(TS) Difference – Part 1


Difference

(Chapter 1)

 

Difference 

(Art by Me—CSW Artwork)

Author             : Chandra Syifa W

Main Casts      : Kim Bum, Kim So Eun

Casts               : Lee Hyun Woo, Jung So Min, A-Pink Jung Eunji

Original Casts : Kim Yoon So, Song Yoon Ae

Genre              : Romantic, Sad, Family

Type                : Two Shoot

 

Disclaimer       : Semua tokoh yang saya gunakan dalam ff ini bukan milik saya, melainkan milik keluarga, teman, dan manajemen mereka masing – masing. Saya tidak memiliki tokoh tersebut, namun alur cerita yang ada di sini adalah murni milik saya tanpa ada pengaruh dari pihak manapun. Dilarang keras memplagiat atau mengambil karya milik saya ini tanpa seizin dan sepengetahuan saya selaku author.

 

Apabila ada kesamaan judul ataupun alur cerita, itu merupakan hal yang tidak di sengaja. Kesalahan format atau huruf yang ada dalam ff ini mungkin terjadi karena human error atau faktor dari blog sendiri.

 

 

“Bahagia itu sederhana, begitu pun dengan cinta. Kau tak perlu alasan mengapa semua itu bisa terjadi”

 

“Aku menyayangi beliau layaknya kami lahir di waktu yang sama”

 

“Keraguan, ketakutan, dan kekhawatiran itu membuatku percaya jika kalian lah yang membuatku berubah”

 

– Difference –

 

          Appa, apa aku mengganggu pekerjaan Appa?

“Yoon So? Tentu saja tidak, apa ada sesuatu yang terjadi?”

“Tapi Appa sedang sibuk atau tidak? Biasanya kan Appa selalu bohong padaku”

“Astaga, untuk apa Appa berbohong padamu? Come here, little Kim

Mendengar perintah dari sang Ayah, Yoon So langsung melangkahkan kaki kecilnya mendekati kursi dimana Ayahnya terduduk. Kim Bum mengulurkan tangannya pada Yoon So dan membawanya ke dalam pangkuan Kim Bum. Pria itu kembali berbicara pada buah hatinya dengan penuh kebijaksanaan, seakan menyetarakan sikap dengan lawan bicara yang ia hadapi.

“Baiklah, kemarin Appa akui jika Appa berbohong. Appa tidak mungkin membiarkanmu masih terjaga di malam hari, sayang” aku Kim Bum.

“Tapi kan pekerjaan Appa masih banyak. Appa malah bilang padaku jika pekerjaan Appa sudah selesai” Yoon So membalas.

“Coba Appa tanya, apakah Yoon So merasa sedih karena merasa telah mengganggu Appa?” Kim Bum bertanya pada Yoon So yang tengah menatapnya lekat.

“Mmm. Ahjumma selalu bilang padaku kalau aku tidak boleh mengganggu pekerjaan Appa. Nanti Appa tidurnya bisa kemalaman dan sakit” jawab Yoon So lugu.

“Anak pintar” tanpa ragu Kim Bum mengusap rambut hitam Yoon So cepat. “Ahjumma sangat membantu Appa untuk membuatmu menjadi laki – laki yang hebat seperti Appa

“Itu benar! Jadi, apa Appa sedang sibuk sekarang?”

“Tidak juga, apa yang Yoon So inginkan?”

“Aku tidak bisa tidur, maukah Appa menemaniku di kamar sampai aku mengantuk?”

Senyuman lebar itu terlihat jelas dari wajah Kim Bum.Harusnya ia tau jika anaknya juga membutuhkan sedikit perhatian meskipun malam sudah semakin larut. Kim Yoon So sendiri hanya tersenyum polos sembari menunggu jawaban dari sang Ayah. Kim Bum menggendong bocah itu, kemudian beranjak dari kursinya yang ia tempati selama lebih dari 2 jam.

“Nah, ayo kita berangkat tidur. Eomma mu pasti sudah menunggu”

***

            “Selamat pagi, Appa

“Selamat pagi”

Dengan cepat wania berparas cantik itu mencium kedua pipi Ayahnya yang sedari tadi telah menanti di meja makan. Sedetik kemudian ia meraih segelas susu putih yang terpampang jelas, meneguk habis susu itu hingga tak tersisa lagi. Kebiasaan sang anak yang satu ini kadang terlihat sedikit buruk. Membuat pesona wanita itu luntur saat manusia – manusia di luar sana menyaksikannya.

“Rotinya ku bawa ya, Appa. Akan ku makan di jalan”

“Ya ya ya Kim So Eun, Appa bahkan tak pernah mengajarkannya mu untuk seperti itu”

Appa mulai lagi kan, aku sudah dewasa tau” So Eun berucap bercampur dengan sedikit egonya. “Appa kan tau kalau aku banyak pekerjaan di kantor, di tambah lagi dengan beberapa jadwal meeting. Biasanya juga seperti ini kan?”

“Kau pikir Appa tidak sibuk? Sebanyak apapun tugas yang Appa kerjakan Appa pasti sarapan di rumah” ucap Ayahnya.

“Oh, apakah Appa sedang berusaha untuk menjadi seperti Eomma? Ayolah Appa, itu bukan lah tugas Appa. Aku tidak ingin berdebat di pagi hari seperti ini”

“Ya sudahlah, Eomma mu pasti akan menghantui Appa jika terus – terusan seperti ini” Ayah So Eun menyerah.

“Itu bagus, ke ke ke

Pertengkaran kecil di antara mereka berakhir dengan kemenangan bagi So Eun.Ia pun menyimpan roti yang sudah ada pada tempat makannya ke dalam tas milik So Eun. Mengucap salam perpisahan untuk hari ini, dan berharap agar bisa pulang secepat mungkin.

“Aku pergi duluan ya, Appa. Love you!

“Ya, hati – hati. Jangan lupa untuk makan siang ya”

Perjalanan untuk memulai hari yang sesungguhnya pun segera di lakukan oleh So Eun.  Mengendarai sebuah city car yang harganya tak murah, gaya pakaiannya pun sangat sesuai dengan status keluarganya yang bisa di bilang bagian dari kelas atas. Rasanya sepadan mengingat Ayah dari So Eun adalah seorang pebisnis ulung yang berkelut di dunia bisnis internasional, sementara So Eun sendiri tengah merintis usaha fashion di mana ia menjadi desainer utamanya.

Waktu menunjukkan pukul 9 pagi. Wanita berambut panjang itu sudah sampai di tempat yang ia tuju, KM Corporation. Sebuah grup usaha besar yang menguasai beberapa hak usaha untuk merek retail seperti furniture, kebutuhan rumah tangga, dan juga pakaian. Bisa di bayangkan jika grup perusahaan ini memiliki keuntungan yang tidak sedikit.

“Selamat pagi, ada yang bisa kami bantu?”

“Aku ingin bertemu dengan Nona Jung Eunji”

“Apa sudah pernah membuat janji sebelumnya?”

“Tentu, dia sendiri yang menghubungiku untuk menemuinya di sini”

“Baiklah, silahkan anda naik lift di sebelah sana menuju ke lantai 9. Anda bisa menemuinya di ruangan sebelah kiri”

Khamsahamnida

Setelah mendapat penjelasan dari salah satu resepsionis yang berjaga di sana, So Eun langsung berjalan ke ruangan yang dimaksud. Menggunakan arahan yang telah ia dapat sebelumnya, tak sedikit karyawan pria yang melirik kala So Eun melintas di depan mereka. Terpesona mungkin?

Annyeong haseo

“Oh, Annyeong haseo

Sebuah sambutan hangat So Eun terima saat memasuki ruangan berukuran sedang tersebut. Ya, perempuan yang ingin ia temui bernama Jung Eunji itu ternyata telah menunggu So Eun di sana. Langsung saja Eunji mempersilahkan So Eun duduk di salah satu sofa yang tersedia di sana dan menyuguhkan secangkir teh hangat untuk menemani pertemuan mereka di pagi hari.

“Jadi, setelah perbincangan singkat kita sebelumnya, bisakah kita memulai untuk ke arah inti?” kata Eunji dengan sopan.

Ne, itu adalah alasan mengapa kau ingin aku datang bukan?” kata So Eun dengan senyuman.

“Baiklah, Nona Kim So Eun” beberapa detik jeda yang Eunji berikan untuknya agar ia bisa mengambil sebuah dokumen dalam map biru. “Silahkan anda baca terlebih dahulu. Lampirannya bisa anda baca di bagian paling belakang”

Menjawabnya dengan anggukan, So Eun juga beralih pada dokumen yang Eunji berikan padanya. Membuka halaman demi halaman dan menganalisi setiap kata dengan teliti. Sembari menunggu So Eun selesai membaca, Eunji juga memberi sedikit penjelasan lisan padanya.

“Mengingat ini merupakan waktu perdana bagi kami KM Corporation yang bekerja sama dengan seorang desainer muda seperti anda, maka kami sudah menyiapkan sebuah rencana dan juga beberapa goal untuk salah satu brand pakaian grup kami. Di mana untuk kali ini kami ingin agar kita mampu bekerja sama untuk memproduksi pakaian untuk brand ‘Day & Sunshine’

Kedua mata So Eun berhenti membaca proposal yang berada di tangannya saat mendengar penjelasan dari Eunji. Seketika ia kembali menatap Eunji dengan perasaan bingung dan aneh. Dan untuk Eunji, wanita itu merasa bingung mendapat respon berbeda dari So Eun.

Day & Sunshine? Tunggu, kalau aku tidak salah, bukankah itu merek pakaian untuk anak kecil?” terka So Eun.

“Itu benar. 3 bulan lagi masa sekolah akan memasuki masa liburan musim dingin, timing yang sangat baik jika kita bisa memanfaatkan hal itu untuk menarik perhatian anak usia 5 sampai 12 tahun dengan model pakaian manis yang bisa kau desain sendiri. Bukankah begitu?” Eunji membalas dengan nada excited.

“Oh, tidak”

“Maaf, apa yang anda katakan, Nona Kim So Eun?”

Pikiran So Eun sudah buyar, pilihan yang ia ambil sudah bulat dan tidak dapat tergantikan lagi, bahkan dalam hitungan detik. Segera ia merapihkan tas yang sempat ia letakkan di sampingnya, lalu tak lupa ia rapihkan juga proposal yang Eunji berikan padanya. Eunji hanya diam dan terbingung dengan apa yang So Eun lakukan di hadapannya.

“Aku sangat senang bisa menjalin kerja sama dengan grup sebesar KM Corporation, terlebih kalian sendiri yang memilihku untuk menjadi desainer merek fashion yang kalian miliki. Tapi maaf, ku rasa aku tidak bisa membantu untuk proyek yang satu ini, Nona Eunji”

“Apa? Ah, bisakah anda menjelaskan alasan mengapa anda tidak bisa turun tangan untuk rencana ini? Bukankah sudah ada kesepakatan tertulis di antara kita? Apa anda juga bisa menjelaskan mengapa anda menolak untuk proyek ini?”

“Aku tau, aku mengingatnya, dan aku menyadarinya. Tapi sungguh demi apapun aku tidak bisa membantu untuk hal ini. Bisakah kau dan juga tim marketingmu mempersiapkan sebuah proyek yang lain? Misal untuk merek pakaian wanita dewasa? Aku akan melakukan dengan sepenuh hatiku jika itu yang terjadi”

“Begini Nona, mungkin kita bisa saling berdiskusi agar proyek ini menjadi lebih sesuai dengan keinginan anda. Masih ada beberapa faktor yang bisa kita rombak namun tetap mampu untuk sampai ke tujuan utama. Bagaimana?” tawar Eunji. Ia berusaha untuk membujuk So Eun dengan apa yang bisa ia lakukan.

“Jika tujuan utamanya tetap untuk brand itu, tidak ada lagi yang perlu kita diskusikan, Nona Jung” terang So Eun.

“T-Tapi Nona

“Maafkan aku, ku rasa aku harus pergi sekarang juga”

“Tunggu! Tunggu sebentar Nona So Eun!”

Langkah cepat So Eun terhenti saat Eunji kembali memanggil namanya, ia berhenti tepat saat ia baru saja meraih gagang pintu. Eunji beranjak dari sofa dan menghampiri nya sesaat untuk kembali bicara pada So Eun.

“Bisakah anda kembali duduk sebentar? Aku akan membicarakan hal ini pada pimpinan untuk menemui jalan keluarnya. Jika sudah selesai aku akan kembali menemui anda di sini” pinta Eunji pada So Eun.

Karena merasa sedikit tak enak hati, akhirnya So Eun mengiyakan permohonan dari Eunji.

“Oke, aku akan menunggu di sini. Hanya sebentar”

***

            Sebuah mobil sedan berwarna hitam merek Hyundai tengah berhenti tepat di depan salah satu taman kanak – kanak di kota Seoul. Pemandangan di sana tak bukan selain ramainya anak – anak yang berlarian dan bermain di lapangan. Kim Bum beranjak keluar dari mobilnya diikuti oleh sang anak laki – laki kesayangannya, Yoon So dengan sedikit melompat karena kaki nya masih terlalu pendek untuk langsung menapak. Pria itu tertawa kecil, dan Yoon So juga ikut tertawa manis. Kim Bum menggandeng tangan Yoon So, berjalan beriringan memasuki ke sekolah tempat Yoon So belajar berbagai macam hal.

Appa mengantar sampai sini saja tidak apa – apa kan?” kata Kim Bum dengan menekuk kaki kirinya, menyesuaikan dengan tinggi Yoon So agar ia mampu melihat wajah Yoon So dengan jelas.

“Tidak apa – apa, kan Yoon So anak laki – laki. Kalau Yoon So tidak berani masuk ke kelas sendirian berarti Yoon So bukan anak Appa yang pemberani!” ucap Yoon So dengan semangat. Bocah ini hebat sekali.

“Kau tau, kau itu keren sekali seperti Appa” kata Kim Bum dengan pedenya.

“Tapi aku lebih keren dari pada Appa, ke ke ke” kata Yoon So lagi terkekeh.

“Oh iya, hari ini aku dan teman – teman sekelas di ajak berjalan bersama dengan Songsaenim ke taman kota. Nanti kalau sudah jam pulang Appa bisa menjemputku di sana tidak?” sambung Yoon So.

Appa pasti akan menjemputmu di manapun Yoon So minta. Yang penting saat berjalan – jalan dengan Songsaenim jangan pergi kemanapun tanpa sepengetahuan Songsaenim mu ya. Dan jangan bermain jauh – jauh dari pengawasan mereka, arachi?

“Siap kapten!”

“Lalu seperti biasanya, apa yang harus Yoon So lakukan sebelum belajar?”

“Berdoa pada Tuhan dan memberi salam pada Songsaenim dan teman – teman!”

Good boy. Kalau begitu Appa pergi bekerja dulu, jaga dirimu baik – baik, Yoon So”

Appa juga hati – hati, Yoon So sayang Appa!!!”

Kilasan senyum sebagai tanda perpisahan antara Ayah dan anak itu begitu mengena di hati. Kim Bum menyalakan mobilnya dan segera menekan pedal gas untuk melaju sembari menatap Yoon So yang masih setia menunggu Ayahnya pergi. Yoon So melambaikan tangan kecilnya dengan cepat pada Kim Bum, satu – satu nya orang tua yang ia miliki.

“Da da Appa!

***

            Belum terlambat. Itu yang Kim Bum pikirkan saat ia mendapati jam tangannya menunjukkan waktu yang membuatnya bernafas lega. Sebelum berangkat ke kantor Kim Bum sendiri yang mengantar jemput Yoon So sekolah, tak ada lagi yang bisa ia minta tolong untuk hal ini. Song Ahjumma yang merupakan tetangga rumah Kim Bum biasa membantu untuk menemani Yoon So sepulang ia sekolah dengan senang hati. Ia akui jika agak sulit baginya untuk membagi waktu antara pekerjaan dan menjaga Yoon So. Namun Kim Bum tidak ingin melepas tanggung jawabnya sebagai orang tua tunggal dari anak semata wayangnya.

“Sudah sampai. Sekarang, kita akan memulai dari mana? Penanda tanganan kontrak investor atau proposal pengajuan kerja sama?” gumam Kim Bum setelah ia duduk di kursi tempat ia bekerja. Memperhatikan tumpukan kertas yang siap untuk di teliti oleh Vice President dari KM Corporation itu.

Tok Tok Tok!

“Ya, silahkan masuk”

Bunyi pintu ruangan terbuka dari ruangan milik Kim Bum terdengar jelas. Ia lihat sosok wanita yang sudah tidak asing lagi baginya. Jung Eunji, Marketing Manager perusahaan yang ia pimpin kini berdiri di hadapannya. Memasang wajah sedikit panik, Kim Bum berusaha untuk membaca keadaan yang di alami oleh Eunji.

“Apa ada sesuatu yang tidak kau inginkan, hm?” Kim Bum melempar pertanyaan yang tepat pada Eunji.

“Ya, kurang lebih seperti itu, Presdir Kim” jawab Eunji seadanya.

“Kalau begitu katakan padaku” kata Kim Bum.

Sesaat suasana di ruangan itu menjadi sunyi senyap. Sang manajer itu sepertinya sedang berusaha untuk menyusun kata – kata untuk menjelaskan permasalahan ini pada Kim Bum.

“Maaf Presdir, desainer yang sudah menjalin kontrak kerja sama dengan kita menolak untuk membuat desain sesuai dengan proposal tema tahun ini”

Mwo?  Bukankah dia sudah terikat dengan kita? Dia tidak bisa mengambil langkah sendiri”

“Benar Presdir. Kami sudah mencoba untuk kembali berbicara namun desainer tersebut tetap bersikeras untuk menolaknya”

Kali ini beban dan masalah kembali datang pada Kim Bum. Masalah seperti ini tak seharusnya terjadi, terlebih lagi pada perusahaan sebesar KM Corporation. Kalaupun keadaan nya seperti ini tanpa perlu melapor pada Kim Bum Eunji bisa menyelesaikan permasalahan sendiri. Ia harus memutuskan dan melakukan sesuatu, ia harus mempertahankan konsistensi nya sebagai perusahaan besar.

“Apa yang dia katakan untuk penolakan proyek ini?” ujar Kim Bum mendelikkan matanya.

“Dia tidak mengatakan latar belakangnya dengan gamblang, hanya mengucapkan sebuah penolakan yang tidak bisa di ubah lagi keputusan akhirnya. Aku sudah mencoba untuk membujuknya, Presdir. Tapi aku tak bisa” terang Eunji bernada pasrah.

“Biar aku yang menemuinya. Aku ingin dengar apa alasan nya cukup rasional hingga dia tak ingin melakukan apa yang seharusnya ia lakukan”

***

            Gerombolan anak – anak kecil itu sudah memenuhi lapangan taman kanak – kanak. Mereka menunggu seseorang yang biasa di panggil Songsaenim untuk berdiri memimpin mereka berjalan – jalan menuju taman kota. Beberapa menit kemudian, seorang pria yang berusia muda muncul dengan wajah ramah di hadapan puluhan anak – anak itu, dengan langkah kaki yang sedikit cepat.

Annyeong haseo! Good morning! Selamat pagi semuanya!”

Annyeong haseo! Selamat pagi, Songsaenim!

Pria bernama Lee Hyun Woo itu memamerkan deretan gigi nya pada anak – anak yang tengah memperhatikannya. Wajar saja jika mereka merasa asing, Hyun Woo saja baru pertama kali berada di tempat itu. Meski begitu, ia tak menjadikannya alasan untuk terlihat gugup dan kaku di depan mereka.

“Perkenalkan, namaku Hyun Woo, Lee Hyun Woo. Kalian bisa memanggil ku ‘Woo Songsaenim’. Sekarang coba kalian panggil aku” kata Hyun Woo ramah.

“Woo Songsaenim!” teriakan anak kecil itu berhasil membuat Hyun Woo merasa senang.

Gomawo, kalian semua anak – anak yang baik” ujar Hyun Woo. “Mulai hari ini aku akan menjadi guru kalian. Mohon bantuannya ya semua”

Ne, Woo Songsaenim! Aku juga mohon bantuannya ya!” kata salah satu anak laki – laki.

“Aku juga!” hal itu di ikuti oleh perempuan kecil beramput pendek.

“Kau ini manis sekali, sih” tangan Hyun Woo tergerak untuk membelai rambut siswi perempuan itu. “Oh iya, tadi Kepala Sekolah Lee bilang pada Songsaenim kalau hari ini kita ada jadwal untuk berjalan – jalan ke taman kota ya?”

“Benar, Songsaenim! Katanya kami di ajak untuk main di sana! Jadi pergi kan, Songsaenim?

“Kalau begitu, tidak perlu berlama – lama lagi. Ayo kita berangkat semuanya!”

Seperti bebek kecil yag mengikuti induknya, seluruh anak di sekolah itu mengikuti ke mana langkah Hyun Woo berjalan. Melewati trotoar yang ada di pinggir jalan, Hyun Woo mengajak mereka bernyanyi bersama selama menuju ke taman kota. Lagu Twinkle Little Stars yang Hyun Woo pilih dan tanpa ada penolakan anak – anak itu langsung ikut bernyanyi. Pemandangan yang sangat manis.

“Kita sudah sampai di taman kota! Kalian boleh bermain di sini, tapi jangan jauh – jauh ya. Jangan sampai ada yang bermain sendirian dan tersesat, arraseo?”

Arraseoyeo, Woo Songsaenim!

Setelah mendapatkan izin dari Hyun woo, anak – anak yang sudah tak sabar itu langsung menyebar dan terbagi menjadi beberapa kelompok bermain. Ada yang melakukan sebuah permainan sederhana seperti bermain adu kelereng. Ada yang bermain kejar – kejaran hingga terjatuh, namun ia terbangun lagi dengan tawanya yang riang. Menyebarkan suasana bahagia ke satu sama lain.

Dan bagaimana dengan Yoon So? Ia hanya bermain bola kecil bersama dengan 1 orang teman laki – laki dan 2 orang teman perempuannya. Yoon So bukan tipe anak yang terkenal di antara teman seumurannya, namun ia dikenal sangat baik, pintar, dan juga sopan.

“Ayo tangkap bolanya!”

“Yee aku dapat! Ini aku lempar!”

“Hap! Wah lemparanmu bagus sekali! Ini Yoon So ku berikan padamu!”

“Iya, akan ku tangkap bolanya!”

Bola berwarna hitam – putih itu pun di lemparkan ke arah Yoon So. Namun sayang lemparan nya terlalu keras sehingga Yoon So tidak mampu menangkap bolanya. Hingga bola itu akhirnya berhenti ke dalam sebuah semak – semak pepohonan.

“Ah, maaf ya Yoon So. Aku tidak sengaja melemparnya hingga bola nya sampai ke sana. Mianhae” ujar salah satu teman Yoon So.

Nan gwenchana, aku akan mengambil bolanya. Tunggu sebentar ya”

Yoon So pun berlari ke arah di mana bola itu terjatuh, ia masih sempat melihat ke mana bola itu menghilang sehingga ia tak kehilangan arah dan tak perlu repot untuk mencarinya. Dua mata bulatnya menangkap sebuah bola yang ia cari, langsung saja Yoon So meraih bola itu. Namun..

“Sini berikan bola nya padaku!”

Belum sempat Yoon So menyentuh bola nya, 3 anak laki – laki yang seumuran dan masih satu sekolah dengan Yoon So itu mencoba untuk menghalangi Yoon So. Karena merasa kaget, Yoon So tidak bisa merebut bolanya dari tangan mereka.

“Eum, bisakah kalian mengembalikan bola itu? Aku dan teman – temanku masih ingin bermain bola bersama – sama. Kalau kalian ingin ikut bermain dengan kami tidak apa – apa, kalian bisa bergabung dengan kami” kata Yoon So. Ia berniat untuk mengajak anak – anak di hadapannya agar ikut bersama dengan nya, meski tak mengenal mereka secara dekat.

“Siapa juga yang mau bermain denganmu? Kami tidak sudi bermain dengan anak yang tidak punya Ibu sepertimu!”

Yoon So melempar tatapan tajam pada mereka, tepat pada saat ia mendengar kata ‘Ibu’. Entah mengapa hati Yoon So langsung merasa terkikis, padahal itu hanya sebuah kata sederhana.

“Jawab aku, kau itu Kim Yoon So yang tidak punya Ibu kan? Iya kan?” tanya bocah bertubuh gemuk tersebut.

“Kalau iya, memangnya kenapa?” Yoon So berbalik tanya dengan sangat berhati – hati.

“Wah, berarti kita benar! Dasar anak yang tidak punya Ibu, pasti kau tidak pernah di buatkan bekal oleh seorang Ibu, bukannya begitu? Hahaha” sambung salah satu teman yang ikut meledek Yoon So.

“Bisakah kalian untuk tidak meledekku? Apa aku punya kesalahan pada kalian? Aku akan meminta maaf” hanya itu yang dapat Yoon So katakan.

“Apa? Kau bertanya pada kami kesalahanmu apa? Kesalahanmu ya karena kau tidak punya Ibu seperti kami!”

Yang ia sadari, tiga anak itu kini tengah sibuk mentertawakan dan mengolok – olokkannya. Membuat sebuah hal mengenai ‘tidak memiliki orang tua yang lengkap’ seperti menjadi bahan ledekkan yang menyenangkan buat mereka, namun tidak hal nya dengan Yoon So. Ia mulai menundukkan kepalanya, menutupi raut wajah dari anak – anak yang seharusnya menjadi teman sebayanya.

“Ya sudah, ambillah bola ini! Bola tidak berguna seperti itu tidak kami perlukan, yang kami perlukan cuma teman yang memiliki Ibu!”

Bola hitam itu menggelinding dan berhenti di depan kaki Yoon So. Yoon So tidak merespon, ia tak menjawab dan seperti tak menghiraukan apa yang mereka katakan. Geng bocah nakal itu pun bergegas pergi meninggalkan Yoon So dengan tak mengucapkan maaf, justru meledek kembali kekurangan Yoon So.

“Hahaha kasihan sekali ya Kim Yoon So itu. Setiap ke sekolah dia tidak pernah di antar oleh Ibunya”

“Itu benar. Ibu nya juga tidak pernah datang kalau ada acara seni di sekolah!”

“Malang sekali nasibmu, Yoon So!”

Semua kalimat menyakitkan yang ia dengar, Yoon So mencoba untuk tidak menghiraukannya. Yoon So mulai diam dan merenung, gerombolan anak itu masih saja mengatakan hal menyakitkan. Ia tutup rapat kedua telinganya agar ia terbebas dari ejekan yang dalam sekejap dapat membuatnya menangis. Menangis karena merindukan sosok Ibunya.

Astaga, bahkan kini anak laki – laki tak berdosa itu sudah menitikkan air matanya.

***

            “Dengan Nona Kim So Eun?”

“Ya, itu aku. Maaf, anda

“Kim Bum”

“Presiden Direktur?”

“Itu benar, dari KM Corporation. Senang bertemu dan berkenalan denganmu”

Anggapan pertama yang So Eun dapat, pria ini terlihat sempurna. Fisik, cara berpakaian, gaya bicara, semuanya terlihat tak ada yang kurang. Seorang pria yang memiliki jabatan sempurna, ah sudah seperti pangeran dalam cerita dongeng saja. Segera So Eun tersadar dari lamunan singkatnya tentang pria yang berada di hadapannya ini, suara Kim Bum sudah membangunkannya.

“Yang ku dengar dari manajer marketingku, Eunji, kau adalah desainer yang baru saja kami ajak kerja sama untuk merek pakaian kami. Bukan begitu?” tanya Kim Bum memastikan.

“Benar sekali, akulah orangnya. Nona Eunji sudah menjelaskan proyek yang akan grup mu lakukan untuk merek ‘Day & Sunshine’ dengan sangat baik. Namun dengan segala hormat, aku tidak bisa membantu untuk menangani proyek yang satu ini” balas So Eun panjang lebar.

Sangat to the point, batin Kim Bum. Ia saja belum mengarahkan pembicaraan mereka ke arah sana, mungkin So Eun sudah membaca pikirannya. Wanita yang menurutnya cukup unik dan menarik. Karena tidak ada pilihan, maka Kim Bum akan mengikuti pilihan yang sudah So Eun pilih.

“Bisa kau jelaskan alasan mengapa kau tidak bersedia menangani proyek ini?”  ujar Kim Bum.

“Mudah saja, jika aku bisa menjelaskan alasannya pada mu aku pasti akan langsung menjelaskannya tanpa perlu kau yang menemuiku. Tapi ku rasa aku tak perlu mengatakannya padamu, anggap saja karena aku tidak mampu dan tidak kompeten untuk merek tersebut” sikap So Eun terlihat blak – blakan.

“Bukankah setiap orang memiliki alasan dibalik setiap langkah yang mereka ambil? Terlebih lagi kita sedang mendiskusikan masalah pekerjaan yang notabene masalah profesionalitas” sambungnya.

“Dan bukankah sudah ku katakan padamu jika aku bisa menjelaskannya aku akan menjelaskannya? Namun kenyataannya aku tidak merasa perlu agar kau mengetahui alasanku”

“Kenapa kau merasa tidak perlu aku untuk mengetahuinya?”

“Karena ini bersifat pribadi. Ini tentang masa laluku, apa kau masih ingin berusaha untuk menguaknya?”

“Aku tidak pernah mengatakan ingin mengetahui masa lalu dan hidupmu, aku hanya ingin mengetahui alasanmu. Hanya itu, mudah kan?”

“Ah, aku sadar. Kau sedang memaksaku, kau ingin berdebat denganku?”

“Apa pantas jika seorang pria berdebat dengan seorang wanita, terutama wanita yang cantik dan pintar sepertimu?”

“Lalu apa lagi yang kau maksud dari ucapanmu? Aku berusaha untuk menghormatimu sebagai orang yang mempunyai jabatan tinggi, jangan membuatku untuk menyerah dan memandangmu rendah”

“Jika kau berusaha untuk menghormatiku, aku juga berusaha untuk menghargaimu. Bisakah kau menghargaiku juga sebagai seorang pimpinan yang sedang membangun perusahaannya?”

“Kenapa bicaramu semakin melantur, Presdir Kim?”

“Itu karena aku sedang mencari tau alasan yang sedang kau umpati, Nona Kim”

“Ya Tuhan, kau membuatku naik darah!”

“Maafkan aku untuk hal itu, tapi aku hanya ingin menjalankan apa yang seharusnya ku jalani. Jika aku tidak berbaik hati padamu, bisa saja aku menuntut mu ke ranah hukum bukan?”

“Jadi kau benar – benar ingin tau?”

“Ya”

“Sungguh – sungguh ingin mengetahuinya???”

“Tentu”

“Baiklah!”

Perbincangan antara Kim Bum dan So Eun berubah menjadi sebuah perdebatan panjang yang menyulut emosi keduanya. Baru saja mereka berkenalan, baru saja juga mereka membuat hubungan mereka menjadi kurang baik dan harmonis. Dalam ketenangannya, Kim Bum menenangkan diri nya dari amarah yang bisa membuat ia melakukan hal kasar. So Eun, wanita yang sedari tadi mencoba untuk menutupi sisi pribadinya kini merasa terpojokkan dengan setiap kata yang di luncurkan oleh Kim Bum. Ini sudah waktunya untuk mengaku.

“Alasanku menolak untuk proyek ini, adalah karena ketidak sukaan ku pada anak kecil”

“Sudah cukup, Presdir Kim Bum?”

Pria itu kembali menatap So Eun dalam, seakan bertanya apa yang So Eun maksud. Sementara So Eun membuang muka, ia tidak mau mengatakan apapun lagi. Karena ia tau, semakin banyak ia berterus terang semakin bayangan masa lalu terasa mencekam dirinya. Hal itu menjadi salah satu alasan So Eun tidak membalas tatapan mata Kim Bum.

Dalam hati kecil lainnya, Kim Bum menjadi merasa aneh sekaligus penasaran dengan alasan yang So Eun akui. Ia seorang Ayah, memiliki seorang anak laki – laki yang melengkapi separuh hidupnya. Di saat seperti ini ia justru bertemu dengan seorang wanita yang bisa di katakan phobia anak kecil? Lelucon macam apa ini?

“A-Apa? Kau..” perkataan Kim Bum terdengar terbata – bata.

“Aku tidak menyukai anak kecil lebih dari apapun. Aku tidak menyukai mereka dan aku tidak ingin bekerja yang membuatku bersangkutan dengan mereka. Aku akan bersikap profesional jika kau membebankan padaku proyek lain, dengan kata kunci tidak ada anak kecil di dalamnya” jelas So Eun lagi. Ingin rasanya So Eun menutup rapat mulut Kim Bum agar dia tidak lagi bertanya.

“Astaga, aku berharap jika aku salah dengar. Tapi kau justru menjelaskannya dan membuatku menganggap dirimu menjadi seorang yang salah” balas Kim Bum.

“Kau salah jika meremehkanku hanya karena ketidak sukaan ku pada mereka. Kau sudah memaksaku untuk membuka mulut dan memberi tau apa yang seharusnya tidak ku beri tau” So Eun melawan.

“Aku tidak meremehkanmu, aku hanya berpikir jika

“Cukup, aku pergi. Permisi”

Semakin memuakkan, ini membuat So Eun merasa harus pergi secepat mungkin dari hadapan Kim Bum dan juga tempat itu. Kalau perlu ia putuskan juga kontrak kerja sama yang ia tanda tangani 2 minggu yang lalu. Hak sepatunya berbunyi keras, menandakan jika So Eun berjalan dengan ritme cepat. Namun segera Kim Bum menahan So Eun dengan menarik pergelangan tangannya, membuat wajah So Eun dapat melihat jelas setiap inci wajah Kim Bum.

“Jika ku beri kau kesempatan, apa kau akan berubah pikiran?” bisik Kim Bum.

“Aku tidak membutuhkan kesempatan darimu” balas So Eun ketus.

Kedua manusia itu saling menatap tajam terhadap satu sama lain. Sibuk berkutat dengan cara pikir mereka masing – masing sekaligus memprediksi apa yang akan terjadi selanjutnya. Kim Bum yang masih berdiri tepat di depan So Eun membuang nafas nya kasar, benar – benar tidak habis pikir. Sementara So Eun juga memilih untuk tetap pada pilihan awalnya. Acuh pada suasana dingin yang berada di antara mereka, tanpa perduli pada posisi keduanya yang cukup dekat.

“Aku tak menyangka jika kau menggunakan alasan bodoh seperti itu untuk melanggar perjanjian yang sudah kita buat sebelumnya” gumam Kim Bum.

“Setiap orang memiliki hak dan juga alasan pribadi, ku rasa aku tak perlu menjelaskan dari awal hingga akhir”

“Apa yang sedang kau maksud adalah masa lalumu?”

“Menurutmu?”

“Dan jika seperti itu, ku rasa wanita sukses seperti mu seharusnya memiliki cara berpikir yang panjang untuk ke depannya, bukan membuat kekecewaan untuk pihak lain”

“Apa kau sedang mencoba untuk menghina ku secara tidak langsung, Presdir Kim Bum?”

“Aku hanya sedang berusaha untuk membuat kau sadar jika rasa benci yang kau alami terhadap mereka itu adalah sebuah kesalahan yang fatal, Nona Kim So Eun”

Sedetik kemudian So Eun melepaskan tangannya dari genggaman tangan Kim Bum yang sempat menghalanginya untuk pergi. Tidak ada ucapan ataupun salam perpisahan, tidak peduli dengan apa yang Kim Bum ingin lakukan terhadapnya, So Eun langsung melangkah menuju ke pintu keluar. Memicingkan mata indahnya karena begitu kesal dengan keadaan yang ia alami sekarang sembari menggumam pelan.

“Jika anak kecil itu bisa membuat Ibu ku kembali, maka aku tidak akan bersikap sekeras ini”

– To Be Continued –

 

 

Terima kasih untuk respon positif pada teaser kemarin!

Alhasil saya berusaha untuk merampungkan part pertama ini, maaf ya kalau lama.

Maaf juga jika alurnya membingungkan dan mengecewakan, no body’s perfect.

 

Anyway, saya lihat makin ke sini makin banyak author ff bumsso yang baru ya?

Keren lho menurut saya, at least mereka sudah mencoba untuk berpikir kreatif.

Tapi maaf ya saya belum sempat baca semuanya, huhuhu.

Semoga kalian tidak pernah merasa putus asa untuk menjadi author yang baik yaa.

 

Saya tunggu komentar, kritik dan juga saran dari teman pembaca semua!

Sampai jumpa di part terakhirnya!

 

Dari yang biasa membuat orang lain menunggu,

Syifa.

(Hohoho)

Tagged: , , , , , ,

53 thoughts on “(TS) Difference – Part 1

  1. laras Juni 5, 2015 pukul 10:24 pm Reply

    loh soeun benci anak kecil? terus istrinya kim bum siapa?

  2. shefty rhieya Agustus 26, 2015 pukul 6:08 am Reply

    msh bnyk pertanyaan d ff ini… istri bumppa siapa? apakh udah mninggal? n knpa sso ein benci sma anak kcil?

  3. My Fishy April 6, 2016 pukul 11:58 am Reply

    haduh ini ff udah lama tapi aq baru baca, nyesel deh baru baca soalnya dulu kurang suka ff bumsso yg sudah punya anak tapi makin kesini apapun genrenya aa baca tapi twoshoot yg ini agak kelewat d baca heheh.. keren kim bum dan so eun baru za pertama bertemu udah perang mulut za kekekek, kasian banget yoon so d ledekin sama temen2nya karena tidak mempunyai ibu, semoga yoon so kuat menghadapi temen2nya yg rese..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: