawab. Aku sepertinya sedang mengigau”

            Tangan Kim Bum melepas pelukannya terhadap So Eun, membuat sedikit jarak antara mereka agar ia dapat berbicara sembari menatap dalam kedua bola mata So Eun. Menyentuh wajahnya agar So Eun tetap merasa tenang.

            “Apapun yang terjadi, biarkan saja semuanya berjalan. Asal kita percaya pada hati yang kita miliki, aku yakin itu cukup untuk membuat kita hidup bersama, bahkan hingga akhir hayat. Aku memiliki mu, dan kau memiliki aku”

            Perasaan seperti ini muncul lagi dalam diri So Eun. Ingin rasanya ia menangis untuk meluapkan segala bebannya. So Eun tau, Kim Bum berbicara seolah ia tak tau mengenai pernikahan Kim Bum dengan Go Ara. Tak ada lagi yang bisa di bohongi dari So Eun. Mendapati wajah sendu So Eun, Kim Bum mendekatkan wajahnya pada wanita itu. Membiarkan setiap hembusan nafas berderu di kulit wajah mereka. Kening keduanya sudah bersentuhan, mata mereka sudah terpejam karena sulit untuk bisa melihat dalam jarak sedekat itu. Dan akhirnya, bibir milik Kim Bum dan So Eun bersentuhan, untuk yang pertama kalinya sepanjang pernikahan mereka.

            Sebuah ciuman yang lembut Kim Bum hadirkan pada So Eun. Merengkuh pinggang wanitanya agar So Eun tetap merasa nyaman dan membiarkan momen ini terjadi semakin lama di antara mereka. Tak bisa di pungkiri, Kim Bum dan So Eun sangat menyukai hal ini. Namun, hati So Eun justru semakin terasa perih. Waktunya bersama dengan Kim Bum tak akan lama lagi. Hanya ada satu pilihan, Kim Bum yang lebih dulu pergi atau dirinya. Di tengah ciuman itu, So Eun meneteskan air matanya yang hangat. Tak peduli dengan apa yang akan Kim Bum katakan nanti, ia hanya ingin Kim Bum tau jika ia begitu tulus memberi dan merelakan hatinya untuk Kim Bum seorang.

            “Aku mencintaimu, Kim Bum”

 

***

            Next day

            Tidak terasa, sang surya sudah kembali menampakkan cahayanya. Menandakan hari baru kembali berjalan dimulai dari awal lagi. Kim Bum masih berbaring dengan mata terpejam. Ia mencoba untuk terbangun dan kembali ke kehidupan nyatanya. Nyawa Kim Bum belum sepenuhnya terkumpul, tapi ia sudah kembali tersenyum mengingat hari yang lalu ia lewati dengan So Eun sepenuhnya. Ia menolehkan kepalanya ke sisi kanan, tempat di mana So Eun tertidur semalam. Dan yang ia tau, So Eun sudah tidak ada di sana.

            “Mungkin ia sedang menyiapkan sarapan lagi untukku” ucap Kim Bum. Tidak ada sedikitpun rasa buruk yang terpikirkan olehnya saat itu.

            Kim Bum memilih untuk membiarkan So Eun di dapur dan bergegas untuk membersihkan badannya. Ia harus segera bekerja, tak ada waktu bagi Kim Bum untuk bersantai – santai. Setelah selesai, ia mengenakan kemeja lengan panjang yang dipadukan dengan jas hitam dan juga dasi yang berwarna seirama. Menghadapkan diri ke arah cermin yang ada di salah satu lemari miliknya. Kim Bum memasang dasinya dengan pelan dan juga apik agar terlihat rapih. Ia tak ingin hatinya kembali dibuat gugup seperti saat So Eun memakaikan dasi untuknya.

            Semuanya selesai! Ia sudah siap untuk menemui So Eun dengan penampilannya yang memukau. Kim Bum memutar kenop pintu kamarnya untuk segera menemui sang istri. Memulai untuk memanggil sebuah nama agar Kim Bum tau di mana ia sedang berada sekarang.

            “Kim So Eun” Kim Bum memanggilnya dengan pandangan yang terus berubah arah. Ia sempat menunggu, tapi tak ada suara balasan.

            “Apa kau sedang merapihkan ruang tamu?” kata Kim Bum lagi.

            Kim Bum menuruni satu demi satu anak tangga menuju ke ruang tamu untuk menghampiri So Eun. Langkahnya bisa dibilang cepat, ia begitu bersemangat untuk menemuinya. Saat sampai di sana, Kim Bum tak menemui orang yang dicarinya. Mimik wajah Kim Bum berubah menjadi heran.

            “Kemana dia? Kenapa dia tak ku lihat sejak tadi?”

            Tanpa lama lagi, Kim Bum berjalan ke taman di depan rumahnya. Hasilnya sama, masih tak ada sosok So Eun di sana. Ia mulai panik, karena itu Kim Bum memutuskan untuk mencari So Eun ke semua ruangan yang ada di rumahnya. Berkali – kali ia mengunjungi kamar tidurnya dan juga kamar yang dulu So Eun pakai sewaktu mereka tidur berpisah. Berbagai pertanyaan mulai bermunculan, mengapa So Eun tidak ada? Tidak seperti biasanya So Eun seperti ini. Kim Bum tak berharap jika hari ini akan kembali menjadi hari dimana So Eun mengurung dirinya dari Kim Bum.

            Kim Bum berhenti sejenak untuk menenangkan pikirannya. Ia sadar jika ia tidak akan bisa menemukan So Eun jika hatinya dalam kondisi seperti ini. Astaga, ia belum mengecek ruang dapur! Bodoh sekali tak terpikirkan olehnya. Dan dalam hitungan detik, Kim Bum berjalan cepat menuju ke ruang tersebut. Besar harapannya untuk bisa melihat sosok indah So Eun, namun ternyata ia tak ada di sana. Nafas nya terengah – engah, yang ia dapati hanya segelas susu coklat dan juga sepiring roti sandwich favoritnya. Ia mendekatkan diri ke arah meja makan itu. Ada satu hal lagi yang tersimpan di atas sana, sebuah kertas putih yang terlipat rapih.

            “Apa ini?” Kim Bum mendelikkan matanya kala memperhatikan semua benda itu.

            Ia tak menyentuh menu sarapan pagi yang ada di sana, perhatian nya tertuju penuh pada kertas itu. Kim Bum yakin, ada pesan yang ingin disampaikan si penulis kepadanya. Ia buka lipatan kertas itu hingga terlihat jelas deretan huruf yang tertulis di sana.

Kim Bum-ah,

 

Bagaimana tidurmu semalam? Apakah nyenyak? Ku harap begitu, tak baik untukmu jika terus tidur dalam waktu yang singkat.

 

Aku ingin berterima kasih padamu atas semua yang telah terjadi, di antara kita. Pesta pernikahan yang begitu indah, kehidupan yang di jalani bersama, hingga satu hari yang telah kita lewati berdua, seharian. Sungguh, rasanya aku ingin terus mengatakan ‘aku senang’ karenamu. Tapi, apa aku pantas untuk mengatakannya?

 

Tinggal menghitung hari lagi menuju hari bahagiamu dengannya. Apa aku terlalu egois karena ingin selalu berada di sisimu? Harusnya aku tau, tidak seharusnya aku mengambil langkah sejauh ini. Aku terlalu bodoh untuk bermimpi jika semua ini bukanlah kenyataan. Tapi aku tak bisa menghindar, pasti itu akan terjadi. Karena itu, ada baiknya jika aku yang pergi dari hidupmu. Perlu ku akui jika aku tidak mampu untuk menghadapi semuanya. Itu benar. Bahkan aku menangis saat berada denganmu.

 

Oh iya, jangan lupa untuk menghabiskan sarapanmu Bum-ah! Mungkin ini adalah sarapan terakhir yang pernah ku buat untukmu.

 

Semoga kau dan dia hidup bahagia selamanya, sampai kapanpun. Dan yang terakhir…

 

Doaku selalu bersamamu, Kim Bum.

 

“Tidak, ini tidak mungkin”

Tangan Kim Bum bergetar hebat saat ia membaca perlahan surat itu. Ya, surat yang dibuat sendiri oleh istrinya, Kim So Eun. Pikirannya mulai kacau, hatinya terasa tersayat saat mengetahui maksud dari pesan itu. Ia tidak tau apa yang harus ia lakukan saat ini. Surat yang sedari tadi ia genggam, tanpa ia sadari sudah tak terlalu jela bentuknya. Kim Bum lempar surat itu dan kemudian berlari keluar untuk mencari So Eun. Mobil sedannya ia kendalikan dengan brutal tanpa mengidahkan kendaraan orang lain.

“So Eun, kau dimana?! Bagaimana bisa kau tau semuanya?!” ucap Kim Bum.

Kim Bum tidak memiliki arah yang jelas, kemana ia harus mencari So Eun. Belum begitu lama ia merasa jatuh cinta pada wanita itu, membuat Kim Bum tidak tau tempat yang biasa So Eun kunjungi bila ia sedang sendirian. Perasaannya begitu kalut, rasanya menyedihkan karena So Eun sudah mengetahui rencana pernikahan nya dengan Go Ara yang di atur oleh pihak orang tua mereka. Sepanjang jalan yang Kim Bum lewati, ia perhatikan dengan seksama hingga begitu mendetail. Hingga ia tau, So Eun memang sudah pergi meninggalkannya.

Masa bodoh dengan pekerjaan yang sudah menunggunya di kantor, Kim Bum lebih memilih untuk pergi ke Sungai Han. Sekedar untuk menenangkan dirinya sedikit dengan duduk di kap mobil nya. Menghadapkan diri ke arah dimana begitu banyak air yang mengalir begitu tenang. Semakin lama ia melihatnya, semakin ia ingin menangis.

“Jadi, apa ini alasanmu? Membuat satu hari dalam hidupku jauh lebih bermakna dibandingkan sebelumnya karena adanya dirimu setiap saat di sampingku? Apa kau berniat untuk membuat kenangan manis yang terakhir kalinya untukku?” gumam nya dengan nada frustasi. Sesekali ia tersenyum licik, berpura – pura bersikap kuat.

“Kenapa kau harus melakukan ini padaku? Kenapa kau tak membiarkan aku yang pergi? Kenapa harus kau yang tersiksa? Kenapa harus kau So Eun???!!!” teriak Kim Bum sampai air mata yang ia tahan menetes.

Kim Bum melampiaskan seluruh amarah dan juga penyesalannya di sana. Membiarkan semua kesedihan nya pergi bersamaan dengan setiap tetes air mata yang jatuh membasahi wajah maskulinnya. Saat ini, benaknya hanya di penuhi dengan senyuman manis So Eun. Mengenang di kala So Eun merapihkan dasinya, bertingkah manja padanya saat di kantor, dan juga pelukan hangat dari nya. Entah kapan ia bisa bertemu dengan wanita itu, wanita yang membuatnya terlambat untuk menyadari jika cinta tidak bisa menunggu untuk waktu yang lama.

From my eyes

Tears fallin’ – I really want to find you, who left me

As much as I’m anxious, as much as I hate you, I get sad

Don’t leave me

 

The tears I shed out of longing

And my eyes are looking for you

As much as I loved you, it hurts

 

– Tears Fallin –

 

 

Bagaimana?

Kesan buruk, sulit di mengerti, bahasa yang kurang baik, atau apapun!

Semuanya siap saya tampung supaya saya bisa lebih baik lagi di kemudian hari.

Jangan lupa komentar nya yaa.

Terima kasih, sampai jumpa lagi!

 

-Chandra Syifa W-

 

 

 

 

 

 

 

Tagged: , , , ,

86 thoughts on “(OS) Tears Fallin

  1. Alfira Agustus 5, 2013 pukul 6:26 pm Reply

    sumpah nyesek bacanya T.T

    daebak dehh chingu aaaaaaa aku sukaa
    eh ad sequelnya ya? horeeeeee
    lanjut daaahhh😀

  2. Nisha Aulia Agustus 6, 2013 pukul 1:50 pm Reply

    eon q nyesekk baca’y gk setuju klo bumppa ma soeun pisah..andwe!!
    daebakk eon:-)

  3. Wietv5xq Agustus 6, 2013 pukul 9:35 pm Reply

    Kyaaa aq mau sequel’x seru banget crita’x
    ayoo dunk author lanjuttttt😦

  4. faby Agustus 13, 2013 pukul 4:50 am Reply

    hummnnn sooo saddd….humnn
    tunggu lanjutannya

  5. man/juliana Agustus 29, 2013 pukul 8:47 am Reply

    daebak n so sad hikshiks

  6. ananda Agustus 29, 2013 pukul 3:37 pm Reply

    Bagus cerita nya :)) aku sampe nyesek baca nya🙂. Pokok nya keren deh

  7. Queenella September 2, 2013 pukul 1:15 pm Reply

    Keren min ceritanya
    Jadi ikutan sedih

  8. yeonta September 3, 2013 pukul 5:17 pm Reply

    keren banget

  9. Marwati Idris September 12, 2013 pukul 12:44 am Reply

    Hiks….hiks …keduanya merasa sesak! Krn cinta.
    knp hrs pisah klu sdh ada benih2 cinta dihati mrk.

  10. Rizkia aulia tifanny September 14, 2013 pukul 1:48 pm Reply

    Aduh sedih nya ..
    Aish go ara jahat bnget sih sama eonniku ,

  11. salmadanputri Oktober 18, 2013 pukul 7:26 am Reply

    yaampun sedih bgt nih…
    smpe ngis bcny,,,,
    bgus bgt thor crtny bgus bgt

  12. VayTeuKey November 3, 2013 pukul 1:53 am Reply

    no kritikan. gaya bahasanya enak di baca. ceritanya jg ngena banget

  13. lilis suryani Juli 1, 2014 pukul 3:52 am Reply

    lg2 gantung thor

  14. Yumna Arinda Putri Desember 6, 2014 pukul 12:31 pm Reply

    nyesek bgt bacanya chingu T_T ko’ kisah cintanya tragis gini ya….ga tega liat bumsso sama2 tersiksa gini..
    lanjuttttt dong chinguuuuu

  15. sonialidya07 April 15, 2015 pukul 5:08 am Reply

    Sedih banget bacanya, aku ngerasa banget gmna jadi sso yg udh cinta sama suaminya tapi dia harus rela ngelepas suaminya buat orang lain, tpi kan bum jga udh cinta sama sso!! knpa mreka gk bersatu aja??
    Aku harap bakalan ada sequelnya!!

  16. citra Mei 15, 2015 pukul 8:09 am Reply

    Ini udh tamat belom sih? Ko sad hikkkk.

  17. adzrahrbh Mei 18, 2015 pukul 3:14 pm Reply

    Huaaahhh sedih bagtt thorr kasian bgt eunnie sma bummie ahh author sukses bikin air mata ku jatoh😭😭😭

  18. shefty rhieya Agustus 27, 2015 pukul 12:44 am Reply

    kok sad end sih ahhh nyesek…..

  19. Aliana Park Januari 24, 2016 pukul 4:13 am Reply

    ini endingnya nanggung bgt… ceritanya mengharukan.. Ini sad ending kh..😦
    bagus ff nya tp kurang panjang..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: