(FF) The Love Book – Part 6


The Love Book

#Part 6

 

Untitled-9 

Author:

Chandra Syifa W

Main Casts:

Kim Bum | Kim So Eun

Casts:

Yoo Seung Ho | Go Ara | Lee Hyun Woo | Park Ji Yeon

Genre:

Romance – Friendship – Comedy

Length:

Chapter

Rating:

+12

Disclaimer:

I’m just own the story.

Typo always be applied.

Do not copy-edit-paste.

Kindly check out the previous part right here!

https://koreanfanfictland.wordpress.com/library/fan-fiction

Do leave your comment, please.

Thank you~

 

Last story on ‘The Love Book’

 

“Maukah kau, menjadi kekasih ku lagi?”

 

Wanita itu terkesiap menerima pernyataan cinta dari nya. Ia diam membeku, jemari dan bibirnya terasa tak mampu bergerak atau mengucapkan sepatah kata sekali pun. Firasat nya merasa tidak benar, tidak seharusnya ini terjadi. Sudah cukup masa lalu menjadi masa indahnya dengan Seung Ho meskipun hanya sesaat. Mengiyakan ajakan Seung Ho untuk pergi bersama tidak membuat So Eun ikut jatuh hati dalam pesona Seung Ho yang begitu baik dan sopan.

 

“Seung Ho-ssi, aku..”

“Ku mohon, So Eun-ssi. Aku mengharapkan mu lagi, aku tak ingin kecewa karena mu”

“Aku tak ingin mengecewakanmu, bukan itu

“Kita bisa melanjutkan hubungan kita yang pernah berakhir dulu. Kita bisa membuat semuanya menjadi lebih mudah karena aku bisa menemui mu kapanpun kau mau”

“Tapi, Seung Ho-ssi..”

 

Seolah tidak mendengar apapun, Seung Ho mendekatkan wajahnya pada wajah So Eun. Mengarahkan bibirnya untuk menyentuh bibir wanita yang ia cintai sebagai tanda bersatunya kembali hubungan mereka. So Eun berusaha untuk melepaskan genggaman tangannya pada Seung Ho, namun Seung Ho begitu keras menahannya. Kali ini ia meronta, dan hasilnya kembali nihil. Ia berharap agar waktu berhenti satu menit saja agar ia bisa pergi, dirinya benar-benar tidak mau menerima semua ini. Apa yang harus ia lakukan?

 

“Seung Ho-ssi, ku mohon hentikan..”

 

BUGH!

 

Sebuah pukulan keras menimpa wajah Seung Ho, membuat nya langsung terjatuh dan bahkan membuat So Eun terkejut. Ia menolehkan wajahnya pada seseorang yang baru saja memberikan pukulan itu, hingga So Eun semakin tak menyangka jika pria itu datang dan berada di hadapannya.

 

“Kim Bum..”

 

– The Love Book –

 

            Seung Ho meringis kesakitan saat ia menyentuh salah satu pipi nya yang menjadi sasaran pemukulan itu. Ia melempar pandangannya ke arah pria yang sudah berdiri tegap di hadapannya, dan kemudian hanya mendengus pelan. Perlahan Seung Ho mencoba untuk kembali berdiri, menegakkan kembali tubuhnya agar ia bisa menatap jelas mata Kim Bum yang sudah memerah. Entah apa yang tengah merasuki diri Kim Bum saat ini, raut kekecewaan sudah tergambar jelas di wajahnya. Sementara So Eun yang masih terkejut dengan kedatangan Kim Bum hanya bisa diam dan bingung.

 

“Apa yang kau lakukan?”

“Aku memintamu untuk menilai dan mengambil naskah novelnya, bukan mengajaknya pergi dan melakukan hal memalukan seperti ini”

 

Ucapan Kim Bum memang pelan, namun itu cukup menusuk hati dari Seung Ho. Baik Seung Ho maupun So Eun tidak tau jika Kim Bum mencari keberadaan mereka, terutama Seung Ho yang sudah ia tunggu sejak sore tadi. Ia tak kunjung kembali, karena itu Kim Bum berinisiatif untuk mencari tau sendiri. Bahkan ponsel Seung Ho dan So Eun pun sama-sama tidak aktif. Keadaan yang sial untuk Kim Bum.

 

“Apa yang kau maksud dengan hal memalukan, huh?” Seung Ho bertanya seakan menguji kesabaran Kim Bum. “Kau tidak tau apa-apa, jadi jangan mengatakan hal yang bahkan kau tidak tau kebenarannya”

Kim Bum tertawa meremehkan. “Kau pikir aku tidak tau? Mencium wanita yang bukan siapa-siapa mu kau anggap tidak memalukan, begitu?”

“Kau bilang dia bukan siapa-siapaku?”

“Bukankah sudah ku katakan, jangan mengatakan hal yang bahkan kau tidak tau kebenarannya”

 

Kim Bum mengerutkan keningnya mendengar ucapan Seung Ho. Ini terdengar aneh sekali. Apa yang tidak ia ketahui? Sudah jelas-jelas ia melihat dengan mata kepala nya sendiri jika Seung Ho hendak mencium bibir So Eun. Jika Seung Ho berusaha untuk membodohinya, Kim Bum tak akan percaya karena Seung Ho bukan tipe orang yang seperti itu. Dan Seung Ho, kini pria itu terdiam sembari mengambil nafas panjang. Merutuki sikap dan tindakan yang baru saja ia lakukan. Kini ia tidak ingin menatap mata So Eun, membuatnya merasa malu.

 

“Terserah apa katamu, aku tak peduli” Hanya itu yang akhirnya Kim Bum ucapkan.

“Ayo”

 

Dengan cepat Kim Bum meraih tangan So Eun yang terbebas, jemari nya masih terasa dingin karena udara malam itu masih sama. Membawa So Eun pergi meninggalkan Seung Ho yang hanya bisa terdiam menatap mereka dari belakang. Derap langkah kedua kaki mereka terdengar cepat sekali, hingga mereka sudah memasuki mobil sedan Kim Bum yang dengan setia menunggu si pemiliknya. Kediaman antara Kim Bum dan Kim So Eun kini menjalar sampai sang wanita mulai menitikkan air matanya. Membuat Kim Bum yang masih mengatur nafasnya tersebut menoleh.

 

Pria itu berusaha untuk mengajak si wanita bicara. “Kau tidak apa?”

“Ya” Hanya satu kata yang diucapkan oleh So Eun, yang sejujurnya membuat Kim Bum justru semakin khawatir.

 

Apa yang harus ia lakukan, batin Kim Bum. Dirinya belum pernah mengalami kondisi seperti ini. Menghadapi wanita yang menangis karena seorang pria, alasan utamanya karena ia sendiri belum pernah terlibat dalam sebuah hubungan. Sehingga agak sulit bagi Kim Bum untuk bisa beradaptasi dengan apa yang So Eun rasakan.

 

Waktupun berlalu. Mobil yang dikemudikan oleh Kim Bum telah mengantarkan So Eun sampai pada rumahnya, melintasi lalu lintas kota Seoul di malam hari yang cenderung sepi dibandingkan saat matahari bersinar. Keduanya turun dari mobil itu, Kim Bum berniat untuk menyampaikan salam terakhirnya pada So Eun sebelum dia pergi.

 

“So Eun-ssi” gumamnya.

So Eun mengangkat sedikit wajahnya pada Kim Bum. “Ne?

“Bukan maksudku untuk menyinggung hatimu, tetapi..” Kim Bum menarik sedikit nafasnya. “Aku minta maaf”

Mata bulat So Eun menyorot Kim Bum, merasa tak mengerti dengan apa yang ia katakan. “Maksudmu?”

“Kalau saja aku tidak memintamu bertemu dengan Seung Ho untuk menggantikanku, mungkin hal tadi tidak akan terjadi”

“Sungguh, aku tak pernah menyangka jika dia seberani itu melakukannya padamu. Dia bukan seperti Yoo Seung Ho yang aku kenal, dia berbeda..”

 

Kesimpulan itulah yang Kim Bum ambil. Ia berniat untuk mewakili dirinya sekaligus Seung Ho untuk meminta maaf pada So Eun. Ya, memang hanya itu yang ada dipikirannya saat ini. Tanpa Kim Bum tau jika jauh dalam hati kecil So Eun sebenarnya tak ingin mendengar Kim Bum mengucapkan permintaan maaf seperti itu. Pria yang berkepribadian hangat, meskipun belum terlalu lama So Eun mengenalnya ia tak ingin membawa Kim Bum lebih jauh ke dalam masalah pribadinya sendiri. Setidaknya So Eun sudah memutuskan untuk menyelesaikan semuanya agar tak menjadi masalah baru di kemudian hari.

 

Dengan senyuman kecil yang kaku, So Eun membalas ucapan Kim Bum lembut. “Aku tak apa, maaf dan juga terima kasih untuk kekhawatiranmu”

“Aku akan menemuimu besok. Beristirahatlah”

 

Kim Bum akhirnya pergi setelah melempar senyuman menawannya, dan juga menatap kedua mata So Eun dalam. Seakan mampu menghipnotis diri So Eun agar tidak berpaling sebelum dirinya benar-benar tak bisa ia lihat lagi. Menyembunyikan sebuah perasaan yang berbeda.

 

Mungkinkah ini titik awal lahirnya cinta?

 

***

 

Pertemuan terencana yang harusnya terjadi satu hari yang lalu justru baru mereka lakukan hari ini. Mengejar bus yang hampir saja membuatnya kembali menunggu lebih dari satu jam benar-benar membuat gerah seorang Lee Hyun Woo. Penumpang bus yang mendengar gerutuan nya tiada henti juga ikut menjadi gerah karena nya. Sumpah serapah dari huruf a hingga z rasanya cukup menggambarkan hal itu. Hyun Woo sendiri belum mengerti mengapa dirinya bisa sesial ini. Belum lagi ia harus mencari tempat yang dimaksud oleh si wanita, karena mendadak ia diberitahukan untuk bertemu di tempat yang lain.

 

“Restoran.. Ah ini dia”

 

Sebuah restoran bintang lima bernuansa asia kini sudah berada di depan Hyun Woo. Dengan sedikit mengendap-endap ia melangkah, kedua matanya mencari keberadaan wanita yang menelfonnya kemarin. Hyun Woo merasa sedikit tak percaya diri karena semua pengunjung restoran itu adalah masyarakat kelas atas. Aroma sedap memenuhi restoran itu, membuat perut Hyun Woo berbunyi seperti instrumen musik. Tidak lama kemudian ia menangkap sosok wanita berambut panjang bergelombang, Go Ara.

 

“Ku pikir kau akan tersasar di saat perjalanan ke sini”

“Kau berpikir aku akan tersasar karena aku bukan tipe orang yang mampu datang menikmati makanan mewah di sini? Ck, wanita banyak gaya”

 

Celetukan Go Ara yang dibalas tidak kalah tajam oleh Hyun Woo membuat Go Ara hanya menahan nafasnya. Memang pada dasarnya Go Ara tau jika karakter Hyun Woo memang seperti itu, sejak pertama bertemu sudah sangat terlihat.

 

Go Ara menyodorkan sebuah daftar menu yang sudah terletak di atas meja itu sedari tadi pada Hyun Woo. “Pilihlah apapun yang kau suka”

“Apapun??” Hyun Woo berbalik tanya pada wanita itu dengan sumringah. “Aku bisa memesan appetizer, main course dan dessert apapun di sini??”

 

“Pria yang banyak tanya” gumam Go Ara dalam hati.

 

“Ya, apapun. Cepat pilih yang kau mau, aku tak punya banyak waktu”

 

Hari yang sangat beruntung bagi Hyun Woo. Mahasiswa seperti dirinya memang belum pernah mencoba makanan mewah di tempat yang super mewah pula, maklum saja ia biasa makan di kedai kecil di dekat kampus nya bersama dengan So Eun. Beberapa nama makanan yang tertulis di sana terasa asing bagi Hyun Woo, dan itu lah yang membuat nya untuk memesan makanan tersebut meskipun dirinya tidak yakin ia akan menyukainya atau tidak.

 

“Itu saja. Terima kasih” ujar Hyun Woo pada pramusaji yang baru saja mencatat order miliknya. “Jadi apa yang ingin kau bicarakan? Bukankah kita tak ada urusan lagi?”

Gelas wine yang Go Ara genggam dengan jari lentiknya ia letakkan perlahan. “Wanita di restoran waktu itu, siapa dia?”

“Wanita? Wanita yang mana?”

“Wanita yang kau temui saat kita baru saja turun dari taksi. Wanita bermarga Kim itu, aku tak mengingat namanya”

Hyun Woo pun mencoba untuk mengingat kejadian yang dimaksud oleh Go Ara. “Ah, So Eun maksudmu?” Sedetik kemudian ia tampilkan tawa remeh nya. “Kenapa kau menanyakan sahabatku? Kau merasa jika dia lebih cantik darimu ya? Makanya kau iri? Memang sahabatku lebih cantik darimu kok”

Mworago? Apa yang kau katakan barusan? Wah, kau belum tau saja jika aku menjadi seorang ratu di manapun aku berada!” Go Ara membalas dengan nada jengah. “Memangnya siapa wanita itu, sampai-sampai ia bisa berkumpul dengan Seung Ho, Jiyeon, dan kekasihku?”

“Kekasihmu? Kim Bum maksudmu?” Tanya Hyun Woo lagi. “Aku tak yakin jika kau benar-benar kekasihnya, Kim Bum tidak pernah bercerita kalau dia punya kekasih cerewet seperti mu”

Pernyataan Hyun Woo kembali membuat Go Ara terperangah. Bagaimana bisa Hyun Woo mengenal kekasihnya juga? “Kau, bagaimana bisa

“Kim Bum juga sahabatku, kami teman semasa kecil. Apa kedengarannya aneh buatmu? Apa aku terlalu rendah di matamu untuk berteman dengannya? Begitu?”

 

Dunia terasa semakin sempit sekarang seiring berjalannya waktu. Tapi itu belum memenuhi rasa penasaran Go Ara akan So Eun. Ia perlu bertanya lebih banyak lagi dengan Hyun Woo yang mengaku sebagai sahabatnya.

 

Pramusaji itu kembali datang menghampiri meja mereka, membawa beberapa hidangan yang sudah diminta oleh Hyun Woo sebelumnya. Mata Hyun Woo seperti bersinar, layaknya anak kecil yang begitu senang karena permintaannya sudah dipenuhi. Kalau begini Go Ara bisa meledeknya sampai habis.

 

“Baiklah, aku akan menghabiskannya lebih dulu. Mari ma

“Sekali lagi!”

Tatapan Hyun Woo mengarah pada Ara dengan heran. “Sekali lagi?”

“Jawab pertanyaan ku yang terakhir, setelah itu kau bisa menikmatinya sesukamu, tanpa gangguanku”

 

Nada bicara Go Ara terdengar semakin aneh di telinga Hyun Woo. Ada sedikit kesan curiga yang juga Hyun Woo rasakan terhadap Ara, yang notabene baru ia kenal beberapa hari terakhir.

 

“Kim So Eun, apa dia memiliki hubungan khusus dengan Kim Bum?”

 

***

 

Park Jiyeon terlihat sibuk keluar masuk dapur dan juga kamar sembari membawa sebuah baskom air serta handuk kecil. Raut wajah nya yang khawatir terlihat sangat jelas di wajah cantiknya. Ia memutar knop pintu dengan cepat lalu bergegas duduk di bibir ranjang yang ada di dalam kamar itu. Jiyeon merendam handuk itu di dalam baskom dan menempelkannya pada bekas luka lebam pada si pria, Seung Ho.

 

“Kau tak perlu melakukannya, aku tak apa”

“Pipimu membiru seperti ini kau bilang tidak apa-apa? Apa kau tidak bisa membedakan mana yang sehat mana yang sakit, huh?”

 

Omelan Jiyeon di pagi hari membuat mood Seung Ho semakin memburuk. Pikirannya melayang pada insiden semalam yang berujung pada merenggangnya hubungan antara ia dengan Kim Bum, sahabat sekaligus partner kerjanya sendiri. Meski begitu ia membiarkan tangan Jiyeon berkelana bebas mengelilingi wajahnya untuk sekedar mengurangi efek dari pukulan Kim Bum semalam. Kadar perhatian Jiyeon padanya memang tak bisa diukur dengan mudah, sejak pagi tadi ia sudah berada di apartemen Seung Ho tepat setelah Seung Ho mengaku jika ia terlibat pemukulan. Ya, memang seperti itulah seorang Park Jiyeon.

 

“Kau tak berniat untuk menceritakannya padaku?” tanya Jiyeon membuka percakapan di antara keduanya. “Jangan ada yang kau tutupi dariku, Yoo Seung Ho”

Seung Ho menghela nafasnya dalam dengan sekali tarikan nafas. “Hanya pertengkaran biasa”

“Mana ada pertengkaran biasa yang membuat wajahmu murung seperti itu?” Ledekkan Jiyeon membuat Seung Ho menoleh padanya. “Wajahku murung karena kau bertanya seperti ibu yang akan marah padaku, kau tau?”

Tawa kecil Jiyeon pun pecah, membuat Seung Ho ikut tersenyum melihatnya. “Apa itu karena Kim So Eun?”

 

Suasana pun menghening seketika disaat Jiyeon menyebut nama So Eun. Nama itu seakan terngiang di benak Seung Ho. Entah mengapa hatinya kembali merasa bersalah, baik karena apa yang ia lakukan pada So Eun maupun pada Jiyeon. Seung Ho bukanlah pria yang buta akan perlakuan Jiyeon padanya. Ia cukup mengerti dan memahami alasan dibalik semua yang Jiyeon lakukan kepadanya.

 

Jiyeon menyukainya, namun bagaimana dengan dirinya sendiri?

             Apa ia memiliki rasa yang sama?

             Rasanya tak mungkin ia memiliki rasa yang sama setelah apa yang ia lakukan semalam.

 

             “Ternyata benar ya” ujar Jiyeon yang kemudian menjauhkan tangannya dari wajah Seung Ho. Meletakkan handuk itu di dalam baskom dan membiarkannya tenggelam seperti hatinya saat ini. “Babo

“A-Apa?”

 

Jiyeon mengadahkan wajahnya pada Seung Ho, sekaligus meyakinkan hatinya untuk mengatakan yang sebenarnya.

 

“Jika kau masih mencintainya, untuk apa kau mengakhirinya?”

“Kau tau, dengan sikap mu yang seperti ini, itu sama saja kau menyakiti dua orang sekaligus”

 

Setiap kata itu terdengar seperti sebuah karangan kata yang berasal dari hati Jiyeon, yang bahkan oleh Jiyeon sendiri tak ingin didengar. Karena semua itu terucap begitu saja, membuat senyuman Jiyeon sebelumnya menjadi senyuman pahit. Seung Ho menatap wanita yang berada di sampingnya itu dalam, semakin dalam bersamaan dengan kesadarannya jika semua yang ia lakukan memang sebuah kesalahan besar. Dan kini ia menyadari satu hal, bahwa Jiyeon sudah mencari tau secara tidak langsung mengenai masa lalu nya dengan Kim So Eun. Tugasnya untuk menjelaskan hal itu kini sudah tak diperlukan lagi.

 

“Jiyeon-ah

“Jangan pernah tanyakan bagaimana aku bisa mengetahuinya” pinta Jiyeon dengan suara pelan seakan ia memohon pada Seung Ho. Bukankah sebelumnya pria itu sudah menjelaskan nya sekilas pada Jiyeon? “Tidurlah, istirahatkan dirimu”

“Aku pergi”

 

Daun pintu kamar Seung Ho tertutup rapat setelah kepergian Jiyeon. Penyesalan yang dirasakan Seung Ho semakin membuatnya terasa sesak, seperti ada yang mengganjal dalam dirinya. Pria bertubuh tegap itu menundukkan kepalanya dan memejamkan kedua matanya, meresapi bunyi denting jarum jam dinding yang terus bergerak setiap detiknya. Bagaimana ia menghadapi keadaan seperti ini? Membuat semua orang kecewa dalam satu waktu, sesuatu yang tidak pernah Seung Ho pikirkan sebelumnya.

 

Pagi hari yang benar-benar muram.

 

***

            “Ya, So Eun-ah?”

            “Hyun Woo, bisa tolong sampaikan pada dosen mata kuliah selanjutnya? Aku tak bisa hadir karena harus pergi”

“Pergi? Mau pergi ke mana? Bukannya tadi kau hanya bilang padaku untuk membeli minum ke kantin?”

            “Iya, tapi tadi aku baru dapat info kalau aku harus pergi”

“Pergi ke mana? Bertemu Kim Bum?”

            “Mmm, dia bilang aku harus ikut rapat untuk membahas mengenai novelku”

“Kenapa kau yang menemuinya? Kenapa tidak dia saja yang menemuimu. Aish dia itu benar-benar!”

            “Beberapa minggu terakhir dia lah yang terus – menerus menemuiku, Hyun Woo-ah. Baru hari ini kami bertemu lagi”

“Ah, begitu ya”

            “Ya, begitulah. Tolong sampaikan pesanku ya Hyun Woo, akan ku telfon lagi nanti”

 

So Eun menutup telfon yang baru saja menyambungkannya dengan Lee Hyun Woo, setelah semenit sebelumnya wanita itu mendapat sms masuk dari Kim Bum dan memintanya untuk pergi rapat di kantor nya. Tentu saja So Eun menyambut antusias hal itu, mengartikan bahwa ia selangkah lebih cepat untuk merilis novel pertama yang sudah ia impikan sejak lama. Ia memberhentikan taksi yang melintas untuk membawanya ke kantor Kim Bum. Memendam segala rasa bahagia nya agar tidak begitu terlihat saat dirinya sampai nanti. Bagaimanapun juga seorang wanita harus menjaga imej nya.

 

Kaki nya melangkah menuju meja resepsionis di salah satu gedung perkantoran nan mewah. Hampir di setiap dinding itu terpampang cover dari beberapa buku ataupun novel terlaris hasil terbitan dari perusahaan tersebut. K-Book Company, nama perusahaan itulah yang tertera jelas. “Annyeong haseo, ada yang bisa kami bantu?”

“Aku ingin bertemu dengan Direktur Kim” ujar So Eun sopan. “Aku Kim So Eun, mahasiswi dari Universitas Chung Ang”

Karyawan wanita itu kembali bertanya. “Maaf, apa anda sudah membuat janji sebelumnya?”

“Belum, tapi Direktur Kim sendiri yang menghubungi ku untuk menemuinya di sini”

“Ah, kalau begitu silahkan anda ke lantai 5. Ruang Direktur Kim berada di sebelah pojok kanan. Aku akan menghubungi sekretaris nya untuk mengkonfirmasi kedatangan anda”

“Baik, terima kasih sebelumnya”

 

Dengan arahan yang telah diberikan, So Eun menaiki lift yang membawanya ke lantai 5. Sesekali ia memperhatikan apa-apa yang ada di gedung perkantoran itu, sudah pasti perusahaan ini memiliki keuntungan yang tidak sedikit. Bayangkan saja, segala fasilitas yang ada di sana memiliki nilai yang tidak murah.

 

“Maaf, dengan Nona Kim So Eun?”

“Ya, itu aku”

“Anda sudah ditunggu oleh Direktur Kim diruangannya. Silahkan”

 

Setelah dipersilahkan untuk masuk, So Eun mengetuk pintu ruangan Kim Bum dengan perlahan hingga ada suara yang menyambut ketukan nya. Terlihat Kim Bum yang tengah tersenyum menghadap pada So Eun. Menyambutnya dengan wajah ramah dan juga etika yang sangat menghormati wanita. “Kau sudah datang, ayo duduk”

“Terima kasih” ucap So Eun pelan. Ia menduduki dirinya pada salah satu sofa empuk yang tersedia di sana.

“Maaf membuatmu keluar dari jam kuliahmu hari ini, apa yang perlu ku beritahukan padamu sangatlah penting dan juga ada beberapa dokumen yang harus ditanda tangani oleh mu” terang Kim Bum. Ia menyampaikan hal tersebut dengan serius namun dengan gaya bicara yang santai. “Tidak apa kan?”

So Eun yang menjadi lawan bicaranya pun mengerutkan kening. “Ah, tentu saja. Memangnya ada apa, Kim Bum-ssi?”

“Aku akan memberitahumu, tapi jangan kaget atau pun berteriak ya”

Nde?”

“Buku mu yang berjudul ‘In Your Eyes’ akan segera dirilis minggu depan”

 

Kedua mata So Eun yang bulat itu bersinar, seiring ucapan Kim Bum yang masih terngiang di pikirannya. Jantungnya berdegup kencang, senyuman manis nya kini menghiasi wajah manis yang dimiliki So Eun. Sangat terlihat jelas di mata Kim Bum yang selalu menatapi nya tanpa beralih sedetik pun. Seakan terpesona, Kim Bum bahkan membiarkan So Eun sibuk dalam kebahagiaannya sendiri.

 

Wanita itu sangat cantik sekali.

 

            “Bukan hanya itu” Kim Bum kembali bicara. “Setelah acara perilisan novelmu, kita akan langsung melanjutkannya dengan serangkaian promosi yang lokasinya bisa kau pilih sendiri”

            “Benarkah? Ya Tuhan, Gomapseumnida, Kim Bum-ssi. Aku sangat senang sekali, aku berhutang budi padamu” So Eun berujar dengan penuh terima kasih. Bahkan dia perlu memikirkan kata-kata apa yang pantas ia ucapkan sebagai rasa bahagia nya pada Kim Bum. “Andai aku bisa melakukan sesuatu untukmu, pasti akan ku lakukan”

“Tidak perlu sejauh itu, hal ini memang sudah menjadi pekerjaan ku sebagai pebisnis buku. Bukan begitu?” Keramahan Kim Bum membuat So Eun kembali tersenyum simpul. “Tetapi jika kau memaksa untuk melakukannya, baiklah”

“Memangnya kau mau aku melakukan apa?”

“Kita lihat saja nanti, beri aku waktu untuk memikirkannya. Aku tidak ingin menyia-nyiakan kartu as ku begitu saja”

 

Untuk sesaat So Eun mencoba berpikir kira-kira apa yang pria itu inginkan darinya. Meskipun hubungan mereka bisa dibilang belum terlalu dekat, namun sepertinya berkat keterbukaan Kim Bum dan juga polosnya So Eun mampu memperkecil jarak yang ada. Dan kini, baik Kim Bum dan So Eun melemparkan senyuman terbaiknya untuk satu sama lain. Merasakan suasana hangat yang menjalar di ruangan itu. Selangkah demi selangkah, Kim Bum dan So Eun semakin merasa nyaman dengan apa yang ada di antara mereka.

 

***

 

Bulan pun menunjukkan sinarnya.

 

Pertemuan singkat antara dirinya dengan Kim Bum membuat wanita itu sulit tertidur saat ini. Kembali memutar memori di saat ia tersenyum bersama dengan pria yang mungkin belum ia kenal dengan sepenuhnya namun mampu membuat So Eun bahagia. Dalam hati kecilnya, ingin sekali ia mendengar suara Kim Bum sebagai pengantar tidur. Matanya benar-benar tidak bisa di ajak bekerja sama, sama sekali. Jantungnya berdebar dan terus berdegup seiring dengan nafasnya yang juga tak teratur.

 

“Aish, tenangkan dirimu Kim So Eun. Kau harus segera tidur untuk mempersiapkan promosi penerbitan novel perdanamu!” gumamnya tak jelas. Sepertinya kali ini So Eun memang tidak bisa mengontrol dirinya sendiri.

 

Hingga kemudian ia menutup kedua matanya dengan perlahan, tiba-tiba ponselnya berdering singkat dengan tanda sebuah pesan singkat telah diterima di ponselnya. So Eun membuka ponsel nya, melihat dengan terkejap pada layar ponselnya yang kembali membuat jantungnya berdegup kencang.

 

From    : Kim Bum-ssi

 

            Aku mengirim pesan ini karena ku pikir kau akan sulit tertidur, mengingat mulai esok hari kau akan menjadi seseorang yang berbeda, seorang novelis yang mengubah dunia dengan caramu sendiri.

 

            Tidurlah, jangan mengkhawatirkan apapun. Aku akan membantumu dan selalu ada di sampingmu.

 

            Kapanpun dan di manapun kau membutuhkanku.

 

 

– To Be Continued –

 

A/N:

Alhamdulillah, terima kasih dan maaf untuk yang sudah menunggu berbulan-bulan lamanya.

Sekarang saya keteteran untuk bagi waktu antara hobi, kerja, dan kuliah. Maaf yaa~

Ya udah langsung aja deh.

 

Yang masih mau tau lanjutannya mohon tunggu lagi ya, sampai dengan waktu yang tidak ditentukan.

Kalau tidak ada yang nunggu juga gapapa sih, hitung-hitung nambahin isi blog, hahaha ^^

See yaaawwww!

 

The Love Book

#Part6

Kim Bum & Kim So Eun

Story by @chandrasyifaw

Copyright | December, 2014

 

 

 

 

Tagged: , , , , , , ,

15 thoughts on “(FF) The Love Book – Part 6

  1. Rani Annisa Januari 2, 2015 pukul 2:27 pm Reply

    wah akhirnya ff-nya ini di post juga setelah lama.menunggu 🙂

    wah kim bum kayaknya suka ke so eun dan dia selalu aja melindungi so eun dan begitupun dengan so eun…

    apa mereka memang memiliki hubungan special???

    next part

  2. ustina agustina Januari 2, 2015 pukul 2:45 pm Reply

    hehe…makin seru kakak ceritanya!!!😀
    ada go ara juga… emang bener ya go ara pacarnya kim bum??

    next part ya! ! ditunggu kakak😉

  3. aikurasin Januari 3, 2015 pukul 3:40 am Reply

    makasih ya akhirnya ljutannya di post juga . . .next . .

  4. lovelysso Januari 3, 2015 pukul 9:26 am Reply

    woow akhirnya dilanjut jg, tp sampai part 6 bumsso blm berkembang jg hubungannya:< jgn lp tetap ditunggu lanjutannya, aza..keep writing!!

  5. Ne yan Januari 4, 2015 pukul 1:28 am Reply

    Hay hay…😀
    Kira-Kira kapan yaa bumsso jadian ?😀
    Next part yes

  6. Dela safitri Januari 4, 2015 pukul 12:23 pm Reply

    Waaah makin seruu niih , cepet di post part selanjutnya ehehe… (v)
    Mksh thor akhirnya di post jg part ini. Di tunggu thor ff yg belom selesai sampai ending,, dan karya2 terbarunya. Semangatt thor buat kuliah, kerja, sama hobi nulisnya ini😉

  7. limokarin Januari 11, 2015 pukul 8:28 am Reply

    Keren banget thorrr,lanjutt dong part selanjutnyaaaaa

  8. muhi Januari 12, 2015 pukul 11:22 am Reply

    Akhirnya…..muncul yg dtunggu….
    bumsso semakin dekat dan semoga cepat mengakui perasaan masing”….

  9. oktavia Januari 15, 2015 pukul 2:11 pm Reply

    akhirnya setelah sekian lama ff nya muncul lagi, ALHAMDULILLAH
    go ara itu pacar yang ga di anggap deh kayaknya,kasian.
    mulai ada benih2 cinta nih antara kim bum ma so eun.
    next part jangan lama2🙂

  10. My Fishy Februari 17, 2015 pukul 6:56 pm Reply

    huwaaa.. aq pikir kim bum tau kalo so eun mempunyai hubungan dengan seung hoo d masa lalu tapi ternyata gak tau.. ada sinyal2 cinta nie antara kim bum dan so eun sampe sehati gitu, so eun tidak bisa tidur karna memikirkan kim bum, orang yg d pikirkan malam mengirim sms kkkkk.. next

  11. rifdaaini Maret 3, 2015 pukul 3:45 pm Reply

    Waaah.. akhirnya pos jga part 6 aq..
    aq ska banget ma ff ni.
    maaf ya batu koment d part ini..
    ff nya di lanjutin ya..
    aq tggu lo….
    fighting thor…

  12. nisable Maret 4, 2015 pukul 12:08 pm Reply

    waaaah, jeren banget thor, alur ceritanya. sukaaaaa bgt. jd penasaran kisah selanjutnya gmn. jangan lama2 ya thor. hhe tetap semangat buat author…

  13. Mama Nikita widiyati Mei 31, 2015 pukul 2:32 pm Reply

    Ditunggu part endingnya……smg bumssi bersatu

  14. sugarsoya Agustus 30, 2015 pukul 2:29 am Reply

    Yee dilanjut part 6 nya….
    Udah kangen banget penasaran ama lanjutan cerita ini… Musti baca lagi nih kayanya dari part satu supaya inget lagi, hehe
    Apakah benih2 cinta udah ada dihati bumsso??
    Selalu suka ff kamu, ditunggu next partnya ya…

  15. marwati Desember 8, 2015 pukul 2:46 am Reply

    Semoga pertemuan demi pertemuan menumbuhkan beni2 cinta di hati mereka……tapi mungkin soeun akan merasa minder krn kimbum terlalu jauh di atas …..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: