(FF) Truth – Part 1


TRUTH

Part #1

MyBlackTears

Jessica Jung (Jung Soo Yeon)  – Lee Donghae

 TRUTHCov

(Disclaimer: This story is based on my idea. Author is not own the casts and sorry if there’s a same thing with the other)

 

Seorang gadis bernama Soo Yeon tinggal seorang diri di sebuah rumah yang tidak begitu besar. Membuat makanan sendiri, mengurusi dirinya hanya seorang diri. Di daerah ini dikelilingi banyak pantai dan lautan. Di busan lah Soo Yeon tinggal. Terbangun pada dini hari yang masih sangat gelap. Soo Yeon merasa tidak dapat tidur entah mengapa. Ia pergi keluar rumah untuk mengambil udara sejenak.

           

“ sejuknya~ Tapi agak dingin ya.. “ Ujar Soo Yeon.  

 

Merasa sedikit jenuh, Soo Yeon berjalan – jalan sejenak di sekitar daerah rumahnya. Cukup lama berjalan, Soo Yeon tak sadar sudah berjalan jauh dari rumahnya. Sekitar satu satu setengah kilometer dari rumahnya, ia tak sadar ia telah berjalan menuju pantai.

           

“ uwahhh.. saat dini hari pantai ini terlihat lebih indah! “ teriak Soo Yeon sambil berlari mendekati air. 

 

Soo Yeon berjalan dipinggir pantai dan tiba – tiba saja dilihat seseorang tergeletak di pinggir pantai. Dengan keberanian, Soo Yeon mendekatinya.

           

“ dia siapa? Kenapa bisa tergeletak disini? … “ ucap Soo Yeon sambil berusaha membangunkan namja yang terbujur kaku itu.

 

Namja itu perlahan membuka matanya. Soo Yeon sangat lega. Namja itu bertanya pada Soo Yeon.

           

“ kau siapa? Ini dimana? “ ucap namja itu.

            “ tak perlu tanyakan hal itu dulu. Lebih baik sekarang, kita kerumah ku sekarang. Apa kau bisa berjalan? “ ujar Soo Yeon.

 

Soo Yeon dengan perlahan menuntun namja itu menuju rumahnya. Namja itu memiliki sedikit cedera pada kakinya. Akhirnya Soo Yeon merangkulnya dan membantu berjalan perlahan. Karna hari masih sangat dini, tak seorang pun terlihat untuk membantu Soo Yeon saat itu.

 

            Sampai dirumahnya, Soo Yeon membawa Namja itu masuk dan membiarkan namja itu untuk berbaring dikasurnya. Awalnya Namja itu masih sadar, tapi tak lama kemudian ia tak sadarkan diri.

           

“ Loh? Apa dia tidur? Yasudahlah.. ini sudah pukul lima pagi aku harus segera berangkat mengantarkan koran – koran itu.. “ Desah Soo Yeon.

 

Soo Yeon mengambil Jacketnya dan juga sepatunya. Dengan sepedanya, ia berangkat bekerja mengantarkan Koran dan susu ke beberapa rumah. Menggowes sepedanya perlahan dalam cuaca sedingin ini. Ia menyiapkan koran – koran yang harus di antarkan.  Karna sudah terbiasa dengan pekerjaan ini, Soo Yeon sudah sangat hafal alamat rumah – rumah yang harus ia datangi.

           

“ Selamat Pagi.. Koran dan susunya sudah ku letakkan ya~ “ begitulah ucap Soo Yeon saat mengantarnya ke Setiap rumah yang ia datangi.

 

Banyak penduduk yang mengenal Soo Yeon sebagai sosok yang manis dan baik hati. Soo Yeon sendiri jarang mempunyai teman dekat. Meskipun Soo Yeon masih sekolah di bangku universitas, teman – temannya justru mengenal Soo Yeon sebagai sosok yang penyendiri. Setelah mengantarkan koran – koran itu sampai pukul sembilan setengah tujuh pagi, Soo Yeon harus segera bersiap – siap lagi menuju kampus yang tak jauh dari rumahnya. Soo Yeon tak pernah sempat untuk sarapan dirumah. Jadi, ia selalu membawa bekal kampusnya.

 

Sampainya dikampus, Soo Yeon selalu berusaha keras untuk menyelesaikan semua skripsinya dengan baik. Nama Soo Yeon dikenal baik oleh para dosen. Menyelesaikan mata kuliahnya dengan cepat, Soo Yeon beruasaha untuk pulang cepat setiap harinya. Apa lagi hari ini ia tau ada seseorang dirumahnya.

           

“ Chogiyo~ (permisi) “ ujar Soo Yeon masuk kedalam rumahnya. Soo Yeon melihat keseluruh ruangan rumahnya.

            “ loh? Namja itu tidak ada.. apa dia masih belum sadarkan diri? “ tanya Soo Yeon. Ia langsung pergi kekamarnya. Dengan mengetuk pintu terlebih dahulu, Soo Yeon masuk dengan perlahan. Dilihatnya Namja itu masih terbaring di ranjangnya.

            “ eh? Masih belum bangun ya? ini sudah pukul tiga sore. Artinya .. dia sudah sepuluh jam terbaring disini. “ Soo Yeon memeriksa denyut nadi dan pernafasan namja itu.

            “ Tapi syukurlah.. denyut nadi dan pernafasannya masih cukup baik. “ Desah Soo Yeon.

 

Sebenarnya Soo Yeon ingin membawa namja itu ke Rumah sakit. Namun, selain tidak ada kendaraan dan biaya, Soo Yeon juga tidak tau siapa anggota keluarga namja ini yang bisa dihubungi. Soo Yeon beruasaha merawat namja itu dengan baik. Ia membersihkan wajah, tangan dan kaki namja itu setiap hari.

           

“ uwaaa… Namja ini memiliki wajah yang cukup tampan. Apa.. dia orang baik hati? Atau jangan – jangan.. dia orang jahat? Makanya dia dibuang ke pantai itu?! Ah.. tidak – tidak.. tenang, Soo Yeon! Tenang! “ ucap Soo Yeon berbicara sendiri.

 

Soo Yeon duduk disamping namja itu sambil memperhatikan wajahnya. Soo Yeon memikirkan banyak hal saat memperhatikannya. Siapa namja itu? Berapa usianya? Berasal dari dearah mana? Dan .. kenapa dia bisa berada di pantai itu dalam keadan banyak luka di tubuhnya?.

           

“ Ah.. sudahlah. Lebih baik aku merawatnya dahulu sampai ia sadar. Baru aku menanyakan semua hal itu. Iya kan?.. “ ujar Soo Yeon meninggalkan namja itu.

 

Saat Soo Yeon membalikkan badannya perlahan. Sebuah tangan tiba – tiba menarik tangan Soo Yeon. Sontak saja Soo Yeon terkejut. Ia berbalik badan lagi dan melihat namja itu. Rupanya memang benar tangan namja itu yang menarik tangan Soo Yeon. Tapi, saat Soo Yeon melihatnya. Hanya tangannya saja yang bergerak. Matanya sama sekali tidak terbuka. Sepertinya ia belum sadar juga.

           

“ terus kalau ia belum sadar, kenapa dia bisa meletakkan tangannya itu sembarangan?..  “ Soo Yeon Bertanya – tanya.

 

Hari sudah mulai gelap. Soo Yeon masih membersihkan rumahnya. Belum lagi, ia harus belajar untuk mata kuliah besok. Sesekali matanya melirik kearah kamar. Tentu saja Soo Yeon begitu penasaran, kira – kira kapan namja itu akan terbangun. Kemudian, ia akan membuang pandangannya dengan tersenyum.

            “ Tok! Tok! Tok! “ seseorang mengetuk pintu rumah Soo Yeon. Soo Yeonpun segera membukakan pintu.

“ ah.. ahjumma. Ada apa? Silahkan masuk. “ ucap Soo Yeon mempersilahkannya masuk.

“  tidak usah repot – repot. Bibi hanya ingin memberikan ini untukmu.. “ ucap ahjumma itu.

“ Surat ? “ ..

            “ bibi rasa itu dari kakekmu.. “ desah ahjumma.

            “ ah.. sepertinya memang begitu. Terima kasih banyak, bi. “ ucap Soo Yeon.

 

Soo Yeon masuk kedalam dan menutup kembali pintu rumahnya. Duduk didepan mejanya, dan membuka satu persatu surat – surat itu. Soo Yeon terlihat dibuat kesal oleh isi surat – surat itu. Soo Yeon mengambil handphonenya dan menelefon seseorang.

           

“ Yeoboseyo.. “ ujar Soo Yeon. Soo Yeon menghela nafas.

            “ Kakek!!!! “ teriak Soo Yeon.   

“ ini Yeon ya? “ tanya kakek itu.

“ menurut kakek siapa lagi?! “

“ kau ini kenapa? Setiap menelfon kakek, selalu marah – marah.. “

“ bagaimana mungkin yeon nggak marah, kek! Kakek selalu mengirim surat – surat ke Yeon! “

“ memangnya kenapa? “

“ kakek! Yeon kan sudah pernah bilang, kalau ada yang dibicarakan kakek bisa langsung telfon yeon! Kenapa terus – menerus mengirimkan surat?! Apalagi, kakek selalu mengirimkan surat – surat ini ke alamat ahjumma Kim! Yeon kan tidak enak padanya, kakek.. “ ucap Soo Yeon marah – marah.

“ kau bilang alamat rumahmu itu nomor 13.. “ kata kakek.

“ bukan nomor 13, kakek!! Tapi nomor 13 A! Blok rumah kami berbeda kakek! Kalau kakek tidak mencantumkan huruf A dibelakangnya, sudah pasti alamatnya jadi salah! sudah berakali yeon kasih tau ini kekakek?! “

“ iya.. iya.. Kakek minta maaf. “

“ ishh.. setiap mengirimkan surat, setiap kali itu juga kakek minta maaf seperti ini. Tapi, masih juga diulang. “

“ makanya, kakekkan sudah bilang padamu. Kau pulang saja kerumah. Nenek juga rindu padamu.. “ ucap kakek.

“ kakek.. aku juga sangat rindu pada kakek dan nenek. Tapi Yeon tetap belum bisa pulang. Yasudah! Yeon tutup dulu telfonnya. Sampaikan itu pada nenek ya, kek. Jaljayo~ “ Soo Yeon menutup telfon.

 

 

Soo Yeon tersenyum kecil dan ia melanjutkan belajarnya. Waktu terus berjalan. Waktunya makan malampun tiba. Sebelum itu, Soo Yeon harus memasak dan menyiapkan semuanya terlebih dahulu. Karna namja itu belum bangun, Soo Yeon hanya perlu memasak untuk dirinya sendiri. Tak perlu banyak waktu untuk memasak satu porsi makanan.

 

            “ ah.. kenyangnya~ ini pukul berapa ya? “ Soo Yeon menengok kearah jam dinding.

            “ jam delapan?.. sekarang, aku harus menyiapkan buku – buku untuk mata kuliah besok. Lalu, aku bisa tidur nyenyak.. “ Desah Soo Yeon.

 

Soo Yeon memasukkan buku – bukunya satu persatu. Mengecek kembali apa ada tugas yang belum ia selesaikan. Setelah itu, Soo Yeon bersantai dengan duduk di sofanya.

 

            “ sekarang.. aku sudah sangat lelah. Aku harus segera masuk dan tidur.. “ ucap Soo Yeon.

 

Soo Yeon berjalan menuju kamarnya. Dibukanya pintu itu perlahan. Saat ia melihat namja di ranjangnya, Soo Yeon terkaget – kaget.

 

            “ hah?… aku lupa.. ada namja itu di ranjangku. Sekarang, aku harus tidur dimana?.. sepertinya hanya itu satu – satunya ranjang yang kupunya. Apa aku punya ranjang lipat satu lagi ya??.. “ ujar Soo Yeon.

 

Ia berjalan ke lemari di kamarnya. Berharap masih ada satu lagi ranjang untuknya, Soo Yeon mencari dengan seksama. Dia keluarkan beberapa barang yang tertumpuk dilemarinya.

 

            “ ketemu!!! Ah.. syukurlah. “ desah Soo Yeon lega.

 

Soo Yeon menyusun kembali barang – barang yang ia keluarkan tadi. Setelah rapih semuanya, sekitar satu meter dari namja itu.. Soo Yeon menggelar kasurnya dan segera berbaring.  

 

            “ akhirnya, bisa berbaring juga.. untungnya masih ada satu ranjang lagi. Kalau tidak, aku mau tidur dimana.. “ desah Soo Yeon.

 

Perlahan menutup matanya, Soo Yeon yang begitu kelelahan mulai tertidur. Karna harus mencari ranjang tadi, Soo Yeon jadi lebih lelah dari hari biasanya. Sekarang akhirnya ia bisa tertidur pulas.

 

 

            Setelah hari itu, Soo Yeon menjalani hari – harinya seperti biasa. Tentu saja, sekarang, ia juga harus merawat namja itu. Soo Yeon tidak merasa terbebani dengan ada namja itu. Meskipun ia harus menjaganya setiap hari, karna namja itu belum sadarkan diri, itu berarti Soo Yeon belum perlu membuatkannya makanan. Dan juga belum perlu membelikannya obat – obatan. Tapi, Soo Yeon sangat berharap namja itu bisa terbangun dengan keadaan baik – baik saja. Soo Yeon sangat ingin mendengar penjelasan panjang yang akan namja itu ceritakan jika ia terbangun nanti.

 

Sudah tiga hari berlalu. Tiga hari pula namja itu belum juga terbangun. Soo Yeon mulai khawatir dengan keadaannya. Tapi, apa yang dapat ia lakukakan? Hari – harinya tetap ia jalani. Sampai pada pulang kuliahnya, Soo Yeon menggowes sepedanya dengan cepat. Semakin hari, Soo Yeon semakin mengkhawatirkan namja itu.

 

Dibukanya pintu rumahnya dengan segera ia berlari menuju kamarnya untuk melihat keadaan namja itu.

 

            “ dia harusnya sudah bangunkan?.. iya.. dia sudah harus bangun! Ini sudah hari ke tiga!.. “ Desah Soo Yeon risau.

 

Soo Yeon membuka pintu kamarnya perlahan. Dan saat pintu itu sudah terbuka, dilihatnya namja itu masih terbaring disana. Soo Yeon langsung terjatuh dalam posisi duduk. Air mata mulai mengalir.

 

            “ kenapa?.. kenapa belum bangun juga..? tapi.. kenapa aku sampai menangis begini?.. aku.. aku.. aku sangat khawatir! Kau ini siapa?! Kenapa sudah tiga hari kau tertidur! Kenapa tidak mau bangun! “ kesal Soo Yeon.

 

Soo Yeon berdiri perlahan dan meninggalkan kamarnya. Saat Soo Yeon berjalan keluar dan menutup pintu kamarnya, dilihat seseorang berdiri didapur sendirian.

 

            “ i.. itu.. siapa ya? “ tanya Soo Yeon.

 

Dengan keberaniannya ia mendekat. Tapi, saat Soo Yeon baru mau berjalan, orang itu berbalik dan menengok kehadapan Soo Yeon. Soo Yeon terkejut setengah mati.

 

            “ ka.. kau?!!!!! Kau  bukannya … “ mendadak Soo Yeon berbicara terbata – bata.

 

Soo Yeon sangat terkejut karna yang ia lihat, seseorang yang ada dihadapannya itu adalah namja yang terbaring di ranjangnya di kamarnya tadi. Soo Yeon kembali kekamarnya dan melihat namja itu sekali lagi. Tapi rupanya namja itu masih terbaring disana.

 

            “ a.. apa – apaan ini.. apa aku sudah gila ya? “ ucap Soo Yeon ketakutan.

            “ siapa yang gila? “

            “ YYYYYAAAAAA!!!!!! “ teriak Soo Yeon yang sangat terkejut sampai terjatuh itu.

            “ k..k..kau? kenapa kau berdiri disitu? Kau kan masih terbaring diranjang?.. “ tanya Soo Yeon.

            “ eh? Iya ya.. kau benar juga. Kenapa aku bisa berdiri disini? “

            “ kenapa berbalik bertanya?!.. “ bentak Soo Yeon.

            “ eh.. iya.. maaf maaf.. “

            “ lalu.. kenapa luka – luka mu sudah tidak ada? Bahkan kau sudah bisa berjalan? “ tanya Soo Yeon lagi sambil memperhatikan kaki namja itu.

            “ ah.. aku tidak tau. Oh, iya ngomong – ngomong, bisakah kau buatkan makanan untukku? Aku sangat kelaparan.. “

            “ jadi, itu sebabnya kau kau berjalan menuju dapur ya? “ kata Soo Yeon. Namja itu mengangguk.

 

Soo Yeon berjalan ke dapur dan membuatkannya makanan. Ia meletakkannya diatas meja dan mempersilahkan namja itu untuk makan.

 

            “ ini.. cepat makan.. “ kata Soo Yeon.

            “ ah? Apa ini? .. aku mana bisa memakan semua ini? “

            “ loh, kenapa? “ tanya Soo Yeon.

            “ aku hanya bisa makan daging setengah matang.. “

            “ mwo ya?!!! “ Soo Yeon terkejut.

            “ … “ namja itu hanya tersenyum.

Soo Yeon pun memasakkan daging yang diminta itu. Dengan penuh keheranan. Mata Soo Yeon tak bisa berpindah dari kaki namja itu.

            “ kenapa lukanya bisa hilang? .. “ Soo Yeon terheran – heran.

 

Tiba – tiba Soo Yeon memikirkan sesuatu. Dengan pemikirannya itu, Soo Yeon berjalan dengan sangat perlahan menuju kamarnya lagi. Soo Yeon membuka selimut yang menutupi namja yang terbaring itu. Soo Yeon melihat luka yang ada dikaki namja itu.

           

            “ lukanya.. lukanya masih ada.. bahkan dengan keadaan ini, mana mungkin dia bisa berjalan? .. “ Soo Yeon bertanya – tanya.

            “ kenapa terus melihat luka itu? .. “

            “ … YYAA! .. “ teriak soo yeon.

            “ kenapa harus selalu membuatku terkejut?! “ bentak Soo Yeon.

            “ tunggu sebentar! … kenapa kau bisa masuk kekamar, padahal pintu kamarnya sudah kukunci terlebih dahulu tadi.

            “ … “

            “ terus.. saat aku melihatmu didapur, tiba – tiba kau sudah ada dikamar. Padahal aku tidak mendengar bunyi pintu terbuka maupun tertutup tadi. “ kata Soo Yeon.

“ eh?.. masih belum tau juga ya? “

“ … “

“ JANGAN – JANGAN!!!!! … “ teriak Soo Yeon.

“ ke – kenapakau malah tersenyum begitu?! “ Soo Yeon ketakutan.

“ apa yang kau fikirkan itu memang benar! Aku ini Hantu! .. kau percaya itu? .. “

“ a.. apa maksudmu? “ tanya Soo Yeon.

“ Namja yang kau tatap itu, sudah tidak sadarkan diri selama lebih dari 3 x 24 jam .. nah, pada saat itu arwahnya… yaitu ‘aku’ bebas berkeliaran. Tapi, aku hanya bisa berkeliaran tidak lebih dari 15 meter dari sisi orang yang begitu penting bagi jasadku yaitu ‘kau’ “

“ KKKKYYYYYAAAAA!!!!! “ Soo Yeon berteriak untuk yang kesekian kalinya.

 

 

 

 

TO BE CONTINUED at Part #2 ..

SEE YOU^^~

                                                                                     

Tagged: , , ,

5 thoughts on “(FF) Truth – Part 1

  1. Jung Clara Januari 19, 2014 pukul 10:26 pm Reply

    Annyeong thor…slam knal…aq new readers…jd itu co jd hantu???emg nya knp sooyeon gag pulang k rmh kakek n nenek nya???lanjut thor….

  2. unniechan Januari 20, 2014 pukul 1:42 am Reply

    jadi namja itu jadi hantu? wahh,, penasaran sekali bagaiman kelanjutanbnya dan sipa namja itu? kenapa dia bisa jadi hantu? eon ditunggu kelanjutannya ya?🙂

  3. jessica89j Januari 20, 2014 pukul 1:54 pm Reply

    Daebak ceritanyaa.. Lanjut yaaa

  4. Lala dila Januari 21, 2014 pukul 2:12 pm Reply

    Yahhh eonni jahat amat si hae jadi hantu .
    Hadeuhhhh gmn sih ???
    Q msih bngung .
    Lanjut yah eon

  5. ElizElfishy Desember 8, 2014 pukul 3:21 pm Reply

    I like it. D’tunggu part selanjutnya thor

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: