(FF) The Love Book – Part 5


The Love Book

#Part 5

Untitled-23 

Author:

Chandra Syifa W

Main Casts:

Kim Bum | Kim So Eun

Casts:

Yoo Seung Ho | Go Ara | Lee Hyun Woo | Park Ji Yeon

Genre:

Romance – Friendship – Comedy

Length:

Chapter

Rating:

+12

Disclaimer:

I’m just own the story.

Typo always be applied.

Do not copy-edit-paste.

Kindly check out the previous part right here!

https://koreanfanfictland.wordpress.com/library/fan-fiction

Do leave your comment, please.

Thank you~

 

Last story on ‘The Love Book’

 

“Kim Bum”

            “Ah, ya, So Eun-ah?”

“Apa besok aku bisa bertemu denganmu? Sekaligus mengembalikan proposal milikmu, ini penting untukmu bukan?”

            “Ya, itu penting untukku. Tapi..”

“Kenapa?”

            “Ku rasa aku tidak bisa, untuk besok”

 

Wajah So Eun yang semula ceria kini berganti murung. Ia berpikir jika ia lebih cepat menyelesaikan naskahnya, novel nya akan segera diterbitkan. Tapi kini justru Kim Bum yang tak punya waktu untuknya.

 

“Kalau begitu aku yang akan datang ke kantormu. Bisakah???”

“Aku pun tak yakin bisa, So Eun”

            “Oh, begitu”

 

Hatinya mendadak menjadi sedih. Nada bicaranya pun terdengar pasrah di telinga Kim Bum. Untuk beberapa saat tak ada percakapan antara Kim Bum dan So Eun di ponsel mereka. Hingga Kim Bum kembali bersuara pada So Eun.

 

“Bagaimana kalau kau bertemu dengan temanku saja? Ia memiliki profesi yang sama denganku. Dia akan menggantikan ku untuk menerima naskahmu, hanya untuk besok”

            Mwo? Siapa?”

“Yoo Seung Ho, temanku yang datang bersama jiyeon saat kita bertemu tadi di restoran. Kau mengingatnya kan???”

 

– The Love Book –

 

Pada akhirnya, Kim So Eun tak punya pilihan lain selain menemui pria bernama Yoo Seung Ho. Rasanya ia ingin menolak habis-habisan dengan ide dari Kim Bum, namun apa hak nya? Baru saja saling mengenal, jika ia berani melakukan itu sudah pasti ia mendapat anggapan buruk. Lalu apa yang harus ia lakukan? Toh saat ini dirinya sudah berada di salah satu taman kota di Seoul. Begitu setia menunggu Seung Ho datang dengan memeluk naskah ceritanya. Benaknya sudah terpikirkan apa yang akan ia bicarakan untuk berbasa-basi dengan nya. Yang jelas, So Eun tak mau menyinggung hubungan masa lalu mereka yang cenderung sebentar. Hanya 5 bulan.

 

“Ingat So Eun, kau tidak boleh gugup di hadapannya”

“Yang hanya perlu kau lakukan adalah menyapa, memberikan naskah, setelah itu pergi. Ya, hanya itu saja. Mudah bukan?”

 

Bibir wanita itu terus menggumam sendiri, mensugestikan pikirannya agar ia tak bersikap bodoh di depan Seung Ho. Hingga tanpa ia sadari, pria itu sudah sampai di sana. Turun dari mobil sedan silvernya dan melangkah santai ke arah So Eun yang duduk di bawah pohon yang rindang. “Kim So Eun?”

“Oh, Yoo Seung Ho-ssi. Annyeong haseo

Annyeong haseo” Seung Ho membalas salam nya dengan ramah. “Boleh aku duduk?”

 

Anggukan diberikan oleh So Eun sebagai jawaban atas pertanyaan Seung Ho. Sedetik kemudian Seung Ho mendudukkan dirinya dengan nyaman di samping So Eun, memberikan sedikit jarak agar tidak menimbulkan asumsi yang macam-macam. Anggapannya, Seung Ho berusaha untuk bersikap seformal mungkin untuk menyesuaikan gadis itu. Ia cukup peka dengan tingkah So Eun yang terkesan menjaga jarak dengannya.

 

“Sudah menunggu lama? Tadi aku ada sedikit urusan di kantor, jadi tak bisa langsung datang ke sini” terang Seung Ho. “Aku juga ingin menghubungimu, tapi nomor ponselmu tidak aktif. Apa kau sudah berganti nomor?”

So Eun gugup untuk menjawab nya. Untung saja ia tak bisa menelfonku.

            “Ah, lupakan saja. Lagi pula kita juga sudah bertemu” Seung Ho memilih untuk mengganti topik pembicaraan mereka. “Jadi, dimana naskahnya?”

“Ini” Tangan So Eun memberikan tumpukan kertas naskah ceritanya pada Seung Ho.

 

Seung Ho menerima nya dengan apik agar kertas-kertas itu tetap rapih. Satu demi satu ia membaca naskah cerita buatan So Eun. Ia hanya menggunakannya sebagai sampling untuk mengetahui garis besar sistem penyusunan yang So Eun gunakan. Sesekali ia memicingkan matanya ketika ia menemui kata-kata yang kurang cocok. Dan So Eun yang memperhatikan nya berharap cemas. Ia mengharapkan penilaian positif dari mantan kekasihnya itu, sekedar meyakinkan dirinya sendiri jika ia memiliki kemampuan dan memang mampu melakukannya.

 

Hingga tangan Seung Ho bergerak ke halaman paling akhir, setelahnya ia tersenyum pada So Eun. “Kau berhasil”

“Maksudmu?”

“Penyusunan tulisanmu cukup rapih, tata bahasa dan tanda baca yang kau gunakan juga baik. Selain itu, resensi yang kau gunakan untuk menarik pembaca juga cukup baik. Kalimat yang kau tulis di sana memiliki daya tarik tersendiri. Karena untuk membuat novel romansa, setiap penulis perlu memiliki ciri khasnya. Terutama penulis baru sepertimu”

 

Akhirnya So Eun menghela nafasnya lega. Tak ia sangka Seung Ho akan memberikan penilaian sebaik ini padanya. Sementara Seung Ho, pria itu juga tak merasa masalah akan penilaian yang ia berikan. Sebagai salah seorang direktur penerbit buku yang terkenal, ia mengakui karya buatan Kim So Eun. Dengan mengesampingkan penilaian pribadi wanita tersebut sebagai mantan kekasihnya, pria itu tau jika ternyata So Eun memang berbakat untuk menjadi penulis.

 

Andai saja ia mengetahui hobi So Eun yang gemar menulis, mungkin dirinya yang akan menerbitkan novel perdana buatan So Eun. Bukan sahabat masa kecilnya, Kim Bum. Dunia rasanya sempit sekali.

 

Khamsahamnida, Seung Ho-ssi. Aku berhutang budi padamu”

“Tidak perlu berhutang budi, kau memang melakukannya dengan baik. Berbanggalah pada dirimu sendiri” Untuk kali pertama So Eun tersenyum di depan Seung Ho, setelah sekian lama mereka berpisah. “Aku akan memberikannya pada Kim Bum, ia pasti senang dengan hal ini”

“Benarkah? Terima kasih, maaf aku merepotkan mu” ujar So Eun lagi. Hatinya masih berbunga-bunga.

Kali ini giliran Seung Ho yang mengangguk. Hatinya seperti dilanda cinta lagi, bukankah tidak ada yang melarang juga? “Kalau begitu aku pamit dulu, Seung Ho-ssi. Terima kasih banyak untuk bantuan mu hari ini”

“Eh, kau mau langsung pulang?” tanya Seung Ho. “Bagaimana jika kita makan siang bersama? Ini sudah jam 1 siang, akan ku traktir apapun yang kau mau. Aku ingat ada tempat yang menjual sup kimchi yang enak di sekitar sini, itu kan favoritmu?”

 

Tak So Eun sangka jika Seung Ho masih mengingat hal-hal kesukaannya. Saat-saat dimana mereka masih terikat dalam sebuah hubungan pribadi, So Eun dan Seung Ho kan hanya bertemu untuk beberapa kali saja. Lalu bagaimana bisa Seung Ho masih ingat akan hal itu? Hah, So Eun semakin tidak enak hati sekarang. Mengapa pria itu terlalu baik padanya?

 

“Bukan maksudku untuk mengecewakanmu, tetapi aku masih ada urusan” So Eun menggunakan jurus berbohongnya. “A-Aku sudah ditunggu oleh Hyun Woo”

“Bisakah kau mengatakan pada Hyun Woo jika kau tak bisa datang?” Cara bicara Seung Ho kali ini terdengar berbeda. “Apa maksudmu?”

“Katakan padanya jika kau harus pergi denganku”

“Kali ini saja, ku mohon”

 

So Eun harus memikirkan pilihannya baik-baik. Sesaat sebelum ia bertemu dengan Seung Ho dirinya sudah berjanji untuk langsung pergi. Tapi melihat Seung Ho yang kedengarannya sangat ingin makan siang bersamanya, membuat hati So Eun jadi tergugah. Hanya makan siang bersama, menurutnya itu tidak terlalu spesial. Jadi, biarkan hari ini menjadi pengecualian bagi nya untuk sedikit menjadi munafik.

 

“Hmm, baiklah”

 

***

 

“Oh, Jiyeon-ah. Ada apa kau ke sini? Tidak biasanya”

“Di mana dia?”

“Dia? Dia siapa?”

“Siapa lagi kalau bukan sahabatmu”

“Oh, Seung Ho maksudmu?”

 

Jiyeon memutar kedua bola matanya. Kadang sikap Kim Bum yang seperti ini membuat dirinya sedikit jengkel. Di saat ia bertanya serius justru ditanggapi enteng oleh Kim Bum. Karena itu, jika Jiyeon ada perlu dengan Kim Bum ia harus menyeret Seung Ho agar Kim Bum mau meluangkan waktunya dan memfokuskan pikirannya sedikit.

 

“Memangnya kenapa? Kau ada perlu dengannya?” Kata Kim Bum yang kemudian duduk di depan Jiyeon. “Mmm, ada promotor yang baru saja menghubungiku. Mereka berencana untuk membantu promosi novelku”

“Novelmu yang terbaru? Yang judulnya ‘One Minute One Second’ itu?”

Jiyeon tersenyum simpul. “Rupanya kau tau juga, ku pikir kau terlalu sibuk memilih naskah novel baru”

“Ck, mana bisa aku tidak tau? Setiap novel mu yang terbit pasti Seung Ho akan sangat sibuk dan mengatakan ‘aku harus mengurus Jiyeon ini, bum-ah’. Hanya itu yang ia katakan”

Jinjjayo? Aku bahkan tidak tau jika dia pernah sesibuk itu untukku” kelakar Jiyeon. “Jadi dimana dia? Kau simpan dia dimana?”

“Aku sedang meminta tolong padanya untuk menemui calon novelis baru perusahaanku, sekaligus menilai naskah nya”

“Novelis baru? Apa yang kau maksud wanita yang kita temui di restoran Jepang waktu itu? Biar ku ingat–yang namanya Kim So Eun?”

“Memang dia yang ku maksud. Tak masalah kan jika ku pinjam dia dari mu hari ini saja? Harusnya memang aku yang pergi, tapi banyak pekerjaan ku yang belum terselesaikan. Besok kau bisa memiliki nya sepuas hatimu lagi, aku janji”

 

Jiyeon yang mendengarnya hanya membuang nafas pelan. Bukan karena ia tidak bisa menemui Seung Ho hari ini, pertemuan Seung Ho dan So Eun yang notabene mantan kekasihnya lah yang membuat Jiyeon berberat hati. Kalau Kim Bum tau mungkin ia bisa mengatakan untuk jangan membuat Seung Ho bertemu dengannya lagi. Sampai sekarang Jiyeon masih belum mengerti, mengapa Seung Ho begitu rapat menutup masalah pribadinya pada Kim Bum. Bila insiden melihat foto di dompet Seung Ho tidak terjadi, Seung Ho juga pasti tidak akan bercerita kepadanya.

 

“Ya sudah kalau begitu. Di mana mereka bertemu?” tanya Jiyeon lagi.

“Di taman kota Myeong-Do” titah Kim Bum. “Kau mau menemuinya?”

Jiyeon mengangkat kedua bahunya. “Entahlah, jika aku tidak ada urusan mungkin aku akan ke sana”

Kim Bum pun mendelik kaget. Baru ia tau jika Jiyeon tipe wanita yang mengambil langkah cepat. “Kau cemburu?”

“Apa maksudmu? Cemburu?”

“Jangan berpura-pura bodoh, Jiyeon-ah” kata Kim Bum sembari menyenderkan punggung nya di sofa yang empuk itu. “Rupanya kau dan Seung Ho benar-benar sudah meresmikan hubungan ya”

“Apa yang kau maksud dengan meresmikan hubungan? Hubungan macam apa? Kenapa kau tiba-tiba sok tau seperti ini?”

“Bukankah kau cemburu Seung Ho bertemu dengan So Eun? Jika kau cemburu bukannya itu berarti kau dan Seung Ho sudah resmi menjadi sepasang kekasih?”

“Aish, kau ini Kim Bum. Kau tau sendiri jika dia tak pernah suka jika di gosipkan berpacaran dengan ku, kenapa masih dibahasa juga?”

 

Hanya tawa yang ada di wajah Kim Bum. Dia dengan Jiyeon memang lebih sering bercanda dibandingkan bicara yang serius, dan yang dibicarakan pasti berputar-putar di lingkaran hubungan nya dengan Seung Ho. Jiyeon menyukai ledekan itu, namun tidak dengan Seung Ho. Sehingga dengan terpaksa ia berpura-pura ikut menunjukkan ketidak sukaannya pada ledekkan Kim Bum. Jauh dalam hatinya ia berpikiran jika cinta tidak bisa dipaksakan. Biarkan untuk saat ini menjadi cinta satu sisi, tanpa ia tau kapan akan berakhir.

 

“Tidak ada yang perlu kau khawatirkan, Seung Ho orangnya setia dan tak akan melakukan hal yang aneh-aneh. Kau bisa pegang ucapanku” Kim Bum berucap dengan yakin. Mengenal Seung Ho lebih dari 15 tahun lamanya sudah membuat Kim Bum mengenal dengan sangat baik bagaimana pribadi Seung Ho yang sebenarnya.

Mata Jiyeon memandang bebas langit biru yang terlihat dari salah satu jendela ruangan Kim Bum yang terbuka tirainya. “Ku harap begitu”

“Lalu bagaimana menurutmu tentang Kim So Eun-ssi? Kau benar-benar tidak tertarik padanya?

“Dia tipe idealku, sejujurnya” aku Kim Bum. Raut wajahnya mendadak berubah menjadi terlihat senang. “Dia baik dan juga apa adanya. Yah, yang ku lihat sejauh ini seperti itu. Firasatku juga mengatakan jika dia wanita yang sangat baik”

Ini lah saat yang tepat bagi Jiyeon untuk membalas ledekkan Kim Bum terhadapnya. “Jika kau menyukainya, aku memberikan mu restu. Aku juga melihatnya sebagai wanita yang baik. Yang penting jangan sampai kisah cintamu dengan So Eun seperti novel-novel itu, terlalu banyak intrik dan kebohongan. Kekeke~

“Cih, kau ini. Sedang membalaskan dendam mu padaku, huh?”

Wanita itu akhirnya tertawa juga. “Jangan lupa hubungi aku jika ia sudah kembali. Aku pergi dulu” Jiyeon kembali berbicara dan beranjak dari tempatnya.

“Akan ku sampaikan, hati-hati”

 

***

 

Lee Hyun Woo terlihat tengah asyik berjalan sambil mendendangkan lagu kesukaannya. Menyusuri jalan setapak di tengah hiruk pikuk kota yang padat tidak menghalangi nya untuk menikmati hidup. Sesekali ia bersiul ataupun berputar, mengikuti gerakan tarian lagu dari penyanyi asli yang biasa ia tonton di layar televisi.

 

Na man mollasseotdeon something

Bunmyeonghi neukkyeojyeo must be something

 

Ya, Hyun Woo sahabat dari Kim So Eun itu adalah fans fanatik dari salah satu grup wanita terkemuka di Korea Selatan, Girls Day. Dan hanya lagu yang berjudul ‘Something’ itulah yang Hyun Woo putar berkali-kali di ponselnya. Mumpung tidak ada So Eun, karena So Eun tidak suka melihat sahabat nya yang satu ini menyanyi lagu wanita yang bahkan lebih apik dari dirinya sendiri sebagai seorang wanita.

 

Ppeonhan neoui geotjimal, geuman yeogikkajiman

Nothing, it’s something

Something! No oh~~~”

Whooo Girls Day Jjang!!!”

 

Hyun Woo serasa dunia ini miliknya seorang, karena ia begitu bahagia.

 

Baru saja ia menyelesaikan bagian reff dari lagu itu, mata Hyun Woo menangkap seorang wanita yang berjalan berdampingan bersama dengan seorang pria. Perwakan wanita itu seperti Hyun Woo kenal, rasanya sudah tidak asing lagi. Namun yang bisa Hyun Woo lihat hanyalah dari sisi samping kedua orang itu.

 

“Rambut panjangnya.. Seperti rambut So Eun” gumam Hyun Woo.

“Mantel coklat itu.. Rasa-rasanya aku pernah melihat So Eun menggunakannya” Matanya kembali mendelik, mencoba memperhatikan dengan detail. Ia perlu teleskop Galileo Galilei kali ini.

Omo, itu benar dia!” Pria itu langsung terkesiap saat wanita yang diperhatikannya itu mengesampingkan rambutnya, sehingga Hyun Woo bisa memastikan jika wanita yang sudah ia curigai itu memang benar So Eun. “Tapi, dia berjalan dengan siapa? Kenapa aku merasa pernah melihatnya juga ya?”

“Jangan-jangan, So Eun akan di culik olehnya. Andwe!

 

Pikiran Hyun Woo mulai panik. Terlebih lagi So Eun sudah masuk ke dalam mobil si pria misterius yang berada di samping jalan raya. Mobil itu sudah menyala mesinnya, hanya tinggal menunggu pedal gas di tekan saja. Hyun Woo melepas kedua headset yang sedari tadi menempel di kedua telinganya, bersiap untuk mengejar mobil yang akan segera pergi. Namun detik itu juga ponselnya kembali berdering, melantunkan lagu dari Girls Day lainnya.

 

Aigo, siapa yang menelfon di saat misi penting seperti ini sih?!” kesalnya. Nomor asing yang menelfonnya, langsung saja ia menekan tombol hijau yang ada di ponsel itu. “Yeoboseyeo

“Ini Lee Hyun Woo-ssi?”

            Hyun Woo mengerutkan keningnya. “Nuguseyeo? Bagaimana kau bisa tau nama dan nomor ponselku? Kau penggemar rahasiaku, eoh?

“Ck, berarti benar kau orangnya” ujar seseorang yang ada di sebrang sana. “Bisakah kita bertemu? Ada yang ingin ku tanyakan padamu”

            Mworago? Jawab dulu kau siapa! Seenaknya saja mengajak bertemu, kau pikir aku tidak sibuk apa?”

“Mana mungkin pria yang bawel dan menyebalkan seperti mu sibuk, huh? Dasar tukang perebut taksi orang”

            “Perebut taksi orang??” Hyun Woo merasa aneh dengan panggilan itu. “Ah, ternyata kau yang menelfonku, wanita cerewet dan pelit di taksi!”

”Jika kau ingin bertengkar denganku lebih baik bertemu saja dulu! Di mana kau sekarang??”

            “Aku? Aku di dekat taman kota, wae??”

“Kalau begitu temui aku di kafe fourty-four sekarang. Tidak ada penolakkan, ku tunggu kau 15 menit. Lebih dari itu, ku habisi kau”

            Yak! Bagaimana bisa

 

Telfon itu langsung di putus seketika. Go Ara lah yang menelfon Hyun Woo, mengajaknya bertemu secara tiba-tiba dengan nada bicara yang pedas. Tidak punya pilihan, Hyun Woo kemudian memutar arah untuk pergi ke kafe yang Go Ara maksud. Meninggalkan misi nya untuk mengejar So Eun untuk bertemu dengan wanita yang sejak pertama bertemu pun sudah memberikan kesan buruk padanya.

 

“Wanita ini, kenapa bisanya hanya merepotkan ku saja sih?”

 

***

 

Matahari mulai meredupkan sinarnya. Tiba senja yang kemudian memunculkan bulan di tengah langit yang gelap. Musim dingin yang tengah di rasakan di Korea Selatan membuat udara malam terasa lebih dingin dibandingkan biasanya. Untung saja So Eun memakai mantel hangat dan membawa sarung tangan di tas nya, sehingga ia tidak kelimpungan menghadapi angin yang terus menerus menderu.

 

So Eun tengah berada di Namsan Tower, salah satu tempat wisata yang paling banyak di kunjungi oleh turis asing di negaranya. Kebetulan malam itu tidak banyak pengunjung yang datang, mungkin karena cuaca yang tidak mendukung. Biasanya pemandangan Namsan Tower saat malam hari lebih bagus dan lebih di sukai karena dapat melihat seluruh kota dengan jelas. Melihat berbagai macam gedung pencakar langit yang dipenuhi lampu, membuat nya terlihat indah.

 

Oh, dirinya tidak sendiri di sana. Ia bersama Yoo Seung Ho.

 

Setelah makan siang Seung Ho rupanya tidak membiarkan So Eun pergi begitu saja. Pria itu mengajak nya berjalan-jalan ke taman rekreasi ataupun berbelanja barang kesukaan So Eun. Sikap nya berubah seakan-akan ia adalah kekasih So Eun dan tengah asyik berkencan. Salahkan juga sikap So Eun yang selalu tidak enakkan, ia paling sulit menolak permintaan orang lain sehingga sampai saat ini pun ia masih bersama nya.

 

Bahkan Seung Ho dan So Eun tidak pernah melakukan hal seperti ini di saat mereka menjadi sepasang kekasih.

 

“Kau menyukainya?”

“Maksudmu?”

“Lihatlah, langit terlihat terang sekali malam ini. Padahal musim dingin sedang melanda, ternyata masih ada bintang yang terlihat”

 

So Eun mengikuti Seung Ho yang tengah mengadahkan wajahnya ke arah langit. Benar, memang langit malam itu indah. Dan bagi Seung Ho, malam ini jauh lebih indah karena ia menghabiskan waktu nya dengan So Eun. Dalam hatinya, ia merasa yakin jika ia telah jatuh cinta lagi pada wanita yang sama. Wanita yang bernama Kim So Eun itu telah merebut hatinya lagi untuk yang kedua kalinya.

 

“So Eun-ssi” Seung Ho mengucap nama itu.

“Ya?”

“Ku rasa, Tuhan memang sengaja mentakdirkan semua ini untuk kita”

So Eun tidak mengerti dengan jalan pikiran Seung Ho. “Apa maksudnya?”

“Kita bertemu lagi setelah hampir setahun lama nya kita tidak bertemu. Semenjak perpisahan itu, aku tidak pernah berpikir untuk bisa bersama mu seperti saat ini”

 

Senyuman lembut itu So Eun hadirkan di wajahnya. Ia juga senang dan tak pernah diimpikan olehnya untuk bisa bersama dengan Seung Ho lagi. Suasana seperti ini menjadikan So Eun membayangkan masa-masa di saat ia berhubungan jarak jauh dengan Seung Ho yang kala itu sempat mengurusi perusahaan milik Sang Ayah di Austria.

 

“Esok hari, aku ingin sekali mengajak mu lagi ke sini”

“Mengajak ku lagi? Ke sini?”

“Ya, aku ingin mengajakmu lagi ke sini, namun dalam hubungan yang berbeda”

 

‘Ya Tuhan, apa maksudnya ini?’ batin So Eun.

 

Dengan mantap Seung Ho mengalihkan perhatiannya pada So Eun seorang. Mengambil selangkah lebih dekat dengan So Eun yang cenderung imut dan kecil untuk seumurannya. Seung Ho menautkan kedua tangannya dengan tangan So Eun yang terbebas, menggenggamnya dengan erat sehingga mampu memberikan kehangatan lebih.

 

“Maukah kau, menjadi kekasih ku lagi?”

 

Wanita itu terkesiap menerima pernyataan cinta dari nya. Ia diam membeku, jemari dan bibirnya terasa tak mampu bergerak atau mengucapkan sepatah kata sekali pun. Firasat nya merasa tidak benar, tidak seharusnya ini terjadi. Sudah cukup masa lalu menjadi masa indahnya dengan Seung Ho meskipun hanya sesaat. Mengiyakan ajakan Seung Ho untuk pergi bersama tidak membuat So Eun ikut jatuh hati dalam pesona Seung Ho yang begitu baik dan sopan.

 

“Seung Ho-ssi, aku..”

“Ku mohon, So Eun-ssi. Aku mengharapkan mu lagi, aku tak ingin kecewa karena mu”

“Aku tak ingin mengecewakanmu, bukan itu

“Kita bisa melanjutkan hubungan kita yang pernah berakhir dulu. Kita bisa membuat semuanya menjadi lebih mudah karena aku bisa menemui mu kapanpun kau mau”

“Tapi, Seung Ho-ssi..”

 

Seolah tidak mendengar apapun, Seung Ho mendekatkan wajahnya pada wajah So Eun. Mengarahkan bibirnya untuk menyentuh bibir wanita yang ia cintai sebagai tanda bersatunya kembali hubungan mereka. So Eun berusaha untuk melepaskan genggaman tangannya pada Seung Ho, namun Seung Ho begitu keras menahannya. Kali ini ia meronta, dan hasilnya kembali nihil. Ia berharap agar waktu berhenti satu menit saja agar ia bisa pergi, dirinya benar-benar tidak mau menerima semua ini. Apa yang harus ia lakukan?

 

“Seung Ho-ssi, ku mohon hentikan..”

 

BUGH!

 

Sebuah pukulan keras menimpa wajah Seung Ho, membuat nya langsung terjatuh dan bahkan membuat So Eun terkejut. Ia menolehkan wajahnya pada seseorang yang baru saja memberikan pukulan itu, hingga So Eun semakin tak menyangka jika pria itu datang dan berada di hadapannya.

 

“Kim Bum..”

 

– To Be Continued –

 

A/N:

Saya kembali dengan lanjutan dari FF yang bahkan sudah saya beri keterangan ‘Canceled’!

Hahaha~

Ini efek karena saya baru nonton BBF lagi, maklum saya baru beli kaset nya setelah terakhir kali nonton 4 tahun yang lalu. Makanya part ini bisa selesai dalam waktu 4 jam.

*ini norak banget*

Lagi pula saya lagi libur kuliah sebulan, jadi sabtu-minggu saya free dan bisa ngetik sepanjang yang saya mau~

 

Bagaimana dengan part ini? Mengecewakan?

Ah kalau mengecewakan sih udah biasa, hehehe.

Komentarnya ditunggu ya temen-temen sekalian!

Adik, kakak dan yang seumuran saya siapapun deh.

Mau kritikan atau saran di buka untuk umum kok.

 

Sampai bertemu di part selanjutnya!

 

The Love Book

#Part5

Kim Bum & Kim So Eun

Story by @chandrasyifaw

Copyright | August, 2014

18 thoughts on “(FF) The Love Book – Part 5

  1. Lenny Farnila Agustus 7, 2014 pukul 1:37 pm Reply

    Yaaa.
    Kenapa tbc, lgi seruu.
    Plis cpt lnjt y…
    tp knp kimbum bsa d sana y?

  2. Ana Agustus 7, 2014 pukul 2:07 pm Reply

    Membuat pnasaran. Cpt ungkapkan d0nk kim bum,,d’tnggu part slnjutx,

  3. kim na na Agustus 7, 2014 pukul 2:29 pm Reply

    Seung ho jatuh cinta lagi sama So Eun🙂 ,Bumppa tidak tahu hubungan mereka di masa lalu ,Bumppa datang di waktu yang tepat😀 di tunggu part selanjutnya jangan lama”😀

  4. Femilda nengsih Agustus 7, 2014 pukul 3:03 pm Reply

    Next onnie.l lake it’s

  5. indah yulistiya anggraeni Agustus 7, 2014 pukul 3:57 pm Reply

    next eon , bagus kok ffnya eon😀 keren malah ,walau gak ngikutin dari awal tapi udah agak mengerti alur permasalahannya . next part jgn lama” yaa

  6. N.A Agustus 7, 2014 pukul 9:30 pm Reply

    lah kok jdi gini…seung ho kau terkesan jadi cowok.pemaksa..untung ada bum….gimana persahabatan merek setelh kejadian itu??? dtunggu part berikutnya..

  7. Melli Agustus 7, 2014 pukul 9:52 pm Reply

    Kekeke

    seungho pemaksa bnget, mianhe belum baca + koment 1 – 4, entar kalau ada waktu ne,
    di tnggu part 5nya

  8. muhi Agustus 7, 2014 pukul 10:02 pm Reply

    Waach…….kim bum mukul seungho…..
    Sso jgan mao balik dgn seung ho

  9. Arini Agustus 7, 2014 pukul 11:16 pm Reply

    Suka kok…..seru…..lanjutnya yang cepet ya….hehe…

  10. marwati Agustus 8, 2014 pukul 6:05 am Reply

    Oh Tuhan……..kimbum hadir disaat yg tepat!, ternyata kimbum punya perasaan khusus pd kim soeun……knp seung ho jd nekat begitu seolah memaksakan kehendaknya sendiri…..setelah baca part sebelumnya sepertinya akan mati pensaran krn ngegantung bgt…..pengen tau perasaan kimbum pd kim soeun…..
    Please author tolong bumsso disatukan……

  11. My Fishy Agustus 8, 2014 pukul 8:41 am Reply

    aigoo bener2 tambah seru nie ceritanya bikin penasaran, apa maksudnya kim bum memukul seung hoo? apa kim bum jatuh cinta pada so eun? heh penasaran dengan kedatangan kim bum k situ? huwaaa, next partnya jangan lama2 ya chingu, d tunggu banget..

  12. Yani cahyani Agustus 8, 2014 pukul 2:39 pm Reply

    seung hoo maksa bgt bwt balikan m sso,,,,pdhl kykx ssox g mau tuch,,,,
    Untung kim bum dtg tpt waktu,,,,tp knp dy mukul seung hoo,,,???
    Apa sbnrx bumsso udh pny perasaan cinta satu sama lain,,,,???
    Next partx d tunggu

  13. pipip Agustus 13, 2014 pukul 2:36 pm Reply

    Waaaaaa senengnya ff ini flnjut lgi
    Ceritanya mkin pnsrn dan bkin degdegan
    Trnyta emg bner seungho msih suka dgn soeun
    Tpi kyknya soeun udh nutup hati buat seungho ya
    Ciyeee bnget kimbum trnyta udh mulai suka dgn soeun
    Pnsrn knp kimbum bsa ktemu dgn soeun dan seungho ya??
    Dtnggu next partnya

  14. ainami Agustus 18, 2014 pukul 10:57 am Reply

    kyaaaaak, endingnya mengejutkan…

    blom hilang keterkejutanku dengan permintaan seung ho yg pengen sso jd kekasihnya lagi dilanjutkan dengan usaha seung ho utk mencium sso….

    kejutan berikutnya muncul krn bum tiba2 dtg dan melayangkan pukulan utk seung ho…..??

    ga sabar pengen baca lanjutannya… baru tau trnyata fanfic yg ini sempet dikasih label cancelled ya…
    please, diteruskan ya… ceritanya seru banget… aku suka😀

  15. rezi November 23, 2014 pukul 12:45 pm Reply

    wow critanya menarik….baru baca…wah mantan pengin balikan…jangan mau sso….kim bum hadir di saat yg tepat….maaf thor baru komen meski dah baca part2 sblmya

  16. rezi November 23, 2014 pukul 12:47 pm Reply

    wow critanya menarik….baru baca…wah mantan pengin balikan…jangan mau sso….kim bum hadir di saat yg tepat….maaf thor baru komen meski dah baca part2 sblmya…next partnya ditunggu

  17. Ustina Agustina Desember 4, 2014 pukul 2:40 pm Reply

    loh… :O kimbum sama seungho bertengkar??
    kenapa?? ah kek nya kimbum gak terima liat adegan tadi..

    lanjutin dong ffnya.. jangan di cancel ^_^
    sayang!! kan bagus😀

  18. marwati Desember 8, 2015 pukul 3:01 am Reply

    Akhirnya nemu jg ff ini, terakhir baca part 4 ternyata sdh ada lanjutannya……wah hamsamnida author sdh bersedia melanjutkan ceritanya……saya suka cerita ini, dimn pertemuan kimbum dan soeun dimulai dgn tdk mengenal satu sama lain dan perkenalan lewat sahabat mereka……lanjut terus yah author….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: