(OS) Tears Are Over Flowing


Tears Are Over Flowing

(Sequel of ‘Tears Fallin’)

Tears Are Over Flowing 

Author             : Chandra Syifa W

Main Casts      : Kim Bum, Kim So Eun

Casts               : Go Ara, Jung So Ah (OC), Song Ahjumma (OC), Lee Jong Ho (OC)

Genre              : Romantic, Sad, Marriage Life

Type                : One Shoot

 

Disclaimer: Semua casts yang saya gunakan dalam ff ini bukan milik saya, melainkan milik keluarga, teman, dan manajemen mereka masing – masing. Saya tidak memiliki casts tersebut, namun alur cerita yang ada di sini adalah murni milik saya tanpa ada pengaruh dari pihak manapun. Dilarang keras memplagiat atau mengambil karya milik saya ini tanpa seizin dan sepengetahuan saya selaku author.

 

Apabila ada kesamaan judul ataupun alur cerita, itu merupakan hal yang tidak di sengaja. Kesalahan format atau huruf yang ada dalam ff ini mungkin terjadi karena human error atau faktor dari blog sendiri.

 

Halo!

Berhubung inspirasi yang saya dapat kemarin berkelanjutan, jadilah sequel nya.

Judulnya sih ga jauh beda, hahaha.

Terima kasih untuk respon yang tak terduga, Bumsso mates terlalu luar biasa :’)

This is my present for you guys!

Enjoy!

 

 

This story is inspired by song of SNSD Jessica – Tears Are Over Flowing

 

How did my heart grow to love you, how

Do you even know that I circle around the same place all day

I’m afraid that the lonely wind will be cold, too cold

You don’t know how the wind is as it blows in

 

– Tears Are Over Flowing –

 

            Hari itu pun tiba.

Hari di mana pada akhirnya Kim Bum harus merelakan hal ini terjadi. Ya, tepat pada bulan Juli di mana bulan tersebut adalah bulan kelahirannya, hubungan pribadi Kim Bum dengan Go Ara akan di resmikan di sebuah gedung keagamaan yang terkemuka di Seoul. Hiasan altar dan juga dinding yang di dominasi warna putih membuat suasana menjadi tenang dan suci. Sangat indah bagi pasangan yang masih merajut cinta, membayangkan mereka berada di posisi yang sama dengan Kim Bum dan juga Go Ara. Namun itu tak berlaku untuk Kim Bum.

Ia berdiri dengan tuxedo hitam yang membuatnya terlihat begitu tampan. Orang – orang yang melihatnya pun pasti juga tidak akan menyangka jika ia sudah pernah menikah sebelumnya, meskipun ia masih belum bercerai. Masih jelas teringat di benak nya saat wanita yang ia cintai menghiasi satu hari penuh bersamanya. Mengumbar senyuman manis dan juga bujuk rayu yang manja, seakan meminta perhatian Kim Bum lebih. Untuk pertama kali, dan juga untuk yang terakhir kali. Kepala Kim Bum menjadi tertunduk saat ia mengingat semua itu.

“Kim So Eun” gumam pria itu pelan. Hatinya terasa sesak dan membuatnya sedikit sulit untuk kembali berucap.

“Maafkan aku karena harus mengambil langkah ini, tapi kau harus tau satu hal” Kim Bum terus berbicara pada dirinya sendiri.

“Aku tidak akan pernah meminta maaf, karena aku sudah mencintaimu hingga saat ini”

Membayangkan apa yang akan So Eun lakukan bila seandainya wanita itu berada di tengah – tengah para tamu undangan dan melihatnya mengucapkan janji suci untuk sehidup semati dengan wanita lain. Akankah dia mengizinkannya? Akankah dia berbuat sesuatu agar Kim Bum kembali pada dirinya? Astaga, rasanya seperti sebuah mimpi yang terlalu tinggi untuk Kim Bum. Semuanya sudah terlambat.

“Maaf Tuan, pengucapan janji pernikahan akan segera di mulai. Semua hadirin dan juga kedua orang tua keluarga sudah menanti di sana”

“Ah, ya, terima kasih. Aku akan segera keluar”

Pengiring pengantin wanita itu membungkuk, kemudian segera menutup pintu untuk membiarkan Kim Bum sendiri di sana. Tidak ada waktu lagi, detik demi detik sudah mengejarnya untuk segera mempersunting Go Ara di hadapan orang banyak. Ia menghela nafasnya dalam sembari memejamkan kedua matanya. Dan ada satu hal yang ia sadari.

Bayangan wajah So Eun muncul dalam benaknya.

***

When my tears overflow and become a river, and become an ocean

Do you want to know more about me, who loves only you

Can’t you be on my side so you can endlessly laugh and endlessly cry with me?

Because I will love only you even though it hurts so much

            Acara utama sudah berakhir. Riuh tepuk tangan tamu yang datang menggema hingga ke seluruh ruangan. Baik Kim Bum maupun Go Ara selalu memamerkan senyum mereka, terutama saat mereka menyadari jika ada kamera yang sedang membidik momen indah itu. Bedanya, Go Ara menampilkan senyuman yang tulus, dan itu tidak berlaku pada Kim Bum. Tak segan Go Ara menautkan tangannya dengan lengan tangan Kim Bum yang berada di sampingnya. Kim Bum menoleh, dan Go Ara hanya tersenyum simpul sembari berucap.

“Aku bahagia sekali, terima kasih Bum-ah”

Tidak ada jawaban yang Kim Bum berikan. Justru ia hanya membuang muka seakan tak mendengar apapun. Masa bodoh dengan apa yang Go Ara rasakan saat ini, pikirnya. Setelah itu giliran mereka untuk menerima ucapan selamat dari kalangan teman dan juga keluarga sebagai penggambaran rasa bahagia mereka. Jabat tangan, pelukan, hingga ciuman pipi menjadi hal yang mereka lakukan sebagai interaksi balasan rasa terima kasih pasangan itu.

“Selamat ya, Go Ara! Aku senang akhirnya apa yang kau impikan tercapai” ucap seorang wanita berambut pendek. Bisa ditebak jika wanita ini berhubungan dekat dengan Go Ara.

“Ya ampun So Ah, memangnya kau tau apa yang aku impikan selama ini, huh???” balas Go Ara dengan mendelikkan matanya.

“Menikah dan hidup selamanya dengan laki – laki yang sekarang sudah sah menjadi suami mu, Kim Bum-ssi” wanita bernama Jung So Ah itu tertawa kecil, lalu melirik Kim Bum yang menjadi bahan perbincangannya. “Selamat Kim Bum-ssi, aku yakin kau akan bahagia seumur hidupmu bersama Go Ara”

“Terima kasih” balas Kim Bum singkat.

Go Ara ikut tertawa kecil dengan sahabatnya itu, namun di lain sisi ia merasakan jika Kim Bum tidak sependapat dengan So Ah. Senyum di bibirnya yang tertahan sangat terbaca jelas oleh Go Ara. Hanya karena ingin membiarkan suasana tetap terasa kekeluargaan, ia tak ingin semuanya hancur dengan mencecar sikap Kim Bum yang dingin. Go Ara yakin, kelak Kim Bum akan menerimanya kembali seperti saat mereka bersahabat di masa kecil. Melupakan wanita yang pernah menjadi saingannya, Kim So Eun.

Beberapa menit berlalu. Masih banyak tamu yang mengantri untuk naik dan mengucap selamat pada Kim Bum dan juga Go Ara. Profesi Kim Bum sebagai presiden direktur dan juga Go Ara yang terkenal memiliki teman banyak membuat mereka harus siap berdiri lebih lama dari yang mereka bayangkan. Saat Kim Bum masih sibuk membalas jabatan tangan, tiba – tiba datang si pengiring pengantin wanita yang menghampirinya. Orang yang sama dengan saat menghampiri Kim Bum di ruang ganti tadi. Hal itu membuat Kim Bum menoleh ke arahnya.

“Tuan Kim Bum, maaf saya mengganggu anda” ucap nya sopan.

“Ya, ada apa?” tanya Kim Bum.

“Ada seseorang yang menitipkan ini untuk anda”

Wanita tersebut mengulurkan tangannya yang menggenggam secarik kertas putih pada Kim Bum. Pria itu menarik salah satu alis nya, merasa aneh dengan apa yang ia lihat saat ini. Ia pun mengambil kertas itu dan kemudian membiarkan pengiring pengantin wanita pergi. Perlahan Kim Bum buka lipatan kertas berukuran kecil itu. Go Ara yang berada di sampingnya tersadar dengan apa yang Kim Bum lakukan. Sesekali ia coba untuk melirik sedikit apa yang ada di tangan Kim Bum, memastikan agar tak ada hal aneh yang suaminya lakukan.

Kedua mata Kim Bum sudah dapat melihat jelas isi dari kertas yang ia terima. Sebuah pesan singkat tertulis di sana. Ramainya suara perbincangan di ruangan itu tak membuat Kim Bum untuk tidak membaca pesan tersebut. Ia mulai untuk membaca kata demi kata yang ditujukan untuknya.

Kalian terlihat tampan dan cantik. Dekorasi pernikahan kalian juga sangat indah. Benar – benar sangat melengkapi, aku turut berbahagia.

            Semoga pernikahan kalian di hari esok akan seindah dan lebih indah dari hari ini..

 

“Kim So Eun”

Nama itu kembali Kim Bum ucapkan setelah ia selesai membacanya. Tulisan yang begitu ia kenal, sama persis dengan surat yang ia terima tepat pada hari di mana So Eun beranjak pergi dari sisi nya. Ya, tidak salah lagi. Batin dan juga hati Kim Bum mengatakan jika So Eun lah yang meninggalkan pesan itu untuknya. Ia tidak akan salah untuk kali ini.

Tanpa memperdulikan deretan tamu yang masih menunggu untuknya, Kim Bum bergegas untuk pergi keluar mencari sosok So Eun. Melewati kerumunan manusia yang sekarang perhatian nya teralih karena Kim Bum, termasuk Go Ara. Belum sempat ia mencegah Kim Bum, pria itu sudah tak terlihat lagi dari pandangannya. Wanita itu menggeram kesal, berusaha untuk menahan amarahnya agar tak memuncak di hadapan orang – orang terdekatnya.

***

Little by little I walk towards you, little by little

Soon I’ve come close enough to where I can see you

But just watching you like this won’t be the end

Today, yet again, a girl like me is standing here

            “So Eun! Kim So Eun!”

Berkali – kali Kim Bum memanggil nama yang sama, beriringan dengan ritme langkah kedua kakinya yang begitu cepat melintasi jalan – jalan itu. Hanya hembusan angin yang berusaha menahan niatnya untuk menemukan sang tambatan hati. Pandangan kedua matanya terus ia lebarkan agar mampu menjangkau lebih jauh lagi. Dengan penuh harap, Kim Bum terus berlari tanpa tau arah yang akan ia lewati.

“So Eun! Kau di mana?!” teriak Kim Bum lagi.

“Kim So Eun! Jawab aku!!!”

Tak terbesit olehnya untuk berhenti mencari wanita itu. Ia sudah pernah kehilangan jejak So Eun, dan Kim Bum tak ingin kehilangan hal yang sama untuk kedua kalinya. Kontak mereka benar – benar putus setelah surat terakhir dari So Eun. Wajar jika Kim Bum menaruh harapan yang besar saat ia tau jika So Eun lah yang mengiriminya pesan lewat selembar kertas.

Sudah terlalu banyak jalan yang Kim Bum lewati di sekitar tempat pernikahan nya. Rasanya mustahil jika So Eun mampu pergi jauh untuk menghindari nya. Sampai Kim Bum merasa jika ia sudah mencapai titik puncak kelelahannya. Kembali rasa putus asa melanda pikirannya, sementara rasa kecewa dan juga rindu melanda perasaannya. Langkah kaki nya terhenti di tengah jalan yang di himpit oleh sebuah bangunan yang berukuran cukup besar. Nafas Kim Bum tersengal – sengal hingga ia merasa sedikit sesak nafas. Tangan kanannya bergerak ke arah dada nya, meremas kuat seakan dengan melakukan hal itu semua rasa kesedihannya akan hilang.

“So Eun, kau dimana? Apa kau benar – benar sudah pergi dariku?” ucap Kim Bum dengan penuh tanya.

“Sampai kapanpun, perasaanku tidak akan pernah berubah terhadapmu. Kau tetaplah wanita yang ku cintai, Kim So Eun” sambungnya lagi.

Kim Bum pasrah, menghadapi kenyataan jika So Eun hanya datang untuk mengucap kan hal itu dan pergi lagi. Ia tak memberikan Kim Bum kesempatan agar pria itu bisa menatap nya sebentar saja. Pria itu menangis, meneteskan air mata yang hanya dirinya sendiri tau akan hal itu. Menumpahkan apa yang ia rasakan di setiap tetes air mata yang membasuhi wajahnya. Setelah itu, Kim Bum memilih untuk pergi kembali ke tempat yang seharusnya ia bertahan. Mencoba untuk melupakan kejadian dan juga surat yang ia terima sesaat yang lalu.

Namun, apa wanita yang Kim Bum cari benar – benar tak ada?

Tidak. Pada kenyataannya wanita itu berdiri di balik dinding bangunan tua yang sempat Kim Bum lihat. Ia mengumpat di sana untuk menghindari tatapan tajam Kim Bum yang sedang mencari dirinya. So Eun berusaha untuk tetap tegar di saat Kim Bum terus meneriakkan namanya dengan lantang. Ia tak ingin Kim Bum tau keberadaannya.

Undangan yang So Eun terima dari Go Ara saat itu, So Eun benar – benar bertekad untuk datang memenuhi permintaan si pengantin wanita. Bahkan So Eun juga melihat di saat Kim Bum dan Go Ara berdiri bersampingan mengucap janji suci di depan pemuka agama. Hanya sekilas, itu saja sudah cukup membuat So Eun berderai air mata. Ia membekap mulutnya sendiri agar suara tangisannya tidak terdengar oleh Kim Bum.

Ia sudah mencoba untuk melepaskan apa yang seharusnya ia lepaskan.

***

You in that place, you who never answers, my heart wants you

Can’t you wait for my love, so that I can reach you?

            So Eun berjalan kembali menuju ke tempat di mana ia beristirahat. Rambut panjangnya yang terurai dan hanya di hiasi dengan jepit kecil berwarna putih di biarkan olehnya seperti itu. Sedikit membantu So Eun untuk menutupi wajah sembab nya setelah menangis di pernikahan Kim Bum – Go Ara tadi. Satu demi satu anak tangga ia naiki menuju ke apartemen kecil nan sederhana yang ia sewa.

“So Eun-ssi, kau habis dari mana? Pakaian dan dandanan mu rapih sekali” sapaan dari Bibi Song membuyarkan lamunan So Eun.

“Aku habis menghadiri undangan dari seorang temanku Bi” jawab So Eun seadanya.

“Undangan pernikahan?” kata Bibi Song lagi untuk memperjelas.

“Iya” So Eun mengangguk dengan tetap mengucapkan satu kata.

“Wah, teman mu mengadakan pernikahan di tanggal yang sama dengan pengusaha muda itu? Beruntung sekali dia, hari pernikahannya akan menjadi sejarah yang di kenang semua orang. Yah meskipun secara tidak langsung”

“Maksud Bibi?”

“Kau tau, pengusaha muda yang bernama Kim Bum. Itu lho yang memiliki saham terbesar di Choseon Corporation! Dia hari ini menikah dengan kekasih lamanya yang bernama Go Ara. Semua channel televisi menayangkan berita pernikahannya yang cantik namun berkesan. Bibi saja sangat terkesan melihatnya, bagaimana dengan mereka sendiri ya? Pasti tidak akan pernah terlupakan, iya kan So Eun-ssi?”

Sejenak So Eun hanya terdiam mendengarkan ocehan dari Bibi yang tinggal di samping apartemennya ini. Terang saja jika semua orang membicarakan pernikahan itu, karena yang kaum awam tau Kim Bum masih berstatus lajang. Pernikahannya dengan So Eun di masa lalu berhasil di sembunyikan dengan rapih berkat ketidak inginan Kim Bum yang saat itu masih bersikap tak suka pada So Eun. Termasuk Bibi Song, wanita tua itu terus memuji yang ada di pernikahan Kim Bum dan Go Ara. Sampai waktu berhenti pun, sepertinya orang – orang tidak akan pernah tau jika So Eun pernah memadu rumah tangga dengan Kim Bum.

“Ya, kau benar, Bibi Song” hanya itu yang So Eun katakan untuk membalas kembali ucapannya.

“Kau kan masih muda, nanti kalau kau menikah dengan kekasihmu pernikahannya harus sama bagusnya dengan Kim Bum ya? Jangan lupa untuk mengundang ku” canda Bibi Song yang kemudian menepuk pundak So Eun pelan.

“Ah, tentu saja Bi” So Eun ikut tertawa canggung.

“Aih, aku sampai lupa waktu, sudah jam 9! So Eun-ssi, apa kau mau pergi ke toko bersama ku sekalian?”

“Baik, tentu saja Bi. Aku akan berganti baju sebentar ke dalam”

“Kalau begitu Bibi tunggu di depan ya”

Sebelum beranjak masuk So Eun mengantarkan Bibi Song dengan pandangannya hingga dia benar – benar sudah tak terlihat lagi. Barulah So Eun bergegas berganti baju yang relatif santai namun tetap sopan. Ia mengikat rambut panjangnya tinggi agar memudahkannya untuk beraktifitas seharian ini. Hal itu tidak mengurangi kecantikan yang So Eun miliki.

Setelah pergi dari sisi Kim Bum, So Eun berusaha untuk mencari pekerjaan dan juga tempat tinggal untuk melanjutkan hidupnya. Sikap baik dan ramah yang sudah tertanam di diri So Eun sangat memudahkannya untuk menemukan pekerjaan. Bibi Song yang pertama kali ia temui saat ia membeli minum di toko kelontong miliknya, mengantarkan So Eun untuk bisa sedikit lega. Bibi Song memberikannya kesempatan untuk bekerja sebagai penjaga toko di sana, dan tidak lupa beliau membantu So Eun untuk mencari tempat tinggal yang biaya sewanya relatif murah. Rasa terima kasih kepada Bibi Song membuat So Eun bekerja dengan baik dan tidak mengecewakan.

Meski jauh dari apa yang ada di rumah Kim Bum, namun So Eun merasa jika semuanya terasa lebih baik dibandingkan ia harus memaksa dirinya tinggal serumah bersama dengan pasangan baru itu. Jangan sampai.

***

“Suamiku, apa kau tidak lelah? Ayo tidur bersamaku, di sini”

Go Ara menarik tangan Kim Bum agar ia ikut terduduk di kasur yang sama dengan Go Ara. Memasang tatapan menggoda agar Kim Bum dan juga dirinya melakukan apa yang seharusnya mereka lakukan seperti pasangan suami istri baru lainnya. Namun dengan cepat Kim Bum menolak, ia tarik tangannya hingga tangan Go Ara terlepas darinya.

“Aku tidak akan tidur di sini” ujar Kim Bum.

“Apa? Lalu kau akan tidur di mana? Aku sudah menjadi istrimu, ini sudah menjadi hakmu untuk bisa tidur denganku dan–“

“Menghabiskan malam pertama denganmu hingga pagi hari, hm?”

Perkataan Go Ara yang sempat terpotong dilanjutkan oleh Kim Bum tepat sesuai dengan yang Go Ara pikirkan. Go Ara menatapnya tajam.

“Kalau kau tau kenapa kau masih melakukannya? Apa kau tidak memikirkanku sebagai seorang istri?” kata Go Ara yang mulai naik pitam.

“Cih, bagaimana bisa kau berkata seperti itu, sementara kau sendiri membuat istriku terancam hingga ia merasa jika ia bukan istriku lagi?” Kim Bum membalas ucapannya dengan tidak kalah tajam.

“Kau..”

“Dengarkan aku baik – baik. Aku tidak akan pernah tidur satu ranjang denganmu, sampai kapanpun itu. Dan aku juga tidak akan pernah melakukan hal yang kau inginkan, seperti yang kau katakan barusan. Kau mengerti?”

Ancaman yang Kim Bum lakukan berhasil membuat Go Ara terdiam tanpa membalas ucapannya lagi. Tangan Go Ara terkepal kuat, ingin sekali ia membuat Kim Bum bertekuk lutut hingga memohon kepadanya. Tapi Kim Bum sendiri masih tidak peduli, ia bersikukuh dengan pemikirannya sendiri. Akhirnya Kim Bum berjalan untuk keluar dari kamar itu, lalu ia berbalik sesaat ke arah Go Ara.

“Harusnya dia yang berada di sana, bukan kau”

***

            A few months later

 

            “Terima kasih, sampai bertemu lagi Nyonya”

So Eun membungkuk sembari tersenyum setelah melayani salah satu pengunjung toko yang membeli bahan – bahan rumah tangga di sana. Mesin kasir yang ada di depannya ia operasikan dengan baik, sesekali ia juga merapihkan lembaran won yang juga tersimpan di sana. Beberapa menit selanjutnya Bibi Song menghampiri So Eun yang ia lihat terlihat sibuk sendiri.

“Kerjamu sudah apik, tidak perlu sedetail itu” kata Bibi Song yang membuat So Eun tersenyum kecil.

“Apa ada yang ingin Bibi katakan padaku?” terka So Eun pada Bibi Song.

“Mmm. Bisakah kau belikan aku beberapa roti di jalan sebelah sana? Entah kenapa aku sedang ingin makan roti itu”

“Toko roti yang berwarna kuning itu Bi?”

“Iya. Ini uangnya, belikan saja secukupnya. Nanti kita makan bersama – sama saat jam makan siang nanti. Kedengarannya bagus kan?”

“Tidak, Bibi tidak perlu membaginya denganku. Aku bisa makan bekal yang sempat ku bawa tadi pagi”

“Kenapa kebiasaanmu selalu menolak pemberian orang lain? Ya sudah kau belikan saja dulu, mumpung belum ada tamu yang datang lagi”

“Aku mengerti, aku pergi dulu”

So Eun membungkukkan badannya untuk berpamitan dengan Bibi Song. Ia menarik pintu toko agar dapat keluar untuk membeli apa yang ia perlukan. Biasanya So Eun akan berada di toko seharian, hanya pergi saat sudah jam pulang. Cuaca hari itu yang cukup baik membuat So Eun bersemangat untuk berjalan. Semoga saja harinya akan selalu seperti itu, menanti keajaiban dan kejutan yang tidak sedikit pun terbesit di pikirannya.

***

            Go Ara berjalan di samping Kim Bum yang akan pergi bekerja. Kim Bum sendiri seperti seseorang yang sendirian, ia tak menganggap adanya Go Ara yang selalu mencoba untuk memasuki relung hatinya. Ia mengeluarkan kunci mobil yang ia simpan di salah satu saku celananya, lalu kembali berjalan menuju mobilnya. Lagi – lagi tanpa memperdulikan Go Ara. Waktu yang sudah berjalan selama ini belum mampu meruntuhkan tembok yang kokoh pada diri Kim Bum. Wanita itu sudah tidak bisa bersabar lagi, lantas saja ia menarik Kim Bum untuk menatap dirinya.

“Kau tidak berpamitan denganku?” kata Go Ara untuk memulai pelampiasannya.

“Bukankah biasanya seperti itu? Untuk apa? Buang – buang waktu” Kim Bum menjawabnya dengan sedikit kasar.

“Tapi tetap saja, bagaimana pun juga aku ini istrimu. Kau harus bersikap baik padaku” balas Go Ara.

“Kalau begitu kau pergi sekarang juga, dengan begitu aku akan bersikap baik padamu. Puas?” tatapan tajam Kim Bum tunjukkan pada Go Ara.

“Apa kau tidak lelah mengusirku terus – menerus? Apa kau tidak bosan, huh?!”

“Apa aku harus menjawabnya berkali – kali? Tidak, aku tidak akan pernah bosan untuk melakukannya” sikap Kim Bum kali ini terlihat jauh lebih dingin dibandingkan saat ia menikah dengan So Eun di waktu pertama.

“Sudahlah, aku harus pergi. Ada beberapa tempat yang perlu ku kunjungi hari ini”

Kim Bum membuang genggaman tangan Go Ara yang sempat bertautan dengan tangannya. Go Ara tidak menahan Kim Bum dengan cara biasanya lagi, kali ini ia hanya kembali bertanya agar suaminya terhenti.

“Kau mau kemana?”

“Bukan urusanmu”

“Jawab aku, Kim Bum”

“Sudah ku bilang bukan urusanmu”

“Kau tidak sedang mencoba untuk menemukan Kim So Eun lagi kan?”

Giliran Kim Bum yang terdiam saat Go Ara berceletuk enteng dengan membawa – bawa nama wanita yang ia rindukan. Ya ampun, ulu hatinya mendadak terasa sakit mengingat hal itu. Sejak pesan yang ia terima di saat pernikahannya, So Eun tidak lagi memberi Kim Bum tanda keberadaan dirinya.

“Apapun yang ku lakukan, kau tidak pernah berhak untuk melarangku”

Tanpa basa – basi lagi Kim Bum memasuki mobil sedan hitam mewahnya dan segera menekan pedal gas agar cepat meninggalkan Go Ara sendiri di sana. Go Ara merasa geram dengan yang Kim Bum lakukan. Dirinya belum mampu membuat Kim Bum terjatuh karenanya. Ia yakin, perasaan Kim Bum terhadap So Eun masih tersimpan rapih dalam hatinya.

“Lihat saja, akan ku buat kau tidak bertemu dengan wanita busuk itu. Kalau perlu ku buat kau tidak akan pernah bertemu dengannya lagi”

***

When my tears overflow and become a river, and become an ocean

Do you want to know more about me, who loves only you

Can’t you be on my side so you can endlessly laugh and endlessly cry with me?

Because I will love only you even though it hurts so much

            Kim Bum melakukan perjalanan nya dengan beberapa staff di kantor. Manajernya dengan setia mendampingi Kim Bum agar mempermudah pemilik perusahaannya bekerja dan menganalisis segala sesuatunya. Dia terlihat sangat fokus seperti biasa, sesekali bertanya mengenai profil relasi bisnis yang akan di ajak kerja sama olehnya. Setelah sampai ke tempat yang mereka tuju, Kim Bum menjadi orang terdepan yang berdiri memimpin rombongan perusahaannya untuk berkeliling di area toko – toko kecil itu.

“Daerah di sini terkenal cukup strategis karena jalan utama menuju Seoul melewati tempat ini. Rata – rata toko di sini menjual makanan, minuman, dan juga beberapa perlengkapan darurat yang sewaktu – waktu pengemudi butuhkan” jelas sang manajer, Lee Jong Ho.

“Lalu bagaimana dengan penduduk di sekitar?” ujar Kim Bum.

“Tingkat ekonomi di sini bisa di katakan menengah ke bawah, karena sebagian besar warganya hanya memiliki bisnis kecil – kecilan seperti toko yang anda lihat saat ini”

Kim Bum mengangguk tanda mengerti penjelasan dari manajernya. Ia dan staff nya terus berjalan hingga mendapat informasi yang mereka butuhkan. Tak ayal mereka menghabiskan waktu lebih dari dua jam di sana, membuat mereka kelelahan dan memutuskan untuk beristirahat sejenak.

“Aku ingin membeli minum sebentar, kalian tunggu di sini” Kim Bum beranjak berdiri dari tempat duduknya.

“Biar saya saja yang membelikannya untuk anda, presdir” kata Jong Ho cepat.

“Aku bisa melakukannya, istirahat saja di sini. Aku tidak akan lama”

Setelah meyakinkan para pegawainya untuk tak terlalu khawatir akan dirinya, Kim Bum kembali menyusuri jalan setapak yang mengitari berbagai macam toko. Ia merasa tenang melihat pemandangan seperti ini, sangat berbeda dengan di kantornya yang cenderung formal. Senyum manis nya terulur untuk membalas senyuman dari seorang anak kecil yang melihatnya.

Jalan yang ia langkahi menunjukkan arah ke sisi kiri. Kim Bum terus mengikuti jalan itu dengan santai hingga kedua matanya menangkap sesosok wanita cantik yang sedang berjalan berlawanan arah dengannya. Semakin dekat, jaraknya dengan wanita itu membuat Kim Bum mampu melihatnya semakin jelas. Jantungnya berdegup kencang, darahnya berdesir dengan cepat kala ia menyadari siapa wanita itu. Kaki nya terhenti tepat beberapa langkah dengan wanita yang merebut perhatiannya sedari tadi.

Sementara itu wanita yang di maksud oleh Kim Bum berjalan dengan arah pandangan pada barang bawaannya. Barulah saat ia selesai mengecek semuanya, nafas wanita itu ikut tertahan seiring dengan hembusan angin yang membuat rambutnya tergerai. Rasa rindu yang mereka pendam selama ini kembali muncul. Kedua makhluk Tuhan itu hanya bisa diam dengan apa yang mereka lihat saat ini sembari mengucap sebuah nama.

“Kim So Eun”

“Kim Bum”

If you love me, look back at me, just a little faster

Hold my hand before I move on, before my love dies out

Can’t you be on my side so you can endlessly laugh and endlessly cry with me?

Because I will only love you even though it hurts so much

– The End –

 

 

Makin aneh?

Ga tau lah, imajinasi saya hanya sampai sini. Maaf yaaa.

Kalau OS ini saya bikinnya niat banget, satu setengah hari langsung kelar. Ga molor kaya yg kemarin, hihihi.

Meskipun makin buruk jangan lupa di komentari ya?

Sampai jumpa lagi!

 

Dari seseorang yang tidak pernah merasa pede,

-Chandra Syifa W-

Tagged: , , , ,

68 thoughts on “(OS) Tears Are Over Flowing

  1. yeonta September 3, 2013 pukul 5:20 pm Reply

    keren

  2. Rizkia aulia tifanny September 14, 2013 pukul 2:42 pm Reply

    Yah… Kok cuman segitu squel nya ?
    Ada lanjutannya gak ?

  3. muhi September 20, 2013 pukul 11:19 am Reply

    Keren….
    Lanjutin donk….smpe bumsso akhornya bersatu..

  4. pipi Oktober 27, 2013 pukul 1:39 am Reply

    New reader and new visitor here. Hhhe. Nyari2 ff bumsso yg marriage life. Eh dapat blog and os ini. Duh senangnya. Critanya bikin mewek. Ngegantung bgt nih crita thor. Sequel dong.. Hhhee. Imajinasi author keren. Sequel ya thor🙂

  5. Iien Utsukushi November 1, 2013 pukul 1:59 pm Reply

    ceritanya ngegantung bgt…. ffnya keren kok😀
    kalo di lanjutin akan lebih menarik

  6. VayTeuKey November 3, 2013 pukul 2:16 am Reply

    kayanya mesti ada sequelny lg nech? nanggung soalnya

  7. Devianti Ndilao November 8, 2013 pukul 9:03 am Reply

    Masih nanggung nih thor, sequel lagi yaaa ^^

  8. sylvia Januari 18, 2014 pukul 3:02 pm Reply

    nanggung nih,, aaaa nyesek

  9. BixelGirlHaeraka Januari 19, 2014 pukul 8:46 am Reply

    Agak ngegantung, tapi bagus kok

  10. lilis suryani Juli 1, 2014 pukul 3:23 am Reply

    thor knp ceritanya slalu gantung jrng yg happy ending, tp ceritanya menarik kok thor

  11. Femilda nengsih Juli 21, 2014 pukul 11:00 am Reply

    Keren onnie

  12. sonialidya07 April 15, 2015 pukul 7:53 am Reply

    Aahhhh, chingu ko akhirnya gantung banget!!! penasaran sama reaksinya mreka pas ktmu lagi!! buatlah mteka bersatu kembali please buatin sequelnya lagi yaaa chinguu!!!

  13. ditarona25 Juni 13, 2015 pukul 3:19 pm Reply

    sedih banget ini fanfic,kapan ya soeun sama kimbum bisa sama sma lagi,next dong thor.. sumpah pengen tahu banget kelanjutannya udah lama nunggu lanjutannya tapi gak dilanjutin thor,next yaa thor *pliss

  14. shefty rhieya Agustus 27, 2015 pukul 1:05 am Reply

    kok gantung terus…

  15. dela safitri Desember 6, 2015 pukul 3:32 pm Reply

    Terus bagaimana thor ?
    Mereka bertemu ? Apa yg di lakukan oppa untuk sso ?
    Bagaimana dgn sso ?
    Nextnyaa thor lagiii ini belom selesai deh thor kayanya.
    Lanjutannya lagii ya thor ehehe

  16. Aliana Park Maret 3, 2016 pukul 3:40 am Reply

    ah nanggung bgt nih ffnya… masak udah ending… ah kurang puas gimana nasib bumsso..:-/

  17. Emma kyu Maret 15, 2016 pukul 4:18 am Reply

    Hai aq reader baru,aq sk bgt ma ffnya tp syng kok cmn sequel gk ada lnjutannya t?pliss lnjtin dong…syng bgt pdhal udh bgus crtnya..ditunggu ya lnjtnnya…smngt….

  18. auliya_angel November 24, 2016 pukul 1:15 pm Reply

    nggantung eonni crtanya tp te2p bgus kok

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: