(OS) Faithfulness


aureliachandra1707 present

 Faithfulness

Faithfulness

“I’ll let you go, but I can’t  forget this feel”

 

A Story with Kim Hyoyeon as the main cast.

And Kim Jong In, Krystal Jung, & Kris Wu as the minor casts.

 

Genre this story is Angst,and Friendship.

 

Length this story is One-shot.

 

Ini lah aku, orang bodoh yang selalu percaya bahwa kesetiaan akan membawa ku pada hidup bahagia. Orang bodoh yang selalu percaya kesetiaan akan membuat semuanya kejalan yang benar. Orang bodoh yang selalu memegang teguh kesetiaan apapun yang terjadi.

 

The Story Start Here.

 

            Kim Hyoyeon, seorang wanita cantik berambut blonde yang sangat populer. Siapa yang tidak kenal dengan wanita yang satu ini? Wanita cantik yang memiliki senyum yang luar biasa menawan, memiliki sifat ke-ibuan, ahli dalam bidang memasak dan juga dance. Dance? Ayolah jangan bicarakan seberapa ahli wanita yang satu ini dalam bidang dance. Kim Hyoyeon akan terlihat lebih cantik, ah coret itu, dia akan terlihat jauh lebih cantik dan juga sexy saat dia menari. Percaya lah kau akan langsung jatuh cinta saat melihatnya menari.

 

            Tidak kah kita melewatkan 1 hal dari wanita goddess ini? Cinta. Siapa yang tau tentang percintaan Kim Hyoyeon? Tak ada satupun orang yang mengetahui tentang percintaan wanita cantik ini. Tidak mungkin alasannya karna tak ada pria yang ingin bersamanya, kalian bercanda? Jutaan pria ingin bersanding dengannya. Mungkin kata ‘trauma’ sudah cukup untuk menceritakan kenapa Hyoyeon tidak terlihat memiliki hubungan dengan pria mana pun. Tidak hanya trauma akan percintaan, tapi Hyoyeon juga masih ragu untuk memberikan kesetiaannya-lagi-.

 

Flashback

 

            Dinginnya angin malam di kota Seoul berhembus, membuat seorang wanita yang memiliki nama Kim Hyoyeon itu mengusap kedua lengannya. Hyoyeon tengah berada pada balkon dorm-nya.

            “Eonnie, jika kau terus disana, kau bisa sakit” cemas sang maknae.

            “Aku akan baik-baik saja Seohyun-ah” balas Hyoyeon tanpa mengalihkan pandangannya. Tangannya menggenggam ponsel miliknya, menunggu telfon atau paling tidak pesan singkat masuk kedalam ponsel itu sepertinya.

            “Eonnie makan lah dulu” ucap Seohyun lagi. Seohyun sudah sangat mencemaskan Hyoyeon yang sejak tadi berdiam diri di balkon.

            “Kau makan saja duluan, aku akan menyusul nanti” jawab Hyoyeon. Kini ia menunjukan sebuah senyuman pada Seohyun untuk menunjukan padanya bahwa ia baik-baik saja.

            Seohyun menghembuskan nafasnya lalu menganggukan kepalanya lalu pergi meninggalkan Hyoyeon sendiri.

            “Aku saja yang bodoh masih setia menunggu telfon dari-nya. Ayo lah Kim Hyoyeon, Jong In sudah memiliki Krystal sekarang, untuk apa dia menghubungi mu?” tanya-nya pelan pada dirinya sendiri. Dalam hati ia merutuki ke-bodohannya untuk terus menerus mengganggam ponsel menunggu panggilan masuk dari seorang Kim Jong In. Hyoyeon meletakan ponselnya di kursi yang sejak tadi ia tempati, lalu ia pergi menuju kamar mandi untuk membasuh wajahnya.

 

            2 jam sudah berlalu, jam sudah menunjukan pukul 10 malam. Tapi tak satu-pun member SNSD yang terlihat sudah tertidur, mereka semua masih berkumpul didepan televisi kecuali 2 orang, Im Yoona & Choi Sooyoung. Tak lama kemudian terdengar langkah kaki memasuki dorm SNSD ini. Mungkin 2 orang yang belum pulang, atau mungkin manager mereka.

            “Demi Tuhan Kim Hyoyeon!” terdengar suara Sooyoung saat ia memasuki ruang tengah.

            “Mwoya?” tanya Hyoyeon dengan mulut penuh ramen. Entah lah, padahal dia sudah makan sebelumnya. Tapi ia ingin makan ramen malam ini.

            “Aku menghubungi mu puluhan kali! Pantas saja kau tak membalasnya, kau tinggalkan ponsel mu disini eoh?!” kesal Sooyoung sembari memegang ponsel Hyoyeon yang ia temukan tergeletak di kursi yang ada di balkon.

            Hyoyeon langsung membuang pandangan dari Sooyoung dan kembali fokus menghabiskan ramen milik-nya.

            “Ada missed-call dari Kai”

            Hyoyeon langsung hendak mengambil ponsel miliknya yang ada di tangan Sooyoung.

            “Kau hanya peduli jika ada panggilan dari Kai huh?”

            “Tsk, Tidak bisa kah kau tidak membawa nama Kai jika ingin mengerjai ku?”

            “Mengerjai apa? Oh.. tentang missed-call itu? Aku tidak berbohong” Sooyoung langsung mengembalikan ponsel milik Hyoyeon kepada pemiliknya.

            Hyoyeon pun langsung memeriksa ponsel itu, dan benar saja yang Sooyoung katakan. Nama Kim Jong In terselip di antara nama Choi Sooyoung di kotak missed-call.

 

            Jadi dia masih ingat untuk menghubungi ku? Meskipun hanya sekali. Batin Hyoyeon seraya menuju kamarnya sekaligus menggenggam ponselnya. Sesampainnya Hyoyeon dikamar yang ia gunakan bersama Seohyun pun, ia langsung menghubungi Jong In.

            “Yeoboseyo” terdengar ada jawaban dari sebrang.

            “Eoh, ada apa kau menghubungi ku?”

            “Kau terdengar tidak senang aku menghubungi mu” protesnya.

            Aku tidak senang bukan karna kau menghubungi ku, tapi karna kau hanya menghubungi ku sekali. Batin Hyoyeon “Iya, aku tidak senang kau menghubungi ku. Ada apa? Tentang Krystal kah?” kumohon katakan tidak, katakan tidak. Hyoyeon memohon dalam hatinya.

            “Kau benar-benar tau aku noona-ya” Hyoyeon tau betul, pasti saat ini Jong In tertawa kecil.

            Iya, aku memang terlalu mengetahui dirimu Jong In-ah, dan aku berharap aku tidak mengetahui mu sama sekali Batin Hyoyeon. Entahlah tapi setiap kali sedang Menelfon Jong In, Hyoyeon akan selalu bicara pada dirinya sendiri, membatin dan merutuki dirinya sendiri karna mau menanggapi Jong In yang selalu saja membahas Krystal.

            “Noona? Kau masih disana?” suara Kai menyadarkan Hyoyeon dari lamunannya.

            “Iya, jadi apa yang ingin kau katakan pada ku?”

            “Kau sedang kelelahan ya noona? Atau sedang kesal?”

            Aku kesal pada mu, aku sangat kesal pada mu. “Sedikit lelah mungkin”

            “Benarkah? Kalau begitu kau istirahatlah noona. Aku tidak mau kau sakit”

            Benarkah kau tidak mau aku sakit? Benarkah kau mengkhawatirkan ku? “Lucu sekali kau mengkhawatirkan ku. Oh mungkin aku harus bilang pada Krystal bahwa kau mengkhawatirkan ku”

            “Ah… Noona-ya! Kau tidak bisa melakukan itu! Kalau Krystal marah pada ku bagaimana?”

            Oh ya, bodohnya aku untuk benar-benar berfikir bahwa Kim Jong In masih sempat benar-benar mengkhawatirkan ku. “Lalu jika Krystal marah pada mu, ada urusannya dengan ku? Demi Tuhan, aku tidak akan pernah memperdulikan itu Kim Jong In”

            “Eii jadi kau tidak peduli jika adik tampan mu ini bersedih eoh?”

            “Aku bahkan baru tau aku memiliki 2 adik laki-laki”

            “Jadi kau tidak pernah menganggap ku sebagai adik mu? Noona, aku marah pada mu”

            Bagaimana mungkin aku menganggap mu adikku sementara aku memiliki perasaan pada mu? “Untuk apa aku peduli jika kau marah pada mu, sementara kau tidak pernah peduli saat aku marah pada mu?”

            “Noona… Jadi kau marah pada ku? Jadi sikap mu yang tiba-tiba berubah ini karna kau marah pada ku? Katakan pada ku kenapa kau marah pada ku”

            Karna aku lelah harus terus mendengar kau bercerita tentang hubungan mu dan Krystal! Tak bisa kah kau mengerti itu? “Kau pikir saja sendiri. Sudah aku mau tidur”

            “Noona! Tunggu dulu, bilang dulu kau kenapa? Kau patah hati?”

            Itu kau tau! Tapi tetap saja terus membahas hubungan mu pada ku! Dasar bodoh! “Kalau iya kau mau apa?”

            “Menyatukan hati mu mungkin?” jawab Jong In dengan nada tak yakin.

            “Aku rasa aku memang harus mengatakan ini pada Krystal”

            “Noona…”

            “Sudah ya” Hyoyeon langsung memutuskan panggilan itu. Untuk beberapa saat ia masih menatap layar ponselnya, berharap Jong In kembali menelfonnya. Tentu saja hasilnya nihil, akhirnya Hyoyeon memutuskan untuk membaringkan tubuhnya di atas kasur dan membiarkan ponselnya tergeletak di atas meja yang terletak di dekat kasur yang ia gunakan.

Ayolah Kim Hyoyeon.. mau sampai kapan kau terus bertahan dengan kesetiaan mu ini? Sudah 7 bulan kau biarkan hati mu tersakiti demi mempertahankan kesetiaan ini. Jelas-jelas kau sudah tau, bahwa Jong In hanya mencintai Krystal dan hanya mengganggap mu sebagai noona-nya, apa lagi sih yang kau harapkan? Kau masih ingin disakiti oleh Jong In? Kau masih ingin mendengar ocehan Jong In tentang Krystal? Kau masih ingin berkhayal hal-hal bodoh tentang mu dan Jong In? Demi Tuhan Kim Hyoyeon kau bodoh sekali. Batin Hyoyeon merutuki dirinya sendiri sebelum ia benar-benar tertidur.

 

Next Day

 

            Hyoyeon berjalan sendirian di tengah SM Building. Tidak, ia tidak ada jadwal latihan dengan member SNSD hari ini, apa lagi meeting sendirian dengan salah satu orang penting di SM Entertaiment, rasa-nya sulit baginya untuk mengalami hal semacam itu. Hari ini Hyoyeon tidak memiliki jadwal kecuali perform bersama para member nanti malam, jadi dirinya memutuskan untuk menghabiskan waktunya di ruang latihan, meluapkan semua kekesalannya pada dirinya atau mungkin pada pria bernama Kim Jong In itu, menghukum dirinya sendiri atas kebodohannya karna masih saja memegang teguh kesetiannya pada Kim Jong In.

            Damn! Pemandang buruk di pagi hari huh? Batin Hyoyeon saat dirinya mendapati sosok yang sedang membuatnya kesal setengah mati-Kim Jong In- tengah berbicara dengan sosok pacar-nya yang juga seperti rival bagi Hyoyeon, yap Jung Krystal.

 

            Akhirnya Hyoyeon memutuskan untuk memasang earphone-nya dan berpura-pura tidak menyadarai kehadiran dua sejoli itu. Ia berjalan hampir melewati pasangan itu sembari berdoa semoga kedua-nya tidak ada yang menyadari kehadirannya. Tidak mungkin kan dia harus kembali ke-dorm dan membatalkan semua rencana-nya di ruang latihan hanya karna dua sejoli yang seharusnya tidak bersama ini?-well, menurut hyoyeon.

            Tepat setelah beberapa meter Hyoyeon melewati Jong In dan juga Krystal, ada sebuah tangan yang menahan tangannya. Mungkin seharusnya aku berlari saja tadi, kau bodoh Kim Hyoyeon. Lagi-lagi Hyoyeon merutuki kebodohannya.

            “Noona? Kau ada disini!” ucap Jong In dengan nada bahagia.

            Cih, berpura-pura bahagia saat bertemu dengan ku padahal kau tak pernah memikirkan ku. “Ah ada kalian?” Hyoyeon melepas earphone yang memang sejak tadi tidak memutar lagu apapun namun terpasang di telinga-nya.

            “Annyeong eonnie” sapa Krystal pada Hyoyeon.

            Hyoyeon hanya membalas sapaan Krystal dengan senyuman yang dipaksakan.”Kalian lanjutkan lah apa yang sedang kalian lakukan, aku hanya numpang lewat” Hyoyeon kembali menunjukan fake-smile nya.

            Tangan milik Jong In kembali menahan tangan Hyoyeon.

            God, harus berapa lama lagi aku melihat mereka berdua?! “Hey kau, mau sampai kapan kau memegang tangan ku?” ucap Hyoyeon dengan nada datar.

            “Sebentar ya noona” Jong In menjauh dari Hyoyeon mendekat ke arah Krystal, membisikan beberapa kata padanya. “Kita harus bicara” Jong In langsung menyeret Hyoyeon untuk mengikutinya.

            “Tunggu dulu” ucap Hyoyeon, Jong In pun langsung menghentikan langkahnya. “Pertama, lepaskan tangan mu ini, aku bisa jalan sendiri tanpa harus kau seret-seret” Jong In langsung melepas-kan genggaman tangannya. “Kedua, Ayolah, tidak ada ‘kita’ Kim Jong In, hanya ada kau dan aku. Yang terakhir, sepertinya tidak ada yang harus kita bicarakan.” Hyoyeon hendak berbalik arah dan memutuskan untuk pergi saja dari SM Building. Tapi lagi-lagi, tangan Jong In menahannya. Jinjja! Sebenarnya apa sih yang dilakukan dia? Menahan tangan ku terus menerus! Kim Jong In seharusnya kau mengerti bahwa aku menghindari mu! Batin Hyoyeon kesal.

            “Kenapa kau menghindari ku sih noona? Ada apa dengan mu?”

            Jadi kau menyadarinya huh? Batin Hyoyeon. “Aku hanya ingin pergi dari sini, salah?”

            Jong In menghembuskan nafasnya, lalu kembali menyeret Hyoyeon menuju salah satu ruang latihan. “Kita harus meluruskan semua masalah yang ada diantara kita–“

            “Tidak ada ‘kita’ Kim Jong In”

            “Iya, diantara kau dan aku”

 

            Mereka pun sudah berada didalam ruang latihan sekarang. Tempat ini adalah tempat pertama kali Hyoyeon bertemu dengan Jong In, saat itu Jong In masih seorang trainee dan Hyoyeon diminta untuk mengajarkan beberapa gerakan dance pada para trainee.

            “Harus ya, kau membawa ku ketempat ini?” tanya Hyoyeon membuka percakapan.

            “Noona, aku tidak mau ada masalah diantara kita-ah bukan, diantara kau dan aku. Jadi bisa kan kita selesaikan semuanya sekarang?” ucap Jong In tanpa memperdulikan pertanyaan Hyoyeon.

            “Memangnya kenapa kalau ada masalah diantara kau dan aku? Memangnya kau memperdulikannya?”

            “Kan sudah ku katakan aku tidak mau ada masalah diantara aku dan kau noona…”

            “Mungkin tidak ada masalah diantara kau dan aku, ini hanya masalah diantara diriku dan perasaan bodoh ini.”

            “Apa maksudmu noona?”

            “Ah sudahlah lupakan saja. Jadi masalahnya sudah selesai” Hyoyeon hampir keluar dari ruang latihan itu. Terlalu lama berada didalamnya membuat Hyoyeon kembali mengingat semua kenangan yang telah ia lalui bersama Jong In.

            Jong In kembali menahan tangan Hyoyeon. “Noona! Tak bisa kah kau berhenti menghindari ku?! Tak bisakah kau sudahi saja semua tingkah laku mu yang mendadak berubah ini?!” ucap Jong In agak berteriak, tapi bagi Hyoyeon, Jong In sudah membentaknya kali ini, untuk pertama kalinya.

            “Sebenarnya siapa yang berubah ha?” Hyoyeon menghempaskan genggaman Jong In. “Siapa yang membuat ku berubah? Kau yang membuat ku seperti ini Kai! Kau yang membuat ku berubah!” Hyoyeon sudah tidak peduli lagi dengan apa yang akan terjadi diantara dirinya dan Jong In, ia sudah lelah harus menutupi semuanya.

            “Memangnya apa yang aku lakukan hingga membuat mu berubah?” Jong In hendak memegang tangan Hyoyeon lagi, Jong In tidak mengerti apa yang sudah terjadi, tidak biasanya Hyoyeon memanggilnya dengan sebutan Kai, karna mereka sudah sepakat untuk memanggil satu sama lain dengan nama asli.

            Hyoyeon langsung menepis tangan Jong In. “Haruskah aku yang mengatakan ini? Aku bahkan tidak tau harus memulainya dari mana..” Hyoyeon tertawa pahit.

            Jong In memegang kedua tangan Hyoyeon. “Noona, aku tidak mau kehilangan sosok noona seperti mu…”

            Haha, benar kau hanya menatap ku sebagai seorang noona, bukan sebagai seorang wanita, mana mungkin kau mengerti apa yang aku rasakan? “Kau ingin masalah ini selesai kan? Aku yakin saat kau mengetahui kenyataan yang ada, kau yang akan menjauhkan diri dari ku” Hyoyeon menghembuskan nafasnya, matanya mulai memanas karna air mata yang ia tahan. “Baiklah aku akan menjelaskan semuanya pada mu, tapi aku minta jangan potong pembicaraan ku, dan jika kau membenci ku karna apa yang aku ucapkan, kau cukup pergi tinggalkan aku sendiri disini. Oke?” pinta hyoyeon.

            Jong In mengangguk lalu tersenyum.

            “Jujur saja, aku sendiri tidak mengerti kenapa aku begini. Awalnya aku biasa saja saat aku tau kau memiliki hubungan dengan Krystal, tapi tiba-tiba saja kau jadi selalu membahas Krystal setiap bicara dengan ku. Dulu kau sering menghubungi ku, kau tidak hanya menghubungi ku, tapi juga mengirimi ku pesan, mengajak ku makan bersama, mengajak ku latihan bersama. Tapi sejak kau pacaran dengan Krystal, semuanya berubah.. Kau hanya menghubungi ku saat kau butuh tempat untuk bercerita tentang Krystal, kau tidak pernah megirimi ku pesan, mengajak ku makan, apa lagi latihan bersama. Aku paham waktu mu pasti kau habiskan bersama Krystal, tapi..” Hyoyeon menundukan kepalanya, air matanya sudah tak sanggup ia bendung lagi. Hyoyeon-pun sudah tidak peduli lagi jika dirinya menyebut dia-Hyoyeon- dan Jong In sebagai ‘Kita’. “Tapi setidaknya pikirkan perasaan ku. Aku kehilangan sosok dirimu yang dulu. Bukankah dulu kita sudah berjanji akan selalu ada untuk satu sama lain jika salah satu dari kita sedang mengalami hal yang buruk? Kau dimana saat aku mengalami hal sulit? Kau dimana saat aku membutuhkan mu? Dulu, disaat aku kelelahan kau akan menyemangati ku, tapi sekarang? Kau hanya mengatakan ‘Kau istirahatlah noona, aku tidak mau kau sakit’ lalu beberapa saat kemudian, kau akan memutuskan panggilan. Aku tidak mengerti sebenarnya aku atau kau yang berubah? Aku atau kau yang melanggar janji kita?” Hyoyeon berusaha mengangkat kepalanya, air matanya sudah terlalu deras membasahi wajahnya. “Aku….Aku..Aku mencintai mu Kai…” Tidak mungkin hyoyeon menyebut Jong In pada saat ini, karna dia tau dia salah karna sudah jatuh cinta pada Jong In.

            Genggaman tangan Jong In merenggang, Jong In tidak tau harus bereaksi seperti apa sekarang. Hyoyeon benar, Jong In memang tidak ada disaat hyoyeon membutuhkannya, seharusnya is minta maaf pada Hyoyeon, tapi Hyoyeon jatuh cinta pada nya, ini juga tidak benar, seharusnya ia pergi dari ruangan ini tapi ia tidak mau benar-benar kehilangan sosok Hyoyeon. Akhirnya genggaman Jong In pun lepas dari tangan Hyoyeon. “Aku.. aku tidak tau, tapi aku hanya menganggap mu sebagai noona-ku. Aku rasa kau harus melepaskan ku dan juga melupakan perasaan mu terhadap ku noona.”

            Hyoyeon menghapus air mata yang sudah membasahi wajahnya. “Aku sudah tau aku harus melepas mu, tapi maaf aku tidak bisa melupakan perasaan ini.” Hyoyeon melihat ke-arah lain, menghindari mata Jong In. “Maaf-kan aku Kai” ucapnya.

            “Aku yang seharusnya minta maaf pada mu… Jeongmal Mianhaeyo noona-ya” Jong In melangkah mundur, semakin jauh dari Hyoyeon, dan akhirnya ia keluar dari ruangan itu.

 

            Kim Hyoyeon, kau mengulangi kebodohan mu untuk kesekian kali-nya! Kenapa kau harus mengatakannya pada Jong In?kau benar-benar ingin kehilangannya huh? Dan kenapa pula kau harus mengatakan bahwa kau tidak bisa melupakan perasaan sialan-yang sangat sangat sialan- ini?! Ya Tuhan.. Aku belajar untuk setia, tapi kenapa kesetiaan ini sangat menyakiti ku? Batin Hyoyeon. Pertahanannya sudah hancur, Air mata semakin membasahi wajah cantiknya. Tubuhnya terhempas ke lantai ruang latihan yang dingin.

            “Noona?” terdengar sebuah suara yang sudah pasti keluar dari mulut seorang pria.

            Hyoyeon langsung melihat ke-arah sumber suara. Itu Kris. Hyoyeon langsung menghapus air matanya. “Maaf, kau ingin menggunakan ruangan ini ya? silahkan” Hyoyeon langsung berdiri dan hendak keluar dari ruang latihan. Tapi, dia kembali terhempas ke lantai karna kembali mengingat kejadian beberapa menit yang lalu.

            “Noona!” Kris langsung menghampiri Hyoyeon. “Gwenchanayo?”

            Hyoyeon menggelengkan kepalanya. Tentu saja dirinya tidak sedang baik-baik saja. Hati-nya hancur, hancur berkeping-keping. Entah karna dirinya yang sudah disakiti oleh Kim Jong In atau karna dirinya yang sudah disakiti oleh kesetiaannya.

            “Menangis lah noona” Kris memeluk tubuh Hyoyeon. Kris tau mungkin ia salah melakukan hal ini, tapi ia tidak bisa membiarkan wanita cantik seperti Hyoyeon menangis. “Aku tadi melihat Kai keluar dari ruangan ini, apa ini semua ulah kai?” tanya Kris saat Hyoyeon sudah mulai tenang.

            “A-ku..T-tid-ak..Tau..” ucapan Hyoyeon terbata-bata karna dirinya baru saja selesai menangis.

 

            Entah mengapa, padahal Hyoyeon sudah mulai tenang. Tapi dirinya masih saja berada didalam pelukan Kris. Hyoyeon sama sekali tidak menolak atau pun marah atas perlakukan Kris yang tiba-tiba saja memeluknya.

            Seharusnya Jong In yang menenangkan ku disaat aku menangis, seharusnya Jong In yang memelukku, seharusnya Jong In yang ada disamping ku saat aku membutuhkannya. Batin Hyoyeon, hampir saja air mata kembali membanjiri pipi mulus milik Hyoyeon. Tetapi Hyoyeon langsung menahannya dan melepaskan pelukan Kris. “Maaf ya Kris, aku merepotkan mu”

            “Kau tidak merepotkan ku kok noona, Ini naluri sebagai seorang pria sejati. Jika seorang pria sejati melihat wanita menangis pasti pria itu akan menenangkan wanita itu” ucap Kris bermaksud untuk memperbaiki keadaan Hyoyeon.

            Hyoyeon tertawa kecil. Itu berarti Jong In bukan pria sejati? Dia meninggalkan ku begitu saja padahal dia melihat ku menangis batin Hyoyeon.

            “Noona, jika kau butuh tempat untuk bersandar, ah maksudku jika kau butuh teman untuk bercerita kau bisa menghubungi ku”

            Hyoyeon kembali tertawa kecil. “Kau mencoba merayu ku atau apa?”

            Kris pun ikut tertawa karna mengingat hal yang baru saja ia katakan. Tapi tentu saja ia tak memiliki maksud untuk merayu sunbae-nya itu. Kris hanya ingin bisa lebih dekat dengan Hyoyeon. “Tentu saja tidak noona, hanya saja aku jarang melihat kau bersama dengan Kai sejak Kai menjalin hubungan dengan Krystal. Siapa tau aku bisa menggantikan posisi Kai”

            Hyoyeon hanya tersenyum menjawab perkataan Kris. “Mungkin kau bisa” Hyoyeon langsung berdiri. “Sekali lagi aku minta maaf ya karna sudah merepotkan mu Wu Yi Fan”

            “Kan aku sudah mengatakannya kalau kau tidak merepotkan ku noona.”

            “Kau ingin berlatih ya? Boleh tidak aku melihat kau latihan?” pinta Hyoyeon. Hanya satu hal yang bisa membuat dirinya melupakan masalahnya ya, dance.

            “Aku keberatan jika noona hanya melihat ku. Aku mau kau membantu ku dalam dance noona

            “Kalau aku tidak mau?”

            “Aku akan memaksa mu”

            Detik berikutnya mereka tertawa bersama. Kris pun juga tidak mengerti kenapa dirinya sangat ingin bisa dekat dengan sunbae-nya yang satu ini. Biasanya Kris tidak mudah tertarik dengan seorang wanita. Tapi Hyoyeon.. Hyoyeon memiliki pesona-nya sendiri yang bisa membuat siapapun nyaman berada disampingnya.

 

            Kesetiaan… aku memang bodoh karna sudah membiarkan kesetiaan ku ini disia-siakan oleh Jong In. Mungkin kesetiaan memang akan membawa ku pada kebahagian, tapi jika aku memberikan dan mempercayakan kesetiaan ku ini pada orang yang tepat. Dan Kim Jong In bukan lah orang yang tepat. Aku harap dengan merenggang-nya hubungan diantara aku dan juga Jong In bisa membuat ku menghilangkan kesetiaan ini pada Jong In, menghapuskan semua perasaan bodoh ini pada Kim Jong In. Kim Jong In maaf kan aku karna aku sudah lancang jatuh cinta pada mu.

 

Flashback End

 

            Sejak saat itu Hyoyeon masih belum berani untuk membuka hatinya pada orang lain. Ia masih terlalu takut untuk jatuh cinta pada orang yang salah, ia terlalu takut hati-nya akan hancur lagi. Kesetiaan… Hyoyeon masih memegang itu. Tapi ia sudah mulai meragukan tentang kesetiaan yang akan membawanya pada kebahagiaan, tentang kesetiaan yang akan membawanya pada orang yang juga setia kepadanya, tentang kesetiaan yang akan membawanya kembali kejalan yang seharusnya ia tempuh.

 

-The End-

 

A/N:Changgg!!! Another HyoKai one-shot~~

Maaf ya lagi-lagi pair utamanya HyoKai :3

tapi maaf juga karna harus berakhir sad-ending L

 

Jujur aja, sebenernya author ga tau pair Kai-Krystal itu ada ato engga xD

Author cuma milih cast-nya random xD

Oh satu lagi, kalo kalian minta sequel untuk one-shot ini,

AUTHOR AKAN MENERIMA PERMINTAAN SEQUEL DENGAN SENANG HATI~

Tapi kali yang minta lebih dari 7 orang :3

Kenapa lebih dari 7 orang? Karna 7 itu angka favorit :3

 

Thanks ya buat kalian semua yang sudah membaca one-shot gajelas ini ^^

Thanks for reading my beloved reader *bow with all cast*

Tagged: , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: